Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07 Retakan yang Mulai Terlihat
...Visualisasi Tokoh...
Aruna
Calvin
...****************...
Aruna baru menyadari betapa cepat posisi seseorang bisa berubah ketika namanya mulai disebut tanpa kehadirannya.
Pagi itu, ia dipanggil ke ruang arsip divisi legal—bukan untuk pekerjaan rutin, melainkan untuk “klarifikasi internal”. Kata yang terdengar netral, tapi selalu membawa aroma masalah. Di ruangan itu, dua staf audit internal sudah menunggu. Wajah mereka ramah, tapi pertanyaannya tajam.
“Beberapa dokumen kontrak strategis terakhir ditandatangani langsung oleh Anda,” kata salah satu dari mereka. “Kami hanya ingin memastikan prosedurnya.”
Aruna mengangguk. “Semuanya melalui persetujuan CEO.”
“Kami tahu,” balasnya cepat. “Justru itu.”
Kalimat itu menggantung.
Aruna menjawab dengan tenang, menjelaskan alur kerja, jalur persetujuan, dan batas tanggung jawabnya. Secara hukum, ia aman. Tapi ia tahu, klarifikasi bukan tentang salah atau benar. Ini tentang menandai.
Ketika keluar dari ruangan itu, langkah Aruna terasa lebih berat dari biasanya.
Di mejanya, sebuah map abu-abu menunggu. Tidak ada nama pengirim. Hanya secarik kertas kecil di dalamnya, berisi satu kalimat pendek:
Diam bisa menyelamatkanmu. Tapi juga bisa menenggelamkanmu.
Aruna menutup map itu perlahan.
Ia tidak membawa pesan itu ke mana pun. Tidak ke HR. Tidak ke Calvin. Nalurinya mengatakan: siapa pun yang bermain di balik ini, sedang menunggu reaksinya.
Menjelang sore, ponselnya bergetar.
Calvin Aryasatya:
Naik ke ruanganku. Sekarang.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada tanda baca berlebih. Justru itu yang membuat jantung Aruna berdetak lebih cepat.
Di ruang direktur, Calvin berdiri menghadap jendela. Ia tidak langsung menoleh saat Aruna masuk. Kota terlihat kecil dari ketinggian itu, seperti papan permainan yang bisa diatur ulang.
“Audit memanggilmu,” katanya tanpa basa-basi.
Aruna tidak terkejut. “Iya.”
“Dan?”
“Mereka mencari celah,” jawab Aruna jujur. “Belum menemukannya.”
Calvin akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, tapi tidak menyudutkan. “Ada pesan masuk ke mejamu hari ini?”
Aruna terdiam sepersekian detik terlalu lama.
Calvin menangkapnya.
“Ada,” jawab Aruna akhirnya. “Anonim.”
Calvin mendekat satu langkah. “Apa isinya?”
Aruna ragu. Tapi kali ini, diam terasa seperti kesalahan yang sama.
“Ancaman terselubung,” ucapnya. “Bukan untuk menakut-nakuti. Untuk mengingatkan.”
Calvin menarik napas panjang. “Mereka mulai gelisah.”
“Mereka?” ulang Aruna.
“Orang-orang yang tidak ingin kamu terlalu dekat denganku,” jawab Calvin tenang.
Kalimat itu membuat udara di antara mereka berubah. Bukan karena romantis, tapi karena risiko yang terkandung di dalamnya.
“Aku tidak pernah meminta posisi ini,” kata Aruna pelan.
“Aku tahu,” balas Calvin. “Tapi kamu menerimanya.”
Untuk sesaat, mereka saling menatap. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada tuduhan. Hanya dua orang yang sadar bahwa garis aman telah terlewati.
“Aku tidak akan menarikmu keluar sekarang,” lanjut Calvin. “Kalau aku lakukan, mereka menang.”
“Dan kalau aku tetap di sini?” tanya Aruna.
“Tekanan akan meningkat,” jawabnya jujur. “Dan aku tidak bisa menjanjikan perlindungan penuh.”
Aruna mengangguk perlahan.
“Baik,” katanya. “Aku tetap.”
Calvin menatapnya lama. Terlalu lama untuk disebut profesional semata.
“Kamu sadar,” katanya akhirnya, “mulai hari ini, setiap keputusanmu akan dianggap sikap.”
Aruna berbalik menuju pintu. Tangannya menyentuh gagang, lalu berhenti.
“Pak Calvin,” ucapnya tanpa menoleh, “kalau nanti aku bicara… apakah Anda siap mendengarnya?”
Calvin tidak langsung menjawab.
“Sejak awal,” katanya pelan, “aku menunggumu bicara.”
Pintu tertutup.
Aruna berjalan keluar dengan napas terkontrol, tapi dadanya berdenyut. Ia akhirnya mengerti: diamnya telah menciptakan harapan. Dan harapan itu sekarang menuntut keberanian.
