Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. Morgan Aston
"Naiklah". Ervana yang sedang berjalan pelan di pinggir jalan itu dikejutkan oleh suara berat milik seorang pria yang rasanya tidak asing di telinganya. Benar saja! Morgan Aston, bosnya duduk di balik kemudi dengan wajah tenangnya. Jas mahal membalut sempurna tubuhnya. Pria itu selalu saja tau bagaimana membuat lawan jenisnya berdebar.
"Tuan, aku jalan kaki saja". Ervana menunduk takut. Morgan memang kakak kandung Clara, namun keduanya mempunyai sifat yang bertolak belakang. Clara begitu ramah dan pandai bergaul sedangkan kakaknya lebih angkuh dan suka mencemooh.
"Kau bodoh atau bagaimana?" Ervana lalu memilih menurut pada pria itu, sebelum semuanya semakin rumit.
"Terima kasih, Tuan". Morgan memilih diam, mengabaikan ketakutan gadis di sebelahnya.
"Aku hanya melakukan kewajibanku sebagai seorang bos".
"Aku tau da-"..
"Diamlah! Suaramu membuat kupingku sakit". Ervana menggigit bibirnya dengan penuh kecemasan. Kecanggungan ini benar-benar seperti jerat menyakitkan di lehernya. Telapak tangannya bahkan basah, membuat gadis itu benar-benar tak nyaman.
"Kau putri kandung Tuan Efendi, bukan? Aku sedikit tidak menyangka jika seorang nona manja sepertimu memilih jalan kaki. Harusnya kau melihat momennya dulu sebelum ingin belajar hidup sehat. Kalau begini ceritanya, kau terlihat seperti seorang bodoh". Tangan Ervana terkepal, pria berkuasa seperti Morgan begitu tau cara membuat lawan bicaranya merasa kalah. Haruskah orang lain menyadari ketidakadilan ini? Bukankah ini ranah pribadinya? Lalu, untuk apa bos angkuhnya itu ikut campur?
"Sikap diammu benar-benar mencurigakan". Pria itu tersenyum tipis sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ervana tersentak kaget sebelum kemudian berusaha mengendalikan dirinya. Sekali lagi kecemasan menghampirinya. Apa yang terjadi di sana nanti?
"Tidak akan terjadi apa-apa". Pria itu berucap yakin.
Lampu jalan yang berpendar sempurna di setiap sudut tempat itu terlihat indah dan begitu memanjakan mata. Harusnya Ervana sebebas itu, tapi ia tidak pernah bisa. Jerat menyakitkan seperti melilit paksa lehernya. Untuk ke sekian kalinya gadis itu merasa hidupnya terlalu jauh dari kata sempurna.
Lagi-lagi Renita. Seharusnya anak angkat itu tidak pernah hadir dalam hidupnya. Seharusnys sang ayah tidak pernah membawa putri lain ke rumahnya. Efendi Moses beralasan jika Renita tak punya siapa-siapa lagi semenjak orang tuanya mengalami kecelakaan. Sampai saat ini, ia bahkan tidak tau siapa orang tua kandung Renita. Yang ia tau semenjak kedatangan anak angkat itu, hidupnya tak lagi sama. Cinta dan perhatian sang ayah yang dulu menjadi miliknya kini direbut paksa oleh Renita, gadis licik yang sialnya terlihat seperti malaikat agung di mata orang tuanya. Eva Moses bahkan rela mengabaikan putri kandungnya dengan alasan Renita lebih butuh ibu. Ini benar- benar sangat lucu. Keluarganya bahkan sibuk memberi rasa nyaman dan ketenangan pada gadis asing. Terhitung belum satu tahun Renita tinggal di rumah itu, ayahnya langsung mengurus berkas adopsi, memberi nama Moses pada nama belakang sang gadis yang dulunya begitu asing. Sejak kedatangannya ke rumah besar itu, Renita tidak pernah repot-repot untuk bersikap ramah pada Ervana. Gadis itu seperti tau posisinya di rumah ini, anak angkat yang sebentar lagi siap merebut apapun. Di mata keluarganya, Renita hanyalah anak yatim piatu yang membutuhkan cinta dan perhatian lebih. Tak ada yang menyangka jika gadis itu tak lebih licik dari ular. Renita adalah bahaya yang siap menghancurkan keluarga Moses kapan saja.
