Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
BAB 20
SINGGASANA YANG RUNTUH
Lampu-lampu kota Jakarta di luar jendela kantor Adrian tampak seperti jutaan berlian yang berserakan di atas beludru hitam. Namun, bagi Adrian Aratama, kemilau itu tidak lagi memiliki daya tarik. Pria yang biasanya menghabiskan malam dengan membedah grafik saham atau merencanakan ekspansi properti itu kini terduduk diam di kursi kebesarannya, menatap sebuah sketsa fasad gedung yang sebenarnya sudah ia setujui berhari-hari lalu.
Hanya saja, di sudut kertas itu, ada bekas coretan tangan Aisha. Sebuah catatan kecil tentang sirkulasi udara yang ditulis dengan tinta hitam yang rapi.
Adrian memejamkan mata. Bayangan saat Aisha pergi bersama Ustadz Salman sore tadi terus berputar di kepalanya seperti film rusak. Ia melihat cara Salman menatap Aisha—penuh ketenangan, kepastian, dan hak milik yang sah secara tradisi. Dan ia melihat Aisha—wanita yang biasanya begitu tegak, tampak sedikit menunduk, seolah sedang memikul beban ribuan harapan ayahnya.
"Bukan sekadar penasaran," bisik Adrian pada kesunyian ruangan.
Selama berbulan-bulan, ia membohongi dirinya sendiri. Ia menyebut ketertarikannya sebagai "tantangan intelektual". Ia menyebut obsesinya sebagai "keinginan untuk memecahkan teka-teki". Ia bahkan meyakinkan logikanya bahwa ia hanya ingin memastikan arsitek utamanya tidak terganggu oleh urusan personal.
Tapi malam ini, kebohongan itu runtuh.
Rasa sesak yang ia rasakan saat melihat pintu mobil tertutup dan membawa Aisha menjauh bukan berasal dari logika yang kalah. Itu adalah rasa kehilangan yang purba. Rasa sakit yang tajam di ulu hati saat membayangkan Aisha bersujud di belakang pria lain, berbagi pemikiran dengan pria lain, atau—pemikiran yang paling menyiksa—tersenyum dengan tulus di balik cadarnya untuk pria lain.
Adrian berdiri, berjalan menuju jendela kaca besar yang dingin. Ia menempelkan telapak tangannya di sana.
"Ini cinta," akunya pelan. Suara itu terasa asing di telinganya sendiri.
Selama tiga puluh dua tahun hidupnya, Adrian menganggap cinta adalah reaksi kimia yang dilebih-lebihkan oleh para penyair untuk menjual buku. Bagi seorang ateis yang hanya percaya pada materi, cinta hanyalah insting biologis untuk melanjutkan keturunan. Namun, apa yang ia rasakan pada Aisha melampaui biologi.
Ia mencintai bagaimana Aisha menantang pikirannya. Ia mencintai bagaimana wanita itu tidak bisa dibeli dengan hartanya. Ia mencintai ketenangan yang Aisha bawa ke dalam hidupnya yang kacau. Dan yang paling gila, ia mencintai Tuhan yang disembah Aisha, bukan karena ia sudah beriman, tapi karena Tuhan itulah yang membentuk Aisha menjadi sosok yang begitu mempesona di matanya.
Adrian tertawa getir. "Aku, Adrian Aratama, jatuh cinta pada seorang wanita yang bahkan tidak boleh kusentuh ujung bajunya."
Logikanya yang biasanya tajam kini mulai bekerja dengan cara yang berbeda. Ia mulai melakukan inventarisasi emosional.
Jika ini hanya penasaran, ia akan merasa lega saat teka-teki itu terpecahkan. Tapi semakin ia mengenal Aisha, semakin banyak lapisan misteri yang muncul, dan ia semakin ingin tenggelam di dalamnya. Ia ingin menjadi pria yang bisa memberikan keamanan bagi Aisha tanpa harus meminta wanita itu mengorbankan prinsipnya.
Namun, kenyataan pahit menghantamnya kembali. Salman adalah segala sesuatu yang tidak dimiliki Adrian. Salman memiliki restu ayah Aisha. Salman memiliki bahasa langit yang sama dengan Aisha. Sementara Adrian? Ia hanyalah pria dengan gedung-gedung tinggi yang kosong dari makna spiritual.
Adrian berjalan menuju meja kerjanya, mengambil ponsel, dan melihat jadwal untuk esok hari. Ada pertemuan dengan konsultan hukum. Ia menekannya dan menggantinya dengan satu catatan: Mencari cara bertemu Ayah Aisha.
Ia tahu ini gila. Ia tahu ini berisiko menghancurkan profesionalisme proyek Green Oasis. Tapi singgasana kedinginan yang selama ini ia tempati telah runtuh. Ia tidak bisa lagi hanya diam menjadi pengamat.
"Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan pria itu hanya karena kau merasa berhutang budi pada ayahmu, Aisha," gumam Adrian dengan tekad yang membara.
Tiba-tiba, pintu kantornya diketuk pelan. Sarah masuk dengan wajah cemas.
"Pak, maaf mengganggu selarut ini. Tapi Ibu Widya... Ibu Anda ada di lobi bawah. Beliau bersikeras ingin bicara sekarang."
