Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran Berdarah
Lampu ruang tamu yang benderang terasa kontras dengan badai emosi yang berkecamuk di dalam dada Bang Jack. Saat matanya beradu dengan mata Gisel, ada dorongan keinginan yang mendesak jantungnya untuk melompat maju, merengkuh gadis itu, dan membisikkan bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Namun, logika Bang Jack bekerja lebih keras daripada perasaannya. Ia kini bukan lagi Jack si yatim piatu dari gang sempit Jalan Bunga. Ia adalah tangan kanan Vincent, penguasa Kota Flora. Ada martabat dan rahasia besar yang ia panggul di pundaknya.
Kedatangannya ke Kota Fauna bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menjalankan misi perlindungan yang disamarkan. Melihat Gisel berdiri di sana, sehat dan tampak lebih tenang, sudah cukup untuk memadamkan api kecemasan yang membakarnya selama berminggu-minggu.
“Gisel, apa kabar?” tanya Bang Jack, berusaha mati-matian menjaga agar suaranya terdengar datar dan profesional.
“Baik, Bang. Bang Jack... ada urusan apa kemari?” Gisel berjalan mendekat, langkahnya ragu namun matanya memancarkan rasa tidak penasaran.
“Kalian saling kenal?” tanya Arlan.
Secara naluriah, Arlan berdiri, menyambut kedatangan istri dan anaknya, lalu menuntun mereka duduk dalam perlindungannya. Gerakan itu protektif, sebuah klaim kepemilikan yang halus namun tegas di mata Bang Jack.
“Ya. Kami sudah berteman sejak kecil,” jawab Bang Jack pendek.
Arlan menatap keduanya bergantian. Pikirannya berputar cepat. Jika Jack berasal dari Jalan Bunga, bagaimana mungkin ia bisa mendaki hierarki hingga menjadi orang kepercayaan Vincent? Dunia hitam tidak memberikan promosi jabatan dengan mudah tanpa ada darah yang tumpah atau loyalitas yang ekstrem.
“Bang Jack salah satu murid terbaik Om Arman, Om. Tapi Bang Jack sudah lama tidak terlihat di Jalan Bunga. Ada urusan apa sebenarnya?” desak Gisel lagi, firasatnya mengatakan ini ada hubungannya dengan ketegangan yang ia rasakan belakangan ini.
“Aku ada urusan mendesak dengan suamimu,” jawab Bang Jack.
Kata "suamimu" terasa seperti empedu di lidahnya, kelu dan pahit.
“Nanti aku akan menjelaskan semuanya padamu. Sebaiknya kamu bawa Keira sarapan lebih dulu.” kata Arlan seraya menyentuh bahu Gisel pelan.
Gisel mengerti itu adalah perintah halus agar ia menjauh. Dengan berat hati, ia mengangguk, lalu menuntun Keira menuju dapur setelah berpamitan singkat kepada Bang Jack.
Setelah bayangan Gisel menghilang di balik pintu dapur, suasana di ruang tamu berubah menjadi dingin.
“Kenapa? Apa kamu bertanya-tanya bagaimana seorang preman Jalan Bunga bisa menjadi orang kepercayaan Vincent?” tebak Bang Jack, menangkap tatapan menyelidik Arlan yang tajam.
“Hanya penasaran. Jika kamu punya akses ke Vincent, seharusnya Om Arman bisa lepas dari cengkeraman Sanjaya dengan satu jentikan jari,” sahut Arlan.
“Tidak semudah itu, Arlan. Bang Vincent adalah pria yang perhitungan. Dia tidak ingin berurusan langsung dengan Sanjaya jika tidak ada keuntungan besar yang menantinya. Baginya, konflik ini hanya akan membuatnya sakit kepala dan menambah beban kerja.”
“Sikap malasnya itu masih belum berubah,” timpal Arlan dengan senyum miring yang getir.
“Ya. Lagipula, ini soal kehormatan. Om Arman ingin menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri. Dia menolak bantuan karena tidak ingin berutang nyawa pada siapa pun selain dirinya sendiri.”
Arlan terdiam, mengangguk paham. Ia mengakui bahwa Arman adalah prototipe laki-laki sejati dari dunia lama, seorang pejuang yang lebih memilih hancur daripada menyerahkan martabatnya. Namun, Arlan tahu dunia sekarang tidak lagi mengenal kehormatan; dunia sekarang hanya mengenal siapa yang paling licik.
“Ayo ke ruang kerjaku. Kita butuh tempat yang lebih tertutup untuk Menyusun strategi sambil menunggu Rey datang,” ajak Arlan.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, udara di Jalan Bunga seolah berhenti mengalir. Ketegangan merambat di setiap celah dinding rumah Om Arman.
