NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manja

Di sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Lala tidak sepenuhnya tertinggal di sana. Ada rasa khawatir yang ikut menempel.

kali ini, ia berangkat kerja dengan meninggalkan seseorang di rumah dan ingin cepat pulang bukan karena lelah, tapi karena khawatir.

Sesampainya di kantor, Lala langsung duduk di kursinya. Tasnya ia letakkan pelan, laptop dinyalakan, dan jari-jarinya mulai bergerak di atas keyboard. Secara fisik ia ada di sana, tapi pikirannya masih sempat kembali pada wajah Rendra yang pucat pagi tadi.

“Lala, gimana suaminya?” tanya salah satu rekan satu divisi saat melewati mejanya.

Lala menoleh, tersenyum tipis.

“Masih demam sih. Kayaknya masuk angin karena kehujanan semalem,” jawabnya ringan, seolah itu hal biasa.

“Ya ampun, cowok tuh ya... hujan dikit langsung tumbang,” celetuk yang lain.

Lala hanya tertawa kecil. Ia tidak membantah. Rendra memang selalu begitu. Kalau kehujanan deras, hampir pasti besoknya demam. Dan anehnya, setiap kali itu terjadi, Lala selalu kesal. Tapi kali ini rasanya beda lebih ke khawatir daripada kesal.

Ia kembali fokus ke layar. Email masuk, laporan harus diselesaikan, ada revisi yang harus dikirim sebelum jam makan siang. Lala mencoba menenggelamkan diri dalam pekerjaannya, tapi setiap beberapa menit tangannya refleks meraih ponsel untuk mengecek.

Tidak ada notifikasi.

Jam menunjukkan pukul dua belas lewat sedikit. Lala akhirnya membuka aplikasi pesan.

Lala:

Ren, gue pesenin makan siang ya.

Nanti kalo drivernya dateng ambil ke depan.

Jangan gak dimakan.

Beberapa detik kemudian, ia lanjut lagi.

Lala:

Udah minum obat belum?

Demamnya turun gak?

Tidak ada centang biru.

Lala menatap layar beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ia tahu Rendra jarang pegang ponsel kalau lagi sakit. Biasanya cuma ditaruh di meja, kadang bahkan lupa dicas. Tapi tetap saja, tidak ada balasan membuatnya sedikit tidak tenang.

Ia memesan bubur ayam dan teh hangat dari aplikasi. Ia memilih restoran yang jaraknya paling dekat dari rumah agar cepat sampai. Setelah pesanan terkonfirmasi, ia kembali mengirim pesan.

Lala:

Makanannya otw ya.

Kalo lagi tidur gapapa, nanti bangun ambil.

Baru sekitar dua puluh menit kemudian, layar ponselnya menyala.

Rendra:

Iya.

Makasih la.

Singkat. Hanya itu. Lala menghela napas lega yang tak ia sadari sejak tadi ia tahan.

Lala:

Udah bangun?

Pusing gak?

Balasan datang agak lama.

Rendra:

Masih pusing.

Kepala berat banget.

Lala menggigit bibir bawahnya. Ia membayangkan Rendra sendirian di rumah, berbaring dengan kepala berdenyut, tanpa ada yang mengganti kompres seperti semalam.

Tangannya hampir mengetik, Gue izin pulang aja ya, tapi ia menghapusnya lagi. Ia tidak bisa. Kantornya tidak fleksibel untuk izin mendadak kecuali kondisi darurat. Sebagai gantinya, ia mengetik

Lala:

Abis makan minum obat lagi ya.

Jangan tidur terus tanpa makan.

Ia menatap pesan itu lama sebelum mengirim, merasa seperti... istri sungguhan. Bukan hanya status di KTP.

Siang itu pekerjaannya selesai lebih cepat dari biasanya. Bukan karena ringan, tapi karena ia ingin segera pulang. Setiap jam terasa lebih lambat. Setiap suara notifikasi membuatnya refleks melihat layar. Sekitar jam tiga, Rendra kembali membalas.

Rendra:

Makanannya enak.

Udah minum obat.

Tidur lagi ya.

Lala tersenyum kecil di depan layar.

Lala:

Iya tidur aja.

Jangan mikirin apa-apa.

