NovelToon NovelToon
Lima Sekawan Ginza

Lima Sekawan Ginza

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulan Separuh

"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."

Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.

Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12. Persekutuan di Lereng Suci

Mobil tua milik Ren Ishida merangkak naik menyusuri jalan setapak yang sangat licin dan juga curam. Hutan di lereng Gunung Oyama terlihat sangat gelap dan juga sangat sunyi pada tengah malam yang dingin ini.

Cahaya bulan tertutup oleh awan mendung yang tebal dan juga sangat pekat di langit Kanagawa. Hana Tanaka memegang erat pegangan pintu mobil saat kendaraan itu berguncang melewati lubang jalan yang cukup besar. Dia bisa mencium bau tanah basah dan juga aroma pinus yang sangat tajam masuk melalui celah jendela.

Mesin mobil terdengar sangat terbebani namun Ren terus menginjak pedal gas dengan sangat hati-hati sekali. Mereka sudah mematikan semua lampu utama mobil sejak memasuki wilayah hutan lindung tersebut agar tidak terlihat. Ren hanya mengandalkan insting dan juga sensor panas jarak pendek yang dipasang oleh Yuki Nakamura tadi.

Mereka akhirnya sampai di sebuah gerbang kayu tua yang sudah mulai ditumbuhi oleh lumut hijau yang tebal. Gerbang itu adalah pintu masuk menuju sebuah kuil kuno yang sudah tidak lagi digunakan untuk upacara besar.

Di balik gerbang tersebut berdiri seorang wanita dengan setelan jas hitam yang terlihat sangat rapi dan juga formal. Wanita itu memegang sebuah payung hitam dan berdiri tegak di bawah rintik hujan yang mulai turun perlahan. Akane Sato segera mengenali sosok tersebut sebagai Mika Sato yang merupakan pengacara hak asasi manusia yang sangat terkenal.

Ren menghentikan mobilnya tepat di depan tangga batu yang menuju ke arah bangunan utama kuil tersebut. Hana turun dari mobil dan merasakan suhu udara yang sangat ekstrem dinginnya menyentuh kulit wajahnya yang pucat.

Mika Sato menyambut mereka dengan sebuah anggukan kepala yang sangat sopan namun terlihat sangat serius sekali. Dia mengajak seluruh anggota kelompok lima sekawan untuk segera masuk ke dalam bangunan utama yang lebih hangat.

Di dalam kuil tersebut terdapat beberapa lilin besar yang menyala dan memberikan cahaya kuning yang sangat temaram. Bau dupa yang sangat wangi memenuhi ruangan yang luas dan juga dipenuhi oleh patung-patung kayu kuno.

Mika mempersilakan Hana dan teman-temannya untuk duduk di atas tikar tatami yang masih dalam kondisi sangat bersih. Ibu Hana segera duduk di pojok ruangan untuk beristirahat sambil terus memegang tas kecil miliknya dengan sangat erat.

Mika Sato meletakkan sebuah tas koper kulit di atas lantai kayu dan membukanya dengan sangat perlahan sekali. Di dalamnya terdapat tumpukan dokumen hukum dan juga beberapa perangkat komunikasi satelit yang sangat canggih dan baru.

Mika mengatakan bahwa dia sudah memantau pergerakan kelompok Hana sejak aksi protes di atap sekolah dimulai. Dia merasa sangat kagum dengan keberanian para remaja ini dalam membongkar kebusukan sistem gacha kehidupan yang sangat kejam.

Mika menjelaskan bahwa pemerintah saat ini sedang berada dalam kondisi panik yang sangat luar biasa hebatnya. Mereka sedang mencoba menggunakan segala cara hukum untuk menghentikan penyebaran data korupsi yang lebih luas lagi.

"Kalian sekarang berada di bawah perlindungan hukum internasional yang sedang aku urus," ujar Mika Sato.

Mika menjelaskan bahwa dia sudah mengirimkan laporan awal ke komisi hak asasi manusia di tingkat global. Hal ini dilakukan agar pemerintah Jepang tidak bisa melakukan tindakan kekerasan secara sembarangan kepada para remaja tersebut.

Namun, perlindungan tersebut masih bersifat sementara dan juga masih sangat lemah di hadapan hukum domestik saat ini. Mereka membutuhkan bukti fisik yang jauh lebih kuat untuk bisa memenangkan kasus ini di meja hijau pengadilan.

Mika menatap Kaito Fujiwara dengan tatapan yang sangat tajam seolah sedang menuntut sebuah informasi yang sangat penting. Kaito tertunduk diam dan dia mulai menyadari bahwa tanggung jawab besar kini sedang berada di pundaknya sendiri.

