NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 Jeda

Kadang yang paling kita butuhkan bukan jawaban, melainkan jarak—agar hati yang retak dapat menyusun dirinya kembali.

—Celine Chadia Cendana—

Rumah besar keluarga Cendana yang biasanya terasa hangat seperti pelukan sore hari, kini menyimpan sunyi yang berbeda. Sunyi itu bukan sunyi tanpa suara, melainkan sunyi yang penuh beban—seperti udara sebelum hujan turun deras.

Sejak malam terungkapnya rahasia pernikahan itu, Celine berubah.

Bukan berubah menjadi dingin.

Bukan pula menjadi marah tanpa arah.

Namun ia menjadi lebih diam.

Diamnya seperti danau yang permukaannya tenang, namun menyimpan gelombang kecil yang tak terlihat oleh mata. Ia tetap menyapa. Tetap tersenyum tipis. Tetap menjalankan rutinitasnya. Tetapi ada jarak yang tak kasatmata, seperti kaca bening yang memisahkan dua ruangan.

Mommy Chailey memperhatikannya dengan hati yang bergetar seperti daun yang disentuh angin senja.

Celine masih makan bersama keluarga. Masih duduk di ruang tamu. Namun sorot matanya berbeda—lebih dalam, lebih jauh, seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu di dalam dirinya sendiri.

Dan pagi itu, setelah dua malam tanpa tidur yang benar-benar utuh, Celine akhirnya berdiri di ruang makan dengan keputusan yang sudah ia susun rapi di dalam dadanya.

“Aku ingin tinggal di apartemen dulu,” ucapnya pelan.

Sendok di tangan Mommy Chailey berhenti di udara. Daddy Caesar yang sedang membaca koran menurunkannya perlahan. Ayah Aarash dan Bunda Afsheen yang kebetulan sedang berkunjung pun terdiam.

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada marah. Tidak pula dengan nada menantang.

Justru terlalu tenang.

Seperti ombak yang surut sebelum badai datang.

Mommy Chailey menatap putrinya. “Tinggal… sendiri?”

Celine mengangguk pelan. “Untuk sementara waktu. Aku hanya butuh ruang.”

Ruang.

Kata itu sederhana, namun berat.

Seperti batu kecil yang jatuh di tengah kolam dan menciptakan lingkaran besar yang melebar ke mana-mana.

Daddy Caesar menarik napas panjang. “Ini karena kami?”

Celine menatap ayahnya. Tatapannya tak menyalahkan, namun jujur.

“Ini karena aku ingin memahami semuanya. Tanpa tekanan. Tanpa tatapan penuh harap.”

Hening.

Mommy Chailey bangkit, mendekat, memegang kedua tangan Celine.

“Sayang… Mommy khawatir.”

“Aku tahu,” jawab Celine lembut. “Tapi kalau aku terus di sini, aku takut perasaanku bercampur antara marah dan cinta. Aku tidak ingin mengatakan hal yang akan kusesali.”

Kalimat itu seperti benang tipis yang menahan sesuatu agar tidak putus.

Ayah Aarash menatap Aldivano yang sejak tadi hanya diam. Lelaki itu berdiri sedikit menjauh, wajahnya tenang namun matanya menyimpan kegelisahan seperti langit mendung yang menahan hujan.

“Kalau itu yang kamu butuhkan,” ucap Daddy Caesar akhirnya, “kami tidak akan melarang.”

Mommy Chailey menutup mata sesaat. Air matanya jatuh perlahan, seperti embun yang tak mampu bertahan di ujung daun.

“Mommy hanya ingin kamu bahagia.”

Celine memeluk ibunya erat. Pelukan itu hangat, namun terasa seperti perpisahan kecil yang tak direncanakan.

“Ini bukan untuk menjauh, Mom. Ini untuk kembali dengan hati yang lebih tenang.”

Dua hari kemudian, Celine berdiri di dalam apartemen milik keluarganya yang jarang digunakan. Bangunan itu tinggi, menjulang seperti saksi bisu atas kota yang tak pernah benar-benar tidur.

Apartemen itu berada di lantai atas. Dari balkon, ia bisa melihat hamparan lampu kota di malam hari—berkelip seperti ribuan bintang yang jatuh ke bumi.

Ruangan itu minimalis. Putih, bersih, rapi.

Namun terasa kosong.

Seperti hatinya.

Ia menaruh koper kecilnya di sudut kamar. Setiap langkah di dalam ruangan itu terdengar jelas, seperti gema yang mengingatkannya bahwa kini ia benar-benar sendiri.

Tidak ada suara Mommy memanggil dari dapur.

Tidak ada tawa Calvin dari ruang keluarga.

Tidak ada langkah Aldivano yang pelan di koridor.

Hanya dirinya.

Dan pikirannya.

Ia duduk di sofa, memandangi cincin di jarinya lagi.

Cincin itu bukan lagi sekadar simbol. Ia kini terasa seperti pertanyaan yang melingkar di jarinya.

Apakah ia benar-benar siap menjadi istri?

Atau selama ini ia hanya menjadi bagian dari keputusan besar yang bergerak terlalu cepat?

Ia menghela napas panjang.

Kesepian di apartemen itu terasa seperti udara yang dingin—tidak menyakitkan, tetapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa ia harus belajar berdiri sendiri.

Malam pertama di apartemen adalah malam yang panjang.

Celine berdiri di balkon, memeluk dirinya sendiri. Angin malam menyentuh wajahnya seperti tangan tak terlihat yang mencoba menenangkan.

