Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.
Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.
Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Hukum di Balik Aura
Pintu gerbang utama Marga Surya terbuat dari kayu besi tua yang diukir dengan simbol matahari terbit yang sudah memudar. Dua penjaga dengan tombak sederhana berdiri di sampingnya, wajah mereka menyiratkan kebosanan yang mendalam. Saat mereka melihat sosok yang terhuyung-huyung mendekat dari jalan setapak berdebu, ekspresi itu berubah menjadi ejekan yang tak tersembunyi.
"Lihat siapa yang kembali," gerumus salah satunya, seorang pria berotot dengan parang di pinggang. "Hantu si tak berguna. Kupikir Nightcrawler sudah mengunyahnya jadi pulp."
"Sepertinya nasib sial bahkan menolak untuk mengambilnya, Liang," sahut yang lain, menyeringai. "Lihat bajunya... tampaknya hutan memberinya pelukan yang kasar."
Kaelen tidak mengangkat kepalanya. Ia menjaga postur tubuhnya yang lemah, bahu yang tertunduk, langkah yang terseret-seret. Tapi matanya, yang tersembunyi di balik rambutnya yang kusut, memindai segala sesuatu: struktur gerbang, kekuatan relatif para penjaga, aliran energi yang lemah namun stabil dari formasi pelindung sederhana di sekitar tembok marga. Formasi itu seperti jaring laba-laba yang rusak, penuh celah dan ketidakkonsistenan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia bisa merobeknya dengan pikiran. Sekarang, ia hanya bisa mengamati dan mengklasifikasi.
"Biarkan aku lewat," suara Kaelen terdengar parau, sengaja dibuat lemah. "Aku ingin ke pondokku."
"Pondokmu?" si penjaga bernama Liang tertawa pendek. "Gubuk di tepi tempat pembuangan itu? Kenapa repot-repot? Kau mungkin lebih baik tinggal di hutan. Setidaknya kau bisa menjadi pupuk yang berguna."
Tapi mereka tidak menghalanginya secara fisik. Menyia-nyiakan seorang sampah masyarakat memang menyenangkan, tetapi menyentuhnya dianggap bisa menulari nasib sial. Kaelen menyusup melewati mereka, merasakan tatapan mereka yang menghina di punggungnya.
Lingkungan dalam marga adalah dunia yang sangat berbeda dari rimba yang sunyi. Suara palu menempa logam dari pandai besi, teriakan anak-anak berlatih jurus dasar di halaman, aroma daging dan sup yang dimasak. Itu adalah gambaran kehidupan komunal yang sibuk, hierarkis, dan keras. Kaelen, dengan pakaian compang-camping dan bau darah serta keringat, adalah noda dalam gambaran itu. Orang-orang melirik, berbisik, beberapa menyeringai, yang lain memalingkan muka dengan jijik. Ia adalah pengingat akan kegagalan, garis keturunan yang memudar.
Pondoknya memang persis seperti yang digambarkan: sebuah gubuk reyek di sudut paling barat kompleks marga, berdekatan dengan tempat pembuangan dan kandang hewan pekerja. Baunya menusuk. Tapi Kaelen tidak peduli. Ia memasuki ruangan gelap dan sempit itu, menutup pintu kayu yang reyek, dan untuk pertama kalinya sejak kebangkitannya, ia membiarkan kepura-puraannya jatuh.
Dia berdiri tegak. Meskipun tubuhnya masih sakit dan kelaparan, sikapnya berubah total. Kelemahan yang tertunduk digantikan oleh kewaspadaan yang tenang. Dia memandang sekeliling ruangan: sebuah tikar jerami yang robek, sebuah kendi air retak, dan jendela kecil berdebu yang memungkinkan sedikit cahaya masuk. Itu cukup.
Pertama-tama, kebutuhan dasar. Dia menemukan sepotong roti keras yang hampir berjamur dan memakannya dengan metode, mengunyah perlahan untuk memaksimalkan penyerapan nutrisi. Dia meminum air, menyaring kotoran yang terlihat dengan persepsi halusnya. Lalu, dia duduk bersila di tikar itu dan menutup matanya.
