Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Pintu kamar masih setengah terbuka.
Buket bunga lily putih jatuh dari tangan Tama. Beberapa kelopak patah saat menyentuh lantai.
Di atas ranjang, Selina membeku.
Matanya membesar begitu melihat sosok di ambang pintu.
“T–Tama…?”
Brian juga langsung menoleh. Tubuhnya menegang.
Tama tidak berteriak. Tidak juga memaki. Tapi, wajahnya mengeras.
Justru itulah yang membuat suasana terasa lebih menakutkan.
Matanya dingin. Kosong. Seperti sesuatu di dalam dirinya baru saja patah.
Selina buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Tama… tunggu...”
Namun Tama sudah berbalik.
Tanpa satu kata pun.
Langkahnya keluar dari kamar.
Cepat.
Kaku.
Seperti seseorang yang berusaha menahan sesuatu agar tidak meledak.
“Tama!”
Selina meloncat turun dari ranjang.
“Selina...” Brian mencoba menahan.
“Diam kamu!”
Selina meraih selimut, membungkus tubuhnya seadanya, lalu berlari keluar kamar.
“Tama! Tunggu!”
Ia melihat punggung pria itu sudah hampir mencapai pintu apartemen.
“Tama!”
Pria itu berhenti.
Sekejap saja.
Namun ia tidak berbalik.
Selina terengah mendekat.
“Tama… dengar dulu… aku bisa jelaskan...”
Tama akhirnya menoleh.
Tatapannya membuat Selina terdiam.
Tidak ada amarah yang meledak.
Tidak ada teriakan.
Hanya kekecewaan yang begitu dalam sampai terasa dingin.
"Apa yang mau dijelaskan? Apa yang kulihat, itu yang terjadi."
"Taammm..." Mata Selina penuh penyesalan.
“Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun.”
Suaranya rendah.
Berat.
“Tapi ini tidak seperti yang kamu lihat...”
Tama tertawa pendek.
“Apa yang aku lihat Selina?”
Selina panik. "Tam... Aku..." air mata sudah memenuhi sudut matanya.
Tama menatap kekasihnya yang hanya berbalut selimut. Hatinya pecah.
“Jangan buat aku semakin merasa bodoh.”
Selina menggigit bibir.
Air matanya mulai jatuh.
“Tama… aku minta maaf.”
Pria itu menatapnya lama. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya, dia terlalu remuk untuk sekedar berucap.
Ia membuka pintu apartemen.
“Tama, aku mohon...”
Selina mencoba meraih lengannya.
Namun Tama menarik tangannya dengan halus, tapi tegas.
“Jangan sentuh aku.”
Kalimat itu seperti pisau.
Selina terisak.
“Ini tidak berarti apa-apa… aku cuma...”
“Cukup.”
Tama memotong.
“Aku sudah cukup dipermalukan hari ini.”
Ia melangkah keluar.
Pintu lift terbuka.
Selina berlari mengejar.
Masih berbalut selimut.
“Tama! Jangan pergi seperti ini!”
Lift hampir menutup saat ia tiba.
“Tama!”
Namun pintu sudah tertutup.
Ting.
Lift turun.
Selina berdiri di lorong apartemen. Ia menggenggam erat di depan dada, selimut yang membalut tubuhnya.
Air mata mengalir tanpa henti.
Ia terduduk di lantai.
Tangannya menutup wajah.
“Tama… maaf…”
Tangisnya pecah di lorong yang sunyi.
****
Di jalan raya malam itu.
Mesin mobil Tama meraung.
Lampu kota melintas cepat di kaca depan.
Tangannya mencengkeram setir.
Rahangnya kaku.
"AAARRRHHHH!"
“Brengsek…”
Napasnya berat.
Bayangan itu terus muncul di kepalanya.
Selina.
Dan Brian.
Di ranjang yang sama.
“Brengsek!”
Tama memukul setir.
Mobil melaju lebih cepat.
Lampu merah diterobos setelah memastikan jalan kosong.
Napasnya mulai tak teratur.
“Apa aku sebodoh itu…?”
Ia tertawa pahit. Ia ingat harapannya saat membeli bunga lily. Selina akan menerima dengan wajah yang dia selalu rindukan.
Mobil meluncur tanpa arah jelas.
Ia bahkan tidak sadar sudah berkeliling hampir satu jam.
Amarah.
Kekecewaan.
Dan rasa dipermalukan bercampur menjadi satu.
Tama menginjak pedal gas lebih dalam.
Seolah kecepatan bisa menghapus perasaan di dadanya.
Namun bayangan itu tetap ada.
Tetap menusuk.
Tetap menyakitkan.
"ARRRRGGHH!"
****
Di rumah besar keluarga Tama. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Bu Diana masih duduk di ruang tamu.
Tangannya memegang ponsel.
Namun tidak ada kabar.
Dita berdiri di dekatnya.
“Bu… sebaiknya Ibu istirahat.”
Bu Diana menggeleng.
“Tama belum pulang, Dit.”
“Mungkin masih di kantor.”
“Tidak.”
Nada suara wanita itu yakin.
“Dia tidak pernah pulang selarut ini tanpa kabar.”
Dita mencoba tersenyum menenangkan.
“Mungkin baterai ponselnya habis.”
Bu Diana menatapnya.
“Enggak, Dit. Nomornya nyambung, tapi enggak diangkat sama Tama,” katanya. "Coba kamu juga telpon, atau kirim pesan deh. Coba."
