NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran

"Jadi, Lavernus melakukan kesalahan lagi?"

Suara itu bergema dalam ruangan yang hening. Pria berjenggot putih lebat yang hampir menutupi seluruh dadanya menatap Stella dari balik meja batu melingkar yang masif. Kulit dahinya yang botak dan mengkilat berkeriput, dan jubah putihnya bersih sempurna, tanpa satu noda pun.

Ruangan ini adalah jantung dari Gereja Cahaya, sebuah ruang sidang setengah lingkaran. Dindingnya bukan dari batu biasa yang dingin dan keras, melainkan dari satu lembaran alabaster ajaib yang sama seperti bagian gereja lainnya, tetapi di sini, material itu tampak lebih pekat, lebih dalam.

Cahaya siang hari yang masuk dimanipulasi dan diarahkan dengan presisi oleh lightstone tersembunyi di sepanjang tepi kubah setengah bola yang menjulang—tidak memancar liar ke segala arah. Ia terkonsentrasi dalam satu sorotan tunggal, yang jatuh tepat di tengah-tengah ruangan bundar itu, menciptakan panggung ilahi.

Di sekeliling ruangan, melingkar sempurna, terletak meja batu melingkar yang masif dan berat, berwarna seperti granit tua yang kelabu. Di belakangnya, di kursi-kursi kayu hitam berukir rumit yang lebih mirip takhta kecil bagi para raja, duduk dua belas petinggi.

Dua belas pasang mata itu, berbagai warna, namun sama tuanya, sama keriputnya, sama tajamnya, tertuju pada dua sosok yang berdiri sendirian di dalam lingkaran cahaya: Stella, tegak, dan Otto di belakangnya, diam mengamati.

"Ya," jawab Stella, suaranya memotong keheningan. "Dan kali ini bukan hanya kesalahan kecil yang bisa dimaafkan dengan teguran. Dia membunuh seorang warga tak bersalah, di depan puluhan saksi mata yang melihat dengan kepala mereka sendiri. Kita harus memberinya hukuman yang setimpal."

"Tapi, Stella," kata salah satu pria tua lainnya, yang duduk di kursi ketiga dari kiri, jari-jarinya yang kurus dan berurat mengetuk permukaan meja batu dengan ritme yang mengganggu—tap, tap, tap. "Bukankah tindakan itu akan sangat merugikan organisasi ini? Reputasi kita di mata rakyat sudah cukup buruk sejak kasus Pembunuh IV yang mengerikan itu."

"Apa kau benar-benar yakin keputusan ini tepat, Stella?" sela yang lain dari seberang. "Pria itu adalah aset terbesar yang kita miliki di lapangan. Kekuatan fisiknya, kecepatannya... semua itu tak tergantikan oleh prajurit mana pun yang kita miliki saat ini."

"Ayolah, Stella," suara ketiga, lebih lembut. "Jangan terlalu kaku begitu. Kau masih muda, kau belum mengerti seluk-beluk dunia. Lagipula, para warga itu pada akhirnya hanya akan berkerumuk sebentar, lalu lupa. Mereka menyukai Lavernus—dia karismatik, dia tampan, dia pahlawan bagi sebagian besar orang awam yang tak tahu apa-apa. Mengeluarkannya secara terbuka bisa memicu ketidakpuasan massal, bahkan kerusuhan."

Mendengar serangkaian perkataan itu, satu per satu, Stella terdiam. Bahu dan rahangnya mengeras, menahan gelombang panas yang bergemuruh di dalam dadanya. Tangannya mengepal di samping tubuhnya yang ramping, kuku-kukunya yang rapi menancap dalam ke telapak tangan.

"Maafkan saya sebelumnya, Yang Mulia," Gadis itu berhenti sejenak, menarik napas. "Kenapa kalian selalu berusaha melindunginya? Bahkan ketika nyawa orang tak bersalah sudah melayang?"

