"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah gila
"Jangan terlalu terkejut, Yasmin. Javier memang selalu bisa menemukanmu, bahkan kalau kamu bersembunyi di lobang semut sekalipun." Bisik Mars tepat di telinga Yasmin.
"Saat SMP dulu kita pernah mengikuti perkemahan musim panas, jalanmu telalu lambat saat itu, sampai kau terpisah dari rombongan, dan Javier adalah orang yang pertama kali menemukanmu." lanjut Mars masih dengan nada berbisik.
"Benarkah? Kok aku tidak bisa mengingat kejadian itu ya?" Dahi Yasmin mengkerut, sekeras apapun ia berusaha mengingat kejadian itu tetap saja tidak bisa, malah kepalanya terasa sakit sekarang.
"Manusia memang hanya akan mengingat kejadian yang menurut mereka berkesan saja, sedangkan yang lainnya akan dilupakan." Ucap Javier dengan wajah tanpa ekspresi. Mars dan Yasmin terkejut karena Javier tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
"Sudahlah, Kejadian itu memang sudah sangat lama. Wajar kalau Yasmin tidak bisa mengingatnya." Mars mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa kaku.
"Kenapa kalian bicara sambil berbisik tadi? Sedang membicarakan aku ya?" Tanya Javier dengan wajah dinginnya.
"Ah, tidak kok. Kami hanya sedang membahas proses PERCERAIAN JACOB DAN YASMIN SAJA." Mars sengaja berteriak, berharap seluruh dunia bisa mendengarnya. Terutama Javier.
Mendengar Jacob dan Yasmin akan bercerai, Javier tersenyum tipis. Nyaris tidak terlihat. Tapi Mars bisa melihat senyum penuh harap itu.
"Tenangkan dirimu dulu kawan, Jacob dan Yasmin belum resmi berpisah. Jangan sampai kau mendapat julukan perebut Istri orang." Mars menepuk pundak Javier. Senyum di wajah Javier seketika memudar, digantikan dengan wajah dingin seperti biasanya. Sedangkan Yasmin bersikap seolah tidak mendengar apa-apa.
"Jangan terlalu keras pada Javier, lihatlah perjuangannya untukmu selama ini, dia rela tidak menikah walaupun usianya tidak muda lagi. Dia sudah menunggumu sampai sejauh ini, setidaknya beri dia sedikit kesempatan." Pesan Mars pada sang sepupu. Yasmin hanya menghela napas dalam.
"Aku akan kembali ke ibu kota sekarang, mengurus berkas perceraianmu dengan Jacob. Kau, ikutlah dengan Javier atau Jacob akan menemukanmu." Ucap Mars. Sebelum Mars kembali ke ibu kota, Ia ingin memastikan keadaan Yasmin baik-baik saja.
"Aku mengerti." Yasmin mengangguk meski kepalanya terasa berat.
Mars menoleh ke arah Javier kemudian berkata. "Tolong bantu Yasmin berkemas. Kalian harus cepat pergi sebelum Jacob datang."
"Tidak usah, aku bisa sendiri kok." Yasmin menggeleng cepat, sebelum Javier sempat menjawabnya.
"Jangan malu-malu Yasmin. Lagipula, kita sudah saling mengenal sejak kecil. Bahkan dulu kau lebih dekat dengan Javier daripada aku." Mars sengaja menggoda Yasmin. Yasmin terdiam, dengan wajah merona merah.
Javier mendekat, tatapan matanya terlihat hangat meskipun di sambut tatapan Yasmin yang dingin.
"Biarkan aku bantu, Yasmin. Waktu kita tidak banyak."
"Baiklah."
Merasa tidak enak hati, Yasmin akhirnya mengangguk. Tak butuh waktu lama, mungkin sekitar lima belas menit saja, semua barang milik Yasmin sudah masuk ke dalam sebuah koper. Javier membawa koper hitam milik Yasmin, senyum manis menghiasi wajahnya yang biasanya terlihat dingin. Di dalam hatinya, harapan yang sudah lama padam kini menyala kembali. Javier sangat bahagia mendengar Yasmin mengatakan ingin bercerai dengan Jacob.
Mereka berjalan menuju pintu, namun tiba-tiba Yasmin berteriak. "Tunggu Javier, kita melupakan sesuatu."
Javier berhenti, matanya memandang Yasmin yang meraih bungkus kondom dari dalam tasnya. Tanpa ragu, Yasmin merobek bungkus kondom tersebut dengan mulutnya.
"Jangan Yasmin. kamu belum resmi bercerai dengan Jacob. Jangan lakukan hal di luar batas." Javier tergugup, wajahnya juga sudah memerah.
Yasmin tertawa ringan, lalu membuang bungkus yang sudah robek ke tempat sampah.
"Maaf, sudah membuatmu takut. Aku cuma mau bikin Jacob kesal, biar dia berpikir aku sudah bermesraan dengan pria lain. Memangnya cuma dia yang bisa selingkuh!" Rahang Yasmin mengeras.
"Kamu sudah gila Yasmin." Javier menggelengkan kepala dengan tidak percaya. Jantungnya hampir copot tadi.
"Aku memang sudah gila sekarang, Javier. Yakin masih tetap mencintaiku?" Yasmin tersenyum sinis.
Tanpa bicara lagi, Javier menarik tangan Yasmin dan membimbingnya keluar.
Bersambung.