Setelah itu tidak ada balasan lagi. Lala membiarkan ponselnya tergeletak di samping laptop, tapi kali ini bukan dengan cemas lebih ke pasrah. Ia tahu Rendra pasti benar-benar tertidur.

Di sela-sela pekerjaannya, ia mendapati dirinya memikirkan hal-hal kecil. Apakah selimutnya sudah cukup tebal? Apakah AC masih menyala? Apakah obatnya cukup? Apakah ia harus mampir apotek nanti sore untuk beli vitamin tambahan?

Pikiran-pikiran seperti itu datang tanpa ia paksa.

Dan di situlah Lala sadar sesuatu.

Dulu, ketika mereka belum menikah, kalau Rendra sakit, ia hanya akan mengirim pesan, Minum obat ya, lalu selesai. Tidak ada dorongan untuk memastikan, tidak ada rasa ingin segera pulang.

Sekarang... jarak beberapa kilometer saja terasa terlalu jauh. Saat jam kepulangan telah tiba Lala mematikan laptopnya, merapikan meja, dan berdiri. Kali ini langkahnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak sedang terburu-buru.Ia hanya ingin pulang.

Sesampainya di rumah, tasnya ia letakkan sembarang di kursi ruang tamu, lalu langkahnya langsung menuju kamar. Pintu kamar sedikit terbuka. Dari celah itu terlihat cahaya layar laptop menyala.

Rendra duduk bersandar di kepala ranjang, laptop di pangkuannya. Wajahnya masih pucat, rambut sedikit berantakan, tapi alisnya berkerut

fokus menatap layar.

“Loh kok buka laptop? Emang udah enakan?” tanya Lala, nada suaranya otomatis berubah jadi campuran heran dan khawatir.

Rendra melirik sekilas.

“Masih pusing sih. Tapi gue inget ada yang harus diselesain. Gak ada yang bisa handle. Ini harus gue yang kerjain.”

Lala mendekat tanpa banyak bicara. Tangannya terulur menyentuh dahi Rendra. Masih hangat.

Ia mengambil termometer yang tadi pagi ia letakkan di meja samping tempat tidur. Angkanya muncul beberapa detik kemudian.

38 derajat.

“Masih demam, Ren,” ucapnya pelan, tapi tegas. “Gausah dipaksa. Nanti lo tambah sakit.”

Tangannya refleks ingin menutup layar laptop itu. Dengan sigap Rendra sedikit memiringkan badan, menjauhkan laptop dari jangkauan Lala.

“Gue tidur terus juga pegel-pegel badannya,” balasnya. “Lagipula cuma bentar.”

“Tapi kan lo masih sakit. Pusing juga kan. Jangan dipaksain,” Lala mengulang, kali ini lebih serius. Ada garis halus di keningnya.

Rendra menghela napas. Ia tahu Lala benar. Kepalanya memang masih berdenyut, layar laptop terasa terlalu terang di mata. Tapi ada tanggung jawab yang mengganggu pikirannya lebih dari rasa pusing itu.

“Ini laporan evaluasi divisi. Besok pagi harus masuk ke atasan. Kalo gue gak kirim, satu tim kena,” ujarnya pelan, nada suaranya lebih rendah dari tadi.

Lala terdiam beberapa detik. Ia berdiri di samping ranjang, menatap Rendra yang terlihat keras kepala tapi juga lelah.

“Tim lo bisa nunggu satu hari,” katanya akhirnya.

“Gak bisa,” Rendra menggeleng kecil. “Udah molor dari minggu lalu.”

Lala menarik napas panjang. Ia tahu sifat Rendra. Kalau sudah soal kerjaan, ia jarang setengah-setengah. Bahkan saat sakit pun masih ingin bertanggung jawab.

Tanpa banyak kata, Lala duduk di sampingnya.

“Yaudah,” ucapnya akhirnya. “Gue temenin.”

Rendra melirik, sedikit bingung.

“Lo kerjain. Tapi kalo udah lima belas menit masih belum kelar, tutup. Deal?”

Rendra hampir tertawa, tapi kepalanya terlalu berat untuk itu.

“Lo galak banget.”

“Bukan galak. Tapi gue khawatir,” jawab Lala cepat.

Rendra diam sebentar. Kata itu terdengar sederhana. Tapi entah kenapa, rasanya berbeda. Ia kembali menatap layar, mengetik beberapa baris. Lala benar-benar duduk di sampingnya, memperhatikan. Sesekali ia memijat pelan bahu Rendra yang terlihat tegang.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Rendra mulai mengusap pelipisnya.

