NovelToon NovelToon
KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mommy ha

Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. MEMULAI HIDUP BARU

Pada pagi hari, Sea menghubungi Bu Yuni, pemilik kontrakan yang selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Ia memberitahu Bu Yuni tentang semua yang telah terjadi dan bahwa ia ingin pindah dari kontrakan itu sesegera mungkin.

"Sayang, aku sangat menyesal mendengarnya," ucap Bu Yuni dengan suara penuh rasa iba. "Kamu sudah seperti anakku sendiri, dan aku tidak ingin melihatmu terus menyakitkan hati sendiri di sini."

Ia mengambil selembar kertas dari mejanya dan menuliskan alamat di atasnya. "Aku punya teman yang menyewakan kamar kos di kawasan Dau, jauh dari kampus dan juga dari daerah tempat Rayyan tinggal. Tempatnya tenang dan cocok untukmu yang ingin memulai hidup baru."

Sea menerima kertas dengan tangan gemetar dan memberikan senyum lembut kepada Bu Yuni. "Terima kasih banyak, Bu Yuni. Tanpa bantuanmu, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan."

Dalam tiga hari berikutnya, Sea bekerja dengan cepat untuk mengatur semua urusannya. Ia mengundurkan diri dari kegiatan ekstrakurikuler yang pernah ia ikuti bersama Rayyan, mengemas barang-barangnya ke dalam beberapa kardus yang dibeli dari toko dekat pasar, dan menghubungi dosennya untuk memberitahu bahwa ia akan pindah tempat tinggal dan mungkin akan mengubah jadwal kuliahnya agar tidak bertemu dengan Rayyan.

Teman-temannya, terutama Lia, sangat khawatir dengan kondisinya. Lia datang mengunjunginya di kontrakan dan membantu mengemas barang-barangnya sambil mencoba untuk membujuknya agar tidak mengambil keputusan tergesa-gesa.

"Sea, mungkin ada penjelasan dari Rayyan," ucap Lia dengan suara lembut. "Kamu harus memberinya kesempatan untuk menjelaskan segalanya sebelum kamu memutuskan untuk pergi."

Sea menggelengkan kepalanya dengan mata yang masih merah karena menangis. "Tidak perlu ada penjelasan lagi, Lia. Aku sudah mendengar segalanya. Dia memilih kekayaan dan masa depan keluarga nya daripada cinta kita. Aku tidak ingin melihatnya lagi atau bahkan membuatnya menemukan aku jika suatu hari ia mengingat aku."

Pada hari keempat, saat Sea sedang memuat barang-barangnya ke dalam mobil pickup yang disewa Bu Yuni, suara yang sudah sangat ia kenal terdengar dari belakangnya.

"Sea!"

Jantungnya berhenti sejenak sebelum mulai berdebar kencang lagi. Ia tidak berani berpaling. Langkah kaki mendekat dan kemudian tangan Rayyan menyentuh bahunya dengan lembut.

"Sea, tolong... berpalinglah padaku. Aku ingin menjelaskan segalanya."

Tanpa berpaling, Sea menarik tangannya dari genggaman Rayyan. "Apa yang perlu kamu jelaskan lagi, Rayyan? Aku sudah mendengar pembicaraanmu dengan orang tuamu. Kamu akan menikahi Amara Wijaya karena itu adalah keputusan keluarga. Semua kata-kata manismu dan janjimu hanyalah omong kosong belaka."

"Aku mencintaimu, Sea!" teriak Rayyan dengan suara penuh haru. "Aku benar-benar mencintaimu. Tapi keluarga saya akan membubarkan perusahaan mereka jika saya tidak menikahi Amara. Saya tidak punya pilihan!"

Sea akhirnya berpaling, matanya penuh dengan air mata namun wajahnya menunjukkan ketegasan yang luar biasa. "Kamu selalu punya pilihan, Rayyan. Hanya saja kamu memilih jalan yang lebih mudah dan menguntungkan bagimu. Kamu menggunakan aku sebagai pelarian dari tekanan keluarga kamu, bukan karena kamu benar-benar mencintaiku."

