NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Yuki

Cinta Untuk Yuki

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Yatim Piatu / Selingkuh
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.

Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.

Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Perkenalan Yuki Pada Ibu Kai

Setelah Yuki selesai menyantap sarapannya, Ibu Kai duduk kembali di kursi dekat kasur, menatap Yuki dengan lembut. Ai Chikara masih tertidur pulas di pelukan Ibu Kai, kepala mungilnya bersandar nyaman di bahu hangat. Ruangan itu terasa hangat dan tenang, aroma teh hangat dan roti masih tersisa di udara.

Ibu Kai mencondongkan tubuh sedikit, menatap Yuki dengan senyum lembut. “Nak… aku ingin tahu, siapa namamu? Dan bagaimana nama bayi ini?” tanyanya dengan nada penuh perhatian.

Yuki menelan ludah, sedikit ragu-ragu. Suara napasnya masih berat, dan matanya sembab karena air mata yang baru saja tumpah. Ia menatap Ai Chikara yang tertidur, kemudian menatap Ibu Kai kembali.

“Aku… namaku Yukihana Roseline, Panggilan ku Yuki Bu,” ucapnya perlahan, suaranya masih gemetar namun jelas. “Dan… anakku… namanya Ai Chikara. Ai… berarti cinta… Chikara… berarti kekuatan. Aku ingin dia selalu memiliki kekuatan, meski aku tidak bisa selalu melindunginya sendiri.”

Ibu Kai tersenyum hangat, matanya berbinar mendengar arti nama itu. “Ai Chikara… nama yang indah. Sangat cocok untuk bayi seimut ini,” ucapnya sambil menatap bayi yang masih tidur. “Nama itu… penuh harapan. Aku suka. Dan Yuki, itu nama yang lembut dan kuat, sama seperti dirimu.”

Yuki menunduk, sedikit tersipu, sambil mengelus lembut pipi Ai Chikara. “Terima kasih… Bu. Aku… aku merasa aman sekarang… tapi aku masih takut, Bu. Takut kalau semua ini terjadi lagi.”

Ibu Kai menggenggam tangan Yuki, menatap matanya penuh pengertian. “Nak, rasa takut itu wajar. Semua yang kamu alami semalam bisa membuat siapa pun merasa takut. Tapi aku ingin kamu percaya, di sini… bersama kami… kamu dan bayi ini aman. Aku berjanji, tidak ada yang akan menyakiti kalian.”

Yuki menarik napas dalam, merasakan sedikit lega. “Aku… aku sangat berterima kasih, Bu… terima kasih sudah menyelamatkan kami. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Ibu tidak ada di sini.”

Ibu Kai tersenyum, mengelus punggung Yuki. “Tidak perlu berterima kasih, Nak. Tugas ibu adalah menjaga, dan aku senang bisa melakukannya. Sekarang, yang penting adalah kamu istirahat, pulih sepenuhnya, dan tetap menjaga bayi ini. Ai Chikara juga harus tetap nyaman dan aman.”

Yuki menatap bayi itu, lalu kembali menatap Ibu Kai. “Aku… aku janji, Bu. Aku akan menjaga Ai Chikara sebaik mungkin. Aku… aku ingin dia tumbuh bahagia, meski aku harus menghadapi banyak rintangan.”

Ibu Kai tersenyum hangat, menepuk tangan Yuki lembut. “Aku tahu kamu bisa, Nak. Dan percayalah, di sini kamu tidak sendirian. Aku dan keluarga akan selalu ada untuk kalian berdua. Sekarang, biarkan Ai Chikara tetap tidur dulu. Kamu juga boleh beristirahat. Makan sarapanmu tadi adalah langkah pertama untuk menguatkan tubuhmu.”

Yuki tersenyum tipis, menunduk sambil mengelus bayi yang masih tertidur. “Terima kasih… Bu. Aku merasa… sangat lega sekarang. Aku… tidak perlu takut lagi untuk sementara waktu.”

Ibu Kai tersenyum, menatap keduanya dengan penuh kasih. “Bagus, Nak. Itu yang ibu ingin dengar. Sekarang, duduk santai, biarkan bayi itu tidur, dan ambil waktu untuk memulihkan diri. Nanti kita akan bicara lebih banyak, tapi untuk sekarang, fokuslah pada ketenangan dan keamanan kalian.”

