Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Hari ini adalah minggu, udara dingin terasa menusuk kulit.
Suhunya mencapai minus.
Rania----tengah ikut dalam rombongan open trip pendakian Gunung Prau.
Tujuan utama Rania mengikuti open trip ini hanya untuk Sunrise, bukan hanya sekedar menghibur diri dan olahraga saja.
Sama seperti masa-masa belum menikah.
Rania selalu melakukan kegiatan open trip pecinta alam---melakukannya enam bulan sekali.
Untuk spot foto yang murah, kebanyakan Rania sering mengambilnya di tempat jogging, cafe terdekat, bahkan wisata alam yang dengan budget terjangkau.
Gadis ini hari ini membiarkan rambut keriting panjangnya tergerai.
Tubuhnya mengenakan celana kulot warna hijau tua, dan atasan hijau milik adiknya---Arjuna, ukurannya sedikit longgar tapi nyaman untuk digunakan saat trekking.
Sebuah tas ransel hijau di punggungnya berwarna hijau senada dengan pakaiannya, semua perlengkapan ini Rania beli dengan hasil jerih payahnya sendiri.
Semua barang-barangnya ini adalah uang dari hasil jasa pembuatan website, dan penjualan foto-foto yang selama ini ia tekuni.
Pendakian terasa singkat, namun cukup menguras tenaga.
Ketika di puncak. Langit mulai berubah warna, dan sang surya muncul di antara awan dengan siluet pegunungan dataran tinggi Dieng.
"Anjayy...cihuyyy." Rania tengah memegang kamera memotret sunrise di langit Dieng.
Senyumnya nampak mengembang di pagi yang dingin ini, seolah tak ada beban.
"Asli keren banget sunrisenya," gumam Rania menambahkan sambil asyik memotret.
Di sekelilingnya, para pendaki perempuan lain sibuk narsis---berfoto dan mengabadikan momen dengan ponsel mereka.
Berbeda dengan Rania yang malah terus memotret alam dan sunrise agar menghasilkan uang, sejenak Rania merasakan aroma tanah basah.
Hal yang dapat melupakan masalahnya sejenak di rumah, masalah saat dirinya disuruh minum jamu kuat oleh eyang Kartika.
Saat minum jamu itu Rania merasakan pahit, bahkan matanya sampai juling saat meminumnya.
Di tambah Dian Prananda---Ibu mertuanya yang sudah kena hasut eyang Kartika, jika keduanya hanya menginginkan anak dari Arga dan Rania.
Sekarang Rania akan menikmati alam, bukan hanya alam dan latar foto----tapi juga disana Rania mencari rejeki.
Klik.
Klik
Klik.
Setiap jepretan adalah uang.
Rania tersenyum kecil, bukan karena kepuasan pribadi selayaknya trekking dan liburan.
Tapi Rania merasa jika ini adalah peluang besar untuk mendapatkan uang, gadis ini berharap jika nanti saat memiliki anak tetap bisa melakukan ini.
Pagi ini Rania menikmati Sunrise pagi, dengan kicauan burung-burung di tambah dirinya bisa mengupload hasil jepretannya.
Dan Rania heran, bagaimana di puncak begini bisa ada sinyal.
Tak mau menunggu saat turun dan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Dirinya segera mengirimkan foto-fotonya lewat website, ternyata orang luar negeri---dari Italia dan Islandia amat menyukai foto-fotonya.
Sungguh Rania baru kali ini mendapatkan kurs uang Euro, jika di rupiahkan akan sangat lumayan.
Saat sedang tengah asyiknya mau upload foto, tiba-tiba pemandu mereka menyuruh berkumpul di basecamp untuk sarapan.
Segera Rania mematikan kamera dan memasukannya kembali ke dalam tas, lalu mengikuti arahan pemandu.
Sarapan hari ini adalah nasi goreng dengan telur juga air putih, beruntung open trip ini juga sudah menyediakan makan juga selain perlengkapan kemah.
Rania sekali lagi memastikan jika tak ada barang yang tertinggal, dan setelah semuanya beres.
Rania kembali memotret pemandangan alam di sekitar puncak gunung Prau.
Drrrttt...Drttt.
Rania merasa terganggu dengan pesan yang di kirim dari ponselnya, "pasti Mas Arga," ucap Rania.
Saat mengecek layar ponselnya bukan dari sang suami, melainkan dari Bonar Salim.
"Hallo selamat pagi Rania, Lagi apa?" tanya Bonar Salin dengan mengirimkan pesan padanya.
"Ini Dokter sedeng ngapain coba," ungkap Rania yang jengkel, langsung membuat silent ponselnya dan lebih baik melanjutkan berfoto setelah sarapan.
Rania menikmati aktivitas open tripnya, dirinya amat bahagia bisa melakukan hobinya kembali.
Suaminya memang bekerja di tambang minyak---Anjungan laut lepas, dan hanya pulang dua bulan----libur satu bulan.
Jadi Rania bisa menikmati waktunya melakukan hobi sekaligus pekerjaannya, bahkan Rania juga bisa ke Cafe estetik yang bergaya vintage di wilayah Bogor.
Rania Wiratama.
Sekarang akan mengumpulkan keberanian sebelum sang suami pulang, dirinya harus siap melayani Arga selayaknya istri.
Karena semenjak menikah ataupun bulan madu Arga belum pernah menyentuhnya.
Tiba-tiba.
Pikiran Rania tertuju ke arah Arga sang suami, "Mas Arga...," suara Rania lirih.
Tangannya secara spontan menurunkan kamera, hatinya berdebar kencang.
Deg.
Rania memang masih belajar mencintai suaminya, tapi bagaimana mungkin bisa, sekarang tiba-tiba memikirkan Arga.
Gadis berambut ikal itu segera kembali ke basecamp, untuk mengaktifkan ponselnya dan memberikan kabar pada sang suami.
Rania duduk di basecamp yang dimana disana banyak tenda-tenda pendaki.
"Hallo Mas selamat pagi, aku disini lagi di gunung Prau."
"Aku mau nanya soal kabar kamu di pekerjaan Mas," ujar Rania menulis pesan pada suaminya.
Tak ada jawaban, dan hanya pesan kosong.
"Ceklis satu," gumam Rania.
Rania amat merindukan suaminya, meski kadang dirinya masih belum siap melayani Arga di atas ranjang.
"Mas...aku belum bisa menjadi istri yang sempurna buat kamu," batin Rania melihat foto Arga.
"Sungguh Mas, perbuatan kamu dulu yang udah buat aku ketakutan...dan terbayang bagaimana perlakuan kamu dulu sama aku," lanjut Rania masih membatin menatap foto Arga di wilayah pegunungan Prau.
Rania masih mengingat masa lalu.
Saat di Bandung--- mereka tengah bulan madu, terbayang bagaimana Arga mau melakukan hubungan badan.
Tiba-tiba, secara spontan tubuh Rania bergetar seperti ingin di perkosa, saat itu juga Arga langsung memeluk Rania dengan erat.
"Mas...tolong balas pesanku," ucap Rania---tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipi Rania.
Rania tanpa sadar terus memikirkan suaminya, matanya menatap langit di atas cakrawala dataran tinggi Dieng yang dingin.
Langit pegunungan Prau perlahan mendung menutup sunrise yang harusnya di nikmati para pendaki, seolah menggambarkan bagaimana kekalutan hati Rania.
Hati yang sedang dingin, sedingin cuaca dataran Dieng.
*