Ia mengambil tas ranselnya dari atas kardus dan menatap Rayyan dengan pandangan yang penuh dengan rasa sakit dan kekecewaan. "Sekarang, izinkan aku pergi dan mulai hidup baru tanpa kamu di dalamnya. Semoga kamu menemukan kebahagiaan dengan pilihan yang telah kamu buat."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Sea memasuki mobil dan memberi isyarat kepada pengemudi untuk segera berangkat. Saat mobil mulai bergerak, ia melihat bayangan Rayyan yang berdiri sendirian di depan kontrakan lama melalui kaca belakang. Ia menghela napas dalam-dalam dan menutup matanya, berdoa agar suatu hari nanti rasa sakit ini bisa hilang dan ia bisa menemukan cinta yang sesungguhnya.

MASA DEPAN YANG BARU

Beberapa Minggu Kemudian, Kawasan Dau

Kontrakan baru Sea terletak di pinggiran kota Malang, dekat dengan perkebunan teh yang luas. Udara di sini lebih segar daripada di pusat kota, dan suara burung yang berkicau setiap pagi membuatnya merasa lebih tenang. Kamarnya tidak besar, namun cukup untuk ditempati sendirian dengan rak buku yang ia susun sendiri dan meja kerja yang digunakan untuk menyelesaikan tugas kuliah serta menulis cerita pendek.

Ia telah mengubah jadwal kuliahnya sehingga tidak bertemu dengan Rayyan atau anggota BEM lainnya. Ia juga mulai bekerja sebagai guru les anak-anak di sekitar daerah kontrakan baru. Anak-anak itu sangat menyukainya karena cara mengajarnya yang menyenangkan dan penuh perhatian. Di waktu luangnya, ia menghabiskan waktunya dengan membaca buku atau berjalan-jalan di sekitar perkebunan teh sambil membawa buku catatan untuk menulis ide-ide cerita baru.

Salah satu sore hari, saat ia sedang duduk di tepi sawah yang terletak tidak jauh dari kontrakannya sambil menulis di buku catatannya, seorang pria muda dengan rambut hitam yang rapi dan mengenakan baju kerja kantor mendekat dan menawarkan dia segelas jus jeruk segar.

"Maaf mengganggumu," ucap pria itu dengan senyum ramah yang membuatnya merasa nyaman. "Saya melihatmu sudah duduk di sini selama cukup lama dan belum minum apa-apa. Nama saya Arkan, saya bekerja sebagai insinyur di perusahaan pertanian dekat sini."

Sea sedikit terkejut namun memberikan senyum balasan. Ia menerima jus dengan tangan yang lembut. "Terima kasih. Nama saya Sea."

Mereka mulai berbincang santai. Arkan menceritakan tentang pekerjaannya yang sering membuatnya bepergian ke berbagai daerah untuk memeriksa kondisi tanaman, sementara Sea menceritakan tentang studi nya di jurusan Sastra Inggris dan hobinya menulis cerita pendek. Saat matahari mulai terbenam dan warnanya menyelimuti sawah dengan warna jingga dan merah, Arkan melihat ke arah jam tangannya dengan sedikit khawatir.

"Maaf, sepertinya saya harus pergi sekarang," ucapnya. "Saya punya janji dengan teman saya untuk makan malam. Tapi bisakah saya bertemu denganmu lagi besok sore? Saya ingin menunjukkan kebun teh yang saya kelola. Tempatnya sangat indah dan cocok untuk melepaskan penat."

Sea berpikir sejenak. Setelah pengalaman dengan Rayyan, ia merasa sedikit takut untuk membuka hati lagi kepada seorang pria. Namun melihat senyum tulus Arkan dan cara dia memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutnya, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Pria ini tidak menunjukkan pesona yang berlebihan atau memberikan janji yang tidak masuk akal. Ia hanya seorang pria biasa yang tampaknya memiliki niat baik.

"Baiklah," jawab Sea dengan senyum lembut. "Saya akan datang. Tapi tolong jangan datang terlalu awal ya, karena saya harus menyelesaikan tugas kuliah terlebih dahulu."

Arkan mengangguk dengan senyum. "Tentu saja. Saya akan datang jam empat sore. Sampai jumpa besok, Sea."

Ketika Arkan pergi, Sea melihat ke arah langit yang sudah mulai gelap. Ia menyentuh pergelangan tangannya yang dulu dipenuhi gelang Rayyan. Rasa sakit masih ada, namun tidak lagi sekeras dulu. Ia menyadari bahwa pindah dari kontrakan lama dan memulai hidup baru adalah keputusan yang benar. Mungkin cinta sejatinya belum datang padanya, namun kini ia sudah siap untuk memberinya kesempatan kepada orang yang pantas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!