Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Hujan membawa cerita
Naka bergerak melajukan motornya rusuh. Ketika ada celah untuk menyalip dan menaikan kecepatan maka ia lakukan.
Beberapa kali ia menatap langit dari balik helm full facenya. Suara petir yang bersahutan itu tak lama disusul rintik hujan, awalnya kecil dan sendirian, tapi kemudian rintik hujan kecil itu membawa pasukannya untuk jatuh ke bumi bersama suhu yang merosot ke titik rendah secara perlahan.
Jaketnya sudah basah, begitupun celana abunya. Tapi Naka terus saja membelah jalanan, padahal para pengguna jalan terkhusus sepeda motor telah menepi untuk menunggu hujan sedikit lebih bersahabat dan mereda ataupun sekedar memakai jas hujan.
Sempat ia terhenti, dan hanya duduk di motor dibawah guyuran hujan ketika lampu merah tanpa berniat menepi, toh sudah terlanjur kuyup juga.
Tangannya sudah ia lepaskan dari kemudi, sedikit memberikan postur tegak di punggungnya yang agak pegal dan tangan sedikit kebas mati rasa sebab terpaan hujan dan dingin. Sekilas ia menatap orang-orang yang tengah berteduh, beberapanya mendekap lengan bukti jika suhu memang sudah merendah.
Yang ada di bayangannya adalah Shanum melakukan hal sama, lebih buruknya Arjuna menawarinya pulang bersama.
Alis tebalnya membingkai mata tajam melirik lampu yang bersiap kuning lalu bergulir ke hijau.
/
Shanum dengan sweater rajut putih yang membalut badannya itu berdiri di depan ruang MPK, memperhatikan hujan yang jatuh dari langit ke genting bangunan membentuk satu aliran deras ke parit kecil yang dibuat sebagai drainase sekolah.
Satu persatu temannya, anggota MPK melompat ke sisi lain komplek bangunan sekolahnya demi penjemputan, termasuk Frizka dan Jemima.
"Num, ngga apa-apa gue tinggal, atau bareng aja yuk!" ajak mereka digelengi Shanum, "ngga apa-apa, duluan aja...gue nunggu reda bentar lagi terus pesen ojol."
Oh, duluan saja tak apa..itu jauh lebih baik, sebab....
Bunda
3 Panggilan suara tak terjawab
Sha, dimana? Masih di sekolah? Kok tumben belum pulang.
Sha hujan, jangan dulu pesen ojol kalo masih hujan. Telfon kalo perlu dijemput.
Mainaka
Sha, bunda telfon barusan. Lo masih rapat MPK?
Gue jemput.
Dan tawaran lain diberikan oleh Arjuna, yang sudah bersiap pulang juga.
"Num, ngga dijemput? Gue anter mau?"
Canza hanya mendelik, ya elahh...matanya merotasi malas, ikut berdiri disana untuk kemudian ikut menyela, "hujannya sih cuma sebiji..."
Lalu Navvaro yang menyahut, "iyee, tapi temennya sekampung."
Mereka tertawa, Altair bahkan sudah mengeluarkan jas hujan miliknya, "ah ngga akan bener ini sih, hujan putih begini lama..." ocehnya melirik sistem drainase yang---oke normal sejauh ini. Yang ngga aman tuh di depan sekolah yang drainasenya sedikit jelek sebab sampah dan terjadinya pendangkalan.
Shanum menggeleng, "gue dijemput, Jun...thanks."
Canza terlihat tergesa, meski ia tak urung menawari juga sebelumnya pada Shanum, "gue anter atau mau pake payung Sha? Gue pinjemin ke Bu Baryah di kantin?"
Shanum menggeleng juga atas tawaran Canza.
"Gue ngga bisa lama nemenin Lo semua, buru-buru soalnya...duluan ya!"
"Yo, Nza..." mereka mengangkat tangannya pada Canza yang sudah melompat-lompat bertudungkan Hoodie jaketnya.
Kini hanya tersisa beberapa anak, itu pun mereka memilih menunggu hujan di selasar bangunan terdekat dari gerbang sekolah termasuk Shanum. Sedikit licin, Shanum memilih untuk melangkah pelan-pelan meski kemudian----
Crattt!
Navvaro dan Altair sudah berkelakar dan bermain-main diantara jalanan yang becek hingga airnya terciprat-ciprat.
