Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Bicara Berdasarkan Fakta
"Bukan kami, Ndara! Kulo berdua cuma membantu mengangkatnya dari halaman, orang-orang yang menariknya tadi sudah pergi entah ke mana!"
Kedua pemuda itu beringsut mundur, wajah mereka makin pucat saat Sawitri melangkah mendekat.
Penjelasan mereka tersendat-sendat, seolah udara di sekitar mendadak menipis dan mencekik paru-paru.
"Kalian ingat rupa mereka?" seru Ki Lurah Wirapati tegas.
"Jika kalian melihatnya lagi, apa kalian bisa mengenali mereka?"
"Mungkin... saged, Ki," jawab salah satu dari mereka ragu.
Suasana sangat kacau saat itu.
Asap hitam dan debu yang beterbangan membuat jarak pandang terbatas, wajar jika ingatan mereka sedikit kabur.
Ki Lurah segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk membawa kedua pemuda itu ke kantor Kadipaten guna dibuatkan sketsa wajah.
"Orang berbuat baik menolong malah dicurigai? Kowe ini masih bocah tapi sudah berani bertindak sembrono!" semprot Ki Kerta, juru mayat tua itu, suaranya parau penuh kejengkelan.
"Kalau berita ini tersebar, besok-besok mboten wonten warga yang mau menolong kalau ada kebakaran!"
Sawitri tak membalas gertakan itu dengan emosi.
Ia menatap Ki Kerta dengan tatapan datar yang justru terasa lebih menyakitkan daripada makian.
"Mengejar mereka berarti memastikan apakah mereka malaikat penolong atau iblis penyabut nyawa," ujar Sawitri tenang.
Ia kembali berlutut di samping jenazah Ningsih.
"Teknik penyelamatan ada banyak cara, Ki. Tapi kulo mboten pernah dengar ada orang waras menyelamatkan korban kebakaran dengan cara mengikatkan tali tambang melingkar ke leher lalu menyeretnya keluar."
Sawitri menunjuk leher jenazah dengan ujung jari yang tertutup kain.
"Seretan sekuat itu akan mematahkan tulang hyoid dan menyumbat jalan napas dalam hitungan detik."
"Jika korban masih hidup saat ditarik, dialah yang membunuhnya."
"Jika sudah mati, maka dia hanya memalsukan bukti."
Ki Lurah Wirapati mengangguk paham, sorot matanya kini dipenuhi kekaguman.
"Artinya, mereka berani menyeret leher korban karena sudah tahu korban sudah mati."
"Mereka bukan penyelamat, tapi antek pembunuh," gumam Ki Lurah mantap.
Di usia yang baru belasan tahun, ketajaman logika Sawitri sungguh di luar nalar.
Sementara gadis-gadis sebayanya di pusat kota Mataram mungkin sedang sibuk memilih corak batik untuk memikat jejaka, gadis di depannya ini justru sibuk membedah benang merah sebuah pembunuhan.
"Kalian berdua tampak sangat serasi dalam berspekulasi," cibir Ki Kerta, wajahnya memerah karena malu dan marah.
"Jika kowe lebih percaya bocah kencur ini daripada aku yang sudah puluhan tahun memeriksa mayat di Mataram, lebih baik aku pulang saja!"
Ki Kerta berlagak hendak pergi, namun langkahnya terhenti karena tak ada satu pun orang, termasuk Ki Lurah, yang berusaha menahannya.
Ia pun kembali berdiri mematung di sudut halaman dengan tatapan penuh dendam ke arah Sawitri.
Sawitri mengabaikan kehadiran pria tua itu.
Ia memusatkan perhatiannya pada bagian perut jenazah yang sedikit menonjol secara tidak alami.
"Ki Lurah," panggil Sawitri dingin.
"Menurut dugaanku, wanita ini dibunuh karena benih yang ada di dalam rahimnya."
"Kowe bicara apa?! Semakin melantur!" teriak Ki Kerta lagi, seolah mendapat amunisi baru.
"Ningsih ini baru berumur sebelas tahun! Mana mungkin hamil? Kowe jangan mengotori nama baik orang yang sudah mati!"
"Bagaimana jika kulo bilang umurnya sudah lima belas tahun?"
Sawitri berdiri, suaranya kini mengandung nada tajam yang membuat Ki Kerta tersentak.
Pengalamannya bertahun-tahun di ruang autopsi modern memungkinkannya mengukur usia biologis hanya dari perkembangan tulang dan postur tubuh.
"Jika Ki Kerta mboten percaya, silakan Ki Lurah cari keluarganya untuk verifikasi umur dan statusnya," tambah Sawitri mutlak.
"Keluarganya sudah dalam perjalanan kemari," jawab Ki Lurah singkat.
Tak lama kemudian, sepasang suami istri paruh baya berlari menembus kerumunan.
Sang pria mengenakan surjan cokelat tua kusam, wajahnya basah oleh keringat dan air mata.
"Ningsih! Anakku!" raung pria itu, Ki Kasan, sambil menjatuhkan diri di samping jenazah putrinya.
"Ki Kasan, Nyi Kasan," sela Ki Kerta dengan nada sok bijak.
