Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 5 : Tolong Aku, Siapapun Itu!
Keesokan harinya, pada hari Sabtu, Chef Do bangun pagi untuk belanja bahan makanan di pasar.
"Selamat pagi. Wah, kamu ganteng sekali. Bahan apa yang kau cari, anak muda?" sapa bibi penjual ikan.
"Dua ekor ikan makarel, setengah kilo tiram hitam, dan rumput laut kering. Berapa totalnya?" ucap Chef Do.
"Wah, sepertinya kamu hobi memasak. Namamu siapa? Biar kukenalkan pada anak sahabatku, jika kau masih bujangan," gurau bibi itu.
"Maaf, saya tidak tertarik. Tolong dikemas dengan baik agar tidak bocor, nanti bau amisnya kemana-mana," sanggah Chef Do, lalu bibi itu terdiam dan melakukan tugasnya, hingga menerima uang dari pria ketus itu.
"Huh. Sayang sekali, sifatnya tidak seindah penampilannya," gerutu sang bibi, setelah Chef Do sudah tak nampak.
Setelah itu, Chef Do membeli buah apel, buah pir Korea, dan tomat segar dari toko yang biasa didatanginya.
"Ajeossi-, tolong beri aku 2 kardus kosong untuk belanjaanku," pintanya kepada penjual toko.
"Oui, Chef," jawab penjual toko, yang dikenal akrab oleh Chef Do.
Dengan cekatan, Chef Do meletakkan buah-buahan dalam satu dus yang sama. Lalu, meletakkan bahan boga bahari yang dibelinya tadi dalam dus lainnya. Kardus-kardus itu ditutup rapat, disegel, lalu diletakkan di sisi kanan dan kiri bagasi belakang mobilnya. Setelah itu, ia membeli sayuran yang diletakkan di antara keduanya.
Sementara itu, Eun Chae sedang berada di rumahnya.
"Hah.. Bosan sekali, mau mati rasanya. Hari ini aku ingin keluar rumah. Maaf aku tidak bisa menemanimu hingga sore ini, Bam-a," kata Eun Chae, berpamitan dengan kucingnya.
Pada dasarnya, kucing memang mahkluk mandiri. Bam sudah menemukan tempat persembunyian dan sedang asyik bermain sendiri.
Di rumah Eun Chae yang besar itu tentunya ada garasi yang besar, dan di dalamnya ada mobil. Namun, yang menjadi alasan Eun Chae tidak menggunakan mobil adalah rasa takut dan tidak percaya dirinya.
"Biarlah, aku juga tidak punya SIM. Lebih baik mobil itu kujual saja nanti," putusnya seorang diri, pagar rumahnya terkunci secara otomatis saat ditinggalkan.
Saat baru berjalan, Eun Chae terkejut melihat sosok di depannya.
"Akh!" jeritnya spontan, hingga seorang pria terperanjat.
"Bikin kaget saja. Kau kenapa?" ucap pria itu tiba-tiba.
"Siapa-- Anda siapa?" tanya Eun Chae kebingungan.
"Wah.. Kim Eun Chae! Kau benar-benar keterlaluan. Masa kau tidak ingat padaku?" sahut pria itu.
"Kenapa Anda nampak kesal? Seharusnya--"
Sebelum Eun Chae berceloteh, pria itu malah menghentikannya.
"Kim Eun Chae. Apa yang terjadi dengan kepalamu? Semenjak setahun lalu kamu tiba-tiba memutuskan kontak denganku. Jelaskan, supaya aku mengerti."
Eun Chae mengernyitkan alis, semakin tidak menyukai sikap pria yang tak dikenalinya ini.
"Jika Anda tidak segera berhenti bersikap tidak senonoh terhadap orang asing, akan saya laporkan kepada polisi sekarang juga," gertak Eun Chae.
"Polisi? Kamu? Hahaha. Mana mungkin kau bisa melakukan yang begituan?" remeh pria itu.
Karena kesabarannya habis, Eun Chae langsung menelepon kantor polisi, lalu dihentikan lagi oleh lelaki itu.
"Kau ini kenapa sih? Ini aku, Seong Jun!" ujar pria itu kesal.
Entah mengapa, lelaki itu nampak serius dengan ucapannya.
"Seong.. Jun?" ulang Eun Chae, memastikan.
Pria itu menganggukan kepala.
"Lalu, apa hubungannya denganku?" sentak Eun Chae.
Lelaki itu memelototi Eun Chae dalam seketika, lalu memijat keningnya sendiri.
"Kau ini.. Bukankah kau bilang setahun lalu, bahwa kau ingin berwisata dengan keluargamu? Dimana ayah dan ibumu sekarang? Aku ingin bertemu dan mengeluhkan semuanya kepada mereka. Bisa-bisanya kau begini terhadap tunanganmu sendiri!" protes pria itu.
Kalimat panjang itu terdengar seperti sengatan listrik besar bagi Eun Chae. Dia begitu terkejut, hingga wajahnya memucat.
"Hei, kenapa wajahmu begitu? Kau tidak apa-apa, kan? Eun Chae-ya--"
Eun Chae hanya berdiri tanpa merespon, dan rasa sakit pada kepalanya yang berdenyut kembali muncul secara tak terduga.
Beberapa saat demikian, Eun Chae membuka matanya secara perlahan.
"Hmm? Ini dimana..?" lirihnya lemah.