Beberapa mobil hitam terparkir angkuh di depan gerbang, dijaga oleh orang-orang berwajah garang. Penduduk sekitar hanya berani mengintip dari balik gorden, tahu bahwa hari ini adalah hari di mana sejarah kekuasaan di gang mereka akan ditulis ulang.
Di ruang tamu, Om Arman duduk menghadap seorang pria bertubuh kekar dengan tato yang melingkari lehernya. Namanya Jatmiko, pria yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang Om Arman dan menyimpan kedengkian yang telah mengerak.
“Jadi, kamu mau menyerahkan Jalan Bunga ini dengan sukarela, Man? Atau perlu aku seret mayat mu keluar?” tanya Jatmiko dengan senyum licik yang memuakkan.
“Apa maumu, Jat? Jangan berputar-putar seperti pengecut,” sahut Om Arman dingin.
“Kita lakukan dengan cara lama. Duel satu lawan satu. Yang berdiri terakhir adalah penguasanya. Adil?”
“Sesuai keinginanmu.” jawab Om Arman santai, meski tahu di dalam hati, jika pertempuran yang mereka lakukan tidak akan adil.
Tanpa banyak bicara, keduanya melepas jaket dan melangkah ke halaman samping yang cukup luas. Anak buah kedua belah pihak membentuk lingkaran, menciptakan arena tarung alami yang dipenuhi aura kematian. Tanpa aba-aba, pertarungan pecah.
Om Arman bergerak seperti badai; pukulannya presisi, tendangannya mematikan. Namun Jatmiko juga bukan lawan yang bisa diremehkan. Selama tiga puluh menit, mereka saling bertukar serangan. Debu beterbangan, keringat mulai membasahi tanah.
“Aku akui, aku tidak pernah bisa mengalahkan mu dalam pertarungan jujur, Man,” ucap Jatmiko terengah-engah, melangkah mundur sambil menyeka darah di bibirnya.
“Tapi aku berani menantang mu hari ini karena aku sudah punya persiapan yang lebih matang.”
Jatmiko tertawa kemenangan sambil memberi isyarat ke arah pintu samping rumah. Mata Om Arman membelalak lebar, jantungnya seolah berhenti berdetak. Dua anak buah Jatmiko keluar sambil menyeret Tante Ira. Tangan wanita itu terikat, dan sebuah pisau menempel di lehernya.
“Lihatlah, Man! Masih mau melawan?”
Saat konsentrasi Arman pecah total oleh penglihatan itu, Jatmiko melayangkan pukulan telak ke arah ulu hati Arman.
“Uhuk!” Arman tersungkur, memegangi perutnya yang terasa seperti dihantam palu godam.
Ia sudah merencanakan segalanya. Ia sudah mengirim anak-anaknya ke Kota Flora agar aman. Ia bahkan sudah memohon pada istrinya untuk ikut pergi. Namun, Tante Ira wanita yang keras kepala itu memilih untuk tetap tinggal di samping suaminya. Ia mengunci diri di kamar, namun ia meremehkan betapa liciknya Jatmiko.
“Caramu selalu licik, Jat!” geram Arman, mencoba bangkit meski pandangannya mulai mengabur.
“Senang mendengar sanjunganmu, Man. Sekarang, pilihannya mudah. Kamu hanya bisa menerima tinjuku tanpa boleh membalas. Sekali saja kamu memukul balik, anak buahku akan melucuti pakaian istrimu di depan semua orang di sini. Mau coba?”
Arman mengeratkan kepalan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia menatap istrinya. Tante Ira menangis tanpa suara, mulutnya dibungkam kain, matanya memohon agar suaminya tidak menyerah, namun Arman tahu apa yang harus ia lakukan.
Ia menutup mata, menarik napas panjang, dan menurunkan pertahanannya.
Bugh!
Tinjuan pertama Jatmiko menghantam rahang kirinya dengan kekuatan penuh. Belum sempat Arman menyeimbangkan tubuh, pukulan kedua datang menghajar dadanya hingga ia terbatuk darah. Jatmiko tertawa gila, melayangkan tendangan brutal ke arah lutut Arman yang seketika membuatnya jatuh berlutut di tanah yang berdebu.
Di depan sana, Tante Ira meronta-ronta, air matanya jatuh membasahi kain pembungkamnya, menyaksikan laki-laki yang ia cintai dihancurkan demi melindunginya. Arman tidak melawan. Ia hanya menunduk, menerima setiap hantaman, ia hanya bisa berharap Jatmiko puas dan semuanya segera selesai.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