Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebenaran
Setelah malam yang menghancurkan itu, Alarick tidak bisa tidur dengan tenang. Rasa mual itu memang ada, namun keinginan untuk memiliki Kate kembali justru semakin menggila, seperti sebuah anomali yang menyiksa logikanya. Di siang hari ia membenci Kate, namun di malam hari, ia terbangun dengan keringat dingin, membayangkan kulit Kate yang halus dan aroma lavender yang masih tertinggal di memorinya.
Akhirnya, Alarick memutuskan untuk bergerak. Ia tidak menggunakan informan keluarga Valerius yang biasa disiapkan oleh ibunya. Ia menghubungi Rio, sahabat lamanya dari geng Viper yang kini menjadi seorang detektif swasta spesialis pelacakan data.
"Rio, lacak Katarina Ayudia. Aku ingin rekam jejaknya selama Lima tahun terakhir. Semuanya. Tanpa ada satu pun yang terlewat," perintah Alarick melalui telepon, suaranya dingin dan mutlak.
Tiga hari kemudian, Rio datang ke kantor Alarick dengan sebuah map cokelat tebal. Wajah Rio tampak tidak biasa, ada sedikit rasa iba yang tertangkap oleh mata tajam Alarick.
"Al, gue nggak tahu harus mulai dari mana. Tapi sepertinya pandangan lo tentang dia... sangat salah," ujar Rio sambil meletakkan map itu di atas meja jati Alarick.
Alarick membuka map tersebut. Matanya langsung tertumpu pada catatan aktivitas Kate.
Data itu menunjukkan bahwa selama Lima tahun terakhir, Kate tidak pernah hidup mewah. Tidak ada catatan mengenai apartemen mewah pemberian pria kaya, tidak ada saldo bank yang mencurigakan. Sebaliknya, catatan itu memperlihatkan perjuangan yang berdarah-darah.
Pukul 07.00 - 16.00: Kate bekerja sebagai asisten peneliti di sebuah laboratorium kecil dengan gaji yang nyaris tidak cukup untuk makan.
Pukul 17.00 - 22.00: Ia bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe pinggiran.
Pukul 23.00 - 03.00: Ia mengambil proyek lepas (freelance) sebagai penerjemah dokumen teknis untuk mendanai pengobatan bibinya yang sempat jatuh sakit di luar kota.
"Dia kerja siang malam, Al," tambah Rio. "Gue nemuin data dari rumah sakit di kota sebelah. Bibi Sarah kena serangan jantung setahun setelah Kalian berpisah, dan Kate yang nanggung semua biayanya sendirian. Dia bahkan pernah pingsan di jalan karena kelelahan dan malnutrisi."
Alarick merasa jantungnya seperti diremas oleh tangan raksasa. Pria kaya? Kehidupan mewah? Semua itu hanyalah fatamorgana yang sengaja ditiupkan ke telinganya.
"Satu lagi," Rio menyodorkan sebuah foto satelit dari area kontrakan kumuh tempat Kate tinggal sebelum ia sukses membangun firma risetnya sendiri setahun belakangan. "Cewek yang lo bilang hina ini, tinggal di kamar sempit yang bahkan lebih kecil dari kamar mandi apartemen lo. Dan yang paling penting... tidak ada catatan laki-laki mana pun yang pernah masuk ke sana. Tidak satu pun."
Tangan Alarick gemetar memegang berkas itu. Ia teringat kembali kata-katanya yang menghina Kate di apartemen. Ia teringat bagaimana ia menyebut Kate "dimasuki pria lain" dan bagaimana ia merasa mual karena percaya pada fitnah itu.
Padahal, kenyataannya Kate sedang bertarung dengan maut dan kemiskinan, sementara ia duduk di kursi empuk Valerius Group sambil memaki namanya.
Rasa haus akan Kate yang selama ini ia anggap sebagai nafsu kotor, kini berubah menjadi rasa sakit yang amat dalam. Gairah itu muncul lagi, tapi kali ini bukan sekadar ingin menguasai tubuh Kate, melainkan ingin berlutut di kaki gadis itu dan memohon ampunan.
Malam itu, Alarick mengendarai mobilnya sendiri menuju kantor firma riset milik Kate. Jam menunjukkan pukul 02.00 pagi. Lampu di lantai atas masih menyala.
Ia masuk menggunakan akses yang ia dapatkan secara paksa melalui sistem keamanan. Di sana, ia menemukan Kate.
Gadis itu tertidur di meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan dokumen. Wajahnya terlihat pucat, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan betapa ia tidak mengenal waktu untuk bekerja. Tangan Kate masih memegang pulpen, dan di sampingnya terdapat segelas kopi dingin yang sudah basi.
Alarick mendekat dengan langkah pelan. Ia menatap wajah Kate yang terlelap, wajah yang dulu sering ia kecup dengan penuh kasih. Gairah liar kembali menyerang Alarick saat melihat bibir Kate yang sedikit terbuka, namun kali ini rasa mual itu tidak ada. Yang ada hanyalah rasa ingin melindungi yang membuncah.
Ia menyentuh pipi Kate dengan jemarinya yang gemetar. Kate tersentak, matanya terbuka perlahan dan ia langsung membeku saat melihat Alarick berdiri di depannya.
"Alarick? Apa yang kamu lakukan di sini?" suara Kate serak, ia mencoba berdiri namun kakinya yang lemas membuatnya hampir terjatuh.
Alarick dengan sigap menangkap pinggang Kate, menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat. "Kenapa kamu berbohong, Kate?" bisik Alarick tepat di telinganya, suaranya pecah karena penyesalan. "Kenapa kamu bilang kamu bersama pria lain, padahal kamu hampir mati kerja siang malam hanya untuk bertahan hidup?"
Kate terdiam, tubuhnya menegang dalam dekapan Alarick. Rahasianya mulai terancam. "Lepaskan, Alarick. Aku lelah."
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi," desis Alarick. Ia membenamkan wajahnya di leher Kate, menghirup aroma yang sangat ia rindukan. Gairah itu kembali meledak, namun kali ini Alarick mencium Kate dengan penuh permintaan maaf, sebuah ciuman yang putus asa, seolah ia ingin menghapus semua kata-kata jahat yang pernah ia ucapkan.
"Aku tahu semuanya, Kate. Semuanya," gumam Alarick di sela ciumannya yang kini beralih ke bibir Kate. "Siapa yang mengancammu? Katakan padaku, siapa yang bikin kamu ketakutan sampai harus menghina dirimu sendiri di depanku?"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading😍😍