Kaito Fujiwara mulai menceritakan secara mendalam mengenai keberadaan buku catatan hitam milik ayahnya yang sangat rahasia itu. Dia menjelaskan bahwa buku tersebut berisi rincian transaksi suap yang dilakukan oleh Haruo Fujiwara selama dua dekade.

Ada nama-nama hakim agung dan juga kepala kepolisian nasional yang terlibat dalam aliran dana ilegal tersebut. Buku itu bukan hanya sekadar catatan namun merupakan sebuah asuransi nyawa bagi posisi politik ayahnya selama ini.

Jika buku itu jatuh ke tangan pihak lawan maka seluruh rezim yang berkuasa sekarang akan segera runtuh. Kaito mengatakan bahwa buku itu disimpan di dalam ruang bawah tanah di rumah pribadi mereka di distrik Minato.

Rumah tersebut memiliki sistem keamanan yang jauh lebih ketat daripada sistem keamanan yang ada di gedung sekolah. Ada sensor tekanan lantai dan juga kamera pengenal wajah yang terhubung langsung ke pusat data kepolisian pusat.

Setiap ruangan di dalam rumah itu dipantau oleh tim keamanan profesional yang bekerja selama dua puluh empat jam penuh. Kaito menjelaskan peta jalur rahasia yang biasa digunakan oleh para pelayan untuk masuk ke area dapur belakang.

Jalur tersebut memiliki celah keamanan selama tiga puluh detik setiap kali terjadi pergantian jadwal patroli penjaga malam. Hana mendengarkan penjelasan Kaito dengan sangat teliti dan juga sambil mencatat beberapa poin penting di otaknya.

"Kita harus masuk ke sana sebelum ayahku memindahkan buku itu ke lokasi lain," tegas Kaito Fujiwara.

Yuki Nakamura segera membuka laptopnya dan mulai melakukan pemindaian terhadap denah digital rumah Haruo Fujiwara tersebut. Dia menemukan bahwa sistem keamanan rumah itu menggunakan protokol yang sangat berbeda dengan sistem yang dia retas sebelumnya.

Yuki membutuhkan akses fisik ke kotak panel pusat yang berada di luar pagar rumah untuk bisa mematikan alarm. Ren Ishida mulai mengatur strategi pergerakan tim agar mereka bisa masuk dan keluar tanpa terdeteksi sama sekali.

Dia menekankan bahwa misi ini adalah misi penyusupan murni yang sama sekali tidak boleh melibatkan kontak fisik. Jika mereka tertangkap di dalam rumah tersebut maka Mika Sato tidak akan bisa memberikan bantuan hukum apa pun.

Mika Sato memberikan sebuah kunci mobil baru yang memiliki nomor pelat diplomatik untuk membantu pergerakan tim mereka. Mobil tersebut tidak akan mudah dihentikan oleh polisi patroli biasa karena memiliki imunitas khusus di jalan raya.

Mika juga memberikan kartu identitas palsu yang sudah dia siapkan dengan sangat rapi untuk seluruh anggota kelompok. Hana Tanaka akan berperan sebagai asisten hukum Mika sementara yang lainnya akan menjadi tim teknis pendukung lapangan.

Mereka akan berangkat menuju distrik Minato pada jam tiga pagi saat kewaspadaan penjaga berada di titik terendah. Ren Ishida akan bertugas sebagai pengemudi sekaligus pemantau situasi di sekitar area pagar luar rumah tersebut.

Hana Tanaka merasa ragu sejenak saat melihat wajah ibunya yang terlihat sangat cemas di sudut ruangan kuil. Dia tidak ingin meninggalkan ibunya sendirian di tempat yang sangat terpencil dan juga sangat asing ini.

Namun, Mika Sato menjamin bahwa kuil ini dijaga oleh pengawal pribadinya yang sangat terlatih dan juga sangat setia. Ibunya memberikan restu kepada Hana untuk menyelesaikan perjuangan ini hingga benar-benar tuntas sampai ke akarnya.

Hana mencium tangan ibunya dan merasakan sebuah kekuatan baru mengalir ke dalam seluruh sel tubuhnya yang lelah. Dia berjanji akan kembali dengan membawa kemenangan dan juga membawa keadilan bagi kehidupan mereka yang hancur.

Akane Sato mulai mengunggah sebuah video pendek ke media sosial untuk memberikan pesan kepada para pengikutnya. Dia mengatakan bahwa perjuangan mereka sedang memasuki babak akhir yang sangat menentukan bagi masa depan bangsa.

Akane meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh berita bohong yang disebarkan pemerintah pusat. Dia ingin memastikan bahwa dukungan publik tetap kuat meskipun mereka sedang berada dalam masa persembunyian yang sulit.

Jutaan orang mulai memberikan tanda suka dan juga membagikan video tersebut dalam hitungan menit yang sangat singkat. Hal ini memberikan tekanan psikologis yang sangat besar bagi Haruo Fujiwara yang sedang bersembunyi di rumahnya.

