Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Alasan Grace Balas Dendam
Grace merasa rencananya gagal. Malam itu Grace pulang dengan wajah murung.
Hugo yang sedang duduk di lantai langsung menoleh.
"Ibu?" tanyanya pelan. "Kenapa wajah ibu murung seperti itu?"
Biasanya Grace akan menjawab dengan senyum tipis, atau sekadar mengusap kepala putranya sebelum menyiapkan makan malam
Tapi malam itu ia berdiri beberapa saat di ambang pintu dengan penuh amarah yang tidak terluapkan
"Apa yang terjadi di castle?" Hugo kembali bertanya.
Grace menutup pintu, lalu meletakkan keranjang yang dibawanya dengan suara agak keras. Ia mencoba menahan diri.
Namun bayangan kejadian sore tadi kembali teringat di kepalanya, tatapan Thaddeus yang menuduh, mangkuk yang tumpah, dan tamparan Arion pada putranya sendiri.
"Mereka pikir mereka selalu benar," gumamnya.
Hugo berdiri dan mendekat. "Siapa, Ibu?"
"Orang-orang di castle itu," jawab Grace, suaranya mulai bergetar.
"Raja dan ratu. Mereka pikir dunia hanya milik mereka."
Hugo terdiam. Ia belum pernah melihat ibunya seperti ini.
Grace duduk perlahan di kursi kayu, kedua tangannya mengepal di atas pangkuan. Emosi yang selama ini ia simpan rapi akhirnya pecah.
"Ibu akan membalas mereka, Hugo."
Hugo terdiam sejenak.
"Membalas apa, bu?"
Grace menatap anaknya. Mata itu tidak lagi sekadar lelah, mata itu penuh luka yang belum sembuh.
"Kau tidak ingat, ya?" suaranya melembut, tapi justru lebih menyakitkan
"Kau dan Thaddeus dulu selalu bersama."
"Kalian berteman sejak kecil. Sejak umur lima tahun. Ia sering datang ke hutan dekat rumah kita. Kau tertawa bersama. Bermain tanpa tahu batas waktu pulang."
Hugo mulai mengingat kembali kebersamaannya dengan Thaddeus, layaknya anak kecil yang bermain bersama.
Grace menarik napas panjang.
"Saat itu Greta masih tiga bulan di kandungan Ratu Chelyne," lanjutnya pelan.
"Castle sedang sibuk. Ibu bekerja seperti biasa. Kau dan Thaddeus pergi bermain.”
Hutan yang selalu dianggap tenang ternyata menyimpan bahaya. Tanah lembap, dedaunan licin, dan jurang yang tersembunyi di balik semak.
"Thaddeus terpeleset," bisik Grace.
"Ia jatuh ke jurang, tapi masih sempat berpegangan pada akar kayu."
Hugo menutup mulutnya. Potongan ingatan itu kembali dengan jelas.
"Aku lari memanggil Ayah," ucapnya pelan.
Grace mengangguk.
"Ayahmu sedang menanam di ladang. Tanpa pikir panjang ayahmu berlari menyelamatkan pangeran kecil itu."
Suaranya bergetar ketika mengucap kata
"Ayahmu menyelamatkan Thaddeus."
"Ayahmu menarik Thaddeus ke atas. Tubuh kecil itu selamat."
Grace berhenti sejenak, menelan sesuatu yang terasa pahit.
"Tapi tanah di bawah kaki ayahmu runtuh."
Hugo memejamkan mata.
"Ia terpeleset. Jatuh ke dalam jurang yang sama."
Grace menunduk.
"Di dasar jurang ada batu dan batang kayu tajam. Kepalanya menghantam batu. Kayu itu menggores tubuhnya. Darah mengalir deras."
Sunyi memenuhi ruangan kecil itu.
"Berita sampai ke castle." lanjut Grace. "Raja datang."
Hugo menatap ibunya dengan napas tertahan.
"Raja Arion memeluk putranya, Ia memastikan Thaddeus tidak terluka"
"Itu wajar, bu." gumam Hugo tanpa sadar.
Grace tersenyum pahit.
