NovelToon NovelToon
Jerat Sentuhan Berbahaya

Jerat Sentuhan Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Harem
Popularitas:908
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"

"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."

"Hentikan! Jangan sentuh aku!"

"Jika aku tak mau?"

"Kau tidak waras!"

Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.

Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.

Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Aku mencintai Valeria

Mesin mobil hitam di luar masih menyala, suara halusnya seperti detak waktu yang menghitung mundur. Namun yang lebih dulu meledak justru bukan ancaman di luar. Melainkan Rodrigo.

Ia menepis tangan Jared. Meski nyeri merobek perutnya dari dalam. Napasnya berat, tapi matanya tajam. Terlalu tajam untuk seseorang yang sedang terluka.

“Sera,” suaranya rendah. Bergetar bukan karena takut. Karena emosi yang terlalu lama dikubur.

“Jangan,” bisik Valeria pelan, seolah tahu apa yang akan keluar dari bibir pria itu.

Rodrigo menoleh sekilas padanya. Tatapan yang penuh keputusan.

“Terlambat.”

Sera menatapnya, jantungnya berdegup keras. “Apa lagi yang ingin kau sembunyikan dariku?”

Rodrigo tertawa pendek. Pahit. “Justru hari ini aku tidak ingin menyembunyikan apa pun.”

Sunyi. Hanya suara napas yang saling berbenturan.

“Aku melakukan pertunangan itu.” Rodrigo berhenti sejenak, rahangnya mengeras. “Karena terpaksa.”

Kalimat itu jatuh seperti kaca pecah.

Wajah Sera memucat. “Apa?”

“Aku tidak pernah mencintaimu seperti kau mencintaiku.”

Valeria membeku di tempatnya. “Rodrigo, hentikan!”

“Tidak,” potongnya tegas. “Aku lelah berpura-pura.”

Sera tertawa kecil. Tawanya terdengar rapuh. “Ini karena dia?” Tatapannya beralih pada Valeria. “Karena masa lalumu itu?”

Rodrigo menjawab tanpa ragu. “Ya.”

Satu kata. Tapi cukup untuk menghancurkan segalanya.

“Aku lebih mencintai Valeria,” lanjutnya, suaranya kini lebih pelan namun jauh lebih menyakitkan. “Aku selalu mencintainya. Bahkan ketika aku mencoba melangkah maju. Bahkan ketika cincin itu terpasang di jarimu.”

Sera mundur satu langkah. Seolah dunia di bawah kakinya retak. “Jadi aku ini apa?” suaranya bergetar. “Alat? Pelarian?”

Rodrigo menutup mata sesaat. “Kesepakatan.”

Jared menegang. Valeria menggeleng pelan, wajahnya mulai memucat.

Sera menatapnya tak percaya. “Kesepakatan apa?”

Rodrigo menatap lurus ke arahnya. “Keluarga kita butuh aliansi. Kau tahu itu. Ayahmu dan pamanku mengatur semuanya. Pertunangan ini bukan tentang cinta.”

Air mata mulai menggenang di mata Sera, tapi ia menahannya keras. “Kau bilang kau mencoba untuk melupakanku dan mulai mencintaiku,” ucapnya lirih.

“Aku memang mencoba,” jawab Rodrigo jujur. “Aku mencoba melupakan masa lalu. Tapi setiap kali aku hampir berhasil, aku tetap kembali ke tempat ini.”

Ke toko kecil yang hangat. Ke aroma roti manis. Ke perempuan yang berdiri membisu dengan mata berkaca-kaca.

Valeria menggeleng pelan.

“Kau tidak berhak mengatakan ini sekarang.”

Rodrigo menoleh padanya. “Justru sekarang waktunya.”

Sera menarik napas tajam. “Dan luka itu? Kau datang ke sini bukan karena cinta, tapi karena butuh dirawat, bukan?”

Rodrigo terdiam sesaat.

“Aku datang ke sini karena di sinilah satu-satunya tempat aku merasa, bukan boneka keluarga.”

Kalimat itu membuat Valeria menunduk.

Dan membuat hati Sera hancur lebih dalam.

“Jadi selama ini,” bisik Sera, “kau banyak bersandiwara di depanku?”

Rodrigo tidak menjawab cepat kali ini.

Itu sudah cukup menjadi jawaban. Tangan Sera gemetar. Ia melepas cincin di jarinya. Benda kecil itu terasa berat seperti beban bertahun-tahun.

Ia melangkah maju. Dan menjatuhkannya di meja kayu toko. Suara logamnya berdenting pelan.

“Kalau begitu,” katanya dengan suara yang kini kosong, “kau bebas.”

Sunyi. Valeria menatap Rodrigo tak percaya. “Apa yang sudah kau lakukan?”

Rodrigo tidak menjawab. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ia tidak merasa lega. Ia merasa kehilangan.

Sera berbalik menuju pintu. Namun sebelum ia sempat melangkah keluar.

Bel pintu berbunyi keras.

Ting.

Pria dari mobil hitam itu sudah berdiri di ambang pintu.

Wajahnya dingin. Tatapannya langsung mengunci pada Rodrigo. Dan senyum tipisnya membuat suasana berubah jauh lebih gelap dari sekadar patah hati.

“Jadi di sinilah kau bersembunyi,” ucapnya tenang.

Rodrigo berdiri lebih tegak meski tubuhnya bergetar karena luka. Masalah cinta belum selesai. Dan kini, masalah penekanan kembali menagih janji.

Pria dari mobil hitam itu belum melangkah lebih jauh ke dalam. Namun ketegangan di ruangan sudah meledak lebih dulu.

