Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Tugas Di Malam Pernikahan
Aiza digiring menuju pelaminan oleh Sarah. Di sana, di atas pelaminan megah, Arjuna sudah berdiri menunggu kedatangan mempelai wanitanya.
Jantung Aiza tak berhenti berdetak semenjak ia melangkah meninggalkan kamar. Bukan karena grogi atau rasa bahagia yang teramat sangat seperti pengantin pada umumnya, namun detak jantung yang menandakan bahwa rasa sakitnya kian dalam. Mengingat pria yang menikahinya bukanlah orang yang ia cintai, melainkan orang lain yang sudah Allah pilih untuknya.
Usai menandatangani surat nikah, keduanya diminta untuk bersalaman. Aiza langsung meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan takzim. Namun, wajah si pemilik tangan itu terus menatap datar sejak tadi. Auranya dingin tanpa senyum sedikitpun. Bahkan sepanjang menyalami tamu dan kolega sang ayah, Arjuna tak terlihat senyum sedikitpun.
Dan setelah acara selesai, keduanya diminta beristirahat di kamar, namun ketika menuju kamar mereka, Agatha memanggil sang putra.
“Arjuna, ke kamar Mama sebentar!"
Wanita itu terlihat angkuh, melirik Aiza dengan tatapan merendahkan.
“Baik, Ma."
Tanpa membantah, Arjuna langsung mengikuti sang ibu ke kamarnya. Setelah tiba di kamar, tak lupa Agatha mengunci pintu. Disana sudah ada Dirgantara yang menunggu, duduk dengan gaya angkuhnya.
“Arjuna, kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan? Kali ini Papa nggak mau denger kamu ngebabantah lagi!”
"Maaf, Pa, tapi hari ini Arjuna ada jadwal penerbangan dan___"
“DAN AKAN MENEMUI PEREMPUAN M*NDUL ITU?!” Dirga langsung berdiri membent4k. “Arjuna! Papa sudah tau watak kamu itu. Mau sampai kapan sih kamu terus berhubungan sama pramugari m*ndul itu? Kamu sudah punya istri sekarang, dan kalian baru menikah. Apa harus malam ini juga berangkatnya?"
Arjuna memberanikan diri mengangkat kepalanya, menatap sang ayah yang selama ini ia segini.
"Lalu apa yang harus Arjuna lakukan kalau Arjuna memilih tetap tinggal? Malam pertama bersama wanita kampung itu? Itu kan yang Papa mau?” Arjuna tidak berucap kasar, namun nadanya terdengar dingin. Pria itu menyeringai pada papanya.
"Arjuna sudah memenuhi apa yang Papa mau, menikah dengan pilihan Papa. Tapi untuk menyentuhnya___ maaf, Pa, Arjuna tidak sudi. Dan satu lagi,.....wanita yang Papa panggil m*ndul itu punya nama, Pa. Namanya Briana Calista! Dan asal Papa tau, tidak memiliki keturunan bukan keinginannya!”
Seolah tak lagi sudi mendengar perintah sang papa, Arjuna lantas meninggalkan kamar orang tuanya dengan perasaan marah.
Ia berencana kembali kamarnya untuk menenangkan diri, namun alih-alih tenang, yang ada dia malah semakin murka karena melihat Aiza duduk disisi tempat tidurnya, di kamarnya.
"Aulia!” teriaknya pada salah satu asisten rumah tangga.
Yang dipanggil langsung menghadap sambil tertunduk takut. Dia paham betul, jika Arjuna sudah berteriak, maka habislah riwayat para meid di rumah itu.
"S-saya menghadap, Tuan muda. A-ada yang perlu saya bantu? Atau Tuan muda tidak menyukai sesuatu?” tanya meid itu gugup.
“Siapa yang menyuruhnya pindah ke kamarku? Bukankah waktu itu sudah saya bilang kalau kami akan tidur terpisah. Apa kamu lupa?!”
Aiza bingung, meid itu semakin menunduk takut.
"M-maaf, Tuan muda, t-tapi Tuan menyuruh saya memindahkan barang-barang nona Aiza ke kamar ini, saya tidak berani menolak,” ucap meid itu.
Arjuna menggeram frustasi, lalu mengusir meid itu tanpa sepatah katapun.
Arjuna masuk ke kamarnya, memilih acuh seolah tak ada siapa-siapa disana. Dia mengambil kopernya, memasukkan keperluan selama ia bertugas nanti.
Aiza yang melihat suaminya tampak sibuk sendiri pun memberanikan diri untuk bertanya. Ia beranjak dan mendekat, terlihat sangat gugup dan canggung.
“M-mas mau kemana? Kok berkemas?" tanya Aiza.
Tanpa menoleh dan tanpa menghentikan aktivitasnya, Arjuna pun menjawab. “Saya rasa kamu sudah diberi tahu kalau saya ini ada kapten pilot, jadi jangan terlalu berharap saya akan sering di rumah." Arjuna yang sudah selesai berkemas itu lantas menoleh pada Aiza.
“Mungkin saya akan pergi selama seminggu. Dan tolong kamu bilang sama papa, kalau kamu sudah mengizinkan saya untuk bekerja.” Pria itu menatap tajam pada Aiza. "Jangan berani-berani mengadu yang tidak-tidak!” tekannya. Arjuna hendak melangkah, tapi Aiza memegang ujung kemejanya.
"Mas, tapi kan kita baru menikah. Apa ndak sebaiknya Mas tunda dulu pekerjaannya." Wajahnya tampak memelas, tapi bagi Arjuna ekspresi itu semakin membuatnya muak.
Dia menyentak tangan Aiza dan terus melangkah pergi tanpa menjawab. Aiza hanya bisa menatap sedih kepergian suaminya. Dia merasa terhina, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Padahal, Aiza sudah menyerahkan seluruh raganya, meninggalkan kebahagiaannya dan menerima pernikahan yang tak ia inginkan itu. Tapi setelah semua rencana mereka tercapai, dia malah dianggap sebagai pajangan oleh suaminya sendiri.
Aiza hanya bisa terduduk lemah di lantai yang dingin itu, meratapi nasibnya yang seolah berantakan.
Setiap kali hatinya dipatahkan oleh keluarga itu, bayangan masa lalunya selalu terlintas di kepala. Aiza meremas dadanya kuat-kuat ketika senyum Gus Qais seolah membuai perasaannya.
“Ya Allah….. ampuni hamba ya Allah! Hamba tau merindukan pria lain adalah dosa besar, maka dari itu hamba mohon ya Allah, jangan biarkan setan masuk ke dalam rumah tangga hamba dan mas Arjuna.”
***
Ruang tunggu itu terasa begitu dingin dan mencekam. Di dalam sana, Warih sedang ditangani, namun entah bagaimana keadaannya. Qais berdiri mondar-mandir, di sana juga ada Umi Khasanah dan kyai Mukhtar yang menyusul setelah diberi tahu oleh Qais.
“Qais, apa ndak sebaiknya kamu kasih tau Aiza? Sebagai cucu, dia pasti sangat sedih melihat kondisi Mbahnya.”
Qais menghentikan gerakannya, menatap teduh pada sang Umi.
"Umi, tapi Aiza ndak punya ponsel, terus gimana cara menghubunginya?”
Umi Khasanah terdiam sesaat.
"Kalau nomor Bibinya kamu ndak ada?”
“Mboten, Umi."
Umi Khasanah ikut frustasi. Namun tiba-tiba kyai Mukhtar berucap sekedar memberi usul.
“Kenapa ndak kamu coba cari alamatnya saja, Le? Kasihan kalau Aiza ndak dikasih tau."
Qais tertegun untuk sesaat, namun tak lama kemudian dia mengangguk.
“In Syaa Allah, Abah, ba’da subuh nanti Qais akan mencoba mencari alamat Aiza.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