Ucapan itu menggantung di udara yang dingin. Tidak ada yang bergerak. Jubah para petinggi yang tadi mungkin berdesir oleh gerakan kecil kekesalan, kini lemas tak berirama, menggantung kaku. Tangan-tangan yang sedang memegang segel lilin atau merapihkan dokumen kulit yang terbuka, membeku di tempatnya.

Tiba-tiba, salah satu dari mereka berbatuk. "Dengar, Stella," ucap pria dengan janggut paling putih, paling panjang, paling lebat, mungkin yang tertua dan paling berpengaruh di antara mereka. "Kami tahu, kau ingin menegakkan keadilan. Itu mulia, sangat mulia. Tapi, kami juga ingin kau mempertimbangkan konsekuensi yang lebih luas dari tindakan tergesa-gesa itu. Gereja Cahaya bukan hanya tentang hukum tertulis, tapi juga tentang stabilitas sosial."

"Benar," sambung yang lain dengan cepat, mengangguk-angguk setuju. "Banyak warga kota yang menyukai pria itu. Dia memberikan mereka rasa aman, meski mungkin itu hanya ilusi."

"Tapi beberapa dari mereka sudah melihat kekejamannya dengan mata kepala sendiri!" Stella tak lagi bisa menahan diri, suaranya meninggi. Nadanya bergetar oleh emosi yang menggelegak. "Mereka yang hadir di depan kedai tadi pagi bisa menjadi saksi yang sah di pengadilan mana pun! Itu alasan yang lebih dari cukup untuk mengeluarkannya."

Melihat pemandangan ini—sang putri yang biasanya tenang kini terdesak—Otto hanya bisa diam, mematung di belakang Stella. Mungkin banyak sekali kalimat yang ingin ia lontarkan dari balik topengnya. Tapi ini bukan waktunya, bukan tempatnya. Ia di sini sebagai saksi mata yang dibawa paksa oleh Stella, seorang tamu tak diundang.

"Kau."

Suara itu tiba-tiba mengarah padanya. Salah satu dari para petinggi, yang paling tengah dari mereka yang duduk, dengan wajah yang paling keriput dan mata yang paling tajam, menunjuk langsung ke arah Otto dengan jari telunjuknya yang kurus.

"Ya, Tuan Yang Mulia?" jawab Otto cepat, tubuhnya sedikit menunduk dalam gestur hormat yang sempurna.

"Kau orang yang berhasil melawan Lavernus, bukan? Yang bertopeng kelinci aneh itu."

"Ah, tidak, Tuan. Saya hanya... berusaha bertahan dari serangannya, menghindar sebisanya."

Mendengar itu, pria tua itu tiba-tiba tertawa. Tawanya tidak hangat, tidak ramah; ia menggema di ruangan yang kedap suara itu seperti gema di dalam gua yang dalam, kosong dan sedikit menyeramkan, membuat bulu kuduk merinding. "Kau orang yang menarik, Nak. Siapa namamu?"

"Steve, Yang Mulia."

"Steve ya," ulangnya perlahan. "Nah, Steve. Sebagai orang yang ada di lokasi kejadian, apa tanggapanmu mengenai dia? Jujurlah, tanpa takut."

Otto melirik Stella sekilas, hanya sekilas. Gadis itu, tanpa menggerakkan kepala, memberinya anggukan halus yang hampir tak terlihat, seolaj ingin berkata "Hati-hati."

"Jawablah," desak pria tua lain dari sisi berlawanan, suaranya lebih keras. "Stella sudah membawamu ke sini sebagai saksi mata. Kami ingin mendengar versi kejadian darimu, bukan hanya dari dia."

"Tanggapan saya..." Otto berhenti sejenak, menimbang-nimbang kata. "Kalau menurut saya, berdasarkan apa yang saya lihat dan alami sendiri hari ini—penyiksaan pada orang tua tak bersalah di dalam kedai, pembunuhan terhadap warga di depan umum... Tuan Lavernus pantas dikeluarkan dari jajaran Gereja Cahaya."