Ini bukan meditasi kultivasi biasa. Dia tidak berusaha menarik "aura langit bumi" ke dalam tubuhnya melalui meridian, seperti yang diajarkan di dunia ini. Itu seperti mencoba meminum air dari sungai dengan tangan; tidak efisien dan berantakan. Sebaliknya, dia meluas.
Kesadarannya, yang diasah oleh bangkitnya fragmen ingatan, mulai memeriksa lingkungannya. Dia merasakan partikel-partikel energi—aura—yang melayang di udara. Mereka seperti serbuk emas kecil yang terlihat oleh indera keenamnya. Di dunia yang lebih tinggi, mereka akan padat dan berkilauan. Di sini, di dunia rendah Xuan Liang, mereka langka dan redup.
Tapi Kaelen tidak tertarik pada serbuk emasnya. Dia tertarik pada mengapa serbuk emas itu ada. Apa yang membuatnya bersinar? Apa hukum yang mengatur kelimpahan, gerakan, dan penyerapannya?
Dia fokus pada satu partikel aura. Daripada mencoba menangkapnya, dia "menyentuh"-nya dengan kesadarannya, bertanya. Perlahan, seperti mendengarkan bisikan alam semesta, pemahaman mulai meresap.
Partikel aura ini bukanlah entitas acak. Ia adalah produk sekunder dari interaksi antara energi panas inti dunia, cahaya bintang-bintangnya, dan—yang paling menarik—jejak Kehendak Hukum yang sangat samar. Dunia ini, seperti semua dunia, memiliki Hukum Dasarnya sendiri: Hukum Pertumbuhan, Hukum Pembusukan, Hukum Gravitasi, Hukum Siklus. Interaksi Hukum-Hukum inilah yang, sebagai efek samping, memancarkan getaran energi yang dianggap kultivator sebagai "aura".
Mata Kaelen yang terpejam terbuka lebar di dalam kegelapan. Ini adalah terobosan.
Jika aura hanyalah gejala, maka mengobati gejalanya adalah pekerjaan anak-anak. Seorang ahli sejati akan belajar penyebabnya. Seorang Master akan belajar memanipulasi penyebab itu.
Dia mengalihkan perhatiannya ke dalam dirinya sendiri, ke tubuh yang rusak ini. Racun yang menghalangi meridiannya adalah zat berwarna kehijauan yang melekat pada saluran energinya. Kultivator biasa akan mencoba membakarnya dengan api yang lebih kuat atau mengurasnya dengan kesabaran. Kaelen memeriksanya dengan perspektif Hukum.
Racun itu menempel karena ada Hukum Afinitas, tarik-menarik molekuler antara racun dan dinding meridian. Dia juga melihat bahwa racun itu memiliki ritme metabolisme yang lemah, pola pertumbuhan dan pembusukan miniatur.
Jika aku mengganggu Hukum Afinitas-nya... pikirnya.
Dia tidak menggunakan energi mentah. Sebaliknya, dia berkonsentrasi pada titik di mana racun itu menempel, dan dengan kehendak murni yang disokong oleh pemahaman, dia membayangkan lapisan isolasi yang tak terlihat, sebuah penghalang mikroskopis yang mengubah "aturan tarik-menarik" di tempat itu. Dia tidak mengeluarkan tenaga; dia hanya... menyatakan.
Keringat membasahi pelipisnya. Upaya mentalnya sangat besar untuk tubuh yang lemah ini. Tapi perlahan, seperti lendir yang terlepas dari kaca, racun hijau itu kehilangan cengkeramannya. Satu tetes, lalu yang lain, terlepas dari dinding meridian dan mengambang bebas di aliran energi tubuh yang stagnan. Dari sana, jauh lebih mudah. Dia menggunakan sedikit aliran darah yang terkontrol untuk membawa pecahan racun itu ke permukaan kulit. Dalam beberapa menit, pori-porinya mengeluarkan keringat tipis berwarna hijau pucat yang berbau busuk. Saluran meridian pertamanya bersih.