Adrian menghela napas panjang. Ibunya adalah lambang dari segala sesuatu yang menentang perasaannya pada Aisha. Status sosial, gengsi, dan Bianca.
"Suruh beliau naik, Sarah."
Beberapa menit kemudian, Widya Aratama masuk dengan langkah anggun namun penuh otoritas. Ia meletakkan tas Hermes-nya di meja Adrian dengan suara yang cukup keras.
"Adrian, apa yang kudengar ini benar? Kau memutus kontrak dengan keluarga Bianca? Dan kau mulai berperilaku aneh di kantor? Sarah bilang kau meminta pintu selalu terbuka jika ada wanita itu?"
Adrian menatap ibunya dengan tatapan datar. "Namanya Aisha, Bu. Dan ya, aku menghargai privasi dan prinsipnya."
"Kau gila!" Widya berteriak pelan. "Kau jatuh cinta pada bayangan, Adrian! Dia tidak punya latar belakang, dia menyembunyikan wajahnya, dan dia... dia bukan dari kalangan kita! Kau menghancurkan aliansi bisnis penting demi seorang arsitek yang bisa kita ganti kapan saja!"
"Dia tidak bisa diganti," potong Adrian dengan suara yang begitu tenang namun tajam. "Dan ini bukan soal bisnis lagi, Bu. Ini soal hidupku."
Widya tertegun. Ia melihat sesuatu di mata putranya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sebuah cahaya yang biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki keyakinan kuat.
"Kau... kau benar-benar mencintainya?" tanya Widya dengan nada tidak percaya.
"Lebih dari apa pun yang pernah kumiliki di perusahaan ini," jawab Adrian jujur. "Dan jika Ibu datang ke sini untuk memintaku kembali pada Bianca atau mencari wanita 'setara' lainnya, lebih baik Ibu pulang. Karena aku sedang belajar tentang harga diri dari Aisha, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjaknya lagi."
Widya mundur satu langkah. Ia merasa kehilangan kendali atas putranya. "Dia akan menghancurkanmu, Adrian. Keluarganya akan menuntutmu untuk berubah. Kau harus sujud di depan Tuhannya jika ingin memilikinya. Apa kau sanggup membuang logikamu demi sebuah mitos?"
Adrian terdiam sejenak. Ia teringat kata-kata Aisha tentang "Desainer Agung".
"Mungkin logikaku tidak sedang dibuang, Bu. Mungkin logikaku sedang diperluas," jawab Adrian. "Sekarang, tolong biarkan aku sendiri. Aku punya banyak hal yang harus kupikirkan."
Setelah ibunya pergi, Adrian merasa lelah secara emosional, namun pikirannya sangat jernih. Perasaan yang memuncak ini bukan lagi sekadar ombak yang menghantam karang, melainkan arus dalam yang tenang namun tak terbendung.
Ia mengambil buku saku doa milik Aisha yang tertinggal di mejanya. Ia membukanya lagi. Ia mencari sebuah kalimat yang mungkin bisa memberinya petunjuk. Matanya terpaku pada sebuah ayat yang ditulis tangan oleh Aisha di halaman belakang:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu...”
Adrian tidak mengerti konteks lengkapnya, tapi ia merasa ayat itu sedang berbicara padanya. Selama ini ia membenci aturan, ia membenci agama, ia membenci segala sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. Tapi semua hal itu justru membawanya pada Aisha—hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Ia mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pena. Ia mulai menulis sebuah surat. Bukan surat bisnis, bukan memo CEO. Sebuah surat pribadi untuk Aisha yang akan ia titipkan besok.
Aisha,
Aku baru menyadari bahwa membangun gedung setinggi 50 lantai jauh lebih mudah daripada mengakui apa yang ada di hatiku. Malam ini, aku melihat sirkulasi udara yang kau desain, dan aku tersadar bahwa kaulah napas yang selama ini hilang dari duniaku yang hampa.
Jangan ambil keputusan itu karena takut pada ayahmu. Beri aku satu kesempatan untuk menunjukkan bahwa ada jalan ketiga. Jalan di mana kau tidak perlu mengorbankan prinsipmu, dan aku... aku akan belajar untuk menjadi pria yang pantas berdiri di sampingmu.
Hormatku,
Adrian.
Adrian melipat surat itu dengan rapi. Ia merasa sedikit konyol, pria dewasa yang biasanya mengirim dokumen legal kini menulis surat cinta yang puitis. Tapi rasa konyol itu kalah oleh rasa lega yang luar biasa.
Ia tahu besok akan menjadi hari yang berat. Ia tahu Salman akan kembali. Ia tahu ibunya akan menyusun rencana baru. Tapi untuk pertama kalinya, Adrian Aratama tidak takut. Karena ia tidak lagi bertarung demi angka, tapi demi sesuatu yang jauh lebih abadi.
Ia mematikan lampu kantornya. Di tengah kegelapan, ia berbisik lirih, mencoba sebuah kata yang selama ini ia anggap tabu.
"Jika Kau benar-benar ada dan Kau yang mengirimnya padaku... tolong, jangan biarkan dia pergi."
Itu adalah doa pertama Adrian. Tidak sempurna, penuh keraguan, namun datang dari hati yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.