"Hm," gumam pria pertama yang bertanya, matanya yang tajam mengamati Otto dengan saksama. "Anak ini sangat berterus terang. Langsung pada intinya."

Melihat pengakuan Otto yang lugas, bibir Stella terangkat sedikit di sudutnya, membentuk senyuman kecil. Kemudian, dengan percaya diri baru, dia kembali menatap para petinggi satu per satu, matanya biru menantang. "Jadi, apa keputusan kalian sekarang? Masih mau melindungi pembunuh itu?"

Namun, yang ia dapatkan sebagai jawaban bukanlah keputusan tegas. Dua puluh menit berikutnya dihabiskan dengan debat yang berputar-putar tak tentu arah, alasan yang berbelit-belit seperti akar pohon, dan pertimbangan-pertimbangan "yang lebih besar" yang tak pernah dijelaskan dengan gamblang.

"Kami akan mempertimbangkannya lagi dengan lebih saksama," kata pria berjenggot putih itu dengan nada final yang menutup semua kemungkinan, sambil mengangkat tangannya.

Sidang usai.

Matahari sudah mulai merayap turun di ufuk barat, mengecat langit dengan warna jingga menyala dan ungu tua yang muram, ketika Stella akhirnya keluar dari gereja. Ia duduk sendiri di sebuah bangku batu yang dingin di taman kecil di samping kompleks gereja, di bawah naungan pohon ek tua yang daunnya mulai menguning.

Matanya menatap langit yang berubah warna dengan tatapan kosong. Kakinya yang jenjang tak henti-hentinya bergoyang gelisah, ujung sepatu botnya yang mahal menginjak-injak rerumputan yang dipotong rapi hingga layu dan hangus.

"Sial," gumamnya pelan melalui gigi yang dikatupkan rapat. "Ujung-ujungnya cuma 'kami pertimbangkan' lagi. Dasar..." Jantungnya masih berdegup kencang, sisa adrenalin dan kemarahan yang tak tersalurkan mengalir deras di pembuluh darahnya. "Apa-apaan para pria tua idiot itu? Ujung-ujungnya hanya memilih untuk menunda dan menunda lagi, seperti biasa. Sial. Aku harap Steve tidak kenapa-kenapa di dalam sana."

Tiba-tiba, sebuah sentuhan hangat di bahunya. Stella berbalik dengan cepat, refleks tangannya yang terlatih langsung mencengkeram pergelangan tangan yang menyentuhnya dengan cengkeraman kuat dan tepat.

"Wah," suara itu tenang, sama sekali tak terkejut. "Jadi begini rasanya refleks putri dari Kerajaan Valemira yang terkenal itu. Cepat sekali."

Otto berdiri di sana, di samping bangku, tubuhnya tetap rileks, tak terusik. Stella segera melepas cengkeramannya, wajahnya yang pucat merona merah karena malu dan lega bercampur. "Oh, syukurlah. Kau rupanya sudah keluar. Jadi?"

"Mereka akhirnya membiarkanku pergi setelah... percakapan yang cukup menarik dan panjang."

"Bagaimana? Apa terjadi sesuatu di dalam? Apa yang mereka bicarakan kepadamu? Mereka tidak mencoba menghasutmu, kan?" Kata-kata Stella meluncur cepat, khawatir.

"Pertanyaan Anda terlalu banyak, Tuan Putri," ucap Otto, nadanya datar namun sedikit bercanda.

"Ah, maaf." Stella menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, mengusap wajahnya dengan telapak tangan. "Sepertinya pikiranku semakin kacau setelah debat tadi. Ayo, sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya."

Otto mengangguk setuju, dan mereka berjalan berdua meninggalkan kompleks gereja yang megah namun menekan itu, masuk kembali ke labirin kota yang mulai berubah wajahnya di bawah cahaya senja yang tembaga.

