Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
“Haaa…”
Rifa terlihat bersandar di kursi taman rumah sakit malam itu, dia menatap lekat sesaat langit malam cerah Seoul yang dipenuhi bintang terang.
“Matcha Latte.”
Seseorang dengan setelan jas biru muda dan lengan baju yang tergulung seperempat itu menyodorkan segelas Matcha Latte yang langsung Rifa terima dengan rasa canggung. Sosok dengan wajah manis layaknya idol Korea Idol Korea Nu’est Baek Ho. Cukup lama mereka saling diam.
"Mmm..mianhaeyo(Maaf)."
Mendengar pria berahang tegas namun, berperawakan manis dengan mata sipit khasnya yang meruncing itu meminta maaf, Rifa tampak gusar. Ia langsung menghadap dan menggeleng cepat.
"An, aniyo. Gwaenchanayo(Gak apa-apa. Gak masalah)," ujar Rifa tak nyaman.
Pria dengan nametag bertulis 'Kang Dong Ho' tersemat di saku kemejanya itu hanya tersenyum geli.
"Kadang hari sial memang gak ada di kalender, kan, ya," ujarnya yang langsung berbahasa.
"Oh! Hehehe," sahut Rifa yang langsung kembali bersandar di kursi, menatap kosong langit malam.
"Aku gak pernah bentak orang. Aku gak sengaja. Mungkin karena cape, lelah. Tapi, bukan soal badan," jelas Dong Ho.
Sesaat Rifa hanya melirik, ia berusaha tampak abai. Namun, Dong Ho yang kali ini ikut memandangi langit malam hanya tersenyum sinis.
"Aku kerja di sini sudah hampir sepuluh tahun. Dan selama itu, baik mendiang Presdir Chang Ho maupun Presdir Min Woo yang sekarang gak pernah sedikitpun menuntut banyak. Mereka gak pernah membebani seluruh pekerjanya. Dan hari ini aku ngerasa kaya cape. Lelah dengan keadaan monoton, lelah dengan tekanan dari kehidupan pribadi yang tiba-tiba jadi aneh."
"Mmm...mungkin saya lancang, ya, Pak. Apa ini ada kaitannya sama cincin yang sekarang Bapak pake?" tanya Rifa hati-hati.
Terlihat Dong Ho tersenyum sinis saat melihat cincin yang tersemat di jari manis tangan kirinya. Dia meletakkan gelas kopinya diantara mereka dan melepas paksa cincinnya lalu melemparnya seakan benda itu hilang ditelan bumi hingga membuat Rifa terbelalak.
"Pak, dibuang," ucap Rifa syok.
"Iya, kenapa?" tanya Dong Ho yang langsung menatapnya.
"Gak, ituu...emas?"
"Iya, emas. Emas dua gram," sahut Dong Ho tegas.
"Astagaaaa...Tuhaaan. Orang kasi saya aja, Paaaak. Lumayan itu kalo dijual," keluh Rifa.
"Hahahahaha..."
Ledakan tawa Dong Ho yang sampai mengeluarkan air mata di kedua sudut matanya pun membuat Rifa bingung.
"Pak, tapi, itu betulan lumayan kalo dijual," ujar Rifa kecewa.
Sesaat Dong Ho masih tertawa sampai dia puas dan menatap Rifa yang tampak memanyunkan bibirnya. Dia mengusap puncak kepala Rifa yang seketika mematung sepersekian detik karena perlakuan spontannya itu.
"Uang bisa dicari. Tapi, kalo kenangan yang nyakitin susah dihilangkan kecuali, kita lepas dan buang jauh. Dah, yuk, masuk. Bentar lagi pulang."
Melihat Dong Ho yang beranjak dan melangkah lebih dulu. Rifa pun hanya bisa menghela napas pelan.
“Punya orang, Fa. Sadar. Sadar,” batin Rifa.
Dan akhirnya dia ikut beranjak mengiringi langkah Dong Ho. Keduanya berjalan pelan beriringan sampai di depan pintu lift yang terbuka lebar dan menampakkan pemandangan yang sangat amat tidak nyaman. Namun, bukan pemandangan sepasang kekasih yang sedang bercumbu itu yang membuat Rifa terpaku, detik di mana dia baru saja berdiri, kali ini tangannya sudah di genggam erat Dong Ho melangkah memasuki lift lain. Sepanjang lift bergerak turun ke lantai tiga rumah sakit divisi keuangan, Dong Ho tetap menggenggam erat tangan Rifa yang hanya bisa pasrah.
Sampai pintu lift terbuka dan di depan mereka berdiri Garra serta Irfan yang tengah berbincang menyaksikan pemandangan 'aneh' itu. Rifa yang sadar pun sontak melepas genggaman Dong Ho dan langsung melarikan diri setelah membungkuk sesaat. Sementara, Garra dan Irfan hanya saling memandang sebelum kemudian menatap Dong Ho yang sudah keluar dari lift dengan perasaan canggung.
"Sudah sadar?" sindir Garra.
"Sa, sadar apa?" tanya Dong Ho gusar.
"Heleh, cincin hilang. Tangan cewe lain digenggam. Apalagi kalo bukan sadar," ejek Garra, "selesaikan kerjaanmu. Besok orang gajian."
Mendengar celotehnya, Dong Ho hanya mencibir dan berlalu pergi setelah membungkuk sesaat menyapa Irfan.
“Tunangannya selingkuh sama orang gedung sebelah. Dua tahun dijejal sama temen-temen lain disuruh selidikin dia tetep ngotot. Akhirnya nengok sendiri di lift sebelah.”
Sontak Irfan terbelalak menatap Garra yang tesenyum penuh arti dan memperlihatkan layar ponselnya yang menampakkan rekaman CCTV lift gedung rumah sakit.
“Aku gak sakti. Cuma kebetulan ketonton pas jam cek pantau,” ujar Garra, “yuk, lah, turun dulu nyari minum,” tambahnya seraya merangkul Irfan yang hanya bisa tertawa renyah.