Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
lima kemudian..
Arumi menggenggam tanganku erat. Tatapannya penuh cemas, membuatku tak bisa lagi menolak.
“Udah, Ran. Jangan keras kepala. Kamu dari tadi pucat banget,” ucapnya lembut tapi tegas.
Aku menelan ludah. Perutku kembali bergejolak. Rasa mual itu seperti datang bergelombang, membuat kepalaku ikut berputar.
Aku buru-buru menutup mulut dan berlari ke kamar mandi. Tak ada yang keluar, hanya rasa perih di tenggorokan dan tubuh yang semakin lemas.
Arumi menyusul dan mengusap punggungku pelan.
“Ya Allah, Ran… ini bukan mual biasa.”
Aku terduduk di lantai kamar mandi, bersandar pada dinding dingin. Nafasku memburu. Entah kenapa hatiku terasa semakin sesak.
“Rum…” suaraku lirih. “Aku takut.”
Arumi terdiam sesaat, lalu berlutut di depanku.
“Takut kenapa?”
Aku menggeleng. Aku sendiri tidak tahu apa yang kutakuti. Sakit? Atau kemungkinan lain yang sejak tadi berani-beraninya muncul di pikiranku?
Taxi online sudah menunggu di depan. Dengan tubuh setengah lunglai, Arumi membantuku keluar kontrakan. Sepanjang perjalanan aku hanya memejamkan mata, mencoba menenangkan degup jantungku yang terasa tidak karuan.
Rumah sakit pagi itu belum terlalu ramai. Bau khas antiseptik langsung menyergap begitu kami masuk. Arumi mengurus pendaftaran sementara aku duduk menunduk, menahan mual yang masih sesekali datang.
Namaku dipanggil.
Dokter memeriksaku, menanyakan keluhan, lalu menyarankan tes urine. Jantungku semakin berdebar saat menunggu hasilnya.
Beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, dokter itu akhirnya tersenyum tipis.
“Bu Rania,” katanya pelan, “selamat ya. Hasilnya positif.”
Aku terdiam.
“Po-positif…?” tanyaku nyaris tak bersuara.
“Iya. Anda hamil sekitar lima minggu.”
Dunia seakan berhenti.
Arumi yang berdiri di sampingku spontan menutup mulutnya, antara kaget dan haru. Sementara aku… aku hanya mampu menatap kosong ke arah dokter.
Hamil.
Air mataku tiba-tiba jatuh begitu saja. Di saat hidupku hancur, di saat aku pergi dari rumah Mas Bram, di saat aku merasa tak punya tujuan… Allah justru menitipkan satu kehidupan di rahimku.
Antara bahagia dan takut, semuanya bercampur.
“Rum…” bisikku lirih saat keluar dari ruang periksa. “Aku harus gimana sekarang?”
Tanganku refleks menyentuh perutku yang masih rata.
Anak ini… darah dagingku dan Bram.
Aku menggeleng cepat. Air mata yang tadi sempat reda kini kembali mengalir.
“Gak mau, Rum… aku gak mau,” suaraku bergetar.
Arumi menatapku serius. “Kenapa gak mau? Dia harus tahu kamu hamil. Ini bukan hal kecil, Ran.”
Aku menunduk, jemariku meremas ujung bajuku sendiri. Dadaku terasa sesak.
“Karena aku capek, Rum…” bisikku lirih. “Aku capek jadi perempuan yang selalu nunggu. Nunggu dia pulang. Nunggu dia jujur. Nunggu dia milih aku.”
Arumi terdiam.
“Sekarang aku hamil… iya, ini anaknya. Tapi apa aku harus datang lagi ke dia? Memohon tanggung jawab? Memohon pengakuan?” Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. “Harga diriku udah hancur, Rum. Aku gak mau hancur lagi.”
Arumi menghela napas panjang. Ia meraih tanganku.
“Ini bukan soal harga diri kamu, Ran. Ini soal anak kamu. Anak itu gak salah. Dia berhak dapet ayahnya.”
Aku memejamkan mata. Kata-kata Arumi menusuk, tapi juga benar.
“Tapi gimana kalau dia lebih milih istrinya yang pertama?” tanyaku parau. “Gimana kalau dia cuma kasih uang tapi tetap gak mengaku? Aku gak kuat kalau harus sembunyi-sembunyi lagi… apalagi bawa anak.”
Arumi terdiam, lalu berkata pelan, “Kamu gak bisa putuskan semuanya sendirian. Kamu boleh benci sama Bram. Kamu boleh marah. Tapi kamu gak boleh nutup hak anak kamu.”
Tanganku refleks menyentuh perutku lagi.
Hak anakku.
Aku merasa dunia berputar cepat. Baru kemarin aku merasa hidupku kosong, tak punya arah. Hari ini… aku mengandung. Hidup kecil yang belum tahu apa-apa tentang rumitnya dunia orang dewasa.
“Aku takut dia paksa aku balik,” gumamku lemah.
“Terus kalau dia paksa, kamu bisa nolak. Kamu bukan Rania yang dulu lagi,” ucap Arumi tegas. “Sekarang kamu ibu.”
Kata itu membuatku terdiam.
Ibu.
Ada getaran aneh di dadaku. Hangat, tapi juga berat.
“Aku cuma mau anak ini lahir dengan tenang, Rum,” ucapku pelan. “Aku gak mau ribut. Gak mau drama. Aku cuma mau hidup sederhana… kerja, besarin anak ini dengan tenang.”
Arumi menatapku lama.
“Kalau kamu yakin bisa sendiri?”
Aku terdiam. Itulah pertanyaan yang paling sulit.
Bisakah aku?
Atau justru dengan memberi tahu Bram, hidupku akan semakin rumit?
Aku memandang ke luar jendela rumah sakit. Langit pagi terlihat cerah, kontras dengan badai di hatiku.
Keputusan ini… bukan cuma tentang aku lagi.
Ini tentang masa depan anakku.
Dokter datang lagi dengan senyum tipis yang membuatku sedikit tenang.
“Alhamdulillah kondisi ibu dan janinnya baik. Tapi tetap harus banyak istirahat, jangan stres berlebihan. Ini resep obat dan vitaminnya, diminum teratur ya,” ucapnya lembut.
Aku hanya mengangguk pelan. Tubuhku masih lemas, tapi setidaknya ada kabar baik yang bisa sedikit menguatkan hati ini.
Dokter pun pamit keluar ruangan.
Dengan segera Arumi mengambil resep itu dari tangan perawat.
“Udah, kamu gak usah mikir apa-apa. Istirahat aja,” katanya tegas namun hangat.
“Rum… aku gak enak…” lirihku.
Arumi menoleh, menatapku dengan tatapan yang seolah ingin memarahiku tapi penuh kasih.
“Jangan ngomong gak enak lagi. Kamu lagi hamil, Ran. Sekarang yang penting kamu sehat. Soal biaya, aku yang urus.”
Tanpa banyak bicara lagi, Arumi keluar untuk menebus obat dan vitamin. Aku memejamkan mata, menahan air mata yang kembali ingin jatuh. Di saat seperti ini, justru sahabatlah yang berdiri paling depan, bukan suami yang seharusnya bertanggung jawab.
Beberapa menit kemudian Arumi kembali dengan kantong plastik berisi obat.
“Udah beres. Yuk kita pulang.”
“Bram… dia belum tau aku di rumah sakit,” gumamku pelan.
Arumi menghela napas panjang.
“Ran, sampai kapan kamu mau nutupin semuanya? Dia harus tau. Ini bukan cuma tentang kamu sekarang, ini tentang anak kamu.”
Aku terdiam. Tanganku perlahan menyentuh perutku yang masih rata. Di dalam sana ada kehidupan kecil yang tak bersalah… yang butuh perlindungan.
Langkahku terhenti begitu pintu otomatis rumah sakit terbuka.
Udara siang menyentuh wajahku yang masih pucat. Tanganku refleks memegangi perutku, seakan memastikan aku benar-benar baik-baik saja.
Namun belum sempat aku melangkah jauh, mataku menangkap sosok yang terasa tidak asing.
Seorang pria berdiri beberapa meter di depanku. Tinggi, rapi dengan jas dokter yang masih melekat di tubuhnya. Tatapannya teduh… dan jelas sedang menatapku.
Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
Bukankah dia…?
Pria yang waktu itu menawarkan tumpangan saat aku kehujanan.
Pria yang membantuku ketika aku hampir pingsan.
Aku mencoba mengingat lebih dalam.
Dan benar.
Dia dokter yang waktu itu menolongku.
Matanya melembut ketika kami saling berpandangan.
“Kita ketemu lagi,” ucapnya pelan, suaranya tenang seperti terakhir kali.
Aku sedikit gugup. “Iya… dokter.”
Arumi menoleh ke arahku. “Kamu kenal?”
Aku mengangguk pelan. “Waktu itu aku hampir pingsan… beliau yang nolongin.”
Dokter itu tersenyum sopan pada Arumi. “Kondisinya sudah lebih baik sekarang. Tapi tetap harus dijaga, jangan sampai kelelahan dan stres berlebihan.”
Entah kenapa saat ia menyebut kata stres, rasanya seperti ia tahu lebih dari yang terlihat.
“Terima kasih ya, dok. Waktu itu juga…,” ucapku pelan, menunduk sedikit.
“Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah tugas saya.”
Sejenak suasana hening. Tapi bukan hening
yang canggung… lebih seperti hening yang penuh rasa ingin tahu.
“Apa suami kamu sudah tahu?” tanyanya hati-hati.
Aku tercekat.
Pertanyaan sederhana itu terasa menusuk.
Aku belum menjawab, ketika Arumi lebih dulu menyela, “Belum.”
Dokter itu terdiam, lalu menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Bukan kasihan. Bukan juga ingin ikut campur. Lebih seperti… khawatir.
“Kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk kembali. Dan tolong jaga diri kamu.”
Kalimat itu sederhana, tapi ada ketulusan yang terasa.
Aku hanya mengangguk.
Ketika kami berjalan menuju parkiran, tanpa sadar aku menoleh sekali lagi. Ia masih berdiri di sana, memperhatikan kami pergi.
****