Elang Erlangga seorang mafia kejam berdarah dingin. Suatu malam Erlangga di kepung oleh para musuhnya di kota Jogja, saat sedang menjalankan sebuah misi untuk mencari ibu nya. Karena kebocoran informasi pada tentang keberadaan nya, dia nyaris mati. Untung nya dia di selamatkan oleh seorang gadis desa baik hati. Tersentuh akan kebaikan dan kelembutan sang gadis desa. membuat Elang ter obsesi untuk bisa memiliki gadis desa tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
"Kau sudah siap untuk pergi?" Tanya Elang pada Meisya yang sudah keluar dari kamar nya dengan penampilan yang rapi dan cantik. Semua kebutuhan Meisya telah Elang siapkan. Baju, gaun dari desainer ternama telah ia datang kan. Tas-tas ber merk terkenal pun sudah tersedia di dalam kamar yang Meisya tempati. Namun bukan semua itu yang Meisya ingin kan. Ia rindu kampung halaman nya, tempat mbah wati membesarkan nya.
"Ya, seperti yang kamu lihat. Memang nya kita akan kemana?" tanya Meisya dengan senyum paksaan. Meski Elang juga merasa, bahwa senyuman dan sikap ramah Meisya seperti di buat-buat. Tetapi Elang tak perduli, yang terpenting Meisya tidak mencoba pergi dari nya. Karena Elang yakin. Dia mampu untuk meluluhkan hati Meisya yang sekeras batu itu.
"Kau akan mengetahui nya nanti, ayo kita pergi sekarang." Ajak Elang sambil mengulurkan tangan nya, ingin menggandeng Meisya. Dengan ragu Meisya memegang tangan hangat elang. Tetapi akhirnya dia tetap memegang tangan Elang.
Elang tersenyum lembut ke arah Meisya lalu mengandeng tangan Meisya hingga tiba di parkiran mobil. Sebuah mobil GWM Tank 500 berwarna hitam yang terlihat sangat gagah. Sangat sesuai dengan kepribadian Elang. Begitu Meisya membuka pintu mobil ia sudah di kejutkan dengan boneka beruang besar yang sedang memeluk buket mawar yang sama besarnya. Di samping nya ada beberapa keping coklat To'ak. "Ini semua untuk ku?" tanya Meisya.
Elang mengangguk sambil tersenyum. "Ya, untuk siapa lagi, jika bukan dirimu. Sebentar aku akan memindahkan semuanya ke belakang." Dengan cepat Elang langsung mengangkut semua itu, dan memindahkannya di kursi belakang. Meisya agar tersentuh dengan hadiah yang Elang berikan. Seumur-umur menjalin hubungan dengan Dwika. Meisya belum sekali pun mendapatkan bunga dari nya.
Mobil mewah GWM Tank 500 berwarna hitam itu melaju dengan stabil melewati jalan-jalan di kota Beijing mereka memasuki kawasan PEX (Bandara internasional ibu kota Beijing). Meisya mengeryit heran. "Untuk apa kita kesini?"
Elang hanya tersenyum. "Kita akan melakukan perjalanan menuju kota yang indah, mungkin kamu akan menyukai tempat itu."
Meisya melirik ke arah belakang mobil dari spion. Ada beberapa mobil yang membuntuti mereka dan mobil-mobil itu tidak lain adalah anak buah dari Elang. Meisya menghela nafas berat. Seperti nya saat ini belum waktu yang tepat untuk kabur. Jika ia memutuskan kabur dan akhirnya terungkap, maka Elang mungkin akan mengurung nya lebih ketat, dan tak akan lagi mau mengajak nya keluar seperti saat ini.
Mereka menaiki pesawat umum dengan duduk di kursi business class. Meisya duduk di samping Elang. dan ruangan business class tersebut penuh dengan anak buah Elang semua. Seolah Elang takut jika Meisya akan berencana untuk kabur dari nya. Sikap Elang pada Meisya memanglah sangat manis. Tapi kewaspadaan nya pada Meisya ternyata juga masih sangat tinggi.
Akhirnya Meisya duduk manis di samping Elang, mencoba menikmati keindahan dan kenyamanan yang pesawat mahal ini tawarkan. Setelah mereka menempuh penerbangan selama tiga jam lima belas menit. Akhirnya pesawat itu mendarat dengan selamat di KMG ( Bandara internasional Kunming Changshui ).
Setelah berada di pintu kedatangan sudah ada sopir yang menjemput mereka. Mereka di pandu untuk menaiki mobil Limosin. Meisya agak terkejut dan terpukau dengan ke indahan di dalam mobil Limosin tersebut. Seolah dia seperti sedang berada di bar mini. Tempat duduk nya juga sangat nyaman di tambah fasilitas makan dan minum lezat tersaji di sana. Meisya kini mengerti ternyata Elang memang sekaya itu. Seumur hidupnya Meisya baru sekali ini menaiki mobil-mobil mewah seperti ini.
"Kau lebih suka mana, mobil ini atau yang tadi?" tanya Elang tiba-tiba, ketika melihat kilatan binar mata Meisya ketika pertama kali masuk dalam mobil Limosin tersebut.
Meisya berfikir sejenak. kedua nya sangat bagus, tapi sepertinya mobil ini, tidak bisa kita gunakan jika hanya ingin pergi berdua saja. Mobil ini lebih cocok untuk bepergian bersama-sama orang yang lumayan banyak." kata Meisya mengemukakan pendapatnya.
"Kau ingin hanya pergi berdua saja dengan ku? Kenapa? Apakah kamu masih berencana untuk kabur sweetie?"
Meisya berdecih pelan. "Disini memang indah dan penuh dengan kemewahan Elang, tetapi aku tidak terbiasa dengan semua ini. Aku lebih suka di rumah sederhana peninggalan embah Elang."
Elang tertawa pelan lalu sedikit menyeringai.
"Kenapa? Apakah kau merindukan kekasih busuk mu itu juga?"
Meisya hanya bisa menghela nafas berat. "Aku tidak pernah terfikir kesana Elang, jika aku kembali pasti, aku akan menghukum kedua penghianat itu." kata Meisya penuh tekat.
"Benarkah? Tapi yang ku tau, kau selalu luluh dengan bujuk rayu Dwika itu. Bahkan kau tega menyakiti hati mbah wati demi pria itu. Bagaimana jika ternyata kekasih tercinta mu itu yang telah membunuh mbah wati?" Tanya Elang santai.
Meisya terbelalak lebar. "Apakah kamu mengetahui sesuatu. Bukan kah kamu bilang, kamu menemukan mayat mbah di bawah gunung dekat rumah."
Elang tertawa pelan lagi. "memang benar, tetapi kematian mbah sangat tidak wajar. Seolah seseorang dengan sengaja mendorong nya hingga jatuh. bagaimana tanggapan mu mengenai orang-orang ku yang menemukan Dwika yang sedang membakar tongkat mbah wati yang telah kau belikan waktu itu?" Tanya Elang sambil menyerahkan handphone nya.
Sebuah video pendek memperlihatkan Dwika yang diam-diam membakar sebuah tongkat yang sangat Meisya kenali. "Ini, ini bagaimana mungkin. Benarkah b*jing*n itu yang telah membunuh si mbah?"
"Aku sudah melakukan otopsi secara diam-diam, dan orang-orang ku, juga telah menyelidiki hal tersebut."
Meisya langsung melotot kaget. " Kamu, bagaimana bisa se lancang itu, membongkar makam si mbah dan melakukan otopsi tanpa persetujuan ku!!" teriak Meisya marah.
Elang hanya tersenyum masam mendengar perkataan Meisya yang lumayan menyinggung nya. "Apakah kau akan membiarkan mbah meninggal begitu saja, tanpa mengetahui siapa pembuatnya? Tanya Elang
Meisya menghela nafas berat. " itulah perbedaan berfikir kita yang sangat jauh berbeda Elang. Di agama yang aku anut meninggal nya seseorang itu adalah takdir. Mau dia di bunuh, jatuh atau pun tertimpa musibah lain nya, aku hanya tak ingin mayat si mbah di bedah dan di teliti. Di dalam agama yang aku percayai. Orang yang meninggal tetap bisa merasakan sakit, bahkan lebih sensitif. Makanya di Jogja mereka memperlakukan mayat begitu sangat hati-hati. Agar mayat tidak merasakan sakit." Kata Meisya menjelaskan. Bahkan air mata kini luruh begitu saja, mengigat mungkin saja, mbah nya sedang merasakan kesakitan akibat proses otopsi.
Melihat Air mata Meisya, membut hati Elang terasa nyeri. " Maafkan aku, aku tak tau tentang hal itu." Sesal Elang, merasa sangat bersalah pada Meisya.
Untuk setelah dialog ada dialog tag, itu pakai huruf kecil ya. Akhiran dialog itu pakai koma, jika bukan tanda tanya atau tanda seru, kecuali selanjutnya adalah aksi setelah dialog jika pakai titik.
Pliss namanya aestheticc bgt lhoo🫣
Contoh:
Dadanya bergedup kencang dan wajahnya peluh oleh keringat dingin yang membasahinya.
Ini contoh sederhana yang masih bisa disempurnakan.
→ Dengan hasutan...
→ Karena hasutan...
Tanpa menyebut lagi pun ini sudah menjelaskan.