NovelToon NovelToon
Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Younglord

Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.

Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.

Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.

Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.

Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Kereta melambat hingga akhirnya benar-benar berhenti. Leon melangkah turun, sepatunya membentur lantai porselen putih yang mengilat di depan pelataran akademi.

Ia mendongak, matanya menyapu pemandangan di depannya dengan saksama. Baginya, melihat Akademi Asterlyn secara langsung jauh lebih mengagumkan daripada hanya sekadar membaca deskripsinya di dalam novel.

Langit di atas akademi tidaklah kosong. Berbagai hewan sihir dengan sayap lebar dan bulu yang berpendar indah berterbangan rendah di antara menara-menara tinggi.

Ada yang membawa pesan, ada pula yang membawa penunggangnya dengan anggun. Suara kepakan sayap mereka menciptakan harmoni yang magis di udara.

"Luar biasa..." gumam Leon pelan.

Imajinasinya saat masih menjadi pembaca dulu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan visual nyata yang kini terpampang di depan matanya.

Arsitektur bangunannya begitu detail, dengan pilar-pilar raksasa yang diukir dengan mantra pelindung yang berpendar biru tipis.

"Berhenti bertingkah seolah kau orang pinggiran," ucap Julian dingin dari dalam kabin kereta. Tatapannya tajam, menekan Leon dengan wibawa seorang putra mahkota.

"Ingat, jangan membuat malu keluarga di sini. Aku tidak akan pernah menganggapmu adikku jika kau masih tetap lemah," lanjutnya tanpa perasaan.

Leon hanya diam, namun batinnya menyeringai. Dianggap atau tidak dianggap pun, tidak ada untungnya bagiku, pikirnya santai.

"Jalan," perintah Julian kepada masinis. Kereta mewah itu kembali bergerak, membawa Julian menuju istana kerajaan untuk menyelesaikan tugas diplomatiknya, meninggalkan Leon sendirian di depan gerbang raksasa Akademi Asterlyn.

Leon mulai melangkah masuk. Gerbang emas setinggi sepuluh meter berdiri kokoh dengan lambang akademi,sebuah perisai dengan sayap malaikat dan pedang yang bersilang.

Leon melangkah melewati gerbang emas itu dengan perasaan yang campur aduk. Di sekelilingnya, ratusan calon murid dari berbagai kalangan tengah sibuk dengan kegiatannya masing masing.

Ia menyadari satu hal yang krusial. Alur dunia ini sudah benar-benar bergeser jauh dari novel yang pernah ia baca. Dalam cerita aslinya, Leon seharusnya baru masuk akademi tahun depan setelah ia mengonsumsi sebuah buah iblis yang memberinya kekuatan instan.

Namun sekarang, ia masuk setahun lebih awal.

Aku tidak bisa lagi menebak apa yang akan terjadi, batin Leon sambil mengepalkan tangannya. Satu tahun lebih awal berarti aku akan menghadapi musuh dan peristiwa yang belum pernah tertulis di bab manapun. Semuanya benar-benar buta.

Leon terus berjalan menuju meja pendaftaran. Di sana, para pendaftar harus meletakkan tangan pada sebuah bola kristal besar untuk pemeriksaan identitas dan peringkat kekuatan.

"Nama dan asal keluarga?" tanya petugas pendaftaran tanpa menoleh, tangannya sibuk menulis di atas perkamen.

"Leon von Anhart," jawab Leon singkat.

Seketika, orang-orang di sekitar yang berada dalam jangkauan pendengaran langsung menoleh serentak. Suasana yang tadinya bising oleh obrolan ringan, mendadak berubah menjadi desas-desus tajam di barisan belakang.

"Leon von Anhart? Bukankah dia seorang bajingan sampah? Kenapa dia bisa kemari?" bisik seorang pemuda dengan nada menghina.

...[-1]...

"Apakah Anhart melakukan seleksi 'tang ting tung' sampai sampah sepertinya bisa masuk?" timpal yang lain sambil tertawa kecil.

...[-1]...

Cemoohan itu terus mengalir. "Sepertinya Anhart sudah bosan dengan reputasinya sampai mengirim sampah sepertinya," ucap seorang bangsawan muda dari keluarga menengah dengan nada pongah.

Leon hanya mengembuskan napas panjang. Ia tidak berniat meladeni gonggongan anjing-anjing itu. Namun, pandangannya mendadak terkunci pada sosok yang baru saja muncul di gerbang utama.

Keadaan berubah drastis. Orang-orang yang barusan sibuk mengatai Leon, kini membuang muka seolah Leon hanyalah hantu yang lewat sebentar. Perhatian mereka teralihkan sepenuhnya.

"Apa yang terjadi?" gumam Leon heran.

Para wanita di area pendaftaran mulai heboh. Pekikan tertahan dan wajah-wajah merona terlihat di mana-mana. Seorang pria berjalan masuk dengan aura yang begitu bersinar. Rambutnya hitam legam, wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas namun terlihat ramah.

Dia adalah Mathias Brayden. Seorang anak bangsawan yang keluarganya telah jatuh, namun ia dianugerahi kejeniusan luar biasa dan ditakdirkan menjadi pahlawan dunia ini. Sang karakter utama novel.

Di sampingnya, berjalan seorang gadis cantik yang tampak setia mengikuti. Thalia Karsel, teman masa kecil Mathias dari keluarga bangsawan kecil.

"Lihat, belum apa-apa kau sudah populer," goda Thalia sambil menyenggol lengan Mathias dengan akrab.

