Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.
Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?
Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2: Terbangun Di masa lalu
Deg!
Rubellite tersentak bangun, namun bukan keheningan yang menyambutnya, melainkan rasa sakit yang menghunjam ulu hati. Di luar jendela yang berdebu, hanya ada pepohonan hutan Kekaisaran Valtia yang menjulang tinggi, menjadi tembok alami yang menyembunyikan panti asuhan ini dari pandangan dunia.
"Buk! Brak!"
"Rasakan ini, Mata Merah Haus Darah!" teriak sebuah suara cempreng.
Pandangan Rubellite kabur. Ia melihat sekumpulan anak kecil sedang mengelilinginya, melayangkan tendangan dan pukulan ke tubuh kecilnya yang meringkuk di tanah.
Bukankah aku sudah mati? batinnya di tengah deru napas yang tersengal. Kenapa... kenapa aku harus merasakan rasa sakit ini lagi?
Meskipun tubuhnya remuk, amarah yang membara dari sisa kehidupan sebelumnya menyala dalam diri Rubellite. Ia bangkit dengan sisa tenaga, lalu dengan sekuat tenaga membalas pukulan dan mendorong anak-anak itu hingga terjungkal.
"Kau pikir aku ingin penampilan seperti ini?!" teriak Rubellite dengan nada sedih sekaligus marah yang menggelegar. "Dari awal, aku sudah sangat membenci penampilanku sendiri!"
Anak-anak itu terperangah. Rubellite yang biasanya hanya diam kini tampak seperti iblis kecil yang mengamuk.
"Lari! Si Boneka Terkutuk itu sudah gila! Dia mau membunuh kita!" seru mereka ketakutan sambil terbirit-birit pergi.
Rubellite roboh kembali ke lantai yang dingin. Ia terengah-engah, merasakan debu panti asuhan yang menempel di luka-lukanya. Air mata mengalir deras di pipinya. "Apa mereka pikir aku juga mau hidup seperti ini?" bisiknya perih.
Ia melihat tangan kecilnya yang kurus dan penuh luka.
"Apa ini... tiba-tiba pandanganku terasa kabur," rintihnya sambil memegang keningnya. "Apakah tubuhku sangat kelelahan karena aku menangis dengan kuat tadi?"
Kesadarannya seolah tersedot kembali ke kegelapan, namun ia memaksakan diri untuk tetap terjaga.
"Aku tidak boleh tidur sekarang," bisiknya dengan napas memburu. "Masih banyak yang harus kupikirkan... Aku tidak boleh lengah."
Karena kelelahan yang luar biasa, Rubellite akhirnya jatuh tertidur lelap di atas lantai yang kotor itu.
Saat ia terbangun kembali, sinar matahari yang tipis menembus celah jendela. Ia masih tergeletak di lantai yang sama. Tubuhnya kaku, namun kesadarannya pulih sepenuhnya.
Perutnya yang keroncongan memaksa Rubellite untuk pergi ke ruang makan panti asuhan. Dengan sisa tenaga, ia berjalan menuju ke ruang makan dengan tubuh yang penuh memar
Namun, begitu ia melangkah masuk, suasana seketika menjadi sunyi. Anak-anak lain mulai menjauh dan menjaga jarak seolah ia adalah wabah. Beberapa dari mereka melontarkan makian pelan, sementara yang lain memberikan tatapan jijik yang menusuk.
"Lihatlah, sang pembawa kutukan telah menampakkan diri," bisik salah seorang anak dengan nada penuh kebencian.
"Jangan biarkan kulitmu bersentuhan dengannya! Kabar burung mengatakan, siapa pun yang menyentuh noda itu akan menemui ajal yang mengenaskan!" sahut yang lain sembari menarik ujung pakaian mereka agar tidak bergesekan dengan Rubellite.
"Dasar kau anak pembawa sial! Mengapa kau masih berada di sini?"
Hinaan itu menusuk lebih dalam dari luka fisik mana pun. Tidak tahan dengan atmosfer yang menyesakkan, Rubellite berbalik dan berlari kembali ke kamarnya. Ia tidak butuh makanan jika harus ditukar dengan penghinaan yang merendahkan martabatnya.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur lusuh yang sangat kotor. Namun, saat ia mencoba menenangkan diri, kepalanya berdenyut hebat.
Sambil menatap langit-langit kamar yang suram dan dipenuhi sarang laba-laba, manik mata Rubellite berkaca-kaca. Bayangan masa depan yang kelam terus berputar di benaknya seperti mimpi buruk yang enggan pergi.
Ia mengusap air matanya dengan kasar, membiarkan sisa-sisa kelemahan itu menguap bersama dinginnya udara malam.
"Manik matanya yang dulu menyimpan harapan, kini hanya menyisakan ruang hampa yang dingin."
"Aku sudah lelah... sangat lelah dengan semua sandiwara ini," bisiknya. Suaranya terdengar tegas, namun terselip rasa perih yang mendalam di setiap katanya. "Mulai saat ini, aku akan hidup demi diriku sendiri. Aku tidak akan lagi menjadi pion atau mengharapkan belas kasih dari keluarga palsu itu."
Seketika, tatapan matanya berubah. Manik mata yang semula redup dan kehilangan cahaya harapan, kini kembali berpendar dengan nyala api yang dingin dan tajam. Ia mengeratkan kepalan tangannya di atas kasur yang lusuh, menguatkan janji yang ia buat untuk jiwanya sendiri.
Sepuluh tahun. Itulah sisa waktu yang ia miliki sebelum takdir menjemputnya kembali di atas panggung eksekusi yang mengerikan itu.
"Kali ini, aku tidak akan merendahkan diriku untuk mengemis cinta pada mereka yang merindukan kematianku,"
Suaranya pelan, namun membawa ketajaman belati yang siap menyayat siapa pun yang berani meremehkannya.
“Jika dunia ini memang tidak menginginkan keberadaanku, maka aku akan tetap hidup... setidaknya sampai aku membuktikan bahwa darah yang mengalir di tubuh ini bukan sekadar kutukan bagi mereka.”
Rubellite kini bukan lagi gadis kecil yang rapuh. Di dalam tubuh berusia delapan tahun itu, telah bangkit seorang wanita yang telah mencicipi pahitnya kematian, dan ia tidak akan membiarkan sejarah berulang kembali.