Aruna melangkah keluar dari ruang direktur dengan perasaan yang campur aduk. Setiap langkahnya terasa berat, tapi bukan karena fisik—melainkan karena beban yang terus menempel di pikirannya. Map abu-abu di mejanya, pesan singkat itu, tatapan Calvin yang terlalu tajam—semuanya seperti mengingatkannya bahwa hari ini bukan lagi tentang rutinitas biasa.
Ia menatap koridor panjang kantor, orang-orang berlalu-lalang, namun tidak ada yang menyadari permainan halus yang terjadi di antara mereka. Setiap percakapan, setiap pandangan, bisa menjadi jebakan tanpa suara. Aruna menelan keras, merasakan napasnya lebih cepat. Retakan yang muncul di sekitarnya tidak bisa diabaikan lagi.
Di mejanya, layar komputer menyala dengan dokumen-dokumen yang harus ia cek ulang. Tetapi tangannya bergerak lambat. Pikirannya masih terjebak pada pesan anonim itu. “Diam bisa menyelamatkanmu. Tapi juga bisa menenggelamkanmu.” Seketika, kata-kata itu terasa seperti pedang bermata dua—setiap keputusan memiliki risiko.
Aruna menarik kursi, duduk sejenak, dan menutup mata. Ia membayangkan jalur yang harus ditempuh: terus bertahan, diam, tetap berada dalam batas aman. Atau mengambil risiko, membuka mulut, mengungkap apa yang ia tahu, sekaligus mempertaruhkan karier dan keamanan dirinya sendiri.
Seketika, pikirannya melayang ke ibu. Sosok yang selalu ia lindungi, yang tak pernah meminta banyak, yang hanya berharap Aruna kembali dengan selamat setiap malam. Ancaman yang datang secara diam-diam tadi pagi, walau terselubung, kini terasa lebih berat. Bukan hanya di kantor. Ini sudah merambat ke rumah, ke orang-orang yang ia sayangi.
Teleponnya bergetar lagi. Kali ini, pesan dari Calvin:
Datang ke ruanganku. Sekarang.
Aruna menghela napas panjang. Ia tahu ini bukan ajakan santai. Tidak ada kata “tunggu sebentar,” tidak ada emotikon ramah. Nada itu dingin, tegas, dan menuntut kepastian. Tanpa berpikir panjang, ia berdiri dan melangkah ke lift.
Setiap detik menuju lantai dua puluh terasa seperti menit-menit yang memutuskan garis batas baru. Pikirannya terus berputar, mencoba menebak apa yang akan dibicarakan Calvin. Ancaman? Arahan? Atau peringatan yang akan menuntunnya ke langkah berikutnya?
Pintu lift terbuka, dan Calvin sudah menunggu. Tatapannya langsung menempel pada Aruna, tidak butuh kata untuk menyampaikan pesan: retakan yang pertama muncul hari ini akan menentukan langkah selanjutnya.
“Pesan itu?” tanyanya singkat.
Aruna menunduk sedikit. “Ya. Anonim.”
Calvin mengangguk pelan. “Mereka mulai gelisah. Dan kita harus lebih gelisah dari mereka.”
Ada intensitas dalam nada suaranya—bukan marah, bukan emosional. Hanya kepastian bahwa permainan ini bukan sekadar peringatan. Aruna tahu, ini tentang kontrol, tentang siapa yang bisa bertahan dan siapa yang akan digeser dari papan permainan.
Mereka berdiri beberapa detik dalam diam. Udara di ruang direktur terasa lebih berat, bukan karena panas atau dingin, tetapi karena kesadaran bersama: retakan pertama sudah muncul, dan tidak ada cara untuk menutupnya lagi.
Aruna menarik napas, menenangkan pikirannya. “Aku tetap di sini,” katanya pelan, tapi tegas. “Aku tidak akan mundur.”
Calvin menatapnya lama. “Aku menunggumu bicara. Tapi kamu harus sadar, setiap kata yang keluar dari mulutmu sekarang bisa menjadi garis baru yang tidak bisa dihapus.”
Aruna menatapnya kembali, hatinya berdenyut. Ia tahu benar: sekali retakan muncul, tidak ada jalan untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Pilihan sekarang bukan sekadar soal diam atau bicara—tapi soal keberanian, tanggung jawab, dan konsekuensi yang menunggu di setiap langkah berikutnya.
Dan di kantor yang penuh ketegangan itu, Aruna merasakan detik-detik pertama dari permainan yang lebih besar—permainan yang menuntutnya untuk tetap tegak, tetap waspada, dan tetap berada di jalur yang benar, meski retakan semakin melebar.
Retakan pertama sudah terlihat.
Dan sekali retak muncul, tak ada jalan kembali ke utuh semula.
Kalau diam mulai dianggap sikap,
apakah Aruna harus tetap bertahan… atau akhirnya bicara?
Tulis pilihanmu di komentar..😉
Bab berikutnya akan membawa Aruna ke keputusan yang tak bisa disimpan sendiri.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/