NovelToon NovelToon
GERBANG COSMIC

GERBANG COSMIC

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Sistem / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: EsyTamp

akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3 - Latihan dan Pertemuan Tak Terduga

Ruang dimensi terbentang luas di hadapan Rey. Langit biru pucat menggantung tenang di atas padang rumput hijau yang bergoyang tertiup angin. Sungai jernih mengalir tanpa henti, memantulkan cahaya seperti perak cair. Di dunia inilah Rey memutuskan untuk memulai latihan yang sesungguhnya.

Ia berdiri di tengah lapangan rumput, mengatur napasnya.

“Tidak ada waktu untuk bersantai lagi,” gumamnya. “Kalau aku tidak cukup kuat, aku akan mengulang tragedi yang sama.”

Rey mengangkat tangannya. Sebuah lapisan transparan muncul di sekeliling tubuhnya—tameng energi. Cahaya samar berpendar di permukaannya.

Ia mengambil batu dari tanah lalu melemparkannya ke arah tameng itu sendiri. Batu tersebut memantul dan jatuh ke rumput.

“Masih terlalu rapuh,” katanya. “Kalau ini terkena serangan monster kelas menengah, pasti langsung pecah.”

Rey mengulangi latihan itu berkali-kali. Ia melempar batu lebih keras, lalu menciptakan tekanan pada tamengnya sendiri, mendorongnya dari dalam. Setiap kali tamengnya pecah, rasa sakit menjalar di dadanya, seperti otot yang dipaksa bekerja melebihi batas.

Namun ia tidak berhenti.

Bayangan tubuh Sila yang berlumuran darah kembali muncul di benaknya.

“Aku tidak boleh lemah lagi…”

Keringat mengalir di dahinya. Napasnya tersengal. Tapi tamengnya perlahan berubah—lebih tebal, lebih stabil, dan lebih luas.

Tring…

Layar transparan muncul di hadapannya.

Daya Tahan: +3 poin

Kontrol Tameng: meningkat

Rey tersenyum tipis.

“Sedikit demi sedikit… aku pasti bisa.”

Ia berlatih hingga tubuhnya hampir tak sanggup berdiri. Setelah itu, ia duduk di tepi sungai, mencuci wajahnya dengan air dingin.

“Besok aku akan mulai latihan jarak,” katanya. “Tameng sepuluh meter tidak cukup. Aku harus bisa melindungi Sila dari jauh.”

Setelah cukup beristirahat, Rey keluar dari ruang dimensi dan kembali ke dunia nyata. Hari itu ia memutuskan untuk membeli beberapa barang latihan tambahan: target tembak, besi tua, dan alat ukur jarak.

“Eh… Rey, ya?”, seseorang memanggilnya.

Ia menoleh.

Seorang gadis berdiri di pinggir jalan sambil membawa tas olahraga besar di punggungnya. Rambutnya diikat pendek, mengenakan jaket dan celana panjang, dengan gaya yang jauh dari kata anggun.

“Leoni?” ujar Rey terkejut.

Gadis itu menyeringai lebar.

“Masih ingat aku, ya? Kupikir kamu sudah lupa sama teman masa kecilmu.”

Leoni adalah tetangga lama Rey saat mereka masih tinggal di daerah pinggiran kota. Ia terkenal sebagai gadis tomboi yang lebih suka bermain tembak-tembakan dan memanjat pohon daripada bermain boneka.

“Kamu… kelihatan beda,” kata Rey.

Leoni mengangkat bahu.

“Kamu juga. Lebih kurus. Tapi matamu… aneh. Kayak orang yang sudah lihat neraka.”

Rey terdiam sesaat.

“Kamu mau ke mana?” tanya Leoni.

“Supermarket,” jawab Rey singkat.

“Kebetulan. Aku juga mau beli sesuatu. Bareng saja.”

Mereka berjalan berdampingan. Suasana terasa canggung, tapi juga hangat.

“Dengar-dengar kamu sekarang tinggal sama adikmu saja, ya?” tanya Leoni.

Rey mengangguk.

“Iya. Orang tuaku sudah meninggal.”

“Oh…” Leoni menunduk sebentar. “Maaf.”

“Tidak apa-apa.”

Sesampainya di supermarket, Leoni langsung menuju bagian perlengkapan olahraga dan peralatan berat. Rey memperhatikannya dengan heran.

“Target tembak,” jawab Leoni santai. “Dan peluru tiruan.”

Rey terkejut.

“Kamu masih main tembak-tembakan?”

Leoni tersenyum miring.

