"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Mama Ratna dengan cekatan menarik kursi untuk Rini di meja makan yang masih penuh dengan sisa hidangan mewah. Ia mengabaikan Amel yang masih sesenggukan meratapi surat panggilan polisi. Bagi Mama Ratna, kehadiran Rini adalah jawaban dari segala doanya.
"Aduh Jeng Rini, maaf ya mejanya agak berantakan. Kami tadi baru saja mau selesai makan," ujar Mama Ratna dengan nada yang dibuat semanis mungkin. " Abdi, ayo dong disapa Jeng Rini-nya kamu kok malah bengong?"
Abdi berdehem pelan, mencoba bersikap sopan meski pikirannya bercabang. "Halo Tante Rini, Apa kabar?"
Rini tersenyum lebar, jemarinya yang penuh cincin emas memainkan ujung taplak meja. "Ih kok panggil nya Tante sih Mas Abdi, ya umur saya ini memang jauh lebih tua dari kamu tapi saya lebih suka di panggil nama saja sih dari pada Tante." Jawab jeng Rini.
Ucapan Tante Rini langsung membuat Abdi gelagapan dan Mama malah tersenyum lebar, karena dengan ucapan jeng Rini ini seolah-oleh dia menegaskan sebuah posisi.
"Ah ya udah Rini." Jawab Abdi canggung. "Apa kabar ? Lama tidak bertemu." Tanya Abdi lagi basa basi.
Rini tersenyum lebar. "Kabar saya baik kok Mas Abdi. Tapi kelihatannya Mas Abdi dan keluarga lagi nggak baik-baik saja ya?" Matanya melirik tajam ke arah surat polisi yang tergeletak di samping piring Amel.
Amel yang merasa diperhatikan langsung menunduk malu, namun Mama Ratna justru memanfaatkan momen itu. "Itu dia, Jeng. Kami lagi kena musibah. Istrinya Abdi itu... si Disa, dia bener-bener jahat. Masak masalah keluarga saja dilaporkan ke polisi. Amel dituduh yang nggak-nggak, padahal itu kan uang kakaknya sendiri."
Rini mengambil surat itu, membacanya sekilas dengan ekspresi tenang seolah angka seratus juta bukan masalah besar baginya. "Penggelapan asuransi ya? Hm, kalau ini diproses, Amel bisa beneran masuk sel lho, Jeng Ratna."
Tangis Amel makin pecah mendengar itu. Mama Ratna langsung menggenggam tangan Rini. "Tolonglah Jeng, Jeng Rini kan orang terpandang, punya banyak kenalan. Mungkin Jeng Rini bisa bantu kami?"
Rini tidak langsung menjawab. Ia menatap Abdi dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kasihan dan dominasi. "Aku bisa saja bantusih Jeng. Seratus juta itu... bagi saya cuma uang jajan bulanan. Saya bisa kasih uangnya sekarang juga supaya Amel bisa ganti rugi dan laporan itu dicabut."
Mata Mama Ratna berbinar. "Beneran, Jeng?!"
"Tapi..." Rini menjeda kalimatnya, membuat suasana meja makan itu mendadak hening. "Saya ini pengusaha, Jeng. Saya nggak pernah kasih uang cuma-cuma tanpa ada timbal balik. Saya mau bantu, asalkan Mas Abdi bersedia... kembali ke jalur yang benar."
Abdi mengerutkan kening. "Maksudnya apa?"
"Ceraikan istrimu yang sombong itu, Mas," jawab Rini tanpa basa-basi. "Dia sudah merendahkan kamu, bahkan mau memenjarakan adikmu. Untuk apa dipertahankan? Ceraikan dia dan nikahi saya. Saya janji, bukan cuma masalah Amel yang selesai, tapi Mas Abdi nggak perlu kerja capek-capek lagi di kantor logistik itu. Mas bisa bantu saya kelola toko emas."
Abdi terdiam seribu bahasa. Tawaran itu terdengar seperti pintu keluar dari segala kerumitan hidupnya, tapi ada rasa sesak di dadanya saat membayangkan benar-benar harus melepaskan Disa.
Sementara itu, di kantornya, Disa sedang melihat layar tabletnya. Melalui sebuah akun media sosial yang ia pantau, ia melihat sebuah unggahan status dari Andi (adik Abdi) yang memamerkan mobil merah mewah di depan pagar rumah mereka dengan caption "Penyelamat datang di waktu yang tepat".
Disa tersenyum sinis sambil menyesap kopinya. "Oh, jadi Rini sudah turun tangan?" gumam Disa. "Baguslah. Aku ingin lihat seberapa mahal harga diri Mas Abdi di depan tumpukan emas janda itu."
Disa segera menghubungi pengacaranya. "Pak, sepertinya kita harus mempercepat proses gugatannya. Tapi pastikan sebelum cerai seluruh aset yang tersisa atas nama Abdi sudah kita sita sebagai hak asuh Fikri."
Kembali ke meja makan, Mama Ratna terus mendesak Abdi. "Ayo Di! Tunggu apa lagi? Disa sudah buang kamu ke jalanan, sekarang ada malaikat kayak Jeng Rini mau bantu! Kamu mau lihat Amel dipenjara?!"
Abdi menatap Rini, lalu menatap Mama Ratna. Ia merasa seperti domba yang sedang dilelang. "Beri aku waktu," bisik Abdi lirih.
Rini tersenyum penuh kemenangan. "Waktu saya nggak banyak Mas. Polisi juga nggak bakal nunggu lama."