Matahari condong semakin rendah, menyembunyikan ketajaman sinarnya yang perih di balik jilatan jelaga hitam dari ratusan cerobong pabrik yang mulai berasap mempersiapkan malam. Cahaya jingganya yang malas dan kemerahan menyapu fasad kayu rumah-rumah tua. Inilah masa transisi kota yang ajaib, ketika napas siang yang panas dan hiruk-pikuk perdagangan mulai perlahan tertelan oleh desisan malam yang lebih pelan, lebih waspada, lebih berbahaya.

Udara pun berubah secara bertahap. Aroma tajam keringat siang dan kotoran pasar yang memenuhi hidung mulai dikalahkan oleh aroma yang lebih domestik: asap kayu pinus dan oak yang pertama kali dinyalakan di perapian rumah-rumah untuk menghangatkan malam, dan bau metalik tanah basah di sekitar sumur-sumur tempat para perempuan berdesakan mengisi kendi terakhir mereka sebelum gelap benar-benar tiba.

"Anda tidak bertanya lagi, Tuan Putri?" tanya Otto tiba-tiba, memecahkan keheningan panjang yang cukup nyaman di antara mereka. Suara roda gerobak kayu yang berderit dan teriakan pedagang yang bergegas menutup kios menjadi latar belakang yang konstan.

"Tanya apa lagi?"

"Mengenai pembicaraan mereka denganku di dalam tadi."

"Ah, itu." Ekspresi Stella datar. "Entah kenapa, rasanya aku lebih baik tidak usah tahu. Semakin sedikit aku tahu tentang permainan kotor dan intrik mereka di balik layar, semakin sedikit pula yang bisa mereka paksakan dariku di masa depan. Itu strategi bertahan hidupku."

"Begitu. Strategi yang bijak."

Saat mereka terus berjalan tanpa tujuan pasti, Otto mulai mengingat kembali pembicaraan di ruangan kecil setelah sidang utama usai. Ingatan itu masih segar, masih panas.

...****************...

Beberapa saat sebelumnya.

Mereka membawanya ke sebuah ruang kecil setelah sidang, terletak di koridor belakang yang sunyi. Ruangan itu berpanel kayu gelap. Dua belas pria tua itu mengelilinginya, bukan lagi di balik meja batu yang megah dan menjauh, tetapi dekat, terlalu dekat.

"Nak Steve," ucap yang paling tua, yang berjanggut putih lebat. "Apakah kau tahu siapa kami sebenarnya?"

"...Kedua belas Penasihat Tertinggi Gereja Cahaya, yang memegang kendali sebenarnya," jawab Otto, menjaga nada sopan, meski jantungnya berdebar waspada.

"Bagus, bagus. Tapi lebih dari itu, Nak. Kami adalah penjaga stabilitas kerajaan, pengawas moral rakyat, dan yang terpenting saat ini..." Pria itu tersenyum lebar, keriput di sekitar matanya yang sayu berjuntai ke bawah. "Kami adalah pencari bakat sejati. Dan sebenarnya, kami sangat, sangat tertarik denganmu, Steve."

"Ya," sambung yang lain dengan cepat, seorang dengan rambut perak panjang yang diikat rapi di belakang kepala. "Kami melihat potensi yang sangat besar di dalam dirimu. Usiamu berapa, Nak?"

"Lima belas tahun, Yang Mulia," ucap Otto jujur.

"Lima belas tahun?!" Suara dari mereka serempak meninggi, terkejut asli. Beberapa bahkan hampir berdiri dari kursi mereka. "Luar biasa, Steve! Di usia semuda itu, kau sudah bisa berhadapan dengan prajurit sekelas Lavernus?"

"Bagaimana perasaanmu?" Pria pertama mendekat selangkah lagi, sangat dekat, hingga Otto bisa mencium bau minyak wangi tua yang tengik. "Apa kau tertarik untuk bergabung dengan kami? Bergabung dengan Gereja Cahaya? Kami bisa memberimu masa depan yang cerah, lebih cerah dari yang bisa kau bayangkan."

Apa yang harus kujawab? pikir Otto. Menolak langsung dengan tegas akan sangat berisiko. Tapi menerima dengan sukarela jelas bukan pilihan yang masuk akal.