Dia menarik napas lega. Udara yang masuk terasa lebih hidup, lebih tajam. Itu bukti. Jalannya benar.
Dia menghabiskan sisa malam dengan membersihkan beberapa saluran meridian penting lainnya. Dia tidak mencoba untuk langsung menjadi kuat. Itu tidak mungkin dan akan menarik perhatian. Sebaliknya, dia memulihkan fungsi dasar tubuh, menghilangkan racun, dan memperkuat fondasinya dengan nutrisi dari roti tadi dan air. Saat fajar menyingsing, tubuhnya masih kurus dan terluka, tetapi matanya bersinar dengan kecerdasan dan kesehatan yang belum pernah ada sebelumnya.
Keesokan harinya, teriakan dari pelataran tengah membangunkannya. Suara itu berwibawa dan berisi kekuatan yang terkendali—suara seorang kultivator setidaknya di Lapis Keempat Qi Gathering.
"Semua anggota marga muda yang berusia di bawah delapan belas tahun, berkumpul! Ujian Bakat Bulanan akan segera dimulai!"
Ujian Bakat. Ritual di mana para pemuda dan pemudi Marga Surya diuji kemajuan kultivasi mereka. Bakat mereka, yang diukur melalui kecerahan dan ukuran "Inti Qi" mereka di laut pusat mereka, menentukan alokasi sumber daya mereka: pil, teknik, bimbingan dari tetua. Bagi Kaelen, ini adalah gangguan yang berpotensi berbahaya, tetapi juga kesempatan untuk mengamati dan menetapkan posisinya.
Pelataran tengah sudah penuh dengan orang. Puluhan remaja berdiri dalam barisan rapi, wajah-wajah mereka menunjukkan campuran kegugupan dan harapan. Orang tua mereka berjejer di pinggir, penuh dengan ekspektasi. Di depan, di atas sebuah panggung kecil, berdiri tiga tetua marga. Di tengah adalah Tetua Goran, pria berjanggut abu-abu dengan mata tajam seperti elang dan aura Lapis Keempat yang mantap. Dialah kepala pelatih marga.
Kaelen mengambil tempatnya di barisan belakang, berusaha menyembunyikan kehadirannya. Tapi beberapa pasang mata sudah menangkapnya. Arlan, sepupunya yang tegap dengan senyum sinis, membisikkan sesuatu kepada kelompoknya, menyebabkan mereka terkikik. Kaelen mengabaikannya.
Ujian dimulai. Satu per satu, para pemuda maju dan menempatkan tangan mereka di atas "Batu Uji" yang berwarna susu. Batu itu akan menyala, menunjukkan tingkat dan kemurnian Qi pemohon. Kebanyakan bersinar dengan cahaya merah muda atau merah pucat—Lapis Pertama atau Kedua Qi Gathering. Beberapa bintang seperti Arlan mencapai cahaya merah cerah yang solid, menandakan puncak Lapis Kedua, mendekati Ketiga. Itu dipuji oleh Tetua Goran.
"Bagus, Arlan. Kemajuan yang stabil. Teruskan."
Kemudian tiba giliran Kaelen. Saat namanya dipanggir, gumaman riuh rendah menyebar di pelataran. Tatapan yang mengejek, kasihan, dan jijik mengikutinya saat dia berjalan pelan ke depan. Dia bisa merasakan pandangan Tetua Goran yang tertimbun dan penuh pertimbangan.
"Letakkan tanganmu, nak," kata Goran, suaranya netral namun matanya mengamati dengan cermat.