"Navvarooo Alltairr ihhh!" omel Jihan dan Esya.
Shanum hanya berdecak kesal. Ia juga tak luput terkena itu sampai kaos kaki sebawah lututnya ikut terciprati basah sedikit kotor.
"Nav, Al...Lo berdua becanda mulu, celaka ntar!" Arjuna mendorong bahu keduanya.
"Basah ya Num...childish emang nih berdua." ucapnya terkekeh di samping Shanum, ia bahkan sangat menjaga gadis ini agar tak jatuh atau celaka.
Masih saja deras, Shanum berulang kali memanjangkan pandangan ke balik gerbang, dimana ia khawatir jika Naka sudah menunggunya lama di bawah guyuran hujan.
Tapi hujan ini, seolah berformalin dan enggan untuk menurunkan tensinya.
"Num, ngga mau bareng aja. Gue bawa jas hujan yang Ponco juga." Tawar Arjuna justru digelengi Shanum. Kini tersisa dirinya, Arjuna, Altair, Navvaro, dan Jihan.
"Engga usah, jemputan gue udah nunggu diluar.."
Benar, ponselnya sudah terasa bergetar sekarang, pasti itu Naka.
Membayangkan Naka yang basah kuyup, Shanum tak tega untuk membuatnya menunggu lebih lama lagi.
"Tapi masih hujan kesananya, Num...jemputan Lo bawa jas hujan?"
Shanum menggeleng, "ngga tau."
Arjuna justru memberikan jas hujan ponco miliknya untuk Shanum pakai saja, "pake aja, ntar Lo sakit."
"Eh, jangan. Ntar Lo gimana?!"
Navvaro sudah bercuit-cuit bersama Altair macam mencuiti burung.
"Ngga apa-apa, cuma hujan sebentar..lagian jaraknya juga ngga terlalu jauh. Gue cowok." begitu katanya sudah menyerahkan jas itu pada Shanum lalu ia mengeratkan jaket yang ada di badannya bersiap mengeluarkan kunci motor.
Shanum ragu, tapi---"makasih ya Jun..."
Arjuna mengangguk, "sama-sama. Udah pake."
Shanum kembali mengiyakan dan memakai jas hujan besar berwarna biru dongker itu, lalu menudungkan hoodienya di kepala, menembus rintikan deras air hujan yang suhunya semakin menusuk kulit hingga ke tulang.
Benar, di sebrang sekolah, seorang yang ia kenali meski dengan helm full facenya telah menunggu dengan tampilan yang sudah basah kuyup.
Shanum melambai diangguki Naka.
"Pake jas siapa?" tanya Naka menaikan sejenak kacanya.
Ada mata yang menyipit dan suara yang sedikit diteriakan, "Juna!"
"Kamu pake ya, ini Ponco jadi aku sama kamu pake jas..." lanjut Shanum.
"Engga. Kamu aja yang pake cepetan naik..." pinta Naka sedikit dibuat tak suka.
Shanum menurut dan seperti biasa ia memegang pundak Naka untuk naik.
"Pegangan."
Semacam anggukan kecil yang tentu saja tak dilihat Naka, Shanum merapat memegang pinggang Naka dengan satu tangan lain menahan ujung hoodie jas agar tak terbuka.
Selama perjalanan pulang, tak ada yang mereka bicarakan, hujan ini terlalu riuh dan berisik disertai deru mesin motor yang Naka geber kencang.
"Ka, hujannya makin deras kamu juga kuyup banget...ke rumahku kejauhan." Ucap Shanum yang melihat buku-buku kuku tangan Naka yang telah memutih sedikit ungu, bukti jika Naka kedinginan.
Ia tak tega untuk menyiksa putra tunggal CEO Jilo corp itu.
"Bunda kamu khawatir Sha..." jawabnya sedikit menggeram bertarung dengan seruan hujan.
"Biar aku telfon bunda nanti." Jawab Shanum berbicara langsung di samping helm dekat telinga Naka.
"Terus mau kemana?" tanya Naka.
"Kira-kira yang lebih deket buat neduh sekalian keringin badan dimana?"
"Paling apartemen atau tempat kerja aku." Jawab Naka, Shanum mengangguk, "oke, terserah. Tempat kerja juga boleh."
Semakin Naka menggeber, semakin tangan Shanum erat memeluk.
.
.
.
.