"Gadis ini menuduh Ningsih mati karena hamil. Dia ingin merusak kehormatan keluarga kalian!"
"Apa?!" Ki Kasan bangkit, matanya merah menatap Sawitri.
"Tega-teganya kowe! Anakku mati terbakar, dan kowe malah memfitnahnya? Kulo akan lapor ke Adipati!"
"Kulo hanya bicara berdasarkan fakta," jawab Sawitri tanpa getaran emosi.
"Perutnya menonjol bukan karena gas pembusukan, tapi karena ada jaringan padat di dalamnya."
"Bisa jadi tumor, bisa jadi janin."
"Untuk memastikannya, kulo perlu membedah perutnya sekarang juga."
"Bedah perut?!" jerit Nyi Kasan histeris, nyaris pingsan.
"Kowe benar-benar iblis!" teriak Ki Kasan sambil hendak menerjang Sawitri.
Namun, kilatan logam keris yang sedikit dicabut dari warangkanya oleh Ki Lurah Wirapati menghentikan langkah Ki Kasan seketika.
"Jaga sikapmu, Ki Kasan," perintah Ki Lurah tegas.
"Menurut hukum Mataram, jika kematian dianggap mencurigakan, mayat mboten boleh dikubur sebelum diperiksa tuntas."
"Kulo akan membawa jenazah ini ke Balai Pemeriksaan Kadipaten."
Malam telah jatuh sepenuhnya saat mereka tiba di Balai Pemeriksaan, sebuah bangunan kayu yang lembap dan dingin di belakang pendopo Kadipaten.
Di dalam ruangan utama, telah duduk dengan wibawa seorang pria paruh baya mengenakan busana kebesaran berwarna ungu tua dengan sulur-sulur benang emas.
Adipati Sasongko, pemimpin wilayah tersebut, telah menanti.
"Lakukan pemeriksaan, Wirapati. Kulo ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi," perintah Adipati singkat.
Sawitri melangkah masuk ke ruang pemeriksaan yang minim cahaya.
Hanya ada sebuah balai-balai kayu yang dilapisi kain putih kusam.
Di sampingnya, meja kecil berisi beberapa pisau bedah kuno dan cairan arak murni.
Sawitri mengulum irisan jahe di mulutnya untuk menetralkan bau mayat, teknik kuno yang cukup efektif.
Ia mengenakan sarung tangan dari usus ternak yang telah dibersihkan, lalu menutupi hidung dan mulutnya dengan kain perca putih.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kayu terbuka perlahan.
Adipati Sasongko masuk bersama seorang pemuda asing berpakaian lurik sutra halus namun tanpa gelar yang jelas.
"Ini Raden Cakrawirya, kerabat kulo dari pusat kota. Dia ingin menyaksikan," kata Adipati memberi instruksi agar Sawitri mengabaikannya.
Sawitri melirik sekilas ke arah pemuda bernama Cakrawirya itu.
Wajahnya rupawan dengan rahang tegas, namun ada binar cerdas dan sedikit 'nakal' di matanya.
Yang menarik perhatian Sawitri bukanlah ketampanannya, melainkan aura tenang yang dipancarkannya, aura orang yang biasa memegang kendali.
Namun, Sawitri segera mengalihkan pandangannya.
Di atas meja operasi ini, hanya Ningsih yang penting.
"Ki Lurah, tolong catat setiap kata yang kulo ucapkan," perintah Sawitri datar.
"Baik, Ndara Tabib."
"Jenazah wanita, nama Ningsih, usia biologis lima belas tahun. Tinggi seratus tiga puluh lima sentimeter. Kaku mayat sudah terjadi di seluruh tubuh. Lebam leher merah kebiruan, tanda terjadi saat hidup. Retak kuku tengah tangan kanan, indikasi perlawanan fisik primer."
Sawitri mengambil pisau bedah paling tajam.
Tangannya stabil, tanpa ragu sedikit pun.
"Paru-paru dan tenggorokan bersih dari jelaga," lanjut Sawitri sambil melakukan insisi Y pada dada korban.
"Artinya, sistem pernapasan sudah berhenti sebelum api menyentuh tubuhnya."
"Kematian disebabkan oleh asfiksia akibat jeratan."
Ia beralih ke bagian perut.
Tangannya bergerak dengan presisi seorang dokter forensik spesialis.
"Sekarang kulo akan membuka rongga rahim."
"Kenapa berhenti? Apa kowe takut rahasiamu terbongkar, Nduk?" cibir Ki Kerta dari ambang pintu, tetap tak mau kalah.
Sawitri tidak menoleh.
Matanya tetap fokus pada pisau bedah yang kini berada tepat di atas perut Ningsih.
"Raden Cakrawirya," panggil Sawitri tanpa menoleh, "kulo akan mengeluarkan isi rahim ini sebagai bukti hukum."
"Jika Raden mboten kuat melihat pemandangan ini, sebaiknya Raden keluar sekarang juga."
Sudut bibir Cakrawirya terangkat tipis, membentuk senyum misterius yang sulit diartikan.
"Lanjutkan saja, Ndara Tabib. Kulo ingin melihat bagaimana 'kebenaran' itu keluar dari pisau tajammu."