Kaelen mengulurkan tangannya yang tampak kurus dan kotor. Dia telah mempersiapkan untuk ini. Dia tidak akan menunjukkan pembersihan meridiannya atau pemahaman barunya. Sebaliknya, dia akan menunjukkan apa yang mereka harapkan: kemajuan yang sangat kecil, hampir tidak ada. Dia dengan hati-hati mengumpulkan sedikit energi dari meridiannya yang baru dibersihkan—hanya cukup untuk memicu Batu Uji—dan membiarkannya mengalir.
Batu Uji berkedip. Lalu bersinar dengan cahaya merah muda yang sangat redup, nyaris tidak terlihat, berkedip-kedip tidak stabil. Itu adalah penampilan yang bahkan lebih buruk dari bulan lalu, saat "Kaelen yang lama" masih berusaha.
Tawa tidak bisa ditahan lagi. Beberapa remaja tertawa terbahak-bahak. Arlan menyeringai, puas.
Tetua Goran mengerutkan kening. Dia menatap Kaelen dengan seksama, bukan pada batunya. Dan untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu. Kaelen dengan sengaja mempertahankan pandangan kosong, takut, dan malu di matanya. Tapi di dalam, dia merasakan sesuatu—sebuah sensasi pengamatan yang dalam dari tetua itu. Bukan pada level Qi-nya, tapi pada... keberadaannya. Seolah-olah Goran merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya, seperti bau asing yang samar.
Tapi sensasi itu hilang dengan cepat. Goran menghela napas, kelihatan kecewa dan sedikit muak. "Tidak ada kemajuan. Malah kemunduran. Kaelen, sumber daya marga terbatas. Kami tidak bisa terus membuangnya pada... pada yang tidak menunjukkan harapan. Mulai sekarang, jatah pil energimu dihentikan. Fokuslah pada tugas fisik di perkebunan herbal."
Keputusan itu disambut dengan anggukan setuju dari orang banyak. Itu adalah vonis: dia sekarang secara resmi adalah sampah, dikutuk untuk menjadi pekerja kasar.
"Terima kasih, Tetua," Kaelen membungkuk, suaranya bergetar palsu. Di dalam, dia lega. Itu yang dia inginkan. Kurang perhatian. Kurang harapan. Kebebasan untuk berlatih dengan caranya sendiri, di tempatnya yang terpencil.
Saat dia berbalik untuk kembali ke barisan, tatapannya sekali lagi bertemu dengan Arlan. Di balik kesombongan dan ejekan di mata sepupunya, Kaelen melihat sesuatu yang lain: kegelisahan. Sebuah pertanyaan yang samar. Bagaimana mungkin kau selamat?
Kaelen memandang ke bawah, berpura-pura tertunduk malu, dan berjalan kembali ke tempatnya di barisan belakang. Rencananya bekerja. Dia telah menghilangkan kewajiban ujian bulanan, menghindari perhatian yang tidak diinginkan, dan mendapatkan kebebasan relatif.
Tapi saat dia berdiri di sana, mendengarkan nama-nama lain dipanggir, dia merasakan sesuatu yang lain. Bukan dari orang banyak, bukan dari tetua. Tapi dari jauh, dari arah menara batu tertinggi di kompleks marga, di mana Perpustakaan Silsilah berada. Sebuah kesadaran yang halus, seperti sentuhan sutra di kulitnya, menyapu seluruh pelataran. Itu cepat dan impersonal, seperti seorang penjaga yang melakukan pemeriksaan rutin. Tapi itu ada. Dan itu kuat. Jauh lebih kuat dari Tetua Goran.
Siapa itu? pikir Kaelen, hati-hati menutupi kehadiran mentalnya, membuatnya tampak seperti batu kosong. Apakah ada yang lain di marga ini yang menyadari hukum di balik aura? Atau... apakah ini sesuatu yang lain?
Usai upacara, Kaelen ditugaskan ke perkebunan herbal di lereng bukit di belakang marga. Pekerjaannya sederhana: menyiangi, menyiram, dan memanen daun-daun Moonlit Clover dan Silverroot—bahan dasar untuk pil energi tingkat rendah. Teman kerjanya adalah orang-orang tua atau yang bakatnya payah seperti dirinya. Tidak ada yang banyak bicara.