Yuki mengangguk pelan, membiarkan Ai Chikara tetap di pangkuan Ibu Kai. Hatinya sedikit tenang, meskipun rasa lelah dan trauma semalam masih terasa. Ia merasa perlindungan Ibu Kai memberi kekuatan baru baginya—rasa aman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Baik! Aku akan membuatkan versi narasi dan percakapan panjang, mendetail, emosional, dan dramatis sesuai permintaanmu, agar alur cerita Yuki menceritakan kisahnya dan pelariannya menjadi hidup, penuh ketegangan, trauma, dan kasih sayang. Cerita akan dalam gaya novel, dengan dialog alami, emosi karakter yang mendalam, serta tanpa pengulangan kalimat secara literal. Aku akan mulai dengan alur Yuki berbicara kepada Ibu Kai setelah bayi dan dirinya aman, termasuk latar belakang suaminya, ancaman, dan keputusan Yuki untuk melarikan diri.

---

Yuki menatap Ai Chikara yang masih tertidur pulas di pangkuan Ibu Kai, lalu menarik napas panjang. Suasana ruangan tenang, hanya terdengar detak jarum jam dan desau angin yang masuk dari jendela yang sedikit terbuka. Ia menundukkan kepala, menatap tangannya sendiri sejenak sebelum mulai berbicara.

“Bu… aku ingin menceritakan semuanya… dari awal, agar Ibu mengerti kenapa aku… kenapa aku harus melarikan diri semalam,” ucapnya pelan, suaranya masih bergetar karena kelelahan dan emosi yang menumpuk.

Ibu Kai mengangguk, menatap Yuki dengan penuh perhatian. “Tenang, Nak. Aku mendengar semuanya. Tidak ada yang akan menghakimimu di sini. Ceritakan saja apa yang terjadi. Aku di sini untuk mendengarkan, bukan untuk menilai.”

Yuki menarik napas panjang, menahan air mata yang kembali menetes. “Semua ini bermula ketika aku menikah… suamiku… dia… dia tukang selingkuh, Bu. Aku mengetahuinya… awalnya aku mencoba mengabaikan, berharap itu hanya kesalahan sesaat. Tapi… dia semakin kasar, semakin menyakiti, bukan hanya hatiku… tapi juga tubuhku. Dia sering memaki, menghina, bahkan memukul tanpa ampun. Setiap kali itu terjadi, aku merasa… aku kehilangan bagian dari diriku. Titik terakhir… aku menyerah pada semua itu.”

Ibu Kai menatapnya dengan cemas, mengelus lembut lengan Yuki. “Nak… kau sudah berusaha. Aku mengerti… itu pasti sangat menyakitkan.”

Yuki menunduk lebih dalam, suaranya pecah. “Suamiku… Bu… dia ingin menghancurkanku… dan bukan hanya itu… ketika aku menolak lagi untuk memenuhi kehendaknya, dia mulai mengancam bayi… Ai Chikara. Katanya… selingkuhannya merasa kalah cantik daripada aku… dan dia ingin membuktikan bahwa aku tidak berharga. Aku… aku sangat takut, Bu. Suamiku… dia tak segan ingin membunuh anakku… hanya karena hasutan orang itu.”

Ibu Kai mengerutkan kening, matanya membara dengan rasa prihatin dan kemarahan yang tertahan. “Nak… itu kejam… tidak manusiawi… anak kecil tak seharusnya menjadi alat dendam.”

Yuki mengangguk, menahan tangis. “Aku mencoba berbicara dengannya… memohon… bahkan memintanya menceraikanku saja. Aku bilang aku tidak ingin dia… tetapi dia menolak. Dia ingin tetap memiliki kendali… dia mengatakan jika aku pergi, bayi itu juga tidak akan selamat. Aku… aku merasa terpojok, Bu. Tidak ada tempat untuk bersembunyi, tidak ada yang bisa kuandalkan.”

Ibu Kai memegang tangan Yuki lebih erat, menatap matanya dengan lembut namun tegas. “Nak… aku di sini sekarang. Kamu tidak sendiri lagi. Tidak ada yang akan menyakiti kalian. Kau boleh bercerita selengkapnya. Aku ingin mengerti semuanya dari sudut pandangmu.”

Yuki menelan ludah, suara hatinya bergetar ketika mulai mengingat malam terakhir di rumahnya. “Malam itu… Bu… hujan deras… aku tahu dia akan datang ke kamar bayi dan mencelakai Ai Chikara. Aku merasa… aku harus bertindak cepat, atau kami berdua… kami bisa mati di sana. Aku… aku tidak punya pilihan. Aku mengambil bayi ini… dan berlari… hujan deras… sepatu basah, baju menempel di tubuh… tapi aku tidak peduli. Yang terpenting… aku harus menjaga anakku tetap hidup.”

Ibu Kai menunduk, membiarkan Yuki menumpahkan semua perasaan dan kepanikan yang terpendam. “Aku mengerti… Nak… kau melakukan hal yang paling berani. Aku kagum padamu. Bayi itu beruntung memiliki ibu sepertimu.”