Tepat pada pukul tiga pagi kelompok lima sekawan mulai meninggalkan kuil Gunung Oyama dengan menggunakan mobil baru. Hujan sudah berhenti namun kabut tebal masih menyelimuti jalanan perbukitan yang sangat gelap dan juga sunyi itu.

Ren Ishida mengemudikan mobil dengan kecepatan yang sangat stabil agar tidak menarik perhatian kamera pemantau jalan raya. Mereka melewati beberapa pos pemeriksaan polisi namun berhasil lolos karena menggunakan identitas diplomatik yang diberikan Mika.

Hana menatap pemandangan kota Tokyo yang mulai terlihat dari kejauhan dengan lampu-lampu yang sangat gemerlap. Dia menyadari bahwa di balik keindahan lampu tersebut terdapat banyak sekali kebusukan yang harus segera dibongkar.

Yuki Nakamura terus bekerja di kursi belakang dengan menggunakan tablet yang terhubung ke sistem satelit milik Mika Sato. Dia sedang mencoba melakukan serangan pengalihan pada sistem jaringan internet di sekitar distrik Minato sekarang.

Yuki ingin membuat gangguan sinyal sesaat agar kamera pengawas di rumah Haruo mengalami kegagalan fungsi atau glitch. Kaito memberikan arahan mengenai jalan-jalan tikus yang bisa digunakan untuk mendekati area belakang rumah pribadinya.

Dia merasa sangat tegang karena dia tahu bahwa dia sedang mengkhianati keluarganya sendiri demi sebuah keadilan. Namun Kaito juga merasa lega karena dia akhirnya melakukan sesuatu yang benar di dalam hidupnya yang selama ini palsu.

Mereka sampai di sebuah taman kecil yang letaknya hanya berjarak beberapa ratus meter dari gerbang belakang rumah Haruo. Ren memarkir mobil di bawah pohon yang sangat besar agar tidak terlihat oleh patroli udara drone kepolisian.

Hana dan Kaito segera keluar dari mobil dengan mengenakan pakaian hitam yang sangat ringan dan juga sangat kedap suara. Ren memberikan sebuah alat komunikasi kecil yang dipasang di dalam telinga untuk koordinasi jarak jauh selama misi.

Yuki memberikan sinyal bahwa gangguan jaringan akan segera dimulai dalam waktu sepuluh detik dari sekarang juga. Hana menggenggam tangan Kaito sebentar untuk memberikan semangat sebelum mereka melompat melewati pagar tembok yang tinggi.

Hana Tanaka mendarat di atas rumput halaman belakang dengan sangat halus dan juga tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Kaito mengikuti di belakangnya dan segera menunjukkan arah menuju pintu rahasia yang ada di bawah balkon dapur.

Mereka bergerak dengan sangat cepat di bawah bayang-bayang pohon hias yang ditata dengan sangat rapi dan mewah. Lampu taman mendadak berkedip sejenak sebagai tanda bahwa Yuki berhasil melakukan intervensi pada sistem kelistrikan rumah.

Kaito menempelkan jarinya pada pemindai biometrik rahasia yang dia ketahui sejak dia masih kecil dahulu kala. Pintu besi kecil terbuka dengan suara desisan udara yang sangat pelan dan hampir tidak terdengar oleh telinga manusia.

Mereka masuk ke dalam lorong gelap yang menuju langsung ke arah perpustakaan pribadi milik Haruo Fujiwara tersebut. Hana bisa merasakan aroma buku tua dan juga bau kayu ek yang sangat mahal di sepanjang lorong yang sempit itu.

Kaito memberikan isyarat agar Hana berhenti karena ada sensor laser infra merah yang melintang di depan mereka. Kaito mengeluarkan sebuah alat semprot khusus yang bisa membuat sinar laser tersebut menjadi terlihat oleh mata telanjang.

Hana melompati sinar laser tersebut dengan gerakan yang sangat atletis seperti yang sudah diajarkan oleh Ren. Mereka akhirnya sampai di depan pintu kayu besar yang merupakan pintu masuk utama menuju ruang perpustakaan Haruo.

Kaito perlahan membuka pintu tersebut dan mereka melihat ruangan yang sangat luas dengan ribuan buku yang tertata rapi. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja kerja besar yang terbuat dari kayu jati kualitas terbaik dari luar negeri.

Kaito segera menuju ke arah sudut ruangan dan menggeser sebuah karpet tebal yang menutupi lantai kayu tersebut. Di bawah karpet tersebut terdapat sebuah panel besi yang memiliki sistem kunci suara yang sangat unik dan canggih.