Di sinilah, di antara tanaman yang memancarkan siklus pertumbuhan dan pembusukan mereka sendiri, Kaelen menemukan laboratoriumnya. Saat dia menyiangi, dia tidak hanya mencabut gulma. Dia mengamati Hukum Persaingan di antara mereka. Saat dia menyiram, dia merasakan Hukum Aliran air dan penyerapannya oleh akar. Dia mulai berlatih dengan caranya sendiri. Dia akan duduk di tanah, menyentuh sebuah daun, dan mencoba mempercepat proses fotosinesisnya dengan sedikit saja, bukan dengan memberikan energi, tetapi dengan memperkuat Hukum Penyerapan Cahaya di sekitar daun itu. Hasilnya hampir tidak terlihat—daun itu menjadi sedikit lebih hijau, lebih segar. Tapi itu berhasil.
Setiap malam, kembali ke gubuknya, dia akan membersihkan lebih banyak meridian, selalu berhati-hati agar tidak ada lonjakan energi yang tiba-tiba. Dia juga mulai melatih tubuhnya, melakukan gerakan-gerakan dasar yang tampak biasa namun dirancang untuk selaras dengan Hukum Biomekanik, memaksimalkan efisiensi setiap otot dan tendon. Dalam seminggu, tubuhnya yang kurus mulai mengencang. Lukanya sembuh dengan cepat. Matanya, yang dulu redup, sekarang memancarkan cahaya tenang yang dalam, seperti kolam yang jernih.
Suatu sore, saat dia sedang memilah hasil panen, seorang pelayan dari rumah utama mendatanginya.
"Kaelen," panggil pelayan itu, hidungnya sedikit berkerut melihat kondisi Kaelen. "Tetua Goran memanggilmu. Di ruang bimbingannya. Sekarang."
Jantung Kaelen berdebar, tetapi wajahnya tetap tenang. Panggilan itu tidak terduga. Apakah tetua itu mencurigai sesuatu? Atau apakah ini tentang penugasan kerjanya?
Dia mengikuti pelayan itu melalui kompleks, melewati rumah-rumah yang lebih baik, menuju sebuah paviliun batu sederhana di dekat lereng bukit. Di dalam, ruangan dipenuhi dengan aroma dupa dan buku tua. Tetua Goran duduk di belakang meja kayu, menatapnya saat dia masuk.
"Kaelen. Tutup pintunya dan duduk."
Kaelen menurut, duduk di bangku kayu di seberang meja, menjaga postur tubuhnya yang rendah hati.
Goran tidak segera berbicara. Dia memandang Kaelen untuk waktu yang lama, matanya seperti bor yang mencoba menembus permukaannya. "Ujianmu bulan lalu," kata Goran akhirnya, "menunjukkan kemunduran yang hampir mustahil. Bahkan untukmu. Racun Nightcrawler?"
Kaelen mengangguk perlahan. "Aku... aku terjatuh di hutan, Tetua. Mungkin terkena duri atau sesuatu."
"Dan kau berhasil pulang sendiri?" suara Goran datar.
"Keberuntungan buta, Tetua. Binatang itu... pergi begitu saja."
Goran mengangguk, seolah-olah menerima penjelasan itu. Tapi matanya tidak percaya. "Aku memanggilmu ke sini bukan untuk menanyai kelalaianmu. Aku memanggilmu karena aku mendapat keluhan. Dari Arlan."
Kaelen mengangkat alis, berpura-pura tidak mengerti. "Keluhan, Tetua?"
"Ya. Dia mengatakan bahwa sejak kamu kembali dari hutan, ada... sesuatu yang berbeda padamu. Dia tidak bisa menjelaskannya. Dia mengatakan kamu memandangnya dengan cara yang membuatnya tidak nyaman." Goran menyandarkan tubuhnya, jari-jarinya bertemu. "Apa kamu memiliki dendam terhadap sepupumu, nak? Apakah kamu menyimpan kebencian karena insiden di hutan itu?"
