Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulang Tahun Lala
Hari ini Lala berulang tahun.
Sejak kecil, hari ulang tahun selalu punya rasa yang sama baginya. hangat, sederhana, dan penuh aroma dapur. Setiap tahun, mamanya akan memasak makanan kesukaan anggota keluarga yang berulang tahun. Tidak pernah absen. Ayah, adiknya, dan tentu saja Lala.
Untuk Lala, menu itu hampir selalu sama, nasi kuning lengkap dengan ayam goreng buatan mama. Bukan nasi kuning sembarang. Warna kuningnya tidak terlalu pekat, aromanya lembut, dan ayam gorengnya selalu pas tidak kering, tidak terlalu berminyak. Entah kenapa, nasi kuning buatan mamanya yang dimakan tepat di hari ulang tahun selalu terasa berbeda. Lebih enak. Lebih penuh. Seolah ada rasa yang tidak bisa ditiru oleh siapa pun.
Tapi tahun ini berbeda.
Tidak ada suara panci sejak pagi. Tidak ada pertanyaan, “Mau mama masakin apa?” Dapur rumah terasa sepi. Mamanya dan ayahnya sedang berada di rumah sepupu yang akan menikah hari Minggu nanti. Adiknya pun sedang di kota lain karena pekerjaan.
Pagi itu, yang Lala terima hanyalah panggilan singkat sebelum ia berangkat kerja.
“Selamat ulang tahun ya, La,” suara mamanya terdengar dari seberang.
“Jaga kesehatan, jangan lupa makan,” sambung ayahnya.
Adiknya mengirim pesan suara dengan nada bercanda, seperti biasa.
Tidak ada kue. Tidak ada nasi kuning. Tidak ada ayam goreng hangat di meja makan.
Namun Lala tetap tersenyum. Ia bersyukur. Setidaknya mereka ingat. Setidaknya hari lahirnya tidak benar-benar lewat begitu saja.
Di kantor, Lala menjalani hari seperti biasa, hingga siang menjelang, saat lampu ruangan tiba-tiba diredupkan. Dari balik pintu, rekan-rekan satu divisinya muncul sambil membawa kue kecil, lilin menyala di atasnya, dan nyanyian yang terdengar sedikit fals tapi penuh semangat.
“Selamat ulang tahuun~”
Lala terkejut, lalu tertawa. Ada rasa hangat yang tiba-tiba mengisi dadanya.
Mereka mengelilinginya, menepuk bahu, memberi pelukan singkat, dan mengucapkan doa-doa yang tulus. Panjang umur. Sehat selalu. Semoga yang diinginkan tercapai. Lala mengamini semuanya dalam hati, satu per satu.
Di tengah riuh tepuk tangan dan senyum-senyum itu, Lala sadar ulang tahun memang tak selalu dirayakan dengan cara yang sama. Tapi perhatian, sekecil apa pun bentuknya, tetap punya cara sendiri untuk membuat hari itu terasa berarti.
Hari itu pun Lala mendapatkan ucapan ulang tahun dari teman-temannya grup geng nya ramai Ucapan selamat terus berdatangan. Doa-doa dituliskan dengan kalimat sederhana, sebagian disertai emoji, sebagian lagi panjang dan tulus. Lala membaca semuanya, membalas seperlunya, lalu mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Di sela-sela itu, tanpa sengaja pandangannya berhenti di satu nama.
Rendra.
Tidak ada namanya di deretan pesan ucapan. Tidak ada satu pun kalimat darinya di grup tersebut, juga tidak di chat pribadi. Lala bukan menunggu setidaknya ia meyakinkan dirinya sendiri seperti itu, tapi ada jeda kecil di kepalanya. Sepersekian detik saja. Ia lalu menggeser layar, menaruh ponsel kembali ke meja, dan melanjutkan pekerjaannya.
Tidak lama kemudian, layar ponselnya menyala lagi.
Rendra:
Pulang kantor free? Ketemu bentar, yuk.
Tidak ada ucapan selamat ulang tahun. Tidak ada penjelasan. Hanya ajakan singkat, seperti percakapan mereka sehari-hari.
Lala membaca pesan itu sekali lagi. Aneh rasanya bukan kecewa, bukan juga senang berlebihan. Hanya… terasa khas Rendra. Tidak bertele-tele.
Ia mengetik balasan singkat.
Lala:
Iya. .
Pesan terkirim. Lala menatap layar beberapa detik, lalu mengunci ponselnya. Entah kenapa, di tengah hari yang terasa berbeda sejak pagi, ajakan itu membuat sisa jam kerja berlalu sedikit lebih ringan.
Saat jam pulang kantor tiba, Lala langsung melakukan absen kepulangan. Tanpa banyak berlama-lama, ia merapikan tas dan melangkah menuju lobi kantor. Di sana, ia berdiri sambil sesekali melirik ponselnya menunggu Rendra yang katanya sedang dalam perjalanan dari kantornya.
Tidak lama kemudian, motor Rendra berhenti tepat di depan lobi. Rendra melepas helmnya sambil tersenyum santai, seolah ini hanya pertemuan biasa di hari biasa.
“Lama nunggu?” tanyanya.
“Baru juga,” jawab Lala, lalu naik ke motor.
Sepanjang perjalanan, Lala beberapa kali ingin bertanya mereka akan ke mana. Namun setiap kali ia membuka mulut, Rendra selalu lebih dulu memotong dengan jawaban yang sama.
“Nanti juga lo tau.”
Nada suaranya terlalu santai untuk dipaksa, jadi Lala memilih diam. Ia menikmati perjalanan sore itu, angin yang tidak terlalu kencang, langit yang masih terang, dan jalanan yang relatif lengang.
Tak butuh waktu lama sampai motor Rendra berhenti.
Lala langsung mengenali tempat itu.
Danau.
Tempat yang sama di mana dulu, Rendra pertama kali bercerita panjang tentang masalahnya. Tempat yang entah kenapa selalu terasa tenang, meski tidak benar-benar sepi. Sore itu pun begitu. Langit cerah, air danau memantulkan cahaya keemasan, beberapa pasangan duduk berdekatan di pinggir, dan anak-anak berlarian sambil tertawa di kejauhan.
Rendra turun lebih dulu, lalu mengeluarkan sesuatu dari jok motornya.
Alas duduk.
Ia menggelarnya di bawah pohon, sedikit menjauh dari keramaian. Setelah itu, satu per satu camilan dikeluarkan. minuman, biskuit, dan beberapa makanan ringan lain, rapi seolah sudah dipikirkan sejak awal.
“Lo mau piknik?” tanya Lala sambil duduk setelah dipersilakan.
“Prepare banget,” tambahnya, melirik tumpukan camilan itu.
Rendra tersenyum kecil. “Iyaaa. Hari Jumat tuh hari favorit gue. Besok libur. Jadi ya… kita rayain aja hari Jumat.”
Lala mengangguk pelan. “Okeeeey.”
Di kepalanya, sebuah kalimat melintas tanpa bisa ditahan.
Untuk apa katanya, merayakan hari Jumat. Hello, di sini ada yang ulang tahun kenapa malah ngerayain hari? Hari juga ultah kah?
Tapi Lala tidak mengatakannya. Ia hanya membuka salah satu camilan, ikut duduk bersila, dan membiarkan sore itu berjalan seperti yang Rendra rencanakan tanpa bertanya lebih jauh.
Lalu, tanpa banyak bicara, Rendra merogoh tasnya lagi. Kali ini ia mengeluarkan sebuah kotak. Tidak besar, tapi juga tidak kecil cukup untuk langsung membuat Lala menegakkan badan.
“Kotak apaan lagi nih?” gumam Lala, setengah curiga.
Rendra hanya tersenyum. Ia membuka kotak itu perlahan. Sebuah kue sederhana ada di dalamnya. Tidak berlebihan, tidak mencolok, tapi jelas disiapkan dengan niat. Rendra mengeluarkan kue itu, meletakkannya di atas alas, lalu memasang lilin di tengahnya. Setelah itu, ia menyalakan lilin tersebut.
Tanpa aba-aba, Rendra mulai bernyanyi.
Suaranya pelan, tidak terlalu keras, tapi cukup jelas. Lala langsung terdiam. Matanya membesar, lalu refleks menoleh ke sekitar. Meski mereka duduk agak menjauh dari keramaian, tetap saja ada beberapa pasang mata yang sesekali melirik ke arah mereka.
“Ren...” Lala menunduk, setengah malu, setengah tidak percaya.
Rendra tetap melanjutkan sampai selesai, dengan ekspresi santai seolah ini hal paling wajar di dunia.
Begitu nyanyiannya berhenti, Lala menghela napas kecil, lalu mendekat dan meniup lilin itu. Api kecilnya padam.
“Yeaay, selamat ulang tahun,” ucap Rendra ringan, diakhiri tepukan kecil dari tangannya sendiri.
Lala tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca. “Makasiii,” katanya jujur. “Gue pikir lo lupa.”
Rendra mendengus kecil. “Gak mungkin gue lupa. Di grup rame gitu. Gue inget, tapi ya sengaja aja.”
“Sengaja?” Lala menaikkan alis.
“Iya. Biar lo gak nyangka,” jawabnya santai.
Lalu, dengan nada yang sedikit lebih tenang, Rendra mengulang ucapannya. “Selamat ulang tahun, La. Semoga apa pun yang lagi lo hadapin sekarang bisa pelan-pelan nemu jalannya. Semoga lo selalu sehat, dikelilingi orang-orang yang tulus sama lo... dan semoga lo tetep jadi Lala yang gue kenal.”
Lala terdiam sejenak. Ia menatap kue kecil di depannya, lalu kembali menatap Rendra.
“aamiin, Doanya kepanjangan,” gumamnya pelan.
“Tapi serius,” jawab Rendra sambil tersenyum.
Lalu mereka berdua tertawaa.
Dan sore itu, di pinggir danau yang tenang, Lala merasa ulang tahunnya akhirnya benar-benar dirayakan.
Mereka melanjutkan memakan kue tersebut dan camilan lainya. Saat langit akan berubah menjadi gelap, Lala mengajak Rendra untuk bangkit dari tempat tersebut dan pindah. Namun sebelum Lala berdiri, Rendra menahannya.
“La...” ucapnya ada keraguan terdengar jelas di nadanya.
semangat kak... salam dari Edelweiss...