"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_34
Hujan turun tanpa jeda, rapat dan deras, seolah langit lagi-lagi menumpahkan seluruh bebannya malam ini. Air menghantam atap dengan irama yang tak beraturan—kadang cepat, kadang berat—seolah mengikuti detak jantungku sendiri.
Angin ikut menderu, menggoyang dedaunan di luar jendela. Tirai kamar sesekali berkibar, bayangannya menari di dinding yang temaram. Kilat menyambar berkali-kali, cahayanya menyelinap lewat celah gorden, memantul sebentar sebelum lenyap. Petir menyusul, suaranya menggelegar panjang, meninggalkan getaran halus di dada.
Aku menggeliat kecil di balik selimut, lalu menoleh ke arah Naren yang sudah tidur lelap membelakangiku. Punggungnya terlihat kokoh, garis bahunya jelas meski hanya tertutup kaus tipis. Napasnya teratur, tenang—seolah hujan dan petir di luar hanyalah musik pengantar tidur baginya. berbanding denganku yang justru semakin terjaga.
“Haiss… kenapa petirnya makin kencang sih,” gumamku lirih. Aku suka hujan, tapi aku benci petir.
Suara hujan di atap terdengar semakin padat, sepertinya enggan untuk berhenti. Aku mencoba mengabaikannya dan memaksa menutup mata.
Drrtt… drrtt…
Ponsel Naren bergetar cukup keras di atas nakas. membuyarkan niat awal ku untuk segera menyusul Naren ke alam mimpi. Awalnya aku mengabaikan, tapi getarannya terus berulang. Takut itu panggilan penting, akhirnya aku merangkak pelan, melompati Naren, lalu meraih ponsel itu.
~My Ajeng~
“Cih,” desisku pelan. Aku menatap layar beberapa detik, lalu membiarkan panggilan itu mati sendiri.
Belum sampai semenit, ponsel itu bergetar lagi. Aku menghela napas panjang, melirik Naren yang masih terlelap, lalu menatap layar lagi. Pikiran jahil tiba-tiba muncul.
Hujan di luar makin deras, petir kembali menyambar, kali ini terasa lebih dekat—seolah ikut mendukung ketegangan di dadaku.
Panggilan ketiga masuk.
Aku menutup mata sebentar, mengatur napas, lalu mengangkat telepon. Jari-jariku sedikit gemetar, tapi suaraku kubuat tetap datar.
“Sayang, kamu bisa ke sini nggak?” suara Ajeng terdengar begitu dibuat-buat. “Aku takut. Hujannya deras banget, petirnya serem.”
Aku diam sesaat, menatap langit-langit kamar yang sesekali tersambar kilat. Ada panas yang mengumpul di dada.
“Sayang?” Ajeng menyela. “Narendra kok diem?” suaranya terdengar meninggi
“Hm… minta ditemani petugas ronda aja,” jawabku santai. “Naren nya udah bobok.” lanjutku dengan nada mengejek
“Elo?!” suaranya memekik
“isshh..hp nya lo telen apa gimana? kenceng banget suara lo, bikin sakit telinga. gak takut bangunin satu kampung?" sahutku semakin memancing amukannya
“Dasar perempuan lancang! berani beraninya lo nyentuh ponsel Naren. Mana Narendra? Cepet kasih ponselnya ke dia!”
Aku tersenyum tipis. “Dih..ngatur. Lagian, jadi perempuan tuh mahal dikit ngapa sih. Malam-malam nelepon suami orang. kelihatan harga diri lo tuh obralnya ngobral banget tau nggak?"
“Hahaha… suami?” tawanya penuh ejekan. “Status boleh suami lo, tapi di hatinya cuma ada gue.” jawabnya bangga dan tak tau malu
“Oh ya?” balasku santai
“Perempuan licik kayak lo nggak bakal bisa gantiin posisi gue di hati Narendra. Cepat atau lambat dia bakal ninggalin lo.”
Petir menyambar keras tepat setelah ucapannya. Aku menghela napas, lalu tersenyum kecil.
“Ah… Mas, bentar dulu ih, Masih angkat telepon.” kataku dengan nada suara ku buat sesensual mungkin, bahkan aku sendiri saja geli mendengarnya
“Halo, Naren! Kamu lagi ngapain?” teriak Ajeng.
“Menurut kamu?” jawabku menