NovelToon NovelToon
Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Spiritual
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .

bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

" Apa yang kamu lakukan,Vid..?" Ujar Michael di sebuah studio lukis dimana David membawa Aisyah ke tempat itu. Studio lukis itu adalah tempat David dan Aisyah menghabiskan waktu saat mereka masih bersama. Keduanya memiliki hobi yang sama yaitu melukis.David membangun studio itu agar ia dan Aisyah lebih leluasa menuangkan ide mereka dalam kanvas putih .

"Aku hanya ingin membawanya pada kenangan kami,Mike...."

Michael menatap sekeliling studio yang berdebu itu dengan tatapan tak percaya. Aroma cat minyak yang mengering dan kayu tua menyeruak, membangkitkan aura masa lalu yang dipaksakan. Di sudut ruangan, sebuah kanvas kosong berdiri tegak, seolah menanti goresan yang tak kunjung datang.

"Dengan cara menculiknya dari suaminya? Ini bukan membawa kenangan, Vid. Ini kegilaan!" bentak Michael, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu.

David mengabaikan sahabatnya itu. Ia menoleh ke arah Aisyah yang berdiri mematung di tengah ruangan. Matanya menyisir setiap sudut ,sketsa-sketsa wajah yang pernah mereka buat, noda cat di lantai, hingga celemek tua yang masih tergantung di dinding.

"Ingat tempat ini, Syah?" bisik David dengan suara yang bergetar penuh obsesi. "Di sini kita berjanji untuk melukis masa depan bersama. Rain tidak tahu apa-apa tentang jiwamu. Dia hanya tahu cara membelikan mu barang mewah, tapi aku... aku tahu warna apa yang ada di hatimu."

Aisyah merasakan dadanya sesak. Memang benar, ada getaran akrab saat ia melihat kuas-kuas itu. Sebuah memori melintas, dirinya tertawa dengan pipi yang tercoreng cat biru, dan David yang berada di depannya. Namun, memori itu terasa jauh, seperti menonton film lama yang sudah rusak.

"Ya...aku sangat mengingatnya." Lirih Aisyah yang masih terpaku dengan keadaan studio itu yang masih sama seperti dulu.

" Saat kita tidak punya mata kuliah,kamu ,aku , Michael dan Mayang ke tempat ini,kita melukis apa saja yang ada dalam imajinasi kita." Jelas David bahagia,bayangan masalalu mereka kembali membayang di pikiran nya.Dimana tawa dan canda saat itu menghiasi hari-hari mereka meski mereka sadar hubungan mereka di tentang keras oleh keluarga karena sebuah perbedaan keyakinan yang begitu kokoh,tapi semua itu tidak mempengaruhi hubungan mereka justru hubungan mereka semakin dekat hingga sebuah keadaan yang membuat David dengan terpaksa harus meninggalkan Aisyah begitu lama.

"Kita pernah begitu bahagia di sini, Vid," gumam Aisyah, suaranya membuyarkan lamunan David yang kembali ke masalalu. "Tapi kamu lupa satu hal. Kebahagiaan itu runtuh saat kamu memilih pergi tanpa kata. Kamu meninggalkan aku di saat aku paling membutuhkanmu untuk melawan dunia."

Aisyah tertunduk menatap lantai putih yang kini dipenuhi debu tebal, persis seperti perasaannya yang telah lama ia biarkan mengendap. "Lantai ini dulu bersih, David. Sama seperti janjimu. Tapi kamu membiarkannya kotor dan rusak, lalu sekarang kamu datang meminta aku untuk melihat keindahannya kembali?"

David tercengang mendengar ucapan Aisyah,ia lalu berjalan mendekat ke arah Aisyah yang masih berdiri terpaku di tempat nya.

" Aku mungkin lupa dengan Rain, melupakan semua tentang nya tapi aku tidak lupa dimana kamu meninggalkan kan ku begitu saja tanpa kejelasan..aku selalu menunggu mu di taman kota berharap kamu datang kembali tapi semua itu hanyalah keinginan ku yang tak pernah terwujud." Aisyah menghela nafas berat ia lalu menatap mata David yang mulai berkaca-kaca." Ingatanku hanya sampai pada hari itu,Vid...setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi.Aku membuka mataku di rumah sakit tapi yang pertama aku lihat adalah sosok asing yang berada di samping ku."

David terdiam ia tak punya kekuatan untuk menghadapi semua kebenaran ucapan Aisyah.

"Sosok asing itu... dia yang menjaga sisa hidupku saat kamu meninggalkan ku" gumam Aisyah, suaranya pecah. lalu kembali menatap kanvas yang tertutup kain putih.

" Ada alasan di balik kepergian ku Aisyah,aku sudah menjelaskan nya padamu kebenarannya,tapi mungkin ingatanmu melupakannya.Tapi aku akan mengatakannya kembali kebenarannya jika itu di perlukan." Ujar David mencoba meraih tangan Aisyah namun Aisyah menarik tangannya menjauh.

" Apapun itu aku tidak ingin kembali ke masalalu. Saat kamu mengatakan bahwa pernikahan ku dengannya adalah sebuah perjodohan paksa untuk memisahkan kita,tapi.."

Aisyah menjeda kalimatnya, matanya kini berkaca-kaca menatap David dengan tatapan yang lebih jernih, "kenapa hatiku tidak merasakan kemarahan itu saat berada di dekatnya? Kenapa justru rasa aman yang aku rasakan?"

Aisyah menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Saat aku terbangun ,, Rain adalah orang pertama yang membasuh keningku. Dia yang sabar mendengarkan igauanku yang mungkin menyebut namamu, tapi dia tidak pernah sekalipun meninggalkan kursi di samping ranjangku. Jika benar dia memaksaku, kenapa tatapan matanya selalu penuh permohonan agar aku tidak kesakitan, bukan tatapan penguasa yang memiliki budak?"

David terdiam tak ada kata balasan yang bisa di ucapkannya. Hanya tersenyum miris andai waktu itu dia tidak meninggalkan Aisyah mungkin cerita nya tidak seperti ini.

Tanpa David sadari Aisyah sudah pergi meninggalkan nya di ruang studio lukis itu.Michael yang melihat kepergian Aisyah tak sedikitpun mencegah nya,ia membiarkan Aisyah melenggang jauh meninggalkan studio.

Aisyah melangkah keluar dari studio itu dengan napas yang terasa lebih ringan, meski air mata masih membasahi pipinya. Setiap langkah menjauh dari bangunan tua itu terasa seperti sedang melepas beban berton-ton yang selama ini menghimpit pundaknya. Ia tidak lagi menoleh ke belakang. Baginya, studio itu kini benar-benar telah menjadi museum ,sebuah tempat untuk menyimpan kenangan yang sudah mati, bukan untuk menghidupkannya kembali.

Di dalam studio, David jatuh terduduk di lantai yang berdebu. Punggungnya bersandar pada salah satu penyangga kanvas. Ia menatap tangannya yang tadi sempat ingin meraih Aisyah, tangan yang kini terasa kosong dan dingin.

"Sudah berakhir, Vid," suara Michael memecah keheningan. Michael berjalan mendekat, lalu berdiri di samping sahabatnya itu. "Kamu membawa dia ke sini untuk memicu ingatannya agar dia kembali padamu. Tapi kamu lupa, ingatan bukan hanya tentang tawa di tempat ini. Ingatan juga tentang rasa sakit saat kamu membiarkan dia menunggu sendirian ."

David tertawa miris, suara tawanya terdengar hancur. "Aku pikir... jika dia ingat betapa kita saling mencintai di sini, dia akan memaafkan semuanya. Aku pikir cintaku cukup untuk menutupi kesalahanku di masa lalu."

"Cinta saja tidak pernah cukup kalau tidak ada kesetiaan untuk menemani di masa sulit," balas Michael tegas. "Rain memberikan apa yang tidak bisa kamu berikan yaitu kehadiran. Saat kamu sibuk dengan duniamu, Rain sibuk memastikan Aisyah tetap bernapas."

Sementara itu, di luar gedung, Aisyah menghentikan langkahnya. Di bawah lampu jalan yang temaram, sebuah mobil hitam yang sangat familiar terparkir tak jauh dari sana. Rain berdiri di samping pintu mobil, masih mengenakan kemeja kantor yang bagian lengannya sudah digulung. Wajahnya tampak sangat cemas, namun saat matanya menangkap sosok Aisyah, seluruh ketegangan di tubuhnya seolah luntur.

Rain tidak berlari mengejar. Ia tetap berdiri di sana, memberikan ruang bagi Aisyah untuk datang kepadanya atas kemauannya sendiri.

Aisyah berjalan perlahan, lalu berhenti tepat di depan suaminya. Ia menatap wajah Rain , pria yang tadinya ia anggap "asing" dan "penipu". Kini, di mata Aisyah, pria ini adalah satu-satunya kenyataan yang paling jujur.

"Mas..." bisik Aisyah parau.

Rain mengulurkan tangannya, mengusap air mata di pipi Aisyah dengan sangat lembut. "Mau pulang? Mama sudah menunggu."

Aisyah tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menghambur ke pelukan Rain, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Ia menangis sejadi-jadinya, melepaskan sisa-sisa sesak akibat konfrontasi dengan David tadi. Rain melingkarkan lengannya, mendekap Aisyah erat seolah ingin melindungi istrinya dari segala luka masa lalu yang baru saja terbuka.

"Maafkan aku... maaf karena sempat meragukanmu," isak Aisyah di sela tangisnya.

Rain mencium puncak kepala Aisyah, matanya terpejam lega. "Tidak apa-apa, Syah. Aku sudah janji, kan? Aku akan menunggumu pulang, seberapa jauh pun kamu tersesat di ingatanmu."

Malam itu, studio lukis di belakang mereka tetap gelap dan sunyi, terkunci bersama masa lalu yang tidak akan pernah dibuka lagi. Di dalam mobil yang melaju pulang, Aisyah menggenggam tangan Rain dengan erat, menyadari bahwa meski ia kehilangan sebagian ingatannya pada Rain, hatinya telah menemukan jalan pulang yang paling tepat.

1
maya
makasih sudah mampir kk😍
Isabela Devi
waduh ada mata mata yg melapor tiap gerak gerik mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!