NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Darah atas kasur

​Siang yang seharusnya tenang di Desa Karang Jati berubah menjadi panggung kengerian yang tak terlupakan. Rumah Sugeng, yang biasanya hanya terdengar suara bising anak-anak bermain atau denting loyang kue Wiwin, kini dikerumuni lautan manusia. Warga berdiri berdesakan di depan pintu dan jendela, namun tak satu pun dari mereka berani melangkah masuk melampaui ambang pintu kamar. Mereka hanya diam, terpaku dalam horor yang murni, menyaksikan pemandangan yang seolah datang dari neraka.

​Aroma anyir darah yang segar dan menyengat menyerang indra penciuman siapa pun yang mendekat. Di tengah ruangan, Sugeng tergeletak tak berdaya di lantai semen yang dingin, dikelilingi genangan cairan merah yang mulai mengental.

​Seorang sesepuh desa, Mbah buyut Gito, yang rambutnya sudah memutih seluruhnya, melangkah maju dengan tangan gemetar namun tenang. Dengan selembar kain lusuh, ia memungut golok berdarah yang tergeletak di samping tubuh Sugeng. Ia tidak bicara sepatah kata pun, hanya mengamankan senjata tajam itu dan membawanya keluar rumah agar tidak ada lagi nyawa yang melayang. Langkahnya diikuti oleh tatapan ngeri para pemuda desa.

​Di sudut lain, beberapa ibu-ibu setengah baya bergerak maju. Mereka tidak mendekati Sugeng, melainkan merangkul Wiwin yang masih berdiri mematung dengan tatapan kosong. Baju daster yang dikenakan Wiwin terkena cipratan darah, kontras dengan wajahnya yang pucat pasi.

​"Ayo, Win... ikut kami. Pindah ke kamar sebelah dulu," bisik Mak Ipah, pemilik warung pojok, dengan suara bergetar.

​Wiwin tidak meronta. Ia membiarkan dirinya digandeng masuk ke kamar depan yang biasanya digunakan untuk tamu. Begitu bokongnya menyentuh dipan kayu, pertahanan batin Wiwin runtuh. Ia tidak lagi diam. Ia mulai menjerit, sebuah lengkingan yang sarat dengan kepedihan, kemarahan, dan rasa frustrasi yang telah dipendam selama bertahun-tahun.

​"Dia jahat! Mas Sugeng jahat!" teriak Wiwin sambil menjambak rambutnya sendiri. Ibu-ibu di sekelilingnya mencoba memegangi tangannya. "Setiap malam dia mendesah! Dia menyebut nama perempuan itu! Dia tidak anggap aku ada! Dia bawa pelacur setan itu ke dalam mimpiku, ke dalam ranjangku!"

​Wiwin menceritakan semuanya tanpa saringan. Ia menceritakan bagaimana Sugeng berubah menjadi kasar, bagaimana ia ditampar hanya karena masalah sepele, dan puncaknya, bagaimana ia melihat bayangan wanita asap yang sedang menindih suaminya.

​"Aku lihat sendiri! Dia telanjang bulat menindih guling, matanya merem tapi mulutnya mangap-mangap panggil sayang !! Sayang !!" Wiwin terus berteriak hingga suaranya serak.

​Sementara itu, di kamar utama, Sugeng masih terkapar pingsan. Warga yang ada di sana hanya memandangi dari kejauhan. Kebanyakan dari mereka mual dan takut melihat potongan daging yang masih tertinggal di atas ranjang bambu yang kini becek oleh darah. Tidak ada yang berani menyentuh Sugeng, mereka takut berurusan dengan polisi atau takut terkena sial dari darah yang dianggap "haram" karena mengalir dari dosa perselingkuhan batin.

​Di tengah keraguan itu, Pak RT Hardo datang dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasanya penuh wibawa kini tampak tegang dan berkeringat. Ia menerobos kerumunan warga.

​"Minggir! Kasih jalan!" bentak Pak Hardo.

​Ia masuk ke dalam kamar dan segera menutup hidungnya dengan sapu tangan. Matanya melotot melihat kondisi Sugeng. Sebagai orang yang paling paham apa yang mereka lakukan pada Ratri dua tahun lalu, hati Pak Hardo mencelos. Ia tahu ini bukan sekadar urusan rumah tangga biasa. Ini adalah rentetan kejadian setelah Karno gila.

​Pak Hardo mendekati tubuh Sugeng, berjongkok di jarak yang aman, lalu memeriksa denyut nadi di leher Sugeng dengan ujung jari yang gemetar.

​"Dia masih hidup! Masih ada napasnya!" seru Pak Hardo. Ia menoleh ke arah kerumunan di depan pintu. "Bambang! Mana Bambang?!"

​Bambang yang masih pucat pasi dan hampir muntah, maju mendekat. "I-iya, Pak RT?"