“Bukan mainan lagi sekarang.”

Ia meletakkan tangannya di atas dadanya.

“Aku… membangkitkan kekuatan.”

Rey langsung menatapnya tajam.

“Kekuatan?”

Leoni mengangguk.

“Sejak dua hari lalu. Tiba-tiba muncul layar aneh di depanku.”

Rey menelan ludah.

“Jenis apa?”

Leoni mengangkat tangannya ke depan.

“Sniper otomatis.”

Udara di depan tangannya bergetar. Cahaya biru membentuk sebuah senjata panjang yang melayang di udara—mirip senapan runduk futuristik dengan laras panjang dan cahaya berdenyut di bagian tengahnya.

Rey membelalak.

“Itu…”

“Bukan senjata biasa,” ujar Leoni bangga. “Kalau aku membidik sesuatu, pelurunya akan otomatis mengejar target. Aku hanya perlu fokus.”

Rey menggenggam tinjunya.

“Jadi… kekuatanmu sudah bangkit lebih awal…”

Leoni mengangguk.

“Sejak itu aku sering mimpi buruk. Tentang monster dan kota yang hancur. Kamu juga, kan?”

Rey terdiam.

“Aku juga pernah melihat masa depan itu,” katanya pelan. “Dan aku tidak ingin itu terjadi lagi.”

Leoni menatapnya serius.

“Kamu tahu sesuatu, ya?”

“Aku tidak bisa menjelaskan sekarang. Tapi dunia akan berubah. Sangat segera.”

Leoni terdiam beberapa saat, lalu menyeringai kecil.

“Kalau begitu… bagus.”

“Bagus?”

“Artinya aku tidak perlu latihan sendirian lagi,” katanya sambil menepuk bahu Rey. “Kita bisa latihan bareng.”

Sore itu, Rey membawa Leoni ke tempat terpencil di luar kota. Ia membuka ruang dimensinya di hadapan Leoni.

Leoni terperangah.

"Aku juga telah membangkitkan kemampuanku

Ini ruang latihanku,” jawab Rey. “Dan tempat menyimpan persediaan.”

Mereka masuk.

Leoni memandangi sungai dan langit dengan kagum.

“Gila… kamu selalu aneh sejak kecil, tapi ini keterlaluan.”

Rey tersenyum tipis.

Leoni mengangkat tangannya, dan sniper otomatis muncul lagi.

“Aku mau coba.”

Ia membidik batu di kejauhan. Tanpa menarik pelatuk, cahaya melesat keluar dari laras senjata dan menghancurkan batu itu seketika.

Debu beterbangan.

Rey mengaktifkan tamengnya.

“Coba tembak aku.”

“Kamu gila?” seru Leoni.

“Percaya saja.”

Leoni menghela napas lalu membidik tameng Rey. Cahaya biru melesat.

DUARR!

Tameng Rey bergetar keras, nyaris pecah, tapi tetap bertahan.

Rey terhuyung ke belakang.

“Kuat…” gumamnya. “Seranganmu setara monster kelas awal.”

Leoni tersenyum puas.

“Dan ini masih level dasar.”

Mereka berlatih hingga matahari di dunia nyata hampir tenggelam. Leoni melatih bidikan, Rey melatih daya tahan.

Di akhir latihan, mereka duduk di rumput.

“Rey…” kata Leoni pelan. “Kalau dunia benar-benar akan hancur… aku mau bertarung juga.”

Rey menatapnya.

“Bersamaku?”

Leoni mengangguk.

“Kita dulu main perang-perangan waktu kecil. Sekarang… perang sungguhan.”

Rey tersenyum kecil.

“Baik. Tapi satu syarat.”

“Apa?”

“Kalau nanti kiamat datang… yang pertama kita lindungi orang yang kita sayangi.”

Leoni mengepalkan tangan.

“Setuju.”

Di kejauhan, langit ruang dimensi berpendar lembut. Namun jauh di dunia nyata, sesuatu mulai bergerak di balik bayangan kota—makhluk pertama yang akan menandai awal kehancuran.

Rey menemukan sekutu pertamanya: Leoni, sang sniper otomatis.

Latihan mereka baru dimulai sejak saat itu, tetapi tanda-tanda kiamat semakin dekat.

Pertanyaan berikutnya: siapa yang akan menjadi monster pertama yang mereka hadapi?

1
Mahlubin Ali
itu itu aja dialognya🤣🤣🤣. Bab lalu sama bab sekarang dialog hampir sama. novel aneh
EsyTamp: thanks bang koreksi ny, akan lebih sy perhatikan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!