Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.Lebih Hening
Leonel akhirnya sampai di rumahnya setelah mengantar Cleo pulang. Pria itu melangkah masuk ke dalam rumah besarnya, disambut oleh Mami Aulia yang tengah menemani Arcelia bermain di ruang keluarga.
"Sayang, kenapa baru pulang?" tanya Mami Aulia, mengusap pucuk rambut putranya saat Leonel mencium punggung tangannya.
"Habis ngantar teman yang sakit dulu, Mami." jawab pemuda itu sembari melemparkan tubuhnya ke sofa, matanya langsung tertuju pada Arcelia, gadis kecil empat setengah tahun itu yang tengah asyik bermain dengan krayon dan kertas gambar, mencoret-coret lembaran putih itu dengan berbagai warna.
"Cel... Celia tidak mau cokelat?" tanya Leonel, berusaha mencuri perhatian sang adik.
Gadis kecil itu mengangkat kepala sebentar. "Ndak mau lah. Nanti gigi Celia sakit lagi. Iya kan, Mami? Celia ndak boleh makan cokelat kan?" Mata bulatnya yang polos beralih menatap sang ibu, yang membalasnya dengan anggukan pelan.
"Tidak boleh ya, tadi sudah makan. Jangan sering-sering," ujar Aulia dengan suara lembut.
"Ya sudah, berarti aku buang ya cokelatnya. Kalau permen, tidak mau juga?" pancing Leonel lagi, mengeluarkan beberapa permen dari saku celananya.
Gadis kecil itu akhirnya menoleh. Pensil dan kertas diletakkan begitu saja, matanya menatap sang kakak yang tersenyum penuh kemenangan.
"Nih, kakak punya permen banyak. Masih tidak mau? Kalau begitu aku kasih Thea aja deh, dia dibolehkan makan permen sama Mami," ujar Leonel, pura-pura hendak bangkit dari duduknya.
Belum sempat kakinya terangkat, dua tangan mungil sudah memeluk erat betisnya.
Wajah Celia mendongak, menatap Leonel dengan mata bundarnya yang sengaja dibuat memelas. Bibirnya mengerucut lucu. "Kalau pelmen, Celia mau. Dibolehkan sama Mami, iya kan, Mami?" Kepalanya menoleh sebentar ke arah Aulia, tapi tangannya tidak sedikit pun mengendur dari kaki sang kakak, seolah tidak akan melepaskannya sebelum permen itu berhasil diamankan.
"Tidak boleh, sayang," jawab Aulia.
"Mami... satu saja ya. Janji." Celia mengerucutkan bibir lebih dalam, suaranya memelas.
Aulia menghela napas kecil. "Baiklah, satu saja," ujarnya akhirnya, setengah menyerah.
Wajah Celia seketika berubah girang. Tangan mungilnya tersodor ke arah Leonel, menunggu.
"Ada syaratnya kalau mau!" ujar Leonel tak serta-merta membari permennya begitu saja.
Dahi Celia mengerut. "Apa?"
"Bilang Papi Archio Bimantara dulu. Coba!" perintah Leonel, hampir tidak sanggup menahan tawa saat melihat ekspresi adiknya yang langsung berubah masam.
"Papi Alllchioo..." Bibir mungilnya berjuang keras mengeja. Sampai di situ masih lancar. Tapi kemudian, "Biman... tala..." Lidah kecilnya tersandung. Matanya mulai berkaca-kaca, antara frustrasi, mau menangis, atau mau ngambek sekaligus.
"Bimantala! Bimantala!" ulangnya berkali-kali, makin frustrasi karena hasilnya tetap sama saja.
Kedua tangannya mengepal. "Susah! Kakak jahat!"
"Hahaha!! " Leonel benar-benar tidak sanggup lagi menahan tawa, bahunya terguncang, tawanya menggema di ruang keluarga itu.
"Leonel!" tegur Aulia, meski bibirnya sendiri tidak bisa menyembunyikan senyum.