Yuki menarik napas lagi, mata memerah. “Aku berlari sepanjang malam… takut kalau dia mengejar. Aku tidak tahu harus kemana… jalanan licin, air hujan memantul dari lampu jalan, setiap langkah terasa seperti pertaruhan hidup dan mati. Aku memeluk Ai Chikara erat, takut dia terjatuh atau menangis. Aku menangis sendiri di hujan… tapi aku tidak berhenti. Aku harus sampai ke tempat aman.”

Ibu Kai mengangguk, matanya penuh rasa iba dan kekaguman. “Nak… kau kuat. Kekuatan itu bukan hanya fisik, tapi juga hati. Kau mempertahankan hidupmu dan bayi ini. Kau sudah melakukan lebih dari cukup.”

Yuki menatap Ai Chikara di pangkuan Ibu Kai, bibir mungilnya tersenyum seakan tidak mengerti bahaya semalam. “Aku takut, Bu… aku takut jika kami tertangkap. Aku takut… karena suamiku… dia tidak segan membunuh bayi ini. Dan aku… aku tidak bisa melindungi anakku sendirian lagi. Aku… aku merasa hancur… tapi aku tahu aku harus lari, aku harus menyelamatkan Ai Chikara.”

Ibu Kai meraih wajah Yuki, menatap matanya dengan penuh kasih sayang. “Nak… semuanya sudah berlalu. Aku di sini. Kalian aman sekarang. Aku akan selalu menjaga kalian berdua. Tidak ada yang akan menyakiti kalian. Sekarang, kau boleh bernapas lega, walau sedikit. Cerita itu penting agar aku mengerti, tapi keselamatan kalian jauh lebih penting.”

Yuki menarik napas dalam, mencoba menenangkan hatinya. “Aku… aku tidak pernah membayangkan bisa menemukan tempat seaman ini… tempat di mana aku dan Ai Chikara bisa bertahan. Aku… aku merasa berutang budi… lebih dari yang bisa aku ucapkan. Aku takut… tapi aku juga merasa lega… karena aku tahu… setidaknya ada seseorang yang peduli pada kami.”

Ibu Kai tersenyum, menepuk bahu Yuki lembut. “Nak… jangan pikirkan utang budi itu. Aku senang bisa membantu. Aku hanya ingin kalian berdua tetap hidup dan aman. Itu yang paling penting. Sekarang, istirahatlah… dan biarkan hatimu sedikit tenang.”

Yuki menunduk, menatap bayi yang masih tidur pulas. Ia merasakan rasa bersalahnya sedikit mencair, digantikan dengan rasa lega. “Bu… aku… aku akan berusaha pulih… untuk Ai Chikara… dan untuk diriku sendiri. Aku tidak ingin rasa takut menguasai kami lagi. Aku ingin… aku ingin hidup dengan aman, Bu… aku ingin bayi ini bisa bahagia…”

Ibu Kai menggenggam tangannya lembut, menatap mata Yuki penuh pengertian. “Itu yang harus kau lakukan, Nak. Kuatkan dirimu sedikit demi sedikit. Aku di sini. Kalian tidak sendiri. Aku akan selalu ada di sisi kalian, menjaga, melindungi, memastikan tak ada yang menyakiti kalian. Tidak ada yang bisa membahayakan anakmu lagi. Aku berjanji.”

Yuki menunduk, menarik napas panjang, air mata menetes perlahan di pipinya. Ia mengangkat Ai Chikara dari pangkuan Ibu Kai, menatap wajah bayi itu, dan memeluknya erat. “Aku… aku janji… akan menjaga anakku… tidak akan ada yang menyakitinya lagi… aku tidak akan membiarkan itu terjadi…”

Ibu Kai tersenyum hangat, menepuk tangan Yuki. “Itu sudah cukup, Nak. Kau telah menunjukkan keberanian yang luar biasa. Sekarang, biarkan dirimu pulih. Bayi itu aman, kau aman. Fokus pada ini dulu, jangan pikirkan apa yang terjadi sebelumnya. Semua sudah berlalu.”

Yuki menunduk, menahan isaknya, dan perlahan menenangkan diri. Bayi itu tetap tertidur di pelukannya, dan untuk pertama kalinya sejak malam semalam, ia merasakan ketenangan yang sesungguhnya. Ia tahu, walau dunia di luar penuh ancaman, ia memiliki perlindungan, seseorang yang peduli, dan tempat aman untuk memulai kembali.

💚

💚💚

💚💚💚

Terima kasih telah melangkah sejauh ini.

Semoga setiap halaman menjadi teman, bukan beban.

Selamat membaca.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!