Mathias hanya tersenyum tipis menerima pujian dari gadis-gadis di sekitarnya. Namun, di balik senyum ramah itu, ia sedikit membuka mulutnya dan berbisik pada Thalia, "Jangan bercanda, aku tidak suka ini."

Meski berkata begitu, wajahnya tetap menunjukkan ekspresi pahlawan yang sempurna di depan publik.

Kenapa? Batin Leon bergejolak hebat. Rasa kaget menghantam dadanya. Alur telah berubah seberubah-ubahnya. Mathias harusnya juga masuk tahun depan, tapi kenapa dia juga ada di sini sekarang?

Leon terpaku. Kehadiran Mathias setahun lebih awal benar-benar mengacaukan semua prediksi yang ia miliki. Panggung yang ia kenal sudah benar-benar runtuh dan digantikan oleh ketidakpastian.

"Hey! Cepat sentuh bolanya! Masih banyak orang yang mengantri di belakangmu!" gertak petugas pendaftaran, membuyarkan lamunan Leon.

Leon tersentak. Ia menatap bola kristal di depannya, lalu melirik sekilas ke arah Mathias yang semakin dekat.

Leon perlahan mengulurkan tangannya menuju bola kristal.

Leon menekan telapak tangannya ke permukaan bola kristal yang dingin.

Sesaat, pendar cahaya merambat di dalam bola itu, memindai inti energi dan potensi rank yang tersembunyi di tubuhnya.

Sebuah kartu logam tipis berwarna perunggu keluar dari celah mesin. Petugas mengambilnya, melirik status yang tertera, lalu menyerahkannya pada Leon dengan wajah datar. Di sana tertulis jelas: Leon von Anhart | Class: Swordsman | Rank: D.

"Kartu ini adalah identitasmu," ucap petugas itu datar. "Jika suatu saat kau merasakan perubahan besar pada tubuh atau kekuatanmu, kau bisa kembali kemari untuk memperbarui Rank-mu."

Leon mengambil kartu itu dan memasukkannya ke dalam saku jubah. Ia mulai berjalan menuju lapangan terbuka akademi, namun matanya tetap tertuju pada kerumunan di kejauhan. Di sana, Mathias Brayden masih dikerumuni para wanita yang memuja ketampanannya.

Begitu sampai di lapangan terbuka, pemandangan kontras tersaji. Calon murid berkumpul dalam kelompok-kelompok yang terpisah jelas antara kaum bangsawan tinggi yang eksklusif dan orang-orang dari kalangan biasa.

Namun, di tengah lapangan itu, terdapat satu area yang seolah memiliki dinding tak kasat mata. Kumpulan orang-orang yang tidak bisa disentuh oleh orang biasa.

Di sana berdiri Putri Odelia Arvencia, anak kedua kerajaan Arvencia yang berambut kuning keemasan, tampak sangat anggun dan berwibawa.

Di dekatnya ada Kaizen von Helvric, putra kedua dari keluarga bangsawan besar Helvric yang tersenyum tipis penuh rahasia.

Ada juga Varelia von Karsel, gadis cantik dengan aura yang tenang namun tajam.

Dan tentu saja, di sana berdiri Calista von Caelmont. Gadis berambut perak yang dulu pernah menghina Leon dan menolak membatalkan pertunangan demi politik, namun berakhir murka karena justru Leon yang menolaknya lebih dulu.

Mereka adalah satu putri kerajaan dan tiga pilar bangsawan yang keluarganya memegang tiga wilayah besar di negara ini. Ditambah Mathias, kini Leon berdiri di hadapan lima sosok yang dalam alur asli adalah "pencabut nyawanya"—dan ia bertemu mereka setahun lebih awal.

Calista yang sedang berbincang mendadak menghentikan kalimatnya. Ia tak sengaja menoleh dan matanya tiba-tiba membelalak kaget. Jantungnya berdegup tak menentu melihat sosok berambut putih yang sangat ia kenali berdiri di sana.

Kenapa? Kenapa dia ada di sini?! jerit Calista dalam hati.

"Calista, ada apa?" tanya Odelia menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.

"Ah, tidak... tidak ada apa-apa," jawab Calista cepat, berusaha membuang muka.

Namun, Odelia terlanjur mengikuti arah pandang Calista barusan. Matanya menangkap sosok pemuda dengan jubah hitam berbulu yang sedang menyilangkan tangan dengan tenang. Wajahnya pucat namun tatapannya tajam menembus kerumunan.

Leon von Anhart? batin Odelia bertanya-tanya.

Bukan hanya Calista dan Odelia yang terpaku. Di sudut kerumunan yang lain, seorang wanita yang sedari tadi menyembunyikan kehadirannya menatap Leon dengan pandangan penuh waspada dan ketakutan.

"Ke-kenapa?" bisiknya gemetar dengan wajah panik, seolah melihat kiamat kecil sedang berjalan menuju ke arahnya.

Character Visual:

...Mathias Brayden...

...Putri Odelia Arvencia...

...Kaizen von Helvric...

...Varelia von Karsel...

1
Mr. Wilhelm
Emm ... Keknya ini termasuk Plot armor gk sih? 🤔
Manstor
Nih aku kasih bintang 5 ya thor untuk ceritanya, aku harap novelnya bisa sampai tamat ya~ soalnya seru banget👍👍
SilentLore: Tentu aja pasti, Makasih banyak yaa🙏
total 1 replies
Manstor
waduh🙈
Manstor
Wah seru nih🤩👍
SilentLore: Maksih kaka🙏 udah tertarik baca
total 1 replies
Ryukia
ceritanya menarik
SilentLore: Terima kasih banyak!
Senang sekali kalau ceritanya bisa bikin kakak tertarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!