"Maaf, Mami, maaf..." Leonel masih terkikik, berlutut di hadapan Celia yang kini sudah cemberut total. Pipi bulatnya menggembung, tangan dilipat di depan dada, sikap penolakan yang luar biasa dramatis untuk anak seusianya.
"Kakak jahat, jahat! Celia malah nih, benalan loh ya, malah benalan!!" ujar gadis kecil itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Celia marah sama kakak?" Leonel menahan senyum mendengar kata marah keluar jadi malah dari mulut adiknya.
Gadis kecil itu berbalik, memunggungi Leonel dengan angkuh.
"Iya deh, nih permennya. Nggak usah bilang juga boleh." Leonel mengulurkan permen itu. Tapi Celia tidak bergerak. Masih duduk memunggungi, meski kepalanya sudah sedikit miring ke samping, sudut matanya diam-diam mencuri pandang ke arah tangan sang kakak.
"Celia tidak mau?"
Satu detik. Dua detik.
Tangan mungil itu menyambar permen dari genggaman Leonel dengan cepat, lalu Celia berlari kecil ke arah Aulia dan bersembunyi di balik tubuh sang ibu.
"Makasih, kakak jelek!" serunya dari balik punggung Aulia.
Leonel geleng-geleng kepala, senyumnya melebar. "Sama-sama, Arcelia!"
Aulia mengelus rambut Celia, lalu menatap putra sulungnya dengan pandangan hangat. "Sudah makan belum kamu?"
"Belum. Mami masak apa?"
"Mami ada buat sop daging sapi. Kamu pergi ganti baju dulu, setelah itu turun makan!" titah Aulia.
Leonel mengangguk patuh. Ia bangkit dari sofa dan melangkah ke arah tangga, tapi tidak sebelum tangannya sempat mengacak-acak rambut Celia saat melintas di sampingnya.
"Lambut cantikku!!" Celia langsung menjerit dengan suara cemprengnya, kedua tangannya panik menepuk-nepuk rambutnya sendiri yang kini berantakan. "Kakak nakal!!"
Tawa kecil Leonel mengalun ringan dari balik tangga, lenyap begitu langkahnya mencapai anak tangga terakhir.
...****************...
Pintu kamar terbuka, dan hal pertama yang menyambut Leonel adalah pigura besar yang tergantung tepat menghadap pintu, seolah memang dipasang untuk memaksa siapapun yang masuk agar menatapnya.
Senyum yang tadi masih tersisa dari tingkah Celia perlahan pudar. Berganti sesuatu yang lain. Pahit, tapi diam.
Leonel berdiri di sana sebentar, matanya tidak beranjak dari pigura itu.
Kemudian dia menghela napas pelan, melepas seragamnya dan menggantinya dengan pakaian santai sebelum menjatuhkan diri ke ranjang. Satu lengan terangkat, menutupi wajahnya dengan bantal.
Gelap, Hening.
Dan di sana, tanpa ada siapapun yang melihat, pikiran itu datang sendiri. Aira.
Leonel mengatupkan rahangnya. Sial. Dari tadi dia sudah tidak benar-benar tenang, memikirkan gadis itu.
Sesaat kemudian bantal itu digeser, wajahnya kembali menatap langit-langit kamar. Leonel meraih ponselnya, layar menyala di genggamannya.
Dia menunggu.
Tidak ada notifikasi masuk. Tidak ada nama yang muncul.
Sore ini lebih hening dari biasanya, dan itu justru yang membuatnya tidak nyaman. Karena biasanya gadis itu tidak pernah membiarkan ponselnya sunyi terlalu lama. Selalu ada saja alasan untuk mengganggunya, hal-hal kecil yang tidak penting, yang sayangnya justru menjadi satu-satunya hal yang selalu Leonel tunggu tanpa pernah mau mengakuinya.
Leonel membuang napas pelan. Meletakkan ponselnya kembali ke ranjang, layarnya menghadap bawa, tidak ada gunanya menunggu.
Dia bangkit, merapikan rambutnya seadanya, lalu melangkah keluar kamar menuju ruang makan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...