Lampu-lampu kota di bawah sana terlihat indah. Namun keindahan itu terasa jauh, seperti kebahagiaan yang belum sepenuhnya ia raih.

Ponselnya bergetar.

Nama Aldivano muncul di layar.

Ia menatapnya beberapa detik, lalu mengangkatnya.

“Halo,” suaranya lembut namun hati-hati.

“Sudah sampai?” tanya Aldivano.

“Sudah.”

Hening beberapa detik. Hening yang tidak canggung, namun penuh kata-kata yang belum diucapkan.

“Aku tidak akan mengganggumu,” ucap Aldivano pelan. “Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”

Celine menatap langit. “Aku tidak marah padamu sepenuhnya.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku masih belajar menerima semuanya.”

“Aku akan menunggu,” jawabnya sederhana.

Jawaban itu seperti jangkar yang dilempar ke laut—tidak memaksa kapal berhenti, namun siap menahannya jika diperlukan.

“Terima kasih,” ucap Celine lirih.

Dan panggilan itu berakhir tanpa janji besar.

Namun cukup untuk membuat hatinya tidak sepenuhnya kosong.

Hari-hari di apartemen berjalan lambat.

Pagi hari, ia menyeduh kopi sendiri. Aroma pahitnya memenuhi ruangan seperti pengingat bahwa hidup tidak selalu manis.

Ia mulai membaca buku-buku yang sempat tertunda. Menulis jurnal. Berjalan kaki di sekitar kompleks apartemen. Mengatur pikirannya seperti seseorang yang sedang merapikan lemari yang berantakan.

Di sela-sela kesendirian itu, ia menyadari betapa besar peran keluarganya dalam hidupnya. Ia merindukan suara Mommy. Candaan Calvin. Bahkan tatapan tenang Aldivano.

Namun rasa kecewa itu masih ada.

Seperti luka yang sudah dibersihkan, tetapi belum sepenuhnya kering.

Suatu sore, Reina datang berkunjung.

Apartemen itu terasa sedikit lebih hangat dengan kehadirannya.

“Aku kangen kamu,” ucap Reina pelan.

Celine tersenyum tipis. “Aku juga.”

Mereka duduk berhadapan. Tidak seperti biasanya yang penuh tawa, percakapan kali ini lebih pelan, lebih jujur.

“Aku tidak pernah berniat mengkhianatimu,” ucap Reina.

“Aku tahu,” jawab Celine. “Tapi rasanya tetap sakit.”

Reina mengangguk. “Kami hanya ingin kamu selamat dari badai waktu itu.”

Celine menatap sahabatnya lama.

“Kadang,” ucapnya pelan, “yang membuat kita kuat bukan perlindungan. Tapi kepercayaan.”

Reina terdiam.

Kalimat itu seperti cermin yang memantulkan kesalahan yang tak disadari.

Namun tak ada teriakan. Tak ada tuduhan keras.

Hanya dua hati yang sedang belajar memahami.

Beberapa minggu berlalu.

Mommy Chailey rutin mengirim makanan. Calvin sesekali datang membawa camilan dan candaan.

Dan Aldivano?

Ia tak pernah datang tanpa izin.

Ia tak pernah memaksa.

Ia hanya sesekali mengirim pesan singkat.

"Sudah makan?"

"Jangan lupa istirahat."

"Aku di sini kalau kamu butuh."

Pesan-pesan itu sederhana. Namun terasa seperti lampu kecil yang tetap menyala di tengah gelap.

Suatu malam, setelah shalat, Celine duduk lama di sajadahnya.

“Ya Allah… jika ini memang jalan hidupku, lapangkan hatiku sepenuhnya. Jangan biarkan kecewa menutup pintu syukur.”

Air matanya jatuh pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia pindah, ia merasa damai.

Bukan karena semua sudah selesai.

Namun karena ia mulai menerima.

Seperti laut yang akhirnya berdamai dengan ombaknya sendiri.

Sebulan setelah tinggal di apartemen, Celine berdiri lagi di balkon yang sama.

Namun malam itu berbeda.

Hatinya tak lagi sesempit dulu.

Ia menyadari satu hal—

Keluarganya memang salah dalam caranya.

Namun niat mereka tidak pernah jahat.

Aldivano memang menyimpan rahasia.

Namun ia tidak pernah mengkhianatinya.

Dan Reina memang ikut diam.

Namun ia melakukannya karena takut kehilangan sahabatnya.

Celine tersenyum pelan.

Kadang hidup memang tidak memberi kita pilihan sempurna.

Kadang kita hanya diberi orang-orang yang mencoba melakukan yang terbaik dengan cara yang belum tentu tepat.

Dan mungkin—

Jeda ini bukan untuk menjauh.

Melainkan untuk kembali dengan hati yang lebih utuh.

Ia mengambil ponselnya.

Mengetik satu pesan.

"Mom, boleh aku pulang besok?"

Tak sampai satu menit, balasan datang.

"Rumah selalu menunggumu, princess."

Air mata Celine jatuh lagi.

Namun kali ini—

bukan karena kecewa.

Melainkan karena ia sadar,

bahwa sejauh apa pun ia pergi,

rumah tetaplah tempat di mana hatinya disambut.

Dan mungkin,

setelah jeda yang panjang ini,

ia siap membuka bab berikutnya—

bukan sebagai gadis yang merasa dikhianati,

melainkan sebagai perempuan

yang telah belajar

bahwa luka pun bisa menjadi guru

yang paling jujur.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!