​"Jangan cuma diam nonton! Pinjam mobil bak terbuka milik Haji mabrur sekarang juga! Bawa Sugeng ke Rumah Sakit Medika di kota. Ajak dua orang pemuda yang berani untuk memegangi dia agar tidak mati di jalan. Cepat!" perintah Pak Hardo dengan nada yang tidak boleh dibantah.

​Bambang segera berlari menjalankan perintah. Beberapa orang kepercayaan Pak Hardo mulai mengangkat tubuh Sugeng yang terkulai lemas dengan menggunakan kain seprai sebagai tandu darurat. Saat tubuh Sugeng diangkat, sisa-sisa darah menetes ke lantai, menciptakan jejak merah yang mengerikan.

​Setelah mobil itu menderu pergi membawa Sugeng yang berada di antara hidup dan mati, Pak Hardo berdiri di tengah ruangan, mencoba menenangkan warga yang masih berkerumun. Namun, ia tidak bisa menghentikan "suara-suara" yang mulai tumbuh di antara mereka.

​Bisik-bisik warga kembali menjalar seperti jamur di musim hujan. Opini terbelah menjadi dua kubu yang sangat kontras.

​Di kelompok ibu-ibu, banyak yang bersimpati pada Wiwin. Mereka merasa apa yang dilakukan Wiwin adalah bentuk pembelaan diri seorang istri yang dikhianati secara batin.

​"Kalau aku jadi Wiwin, mungkin sudah kutebas lehernya sekalian," bisik seorang wanita muda pada temannya. "Laki-laki kalau sudah main perempuan, apalagi sampai terbawa mimpi setiap malam, itu tandanya hatinya sudah tidak di rumah. Kasihan Wiwin, sudah banting tulang buat kue, malah dikhianati."

​"Iya, lagian Sugeng itu akhir-akhir ini memang sombong sejak pulang dari Sukomaju. Katanya habis dapat 'rezeki' nomplok, ternyata rezeki haram," sahut yang lain dengan nada sinis.

​Namun, di kubu bapak-bapak, terutama mereka yang sering berkumpul di warung kopi, pandangannya sangat berbeda. Mereka memandang Wiwin sebagai wanita yang sudah gila karena cemburu buta.

​"Edan memang si Wiwin itu. Masa cuma gara-gara suami mimpi basah sampai ditebas?" gerutu seorang pria sambil menggelengkan kepala. "Itu kan normal bagi laki-laki. Namanya bunga tidur, mana bisa dikontrol? Kalau setiap laki-laki mimpi basah lalu istrinya bawa golok, bisa habis semua populasi lelaki di desa ini."

​"Betul itu. Wiwin saja yang terlalu sensitif. Sugeng itu cuma kecapekan mungkin, makanya pikirannya melantur. Harusnya diobati, bukan dipotong," tambah pria lain yang sebenarnya diam-diam juga menyimpan rasa takut jika istrinya melakukan hal yang sama.

​Pak Hardo mendengar perdebatan itu namun ia memilih untuk diam. Ia tahu kenyataannya jauh lebih gelap dari sekadar "imajinasi normal". Ia teringat cerita Sugeng di warung tadi pagi tentang betapa mewahnya rumah Ratri dan betapa liarnya wanita itu sekarang.

​Ratri... apa yang sebenarnya kamu bawa pulang ke desa ini? batin Pak Hardo.

​Ia menatap sisa-sisa darah di lantai. Ada perasaan dingin yang merambat di kakinya. Seolah-olah darah itu tidak hanya milik Sugeng, melainkan sebuah pertanda bahwa akan ada lebih banyak darah yang tertumpah di Desa Karang Jati.

​"Sudah! Semua pulang ke rumah masing-masing!" teriak Pak Hardo, mencoba membubarkan massa. "Urusan ini sudah ditangani. Jangan ada yang menyebar fitnah lagi!"

​Warga pun perlahan bubar, namun ketakutan telah tertanam. Desa yang tadinya hanya dihantui oleh kemiskinan, kini dihantui oleh sesuatu yang jauh lebih purba: dendam seorang wanita yang dihina.

​Di kamar sebelah, isakan Wiwin perlahan berubah menjadi tawa kecil yang aneh, seolah-olah beban di pundaknya sudah terangkat, sementara di kejauhan, suara burung gagak hinggap di pohon kamboja pemakaman desa, seakan memberi isyarat bahwa akan ada penghuni baru yang akan menyusul dalam waktu dekat.

​Pak Hardo berjalan pulang dengan langkah gontai. Ia harus segera menghubungi anggota "sepuluh orang" lainnya. Sugeng sudah tumbang, Karno sudah gila. Tinggal delapan orang lagi yang tersisa, termasuk dirinya. Dan ia mulai merasa bahwa giliran selanjutnya mungkin tidak akan lama lagi.

1
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!