"Maaf, Yang Mulia sekalian," ucapnya. "Itu adalah kehormatan yang sangat besar, sungguh. Tapi... sebelum saya memutuskan, boleh saya tahu apa saja keuntungannya jika saya bergabung?"

Mendengar pertanyaan lugas itu, mereka saling bertukar pandang sejenak dan kemudian, secara bersamaan, mereka semua tertawa. Tawa yang ramai, terbahak-bahak penuh kemenangan, seolah Otto baru saja mengatakan lelucon terbaik yang pernah mereka dengar.

"Astaga!" teriak salah satu dari mereka, sambil mengusap air mata yang muncul di sudut matanya yang merah. "Aku suka anak ini! Pragmatis! Tidak seperti kebanyakan pemuda bodoh yang hanya bisa terpesona oleh kemuliaan palsu!"

"Dia benar-benar memikirkan masa depannya, bukan?" yang lain menambahkan sambil terkekeh-kekeh. "Baiklah, Steve. Dengarkan baik-baik. Keuntungannya sangat banyak. Kau akan dihormati di mana pun kau melangkah, mendapat pendidikan terbaik yang uang bisa beli, tempat tinggal yang layak, bahkan kami punya asrama khusus untuk bakat-bakat muda seperti dirimu. Kau bisa meminta hampir apa pun yang kau mau, dan kami akan mengabulkannya."

"Dia benar," pria pertama, yang paling tua, kini merangkul bahu Otto dengan erat, terlalu erat. Cengkeramannya kuat, sangat kuat. "Kami akan... menganakemaskanmu, Steve. Kau akan menjadi bintang baru kami, aset paling berharga yang kami miliki."

Otto membiarkan dirinya terlihat tergoda sejenak. "Yah, bagaimana ya... Itu semua adalah tawaran yang sangat, sangat menggiurkan, Yang Mulia. Tapi, sepertinya... pasti ada syaratnya, bukan? Sesuatu yang harus saya lakukan sebagai balasannya."

Pria tua yang merangkulnya itu diam sebentar. Senyum lebarnya berubah, menjadi lebih sempit, lebih tajam. Matanya yang tadinya ramah dan penuh tawa kini berkilat dengan kecerdikan yang dingin dan berbahaya. Ia membungkuk, mendekatkan mulutnya yang keriput ke telinga Otto, dan berbisik dengan suara yang begitu rendah hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar:

"Anak pintar. Ya, tentu saja ada satu syarat kecil." Napasnya hangat dan lembap di telinga Otto. "Kau harus tutup mulut rapat-rapat tentang kejadian pagi ini. Tentang Lavernus. Kau tidak melihat apa-apa, tidak mendengar apa-apa, tidak tahu apa-apa. Kau paham?"

Rangkulan di bahu Otto mengeras menjadi cengkeraman yang menyakitkan, seperti penjepit besi. "Paham, Nak?"

"Tolong beri saya waktu untuk memikirkannya, Yang Mulia."

"... Baiklah. Tapi jangan sebarkan percakapan kecil ini."

...****************...

"Steve?" Stella memanggilnya, suaranya memutuskan alur ingatan yang pekat itu. Mereka sudah sampai di sebuah persimpangan jalan yang lebih sepi, jauh dari keramaian, dekat dengan tembok kota yang mulai membiru dalam senja. "Kau diam saja. Apa ada yang salah denganmu?"

Otto menggeleng pelan, topeng kelincinya yang retak berayun sedikit. "Tidak, Tuan Putri. Tidak ada yang salah. Hanya sedang memikirkan... betapa rumitnya kota ini."

"Begitu." Stella mendesah panjang, matanya yang biru menatap jalan di depan yang mulai diterangi oleh lampu-lampu gas pertama—cahaya kuning yang berkedip-kedip lemah. "Kau benar, Steve. Kota ini rumit. Lebih rumit dari yang terlihat."

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!