Ini adalah ujian. Bukan tentang kekuatan, tapi tentang loyalitas, tentang emosi.
Kaelen menundukkan kepalanya, memainkan perannya dengan sempurna. "Tetua, aku... aku tidak berani. Aku lemah. Aku tahu tempatku. Aku hanya berterima kasih masih diberi tempat di marga. Aku tidak punya pikiran untuk membalas dendam." Suaranya bergetar dengan ketakutan yang meyakinkan.
Goran mengamatinya lagi. Lalu, tiba-tiba, dia menghembuskan napas. "Baiklah. Mungkin Arlan hanya merasa bersalah. Atau imajinasinya terlalu aktif." Dia berhenti sejenak. "Tapi dengarlah, nak. Dunia ini keras. Marga butuh setiap tangan yang mampu, bahkan di perkebunan herbal. Lakukan tugasmu, jadilah tidak terlihat, dan kamu mungkin akan menjalani hidup yang panjang—jika membosankan. Jangan membuat gelombang. Jangan menarik perhatian. Apakah kamu mengerti?"
Peringatannya jelas. Kami mengawasimu. Jangan coba-coba.
"Sangat jelas, Tetua. Terima kasih atas kebijaksanaannya," Kaelen membungkuk dalam-dalam.
Saat dia meninggalkan paviliun, dia merasakan pandangan Goran menempel di punggungnya. Dia juga merasakan sesuatu yang lain: saat dia melewati sudut menuju gubuknya, dia melihat sekilas seorang pria tua berjubah abu-abu kotor keluar dari Perpustakaan Silsilah. Pria itu tampak seperti seorang penjaga perpustakaan yang sudah pikun, tubuhnya bungkuk, langkahnya tertatih-tatih. Tapi Kaelen melihatnya. Pria itu mengangkat kepalanya sesaat, dan mata mereka bertemu.
Mata itu tidak pikun. Mata itu tua, dalam-dalam, dan penuh dengan cahaya dingin seperti bintang yang jauh. Mata itu melihat melalui Kaelen, melihat bukan tubuhnya yang lemah, tapi sesuatu di dalamnya, sesuatu yang baru bangkit. Hanya sepersekian detik, lalu pria itu menunduk dan berjalan pergi, menghilang di balik sudut.
Kaelen berhenti, darahnya membeku. Itu dia. Itulah kesadaran yang menyapu pelataran selama ujian. Itu bukan tetua. Itu adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih dalam bersembunyi di balik bayang-bayang marga ini.
Dia dengan cepat kembali ke gubuknya, pikirannya berpacu. Marga Surya tiba-tiba tampak seperti kolam kecil dengan monster yang bersembunyi di kedalamannya. Apakah pria tua itu seorang Pemburu Fragmen? Atau hanya seorang pertapa kuat yang mengamati? Apakah dia berbahaya?
Dia duduk di tikarnya, napasnya dalam dan teratur. Ketakutan mereda, digantikan oleh kewaspadaan yang tajam dan tekad yang membara. Dunia ini penuh dengan misteri dan bahaya. Dia harus tumbuh lebih kuat, lebih cepat. Tidak hanya untuk menemukan fragmen-fragmennya, tapi juga untuk bertahan dari apa pun yang bersembunyi di kegelapan.
Dia menutup matanya, dan untuk pertama kalinya sejak kebangkitannya, dia secara aktif meraih keluar, bukan hanya mengamati aura, tetapi dengan lembut, sangat hati-hati, mencoba untuk menyentuh Hukum yang lebih dalam—Hukum Ruang di sekitar gubuknya, berusaha membuatnya sedikit tidak terlihat, sedikit terlupakan.
Langkah pertamanya di dunia Xuan Liang baru saja dimulai, dan jalan di depannya sudah dipenuhi dengan bayangan dan mata yang mengintai.