"Kita sampai". Lamunan Ervana buyar. Seberapa lama ia terjebak dalam pikirannya sendiri? Gadis itu bahkan tidak sadar jika mereka telah tiba di tempat acara.
"Turun". Ervana melepaskan sabuk pengamannya dengan terburu-buru. Berada satu ruangan dengan pria itu membuat jantungnya berpacu lebih kencang.
Kenapa keras sekali? Sekali lagi gadis itu berusaha membuka sabuk pengamannya, namun tak bisa. KLIK, Ervana bernapas lega. Setelah berperang dengan benda itu akhirnya ia bebas, namun sedetik kemudian ia menyadari satu hal. Posisi wajahnya dan wajah pria di sebelahnya terlalu dekat sampai ia merasakan hembusan napas pria itu di wajahnya. Sial, kenapa jantungnya berdetak kencang? Morgan Aston sepertinya begitu menikmati momen ini. Astaga, dilihat dari jarak sedekat ini karyawannya terlihat sangat cantik.
"Apa aku setampan itu sampai kau enggan memalingkan wajahmu?" Wajah gadis itu memanas. Dengan cepat ia mendorong pintu mobil mewah milik pria angkuh itu.
"Tunggulah, kita akan masuk bersama".
"Jangan!".
"Kenapa?" Morgan menaikkan sebelah alisnya dengan sedikit kesal. Gadis ini baru saja menolaknya? Yang benar saja!
"I-itu bisa saja membuat posisimu semakin rumit".
"Aku bosmu dan kau berani menolakku? Kau ingin dipecat?"
"Ah baiklah, kita akan masuk bersama-sama. Sebagai pemimpin dan bawahan". Morgan Moses menyunggingkan senyum tipisnya. Ervana diam seolah meresapi satu hal. Perasaan apa ini? Jantungnya berpacu kencang. Morgan Aston yang terkenal angkuh dan kejam baru saja mengajaknya berbicara? Hah ini seperti sebuah mimpi buruk bagi Ervana. Apa yang harus ia lakukan nanti? Tidak! Tidak ada yang boleh tau jika ia adalah putri kandung keluarga Moses. Segelintir orang mungkin mengetahuinya namun ia tak ingin tamu-tamu agung malam ini menatapnya dengan sorot penuh kasihan. Hidupnya memang menyedihkan, namun ia tidak ingin dikasihani. Selagi mampu, ia akan berdiri di kakinya sendiri, mengabaikan seberapa besar pengaruh keluarga Moses yang begitu berjaya.
"Ayo masuk". Morgan menaikkan sebelah alisnya melihat sikap diam lawan bicaranya. Pria tak sabaran itu mendesah pelan, ia terlalu bodoh jika disuruh untuk belajar bersabar. Cukup Clara Aston yang suka menguji kesabarannya, orang lain jangan.
"Ervana". Panggilnya dengan kencang. Sang pemilik nama tersentak kaget, tak siap dengan suara berat milik pria angkuh di sebelahnya itu.
"Kenapa Tuan?" Tanya gadis itu dengan suara bergetar. Astaga, apakah ia baru saja membuat lawan bicaranya ini marah? Ekspresi Morgan sangat jauh dari kata ramah, membuat tubuh Ervana meremang akan rasa takut.
"Kenapa kau begitu suka mengkhayal? Aku tidak ingin menjadi saksi jika kau kesurupan di tempat ini".
"Maaf Tuan ta-tapi". Gadis itu meremas kedua tangannya dengan gelisah.
"Ada apa?"
"Aku tidak ingin masuk. Keramaian membuatku sedikit gelisah dan ak-"..
"Kau pikir aku bodoh? Kemarilah". Dengan gerakan cepat, tangan mungil itu digenggam erat oleh tengah besar milik sang atasan yang kini melangkahkan kakinya dengan gerakan terukur. Langit malam begitu indah malam ini, bintang berkedip penuh keanggunan. Keindahan malam itu tak membuat seorang Ervana Moses merasa tenang. Keringat dingin mencuat dari permukaan kulit wajahnya. Entah apa yang terjadi di dalam nanti ia tidak tau. Ervana melangkahkan kakinya dengan hati-hati, tak sesuai dengan derap langkah sang atasan yang khas dan terukur.