“Pusing ya?” tanya Lala pelan.

“Dikit.”

“Udah.”

Belum sempat Rendra protes, Lala sudah menutup layar laptop dengan lembut. Kali ini Rendra tidak menghindar.

“Belum selesai,” gumamnya lemah.

“Besok bangun lebih pagi aja. Atau bangun jam tiga sekalian,” sahut Lala, nada suaranya terdengar setengah bercanda tapi matanya serius.

Rendra menatapnya beberapa detik. Lalu akhirnya menyerah. “Lo rese banget sih.”

“Biarin.”

Lala mengambil laptop itu dan memindahkannya ke meja kecil di sudut kamar. Setelah itu ia kembali ke ranjang, menyuruh Rendra rebahan.

“ miring dikit. Gue kompres lagi.”

Rendra menurut tanpa banyak bantahan. Kali ini ia benar-benar terlihat kelelahan. Saat Lala mengganti kompres di dahinya, Rendra menatapnya samar-samar.

“Lo capek gak sih?” tanyanya tiba-tiba.

“hmm?”

“Kerja. Ngurusin gue. Repot banget.”

Lala berhenti sebentar, kain kompres masih di tangannya.

“Capek,” jawabnya jujur.

Rendra menatapnya.

“Tapi gapapa” lanjut Lala pelan.

Kalimat itu membuat Rendra terdiam. Dulu, sebelum menikah, kalau ia sakit mungkin ia hanya akan mengurung diri. Tidak ingin terlihat lemah. Tidak ingin merepotkan siapa pun.

Sekarang, ada seseorang yang pulang kerja dengan wajah lelah tapi tetap berdiri di sampingnya, memarahinya karena buka laptop, memaksanya minum obat, memijat bahunya tanpa diminta.

Rendra menggerakkan tangannya pelan, meraih pergelangan tangan Lala yang sedang memegang kompres.

“Thanks ya,” ucapnya lirih.

Lala mendengus kecil.

“Gak usah lebay”.

Tapi ia tidak menarik tangannya.

Beberapa menit kemudian napas Rendra mulai lebih teratur. Punggungnya tidak lagi tegang. Tangannya masih menggenggam ujung lengan baju Lala, seolah takut ia pergi.

Lala menatap wajahnya dalam diam. Masih ada sisa pucat. Masih ada garis lelah. Tapi ada juga sesuatu yang membuat dadanya terasa hangat.

Ternyata beginilah rasanya. Bukan hanya dicintai. Tapi dibutuhkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Lala tidak merasa sedang menjalankan peran. Ia hanya... berada di tempat yang seharusnya.

Setelah memastikan napas Rendra sudah benar-benar teratur dan demamnya tidak semakin naik, Lala perlahan melepaskan genggaman tangan Rendra dari ujung bajunya. Ia berdiri pelan agar kasur tidak banyak bergerak, lalu keluar kamar membawa pakaian ganti.

Air hangat sore itu terasa menenangkan. Uapnya memenuhi kamar mandi, meredakan lelah yang sejak pagi ia tahan. Di bawah guyuran air, Lala baru benar-benar sadar betapa panjang harinya kerja, khawatir, bolak-balik mengecek ponsel, lalu pulang melihat Rendra masih memaksakan diri bekerja.

Namun anehnya, ia tidak merasa terbebani.

Selesai mandi, Lala mengikat rambutnya asal dan langsung menuju dapur. Ia memasak yang ringan saja sup ayam hangat dengan sedikit jahe dan nasi putih. Aromanya perlahan memenuhi rumah yang sejak sore terasa lebih sunyi dari biasanya.

Sesekali ia melirik ke arah kamar, memastikan Rendra tidak memanggil. Saat semuanya siap, Lala membangunkan Rendra pelan.

“Ren... makan dulu ya.”

Rendra membuka mata dengan gerakan lambat. Wajahnya masih sedikit sayu. Ia bangkit duduk tanpa banyak protes, mungkin karena memang sudah lapar walau tidak terlalu berselera.

Makan malam berjalan tenang. Tidak banyak obrolan. Hanya suara sendok menyentuh mangkuk dan hujan tipis yang kembali turun di luar.

