Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~13
Firman hanya menatap datar reaksi berlebihan Marni saat ia mencondongkan tubuhnya ke arahnya lalu ditariknya tali safety belt yang masih menggantung disisi kiri wanita itu lantas segera dikuncinya, Marni langsung menahan napas ketika wajah pria itu begitu dekat dengannya sampai beberapa detik kemudian pria tersebut menarik dirinya kembali ke posisinya semula.
Rupanya hanya memasang safety belt tapi ia sudah berpikiran macam-macam, dasar kampungan umpatnya dalam hati padahal saat di kota banyak pelanggannya yang dengan lancang mencoba melecehkannya meskipun ia sudah berusaha untuk menghindar.
"Reflekmu lumayan bagus, apa pacarmu tak pernah melakukannya? tapi sepertinya kalian lebih suka naik motor sambil berpelukan," ucap Firman sembari mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan mushola tersebut dengan kecepatan pelan.
Marni langsung mencerna perkataan pria itu, sungguh ia tak mengerti apa yang dimaksud. "Pacar?" gumamnya tak mengerti, kenapa tiba-tiba membahas pacarnya memang ia pacaran sama siapa?
Deg!
Jangan-jangan pria itu mengetahui kehidupannya di kota? karena semalam ia bermimpi diarak oleh warga lalu pria itu menatapnya dengan sangat kecewa.
"Aku tidak mengerti maksudmu mas tapi saat ini aku memang sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun apalagi punya seorang pacar," sahutnya dengan jujur.
"Jadi yang semalam tidak diakui?" Firman menatapnya sekilas lantas kembali menatap jalanan depannya, hari ini ia akan pergi ke kantor balai desa karena sebelumnya kupon pembagian sembako sudah dibagikan disana.
"Semalam?" Marni semakin tak mengerti, semalam apa yang pria itu maksud? padahal semalam setelah sholat taraweh di mushola ia langsung pulang dan tidur.
"Hm, semalam aku ingin pergi ke rumahmu tapi aku melihat ada pacarmu disana karena tidak ingin mengganggu jadi aku langsung pulang." sahut Firman menjelaskan isi hatinya.
"Mak-maksud mas, mas Sapri?" tukas Marni karena seingatnya yang datang ke rumahnya cuma pria itu bersama adiknya.
"Memang siapa lagi," sahut Firman dingin.
Marni nampak memperhatikan pria itu, jadi sikap diamnya sejak semalam itu karena sedang cemburu dengan Sapri? pantas saja ia dicuekin. Marni pun diam-diam nampak menahan senyumnya, jika sedang cemburu seperti ini pria itu berkali-kali lipat tampannya.
"Semalam mas Sapri memang menembakku lewat adikku tapi aku tolak." sahut Marni yang langsung membuat Firman mengeram mendadak dan tentu saja itu membuat wanita itu langsung terkejut, beruntung safety belt terpasang dengan rapat jika tidak mungkin ia sudah menabrak dashboard mobil pria itu.
"Beneran kamu menolaknya?" ulang Firman, kali ini wajahnya tak datar lagi namun sedikit berbinar-binar karena bahagia mendengar pengakuan wanita pujaan hatinya tersebut.
Marni mengangguk kecil. "Kan sudah ku bilang aku belum ingin pacaran apalagi menikah karena mas tahu sendiri bagaimana keadaan keluargaku, aku masih ingin bekerja untuk memperbaiki perekonomian kami paling tidak aku bisa membangun rumah yang lebih layak untuk mereka." ucapnya menjelaskan alasannya.
"Jadi kalian benar-benar tak ada hubungan?"
Entah bagaimana perasaan Firman saat ini yang jelas pria itu sangat bahagia setelah mengetahui jika wanita itu tak ada hubungan apapun dengan Sapri apalagi alasannya juga cukup masuk akal dan saking senangnya sampai tak sengaja menyentuh tangan wanita itu namun ketika keduanya menyadari pria itu segera menarik tangannya menjauh.
"Maaf." ucapnya dengan wajah bersalahnya, rasanya tak sabar menghalalkan wanita itu agar ia bebas menyentuhnya kapanpun itu.