Kaito menarik napas panjang dan mulai membisikkan sebuah kalimat kode yang sangat rahasia ke arah sensor suara. Terdengar suara putaran roda gigi mekanis yang sangat berat dari bawah lantai perpustakaan yang megah tersebut.

Sebuah kotak besi kecil perlahan muncul dari bawah lantai dan terbuka dengan sendirinya di hadapan Hana dan Kaito. Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah buku catatan dengan sampul kulit berwarna hitam yang terlihat sangat kusam.

Hana mengambil buku tersebut dan segera membukanya untuk memastikan isinya adalah bukti yang mereka cari selama ini. Matanya terbelalak saat melihat daftar nama pejabat tinggi yang menerima uang suap dalam jumlah yang sangat fantastis.

Ada juga rincian rencana penghancuran pemukiman warga miskin yang tertulis dengan sangat detail dan juga sangat kejam. Buku ini adalah bukti yang lebih dari cukup untuk menyeret Haruo Fujiwara ke dalam penjara selama sisa hidupnya.

"Kita mendapatkannya Kaito. Kita benar-benar mendapatkannya sekarang," bisik Hana Tanaka dengan suara penuh haru.

Tiba-tiba lampu di dalam ruangan perpustakaan tersebut menyala dengan sangat terang secara mendadak dan mengejutkan. Hana dan Kaito berbalik dan mereka melihat Haruo Fujiwara sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sangat dingin.

Haruo memegang sebuah pistol di tangan kanannya dan dia mengarahkannya tepat ke arah jantung putra kandungnya sendiri. Di belakang Haruo berdiri beberapa pengawal bersenjata lengkap dengan wajah yang tidak menunjukkan emosi sedikit pun.

Suasana di dalam perpustakaan tersebut berubah menjadi sangat mencekam dan juga sangat berbahaya bagi keselamatan nyawa mereka. Haruo memberikan senyum yang sangat sinis dan dia mulai berjalan mendekati Hana yang masih memegang buku hitam tersebut.

Haruo Fujiwara mengatakan bahwa dia sudah menduga Kaito akan kembali untuk mengambil buku catatan hitam rahasia tersebut. Dia merasa sangat kecewa karena anaknya lebih memilih untuk menjadi pahlawan daripada menjadi seorang pewaris kekuasaan.

Haruo menuntut Hana untuk segera menyerahkan buku tersebut kepadanya atau dia akan menarik pelatuk pistolnya sekarang juga. Hana menatap mata Haruo dengan penuh keberanian dan dia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun di hadapan senjata.

Dia tahu bahwa Yuki dan Ren sedang mendengarkan semua percakapan ini melalui perangkat komunikasi yang masih menyala. Perjuangan mereka kini berada di titik yang paling kritis dan juga paling mematikan di dalam sejarah hidup mereka.

1
Filan
sudahlah Hana. Persahabatan tidak bisa dimulai dengan kebohongan. Lagipula pura-pura kaya itu sulit dibanding orang kaya pura-pura miskin.
Three Flowers
aduh kasihan... gak kebayang gimana malunya saat perut berbunyi. Terima saja Hana, lagian juga sudah ketahuan kalo kamu lapar🤣
Three Flowers
Karena di sekolah elit, kemiskinan adalah hal yang sensitif. Kalau ketahuan bisa dibully, ya..
Filan
ga dapat mbg dia?
Filan
duh kasihan. Tokyo kota mahal /Grimace/
PrettyDuck
iya sihh. takutnya nanti mereka dicap radikal.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
PrettyDuck
tapi akane ini peduli loh sama keadaan negaranya
PrettyDuck
yaiyalahh. mereka gak terdesak.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
Mentariz
Ya ampun mirisnya 🥲
Mentariz
Bagus, gak usah gengsi, isi perut itu nomor satu 👍
Mentariz
Udah terima aja rotinya, han, lumayan loh
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
perut memang tidak bisa diajak kompromi. dia terlalu jujur, karena memang dia butuh asupan
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
tengah hari, lagi puasa. tentu lapar lah 🤭
˚₊· ͟͟͞͞➳❥𝐋𝐢𝐥𝐲 𝐕𝐞𝐲༉‧₊⁴.
Kayak kondisi dimana yaaa/Doge/
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
-Thiea-
Akane gak mungkin ngejauhin Hana kan.. secara dia vokal banget sama urusan politik. dia kan juga pengen bantu orang-orang susah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak..
-Thiea-
beruntung Hana punya teman kayak akane.. dia sangat perhatian .🥹
Miu Nuha.
dimana2 keadaan itu sama ya 😫
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍
😾🍟 𝒾Ř𝓪 𝐌𝐀ү𝓪 🐚
suka banget sama ceritanya. salut buat Hana. keren! tx kak bulan udah nulis cerita ini
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semangat Kaito 💪🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga akan menjadi sejarah yang baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!