“Enak,” ucap Rendra singkat setelah beberapa suap.

“Tapi?” Lala menaikkan alis.

“Gak terlalu napsu aja,” jawabnya jujur.

Ia hanya menghabiskan setengah porsi. Biasanya Rendra termasuk orang yang makannya lahap, apalagi kalau masakan rumah. Melihat piringnya yang masih setengah penuh membuat Lala sedikit khawatir, tapi ia tidak memaksa.

“Udah, gak usah dipaksain,” katanya lembut. “Yang penting minum obat lagi nanti.”

Setelah makan, mereka merapikan dapur bersama seperti biasa. Bedanya, kali ini Lala lebih banyak bergerak, sementara Rendra hanya membantu sebisanya. Ia terlihat cepat lelah, beberapa kali memijat tengkuknya sendiri.

Saat semuanya beres, Lala kembali ke kamar.

Rendra sudah berbaring, tapi matanya terbuka. Lampu kamar masih menyala redup.

“Belum tidur?” tanya Lala sambil menyisir rambutnya dengan jari.

“Gak bisa,” jawab Rendra pelan. “Kepala masih berasa.”

Lala mendekat dan duduk di sisi kasur.

“Sama... badan gak enak aja.”

Lala baru menyadari satu hal saat sakit, Rendra berubah.

Biasanya ia mandiri, jarang mengeluh, bahkan cenderung menahan. Tapi malam itu, ada sisi lain yang muncul. Lebih manja. Lebih ingin diperhatikan.

“Pijetin pelipis gue la,” pintanya tiba-tiba, suaranya tidak memerintah, justru terdengar hampir seperti anak kecil yang minta tolong.

Lala menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil. Ia duduk lebih dekat dan mulai memijat pelan pelipis Rendra dengan ujung jarinya.

“Gini?” tanyanya.

“Iya... enak,” gumam Rendra sambil memejamkan mata.

Beberapa menit berlalu dalam diam. Tangan Lala bergerak perlahan, ritmis. Rendra tampak lebih tenang. Tanpa sadar, Rendra bergeser sedikit. Lalu sedikit lagi. Sampai bahunya hampir menempel dengan lengan Lala.

“Lo deket banget,” komentar Lala setengah geli.

“Dingin,” jawabnya singkat, tanpa membuka mata.

Lala menghela napas pelan, tapi tidak menjauh.

Beberapa saat kemudian, Rendra membuka mata sedikit dan menatapnya.

“La.”

“Hm?”

“Peluk gue dong.”

Lala terdiam. Permintaan itu sederhana. Tapi tetap saja membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

“Apaan sih,” gumamnya pelan, meski pipinya mulai hangat.

“Biar cepet tidur,” balas Rendra ringan, tapi ada nada jujur di sana.

Lala ragu sepersekian detik, lalu akhirnya berbaring di sampingnya. Ia memposisikan diri miring menghadap Rendra, dan dengan canggung tapi lembut, melingkarkan satu tangan ke tubuhnya.

Rendra langsung mendekat. Benar-benar mendekat. Kepalanya bersandar di bahu Lala, satu tangannya melingkar di pinggang Lala seperti mencari pegangan. Napasnya hangat di leher Lala.

“Lo manja banget kalo sakit,” bisik Lala pelan.

“Cuma kalo sama lo,” jawab Rendra hampir tanpa sadar.

Kalimat itu membuat Lala membeku sesaat.

Ia tidak tahu sejak kapan Rendra seperti ini. Apakah dulu ia juga begitu pada ibunya? pada pacarnya? Atau hanya sekarang karena ada Lala di sisinya? Yang jelas, malam itu Rendra tidak terlihat seperti pria yang keras kepala soal kerjaan. Ia terlihat... rapuh.

Dan untuk pertama kalinya, Lala menyadari bahwa mungkin di balik sikap tenangnya selama ini, Rendra memang menyimpan sisi yang hanya ia keluarkan saat merasa aman.

Perlahan, napas Rendra kembali teratur. Tangannya yang memeluk Lala mengendur sedikit, tapi tidak benar-benar melepas. Lala menatap langit-langit kamar dalam gelap. Ia tersenyum tipis. Ternyata, bukan hanya dirinya yang pelan-pelan belajar bergantung. Tetapi Rendra juga.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
sunrise
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
sunrise
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!