"Dimana lagi, ini kan rumahmu sendiri! Bangunlah," kata pria bernama Seong Jun tadi.
"Huwaaa!"
Eun Chae menjerit kaget, seraya bersikap waspada.
"Kau! Kenapa kau bisa masuk ke rumahku? Cepat keluar!" usirnya galak, sambil melempari pria itu dengan benda apapun di dekatnya.
"Aduh, aduh! Ya sudah, aku pergi. Jangan bersikap kasar," balas pria itu, masih membela diri.
Walau Eun Chae sedikit ketakutan bilamana ucapan pria ini benar, wanita itu tidak bisa menerima perilakunya saat ini.
"Kumohon.. Pergilah, jika tidak aku akan berteriak," pinta Eun Chae, masih menyembunyikan kelemahan fisik yang dirasakan olehnya.
"Kau ini bicara apa? Jangan menakutiku.. Perilakumu seperti orang lain," sanggah pria itu.
Karena kewalahan, Eun Chae mendadak berlari keluar dari rumahnya sendiri menyusuri perumahan dengan nafas tersengal.
"Tolong.. Siapapun-- tolong aku," ucapnya lemah, sambil terus berlari.
Langkah Eun Chae terhenti ketika sebuah mobil membunyikan klakson tepat di hadapannya.
Lagi-lagi, seorang pria muncul dari dalam mobilnya dan bergerak cepat ke arahnya.
Karena kesadarannya begitu lemah, Eun Chae pingsan dan tubuhnya ditahan seketika oleh pria bertubuh tinggi dengan suara yang tak asing.
Hari telah menjelang sore, ketika Eun Chae tersadar untuk ke-dua kalinya.
"Aduh.. Kenapa hari ini aku sial sekali? Huhu," rengeknya kesal.
"Kau sudah sadar?" tanya lelaki itu.
"Huhuhu..," tangis Eun Chae, karena tak tahan lagi.
Kali ini, lelaki di dekatnya itu hanya terdiam dan menjauh, seolah memberikan kesempatan bagi Eun Chae untuk menenangkan diri.
Beberapa menit kemudian, isakan Eun Chae sudah hampir tidak keluar dan nafasnya mulai teratur.
"Kau sudah tenang? Ini, makanlah."
Suara lelaki itu terdengar tulus dan tidak mengancam, sehingga Eun Chae menunjukkan wajah yang sedari tadi ditutupi dengan kedua tangannya sendiri.
Aroma makanan di hadapan Eun Chae saat ini begitu menggugah seleranya, sepertinya baru dimasak karena mengeluarkan asap hangat.
"Ini--," ucapnya, tanpa sadar memberanikan diri menatap wajah pria itu.
Untuk ke-sekian kalinya, Eun Chae kembali dikejutkan oleh apa yang dilihatnya.
"Makanlah, supaya kau sehat. Lalu, aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit, bila perlu," jelas pria itu, tanpa berbasa-basi.
"Kamu.. Chef Do?" tanya wanita itu, kemudian matanya mulai menjelajahi sekelilingnya.
"Benar. Rupanya, kau dapat mengenaliku. Aku tidak tahu kamu siapa, tapi aku bukan penjahat. Saat ini, kau berada di rumahku. Itu karena kau mendadak pingsan di jalanan dan kutemukan--," tambah Chef Do.
"Terima kasih," respon Eun Chae sambil menundukan kepala, sebelum Chef Do menyelesaikan ucapannya.
"Seperti yang kau ketahui, mungkin dari media sosial, aku hanya terobsesi dengan memasak. Jadi, kau tidak perlu takut padaku. Santai saja," ujar lelaki itu dengan sedikit kikuk.
Eun Chae hampir tertawa mendengar alasan konyol pria itu. Ajaibnya, dia tidak lagi merasa takut.
"Bolehkah aku menginap sehari saja disini?" tanya Eun Chae, walau ragu-ragu.
"Terserah. Jika kau tidak punya tempat tujuan.. Mungkin aku bisa menampungmu sementara, tentunya tidak gratis," balas Chef Do.
"Baik. Aku pasti akan membayar biaya menginap dan makanan, atau apapun yang merepotkanmu," kata Eun Chae setuju.
"Bukan itu. Maksudku, kau boleh bekerja untukku. Lagipula, aku sedang memerlukan seorang asisten," sanggah Chef Do.
"Ok, aku mau!"
Dalam waktu singkat, Eun Chae terpaku dengan apa yang baru saja dilontarkan melalui mulutnya itu.
Sial.. Kenapa mulutku lebih cepat menjawab daripada berpikir di saat seperti ini! benaknya kacau.
"Ok, mulai hari ini kau boleh tinggal di sini."
Entah kesepakatan baru di antara Eun Chae dan lelaki ini dianggap pantas atau tidak, saat ini Eun Chae hanya membutuhkan seseorang di sisinya.
Karena mengalami hal berat secara bertubi-tubi, Eun Chae bahkan melupakan urusan lain dengan pria yang mengaku bernama Seong Jun tadi.
Seong Jun masih berada dalam rumah Eun Chae seorang diri di ruang tamu. Dia duduk di sofa yang ditinggalkan Eun Chae.
"Tak kusangka, dia akan pergi begitu saja. Benarkah dia hilang ingatan atau cuma berpura-pura? Sepertinya, dia telah menjadi sangat tidak berguna," desahnya, dengan ekspresi yang sulit diartikan.
- Bersambung -