NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gudang Senjata (Logika vs Mantra)

Lokasi: Ruang Penyimpanan Bawah Tanah, Safe House Surabaya. Pukul 11.30 WIB.

Di dinding ruangan itu, terpajang berbagai peralatan canggih berdampingan dengan benda-benda klenik. Sebuah pemandangan surealis.

Di sisi kiri (Area Sarah), tertata rapi: Senapan serbu kompak SIG Sauer MCX, drone mikro seukuran lebah, granat EMP, dan rompi anti-peluru kevlar tipis.

Di sisi kanan (Area Dimas), berserakah: Kemenyan Arab, botol-botol minyak misik, garam kasar, pasak bumi, dan beberapa bilah keris tua yang terbungkus kain mori.

Sarah sedang mengisi peluru ke dalam magazine pistolnya dengan gerakan cepat dan efisien. Klik. Klik. Klik.

“Kamu yakin bawa itu semua?” Tanya Sarah skeptis, menunjuk meja Dimas yang penuh botol kaca. “Tasmu nanti bau dukun, Mas. Di bandara pasti di tahan bea cukai.”

Dimas sedang meneteskan minyak Jafaron ke sebuah kalung jimat dari kayu stigi.

“Jangan ngenyek (mengejek), Bu Dok,” balas Dimas santai. “Senjatamu butuh baterai dan peluru. Kalau kita masuk ke zona anomali magnetik di Saranjana, semua mainan canggihmu itu bisa mati total.”

Dimas mengangkat kalung itu.

“Sedangkan ini? Ini farewell spiritual. Nggak butuh sinyal, nggak butuh listrik. Cuma butuh keyakinan.”

Sarah mendengus geli, tapi dia mengambil sebuah kotak kecil dari meja Dimas.

“Ini apa? Garam lagi?”

“Bukan. Itu bubuk Merapi,” jelas Dimas. “Abu vulkanik dari letusan 2010 yang sudah didoain Kuncen. Efektif buat bikin buta makhluk halus tipe api. Kayak Banaspati atau Kuyang.”

Sarah menimbang-nimbang kotak itu, lalu memasukannya ke saku rompi taktisnya sendiri.

“Oke, aku pinjam satu. Just in case pistolku macet.”

Dimas tersenyum menang. “Tuh kan. Akhirnya butuh juga.”

Tiba-tiba wajah Dimas berubah serius saat dia memegang sebuah Kompas Feng Shui tua. Jarum kompas itu berputar gila-gilaan, padahal tidak ada medan magnet di dekatnya.

Dimas memejamkan mata. Tangannya gemetar.

“Kenapa, Dim?” Sarah langsung waspada, meletakkan senjatanya.

Dimas terengah-engah. Dia mendapatkan Visi Kilat (Flash Vision).

“Gelap… Hutan rapet… Ada kota emas di balik kabut… Tapi di gerbangnya…” Dimas mencengkeram meja. “Ada penjaga. Bukan manusian. Besar. Matanya satu. Dia pegang Mandau itu… Mandau-nya haus darah…”

Dimas tersentak membuka mata, napasnya memburu seolah baru saja lari maraton.

Sarah langsung ada di sampingnya, memegangi bahunya. “Kamu lihat apa?”

“Penjaganya…” bisik Dimas, menyeka keringat dingin. “Saranjana nggak cuma dikelilingi teknologi gaib. Ada Panglima Burung versi iblis yang jaga di gerbangnya.”

Dimas menatap Sarah dengan tatapan khawatir yang tulus.

“Sar, janji sama aku. Nanti di hutan, jangan pernah pisah dari aku lebih dari 5 meter. Kalau kabut turun… pegang tanganku. Jangan dilepas.”

Sarah melihat ketakutan di mata suaminya. Dia tahu Dimas jarang takut. Kalau Dimas takut, berarti ancamannya nyata.

Sarah mengangguk, lalu mengambil sebuah Gelang Tali Arus (akar bahar hitam) dari meja dan memakaikannya ke tangan Sarah sendiri.

“Aku janji,” kata Sarah tegas. “Kita masuk bareng, keluar bareng.”

Sarah mengambil tas ranselnya yang sudah penuh peralatan tempur.

“Sekarang ayo berangkat. Pesawat ke Banjarmasin takeoff 2 jam lagi. Kita nggak boleh kalah start sama Mr. Vaan.”

Dimas mengangguk, memasukkan keris kecil (Patrem) ke balik jaketnya.

Dua Sisi koin telah siap.

Sains dan Sihir. Logika dan Mantra. Suami dan Istri.

Mereka berjalan keluar dari Safe house, siap menantang misteri terbesar di tanah Borneo.

****

Hai, gimana sejauh ini kisah tentang Dimas dan Sarah?

Akhirnya ya, Dimas dapet jodoh juga, hehehe.. nggak nyangka Mas Dimas jodohnya Mbak Sarah, di cerita ini khusus tentang Dimas dan Sarah, dan petualangannya ya.

Semoga kalian suka sama cerita Spin-Off, kelanjutan dari Rempah Sang Waktu.

1
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!