"Sebenarnya untuk berbakti kepada orang tuamu tak wajib kamu pikul sendiri Marni, aku bisa membantumu untuk melakukannya karena setelah menikah uangku adalah uangmu juga jadi kamu bebas menggunakannya untuk apapun apalagi dalam jalan kebaikan." ucap pria itu yang terdengar manis di telinga Marni bahkan wanita itu nampak berkaca-kaca, karena nyatanya secinta apapun pria itu padanya pada akhirnya akan mundur jika mengetahui yang sebenarnya.
Marni pun menundukkan pandangannya sembari mengangguk kecil. "Terima kasih mas, tapi tolong biarkan aku yang melakukannya sendiri lagipula kita berbeda dalam segala hal aku takut untuk menjalaninya." ucapnya mengutarakan perasaannya.
Firman tanpa sadar tiba-tiba kembali menyentuh sebelah tangan wanita itu. "Apa yang kamu takutkan Marni sedangkan kita belum mencobanya? jika masalah ummi dan abi aku akan memberikan pengertian kepada mereka dan aku yakin mereka pasti akan mengerti." mohon pria itu namun Marni langsung menarik tangannya tak perduli seberapa hangat genggaman pria itu.
"Maaf mas, kamu tidak tahu aku yang sebenarnya dan aku takut kamu akan kecewa." ucapnya, kemudian kembali menegakkan tubuhnya di kursinya dengan pandangan lurus ke depan.
Firman nampak menghela napasnya. "Jika orang tuaku setuju apa kamu akan menerimaku sebagai calon suamimu, Marni?" ucapnya ingin tahu, mudah baginya untuk meyakinkan kedua orang tuanya meskipun mereka telah memiliki calon pilihannya sendiri lagipula jika mereka menolak ia seorang pria yang telah lama berdiri di kakinya sendiri dan bisa hidup tanpa mereka.
Marni hanya diam membisu beberapa saat sampai wanita itu kembali menatapnya. "Tolong berikan aku waktu mas," ucapnya dengan wajah memohon.
Firman sangat yakin jika wanita itu juga memiliki perasaan yang sama sepertinya tapi entah alasan apa yang membuatnya untuk tidak segera menerima pinangannya, apa ia harus membuktikannya dahulu agar wanita itu yakin dengan kesungguhannya? tentu saja ia akan melakukannya jika itu bisa meyakinkan perasaannya.
Kini Firman kembali mengendarai mobilnya namun dengan perasaan yang jauh lebih baik dari saat berangkat sebelumnya, sesekali pria itu nampak mengetuk-ngetuk stir mobilnya seiring dengan perasaannya yang bahagia.
Tak berapa lama mereka pun telah sampai di balai desa dan rupanya sudah ada ayahnya Firman disana padahal hari minggu tapi ayahnya masih saja datang ke kantornya.
"Bi," sapa Firman setelah turun dari mobilnya bersama Marni kemudian dikenalkannya wanita itu kepada ayahnya tersebut.
"Bi, ini Marni putri pak Ujang," ucapnya menatap sang ayah.
"Assalamu'alaikum pak Lurah," Marni langsung mencium tangan pria itu.
"Wa'alaikumsalam, nak Marni." ucap pak Lurah menatapnya sekilas.
"Baiklah, ayo siap-siap sebentar lagi undangan akan datang!" ucap pria paruh baya yang juga sedang mengenakan celana bahan dan baju koko seperti putranya tersebut.
Marni pun segera mengikuti langkah Firman untuk membuka bagasi mobilnya dan benar saja tak berapa lama nampak para orang tua yang rata-rata seorang janda tua datang untuk mengambil sembako, Marni melihat Firman rupanya juga telah menyiapkan sebuah amplop untuk mereka yang entah berapa isinya ia tak tahu.
Rasanya adem sekali bisa ikut berbagi bersama mereka, seandainya ia kaya juga pasti akan melakukan hal yang sama sayangnya untuk makan saja ia harus berjuang dalam jalan yang salah karena hanya itu satu-satunya pekerjaan yang menghasilkan uang lebih bagi wanita putus sekolah sepertinya.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu