Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijenguk
Begitu banyak hal yang diceritakan oleh Nia kepada Indira mengenai tempat kerjanya sekarang, dan Indira sendiri juga sangat tertarik dengan cerita tersebut. Sudah satu jam lebih mereka bercerita disana, namun kedua orang tua Indira belum kelihatan datang juga kesana, dan entah kapan keduanya akan datang nantinya.
"Indira dirawat diruangan apa?" Tanya entah siapa, mereka tengah lewat didepan ruang rawat Indira.
"Nggak tau juga, tadi udah tak chat tapi belum dibalas juga sampe sekarang," Jawab satu orangnya lagi.
"Tapi centang dua atau satu?"
"Dua,"
"Tanyalah, fungsinya hp buat apa cobak? Telpon dia, centang dua mungkin hp nya di taroh terus dia tidur kali,"
"Oke oke, bentar aku telpon dulu,"
Mendengar itu langsung membuat Indira menoleh kearah kaca yang ada disebelahnya, dirinya pun mengetuk kaca itu ketika melihat teman kerjanya yang tengah berdiri didepan ruangan itu. Mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu, hal itu langsung membuat kedua orang menatap kearah Indira, dan keduanya langsung bergegas untuk masuk kedalam ruangan itu.
"Kalian datang kok nggak bilang bilang dulu sih? Untung langsung tau tempatnya," Tanya Indira.
"Udah bilang, kamunya saja yang tidak lihat ponselmu," Jawab Tifa, teman satu mesin dengan Indira.
"Eh iya kah? Soalnya nggak denger pesan masuk, lagi pula ponselku sedang tak isi daya disana, jadi nggak tau kalo ada pesan masuk atau nggak nya,"
"Huh pantesan,"
Indira pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal mendengar penjelasan dari temannya itu, dirinya pun merasa malu atas hal yang diucapkan oleh Tifa sebelumnya. Mereka pun mengobrol bersama sama bercerita mengenai kondisi yang ada di pabriknya, dan tak lama kemudian Nia pun berpamitan untuk pulang karena masih banyak hal yang harus dirinya kerjakan.
Sebenarnya Nia berbohong soal itu, Nia tidak kerasan ditempat itu apabila ada dua orang tersebut disana, karena sejak awal masuk pabrik sifat keduanya langsung membuat Nia merasa tidak enak. Indira yang paham soal itu pun sama sekali tidak mencegah Nia untuk pulang, jika dicegah pun tidak akan baik untuk Nia nantinya.
Mereka pun mengobrol bertiga disana, begitu banyak hal yang mereka obrolkan saat itu, dan tak lama kemudian datanglah seorang suami istri dan langsung masuk kedalam ruangan tersebut. Ketiganya yang melihat itu langsung sontak bersemangat melihat kedatangan dari dua pasangan itu, Indira langsung mempersilahkan keduanya untuk duduk.
"Kalian disini juga? Kita datang disaat yang tepat ya," Tanya seorang wanita sambil tersenyum kearah ketiganya, wanita itu tidak lain adalah Rania dengan suami barunya.
"Iya, baru saja tiba kok, belum lama juga. Kita juga baru duduk ini," Jawab Tifa.
"Eh kamu kok tau kalo aku di ruangan ini?" Tanya Indira.
"Tau lah, orang suaramu kedengeran sampe di parkiran, mangkanya aku tau," Jawab Rania.
"Halah bohongnya loh kelihatan,"
"Hehehe... Nggak kok, tadi tanya perawat didepan sana, jadi langsung tau ruangannya,"
"Kenapa kita nggak kepikiran ya buat tanya perawat?" Tanya Tifa sambil menyenggol temannya itu.
"Salah lu sendiri sih, sok tau," Ucap seseorang yang ada disebelah Tifa.
Keduanya pun langsung tertawa, sudah sangat lama keduanya tidak pernah bercanda gurau seperti ini apalagi Rania sudah berhenti bekerja beberapa minggu yang lalu. Sejak tadi teman Indira yang satunya lagi hanya bisa diam sambil terus memperhatikan Indira, entah apa yang tengah dirinya perhatikan dari gadis itu.
"Kapan diperbolehkan pulang?" Tanya Rania kepada Indira.
"Paling nggak tiga hari lagi," Jawab Indira.
"Halah masih lama dong, tadinya saudaraku juga mau ikut kesini loh buat jenguk dirimu, tapi dia masih ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Paling kalo nggak nanti malem ya besok malem,"
"Sudah tau."
"Hah! Tau dari mana kamu? Apa kalian saling bertukar kabar ha? Wah nampaknya ada main dibelakang nih,"
"Ngawur aja kalo bilang,"
Mereka berlima pun saling bercanda satu sama lainnya, meskipun suami Rania cowok sendiri disana, namun dia ikut serta bercanda dengan Indira. Karena sebelumnya Indira dan Rania beserta suaminya suka bercanda seperti itu, sehingga tidak ada kekakuan diantara mereka dalam bercanda namun mengetahui batasnya.
"Daripada lewat infus kayak begitu lama habisnya, kenapa nggak langsung kamu minum aja biar seger?" Tanya suaminya Rania kepada Indira.
"Maunya sih begitu, berhubung nggak ada makanan yang bisa masuk jadinya bisanya dengan cara begini," Jawab Indira.
Keempat orang yang ada disana belum pernah merasakan yang namanya opname, sehingga banyak yang bertanya kepada Indira mengenai rasanya. Indira pun sedikit terhibur dengan kedatangan dari teman temannya, karena sebelumnya dirinya merasa bosan dirumah sakit itu sendirian apalagi kedua orang tuanya belum datang.
"Dira, kayak gitu apakah sakit? Soalnya kan ditusuk tusuk jarum begitu," Tanya Lula yang sejak tadi hanya diam sambil memperhatikan Indira.
"Awalnya sih sakit, kalo begini nggak sakit kok malah kayak ada dingin dinginnya begitu, tapi kalo pas dikasih obat lewat suntikan biyuhh rasanya sakit banget. Kalo begini nggak kerasa apa apa, cuma rasanya ada yang nempel di kulit," Jawab Indira.
"Masak kalo begitu nggak sakit? Kan itu masih menancap di dagingmu kan?"
"Nggak, begini mah nggak sakit lah. Kalo di suntik antibiotik baru sakit tambah panas,"
"Iya kah?"
"Iya."
"Kamu coba La, nanti kan tau sendiri rasanya gimana," Sela Tifa mendengar obrolan keduanya.
Sejak tadi Lula sangat penasaran dengan rasanya diinfus, dirinya selama ini belum pernah merasakan hal itu, sementara Indira sudah beberapa kali merasakan diinfus ditangan yang sama. Awal pertama kali dia diinfus pun merasa tidak nyaman dengan tangannya, namun karena sudah beberapa kali diinfus rasanya dirinya sudah terbiasa akan hal itu jadi sudah tidak terasa mengganggu.
Kadang kala karena kebanyakan gerak, sehingga menyebabkan tangan Indira pun membengkak, dan hal itu berlangsung lama hingga infusnya dicabut dari tangannya. Pertama kali dirinya diinfus dia tidak berani untuk bergerak karena takut infusnya terlepas dari tangannya, sehingga ia hanya bisa menyandarkan tangannya di kasur rumah sakit tanpa bergerak.
Pertama kali diinfus tangan Indira sampai bengkak dan rasanya sangat nyeri, apalagi hanya sekedar untuk menggenggam saja dirinya sudah sangat kesulitan, dan hal itu sangat menggangu dirinya dirawat disana. Ia pun harus bertahan berhari hari didalam rumah sakit dengan kondisi tangannya yang sudah membengkak, hingga akhirnya selang infus itu dicabut dari tangannya.
Semakin sering dirinya diinfus, semakin banyak pula ia menggerakkan tangannya dan makin lihai sehingga tidak ada yang namanya tangan bengkak karena diinfus. Indira pun menjelaskan kepada keempat orang yang ada disana mengenai bagaimana rasanya tangan diinfus, dan keempatnya pun mendengarkannya dengan seksama.
"Boleh aku pegang nggak?" Tanya Lula yang masih penasaran.
"Apanya yang kamu pegang?" Tanya Indira.
"Ya infus mu itu? Aku pengen lihat sesuatu."
"Aku jadi curiga deh, nggak ah nanti kamu macam macam lagi terus buat infusnya terlepas," Jawab Indira.
"Jangan aneh aneh La, ini soal kesehatan orang jangan bercanda," Ucap Tifa.
"Iya iya tau, kan aku cuma penasaran saja. Lagian juga nggak sampek ku lepas kok,"
Indira pun mengizinkan Lula melihat infus ditangannya dengan dekat, Lula belum pernah menjenguk orang yang masuk rumah sakit sebelumnya, dan jika dirinya menjenguk kerabat ataupun saudaranya yang diopname pasti dia menjenguknya ketika sudah pulang ke rumah. Oleh karenanya dirinya begitu sangat penasaran dengan infusan, dan bagaimana cara bekerjanya infusnya itu.
"Kalo infus dikantong itu habis gimana?" Tanya Lula lagi.
"Ya tinggal panggil perawatnya untuk diganti lah, masak didiemin doang," Entah mengapa Indira langsung kesal mendengar pertanyaan dari Lula itu.
Dwi, suami Rania hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya mendengar setiap pertanyaan yang diajukan oleh Lula kepada Indira itu, bahkan hal dasar seperti itu saja dirinya tidak mengetahuinya. Padahal anak kecil pun pasti akan tau kalo habis baru diganti, bahkan hal itu saja ditanyakan oleh Lula yang membuatnya merasa heran.
Tak lama kemudian kedua orang tua Indira pun datang, keduanya terkejut ketika banyak yang tengah menjenguk Indira saat ini didalam ruangan itu. Keempat orang yang ada disana langsung bergantian untuk bersalaman kepada kedua orang tua Indira, Indira sendiri tersenyum melihat hal tersebut dan entah kenapa hatinya sangat senang.
"Kita nggak bisa lama lama Dira, soalnya masih ada urusan soal kerjaan." Ucap Rania.
"Kalian mau pulang?" Tanya Tifa.
"Iya kami pamit dulu,"
"Kita juga sekalian deh ikut pulang,"
"Kalian mau pulang?" Tanya Indira.
"Iya, sudah lama juga kami berdua disini,"
"Baiklah hati hati dijalan ya,"
Rania dan suaminya pun langsung berpamitan untuk pulang kepada Indira, diikuti juga dengan Tifa dan Lula yang ikut serta berpamitan. Tifa pun memberikan sebuah amplop kepada Indira dan Indira sendiri kebingungan dengan hal itu, kenapa ia diberi amplop dengan isian yang agak tebal.
"Itu dari anak anak pabrik, aku hanya menyampaikannya saja." Ucap Tifa.
"Terima kasih ya, sampaikan kepada mereka semuanya terima kasihku. Jadi sungkan aku kalo begini,"
"Halah sungkan sungkan,"
Indira merasa tidak enak dengan semuanya, namun dirinya juga merasa bersyukur memiliki teman teman se pabrik yang peduli kepadanya. Setelahnya mereka pun langsung pergi meninggalkan Indira, mereka juga berpamitan terlebih dahulu kepada kedua orang tua Indira.
"Kok buru buru pulang aja?" Tanya Yanti kepada Indira setelah teman teman Indira sudah pergi.
"Udah dari tadi mereka disini, Bun. Bunda sih baru datang jadi nggak tau, lagian mereka juga punya urusan sendiri sendiri,"
"Iya kah? Tak pikir baru aja datang,"
"Nih dari temen temen pabrik," Ucap Indira sambil menyerahkan amplop berisikan uang itu kepada Ibunya.
"Sudah kamu simpan aja buat biaya rumah sakit nanti,"
"Baiklah Bun."
Indira lalu menyimpan uang tersebut dibawah bantalnya, karena disana terdapat dompet miliknya yang tersimpan rapi. Hanya disanalah dirinya menyimpan barang berharga miliknya, karena bantal tersebut ia gunakan untuk tidur sehingga tidak akan ada yang mengotak atik nya ketika Indira tidur.
Indira merasa bersyukur karena ada yang membantunya untuk membiayai rumah sakitnya nanti, kalau tanpa uang itu dirinya sendiri tidak tau bagaimana caranya untuk membayar kekurangan rumah sakit tersebut. Apalagi ditambah dengan uang miliknya yang pas pasan, dan Indira sendiri takut apabila uang itu tidak cukup untuknya.
"Bunda kok lama sih datangnya, biasanya nggak sampe jam 5 loh," Tanya Indira.
"Tadi Bunda mampir dulu ke tempat yang kamu tinggali buat dibersihkan, jadi agak lama datangnya."
"Oalah pantesan lama, tadi infusnya habis untung saja ada Nia yang siap datang setiap saat,"
masih jd pacar ae di Peres mau saja 🤣. pa lagi dah di nikahi di jadi kan BABU gratisan pun mau di indira ini.
cewek kok bego mau di manfaat kan laki.
Aku ae orang kampung kurang kasih sayang Dr ortu pun gk sebego itu kok, gk bucin ma laki.
bikin indira nya jd perempuan yg kuat, tegas dan pintar jd gak mudah diperalat oleh laki2 sperti wisnu
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.