"Wajar, ya. Tapi saat yang lain masih berusaha mengangkat tubuh ayahmu, saat ibu berlari pulang dan melihat suamiku berlumur darah... Raja hanya berkata satu kalimat."
Ia menatap kosong ke depan.
"Ini takdir."
"Lalu Raja Arion membawa Thaddeus kembali ke castle."
Hugo mengepalkan tangan.
"Ia bahkan tidak menunggu," lanjut Grace.
"Tidak melihat bagaimana kondisi ayahmu. Bahkan Ratu tidak menanyakan bagaimana keadaan ibu saat itu."
Air mata mulai menggenang di sudut matanya, tapi ia tidak membiarkannya jatuh.
"Malam itu, suamiku meninggal."
"Dan Raja berkata itu takdir," ulangnya lirih.
...****************...
Hugo duduk perlahan di lantai. Selama ini ia hanya tahu ayahnya meninggal karena kecelakaan. Ia tidak pernah tahu bagaimana semuanya terjadi.
"Ibu berusaha sekuat tenaga supaya tidak terlihat lemah demi kau, Hugo."
"Ibu hanya berdoa, semoga Tuhan memberkati kau dan ibu, menguatkan ibu sampai sekarang."
Hugo perlahan menundukkan kepalanya, diusianya yang sekarang mungkin Ia sudah mengerti apa maksud Grace
"Dan ibu masih ingat satu hal."
"Satu hal?" tanya Hugo
"Saat hari terakhir penutupan peti ayahmu, bahkan Raja Arion tidak datang."
Grace menahan air matanya
"Tapi saat penguburan ayahmu, disitu lah satu keluarga itu datang. Raja, ratu, dan Thaddeus. Mereka bahkan tidak mengucapkan apapun pada ibu, Hugo." ujarnya sedikit terisak.
Mereka dulu masih kecil, tidak memiliki ingatan yang jelas, bahkan saat Thaddeus pun ingin mengingat itu hanya terbayang samar-samar.
"Dua bulan pertama ibu tidak marah," Grace melanjutkan.
"Ibu hanya hancur dan mencoba menerima kepergian ayahmu. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa memang ini sudah garisnya."
Ia terdiam sejenak.
"Tapi ketika Greta lahir..."
Suaranya berubah.
"Ibu melihat mereka lengkap. Raja tersenyum. Ratu menangis bahagia. Thaddeus berdiri di samping tempat tidur ibunya. Keluarga mereka utuh."
Ia menatap Hugo.
"Sejak saat itu ibu sadar bahwa mereka tidak akan pernah tahu rasanya kehilangan seperti yang kita rasakan."
Ia berdiri, berjalan ke jendela.
"Ibu tidak membenci Thaddeus kecil waktu itu. Ibu bahkan tidak membenci Chelyne dulu."
Ia tersenyum samar, mengingat masa lalu.
"Ibu dan Chelyne pernah tertawa bersama. Sebelum Ia menjadi ratu dan sebelum jarak itu ada. Saat ia menjadi ratu, ibu memilih menjaga batas."
Semenjak saat itulah Grace bersikap profesional.
Hugo berdiri perlahan. "Ibu... membalas dendam bukan berarti Ayah akan hidup kembali."
Grace menoleh.
"Ibu tahu," jawabnya pelan. "Ibu tidak ingin ayahmu kembali, ibu hanya ingin mereka mengerti."
"Mengerti apa, ibu?" tanya Hugo
"Rasanya kehilangan." jawab Grace getir.
Apakah Grace salah?
Secara hukum dan nurani, balas dendam dengan membunuh jelas salah.
Grace bukan orang jahat yang lahir begitu saja. Ia seorang ibu yang kehilangan suami, Ia wanita yang merasa tak dianggap dan merasa ditinggalkan oleh sahabatnya.
Dan ia berbisik pada dirinya sendiri
"Apakah aku harus menyingkirkan Thaddeus dulu atau langsung menghancurkan mereka sekaligus?"
karena dia gak perlu ngerasa sakit.
asumsi orang dulu emang rada-rada ya.