Sera berdiri kaku beberapa detik setelah menjatuhkan cincin itu. Tangannya gemetar, napasnya tidak teratur. Matanya beralih dari Rodrigo ke Valeria. Dan sesuatu dalam dirinya runtuh.

“Semua ini karena kau,” desisnya pelan.

Valeria mengangkat wajahnya perlahan. “Aku tidak pernah memintanya datang.”

“Kau tidak pernah menolak juga!” bentak Sera.

Rodrigo mencoba melangkah maju, tapi nyeri di perutnya membuat tubuhnya sedikit terhuyung.

Sera sudah lebih dulu bergerak. Dengan langkah cepat, ia mendekati Valeria. Tangannya terangkat, bukan untuk sekadar menunjuk. Amarahnya sudah meluap melewati batas. Valeria membeku sesaat. Ia tidak takut pada tamparan.

Ia takut pada kebencian yang begitu dalam di mata Sera.

“Sera, hentikan!” suara Rodrigo menggema.

Tapi Sera sudah terlalu dekat.

Tangannya hampir menyentuh bahu Valeria , Rodrigo menariknya.

Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia mencengkeram pergelangan tangan Sera.

“Cukup!” suaranya keras, tegas, tidak memberi ruang untuk dibantah.

Sera menoleh, matanya berkaca-kaca. “Lepaskan aku!”

“Tidak.”

Rodrigo berdiri di antara mereka sekarang. Tubuhnya sedikit condong melindungi Valeria, meski luka di perutnya kembali merembeskan darah tipis di balik perban.

Gerakan itu.

Posisi itu.

Seperti jawaban yang lebih menyakitkan daripada kata-kata.

“Kau, melindunginya?” suara Sera pecah.

Rodrigo menatapnya tanpa ragu. “Ya.”

Sunyi kembali jatuh.

Valeria menatap punggung Rodrigo, napasnya tercekat. “Jangan lakukan ini!”

Rodrigo tidak menoleh. “Aku sudah melakukan terlalu banyak kesalahan,” ucapnya pelan. “Tapi satu hal yang tidak pernah salah,” Ia menelan ludah. “Aku mencintai Valeria.”

Kata-kata itu keluar jelas. Tanpa ragu. Tanpa bersembunyi. Sera membeku.

Tangannya yang tadi bergetar kini terjatuh lemas di sisi tubuhnya.

“Apa?” bisiknya hampir tak terdengar.

Rodrigo akhirnya menatap Valeria. Ia benar-benar melihat gadis itu bukan sebagai kenangan, bukan sebagai pelarian. Sebagai rumah.

“Aku mencintainya,” ulang Rodrigo, suaranya lebih dalam. “Bukan karena luka ini. Bukan karena masa lalu. Tapi karena setiap kali aku mencoba pergi hatiku tetap tinggal di sini.”

Valeria tidak bergerak. Matanya membulat . Air mata menggenang tanpa ia sadari.

“Rodrigo,” suaranya nyaris hilang.

Sera tertawa kecil. Tawanya kosong. “Jadi aku apa? Hanya jembatan? Hanya nama yang pantas di sampingmu?”

Rodrigo terdiam sesaat. “Kau tidak pantas diperlakukan seperti itu.”

“Jawab aku!” bentak Sera.

Rodrigo menatapnya lurus. “Aku salah karena menerima pertunangan itu. Aku salah karena mencoba mencintaimu sementara hatiku milik orang lain.”

Kalimat itu seperti palu terakhir. Sera mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Ia tidak lagi marah. Ia hancur.

Valeria masih membeku di tempatnya. Ia tidak pernah meminta pengakuan seperti ini. Tidak dalam kondisi seperti ini. Tidak di depan tunangan pria itu.

“Aku tidak ingin kau membencinya,” Rodrigo berkata pelan pada Sera. “Ini bukan salahnya. Ini pilihanku.”

Sera menatap Valeria lama. Tatapan yang tadi penuh api kini hanya menyisakan serpihan luka. “Selamat,” ucapnya lirih, hampir tak bersuara. “Kau menang.”

Valeria menggeleng cepat. “Ini bukan tentang menang atau kalah.”

“Diam!” potong Sera, tapi suaranya sudah tak setajam tadi.

Rodrigo berdiri tegak meski tubuhnya mulai gemetar menahan sakit. Ia tetap berada di depan Valeria, seolah dunia harus melewatinya dulu sebelum menyentuh gadis itu.

Dan saat itulah. Pria dari mobil hitam bertepuk tangan pelan dari dekat pintu.

“Tersentuh sekali,” ujarnya dingin.

Semua insan menoleh. Wajahnya kini terlihat jelas. Tatapannya penuh kepuasan melihat kekacauan itu.

Rodrigo mengeraskan rahangnya. “Ini bukan urusanmu.”

“Oh, justru ini sangat urusanku,” pria itu tersenyum tipis. “Kau membuat pilihan, Rodrigo. Dan setiap pilihan, punya harga.”

Valeria merasakan jantungnya kembali berdegup kencang. Sera yang masih berdiri beberapa langkah dari mereka kini menyadari, Pertarungan baru saja hanyalah permulaan. Karena cinta sudah diumumkan. Dan musuh kini berdiri tepat di depan pintu.

1
Agus Tina
mampir thor bagus kayaknya 😍
Lilyyy: halo say silahkan yah jangan lupa nanti rating 😍🙏
total 1 replies
Dewi wijayanti Ryan setiawan
lanjut thor😍
Lilyyy: ih makasih kak komentar kakak semangat aku 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!