Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketika tinggal terlalu lama
Sesampainya di vila Moses, sepupuku langsung meminta dipesankan Grab untuk pulang. Aku berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk. Setelah sepupuku pergi, aku melangkah masuk.
Saat itulah aku benar-benar terdiam. Tempat itu jauh lebih berantakan dari yang kubayangkan. Baju berserakan, minuman kosong, sisa makanan di mana-mana. Bahkan aroma di udara cukup menusuk hidungku. Aku menahan napas sejenak, ingin pergi, ingin melangkah keluar dan melupakan malam ini.
Namun, entah karena pengaruh alkohol, atau karena aku terlalu ingin merasa berguna, aku tidak langsung pergi. Aku mulai merapikan barang-barang yang berserakan, menata baju, dan membersihkan sedikit demi sedikit. Moses terlihat kaget. Dia menatapku dengan ekspresi campur aduk antara bingung dan kagum.
Moses: “Why are you doing this?”
Nanas: “I don’t like messy places. It makes me uncomfortable.”
Moses: “Wow… you just… started cleaning already?”
Nanas: “Well… I guess I can’t help it. And honestly, I don’t mind helping a little.”
Moses: laughs nervously “Okay… I didn’t expect that. Most people would just sit down.”
Nanas: “Most people? Yeah… I guess I’m not ‘most people.’”
Kami naik ke lantai atas, dan kamarnya lebih berantakan lagi. Pakaian berserakan, botol minuman, sisa makanan, bahkan beberapa tisu berserakan di mana-mana.
Aku kembali merapikan, meski tangan mulai lelah. Moses hanya berdiri, mengamati. Aku sendiri tidak tahu dari mana energi itu muncul. Mungkin karena tanggung jawab, mungkin juga karena aku ingin merasa bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat meski baru bertemu.
Nanas: “You should probably shower before lying down.”
Moses: “Yeah… I guess that’s a good idea.”
Kami masuk ke kamar mandi, membersihkan diri, dan suasana menjadi lebih tenang. Setelah itu, kami duduk sebentar dan berbicara ringan.
Moses: “I didn’t expect tonight to be like this.”
Nanas: “Neither did I. But sometimes unexpected nights turn out… better than planned.”
Moses: “True… yeah, better than planned.”
Aku merasa lega sekaligus canggung. Malam itu bukan tentang cinta, bukan tentang perasaan romantis, dan tentu bukan tentang mencari pengganti. Itu malam tentang aku sendiri. Aku belajar menempatkan diriku di ruang baru, melangkah ke situasi yang tidak familiar, dan menghadapi ketidaknyamanan dengan tenang.
Keesokan paginya, aku bangun dengan kepala pusing dan tubuh lelah. Matahari masuk melalui jendela vila, menyorot tumpukan barang yang masih belum tertata. Aku tersenyum, menyadari bahwa aku telah melakukan sesuatu yang jarang kulakukan: hadir sepenuhnya, peduli, dan bergerak.
Dan malam itu, di tengah kekacauan yang tersisa, aku akhirnya memahami satu hal penting: aku harus belajar membedakan antara menemani diri sendiri dan melarikan diri dari rasa sepi.
Aku harus belajar bahwa keberanian kecil, sekadar melangkah ke luar atau merapikan sesuatu, bisa menjadi awal untuk menemukan diriku sendiri kembali. Malam itu bukan tentang Moses, bukan tentang klub atau musik.
Malam itu adalah tentang aku—tentang bagaimana aku mulai menempatkan diriku lebih penting daripada menunggu atau berharap pada orang lain.
Dan di titik itu, aku sadar bahwa langkah kecil pun bisa menjadi awal dari perubahan besar, jika aku mau memperhatikannya dan menghargai diriku sendiri.
Malam itu bukan tentang Moses, bukan tentang klub atau musik. Malam itu adalah tentang aku—tentang bagaimana aku mulai menempatkan diriku lebih penting daripada menunggu atau berharap pada orang lain.
Dan di titik itu, aku sadar bahwa langkah kecil pun bisa menjadi awal dari perubahan besar, jika aku mau memperhatikannya, menghargai diriku sendiri, dan mulai membangun kebiasaan baru untuk menjaga diriku tetap utuh.