Dita mengambil ponselnya. Lalu mengetik pesan.
"Gimana, Dit?"
"Terkirim, Bu."
"Iya, aku tau terkirim. Masalahnya, dibaca apa enggak?"
“…belum, Bu.”
Bu Diana mendesah panjang.
“Ada sesuatu yang tidak beres.”
Dita berjongkok di depan kursi roda wanita itu.
“Ibu harus istirahat dulu. Kalau Tuan Tama pulang, saya akan beri tahu.”
Bu Diana masih ragu.
“Tapi..”
“Saya janji. Saat ini, kesehatan Bu Diana lebih penting. Bagaimana jika pulang nanti, Tuan Tama malah melihat mamanya gelisah dan terjaga sampai malam. Dia pasti akan merasa sangat bersalah. Apalagi, kalau Bu Diana sampai sakit.”
Bu Diana masih meragu. Dita tersenyum lembut.
“Saya akan menunggu di ruang tamu, Bu.”
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya Bu Diana mengangguk kecil.
“Baiklah…”
Dita mendorong kursi roda menuju kamar.
Setelah memastikan wanita itu tidur, ia kembali ke ruang tamu.
Rumah terasa sangat sunyi.
Jam menunjukkan hampir pukul satu.
Dita mengecek ponselnya lagi.
Masih tidak ada balasan.
Ia menghela napas.
“Mungkin memang masih di kantor…”
Ia berdiri.
Hendak menuju kamarnya.
Namun tiba-tiba...
Suara mobil berhenti di halaman.
Dita menoleh.
Beberapa detik kemudian pintu depan terbuka.
Tama masuk.
Langkahnya berat.
Dita langsung membeku.
Wajah pria itu kusut.
Rambutnya sedikit berantakan.
Kemeja kerjanya bahkan tidak rapi lagi.
Mereka saling menatap beberapa detik.
Sunyi.
“Tuan Tama…”
Suara Dita pelan.
“Ibu sangat cemas menunggu Anda.”
Tama tidak langsung menjawab.
Tatapannya kosong.
“…maaf.”
Suaranya serak.
Dita mengerutkan alis.
“Tuan… Anda baik-baik saja?”
Tama tidak menjawab.
Ia hanya berjalan melewati Dita menuju ruang kerja.
“Tuan Tama?”
Ia berhenti di ambang pintu.
“Dita.”
“Ya?”
“Bisa buatkan aku kopi?”
Dita ragu.
“Baik, Tuan.”
Tama masuk ke ruang kerja tanpa menunggu jawaban.
Di dalam ruangan itu.
Lampu meja menyala redup.
Tama duduk di kursi kerjanya.
Menunduk.
Kedua tangannya menutup wajah.
Tidak ada suara.
Hanya napas berat.
Pintu diketuk pelan.
“Masuk.”
Dita masuk membawa secangkir kopi panas.
Ia meletakkannya di meja.
“Silakan diminum, Tuan.”
Ia hendak pergi.
“Tunggu.”
Dita berhenti.
“Ya?”
Tama menatap kopi itu.
Lama.
“Aku ingin tidur.”
Dita bingung.
“…kalau ingin tidur, mungkin tidak perlu kopi.”
Tama mengusap wajahnya.
“Aku tidak tahu harus minum apa.”
Dita berpikir sebentar.
“Saya buatkan minuman lain.”
Ia mengambil kembali cangkir kopi itu.
“Yang bisa menenangkan.”
Tama tidak menolak.
Beberapa menit kemudian.
Di dapur.
Dita menyiapkan minuman hangat dari susu, madu, dan sedikit jahe.
Aroma lembut memenuhi ruangan.
Ia membawa kembali minuman itu ke ruang kerja.
“Tuan.”
Tama menerimanya.
Ia meminum sedikit.
Hangatnya langsung terasa di tenggorokan.
Dita hendak pergi lagi.
“Tunggu.”
Dita menoleh.
“Ya?”
“…duduk sebentar.”
Dita ragu.
Namun akhirnya ia duduk di kursi seberang.
Mereka tidak bicara.
Hanya diam.
Dita memandang pria itu diam-diam.
Wajahnya terlihat sangat lelah.
Matanya merah.
“Apa yang terjadi, Tuan?”
Tama tak menjawab, dia hanya membisu. Menutupi wajah tampannya dengan kedua tangan.
Dita menunduk, dia memang tak seharusnya ikut campur.
Dalam pikirannya, ia menyimpulkan sesuatu.
“Mungkin kah Tuan Tama sangat tertekan karena Ibu memaksanya menikah dengan ku…”
Perasaan bersalah perlahan muncul.
Jam terus berjalan.
Satu jam.
Dua jam.
Akhirnya…
Kepala Tama perlahan jatuh ke sandaran kursi.
Ia tertidur.
Jam menunjukkan pukul dua lewat.
Dita berdiri pelan.
Ia mengambil selimut kecil dari sofa.
Menutupkannya ke bahu pria itu.
Ia mematikan lampu utama.
Lalu keluar perlahan dari ruang kerja.
****
Pagi hari.
Rumah besar itu mendadak gaduh.
Suara wanita berteriak terdengar dari ruang tamu.
“Tama?!”
Dita yang baru turun tangga langsung tertegun.
Di ruang tamu, Selina berdiri di sana.
Wajahnya pucat.
Matanya sembab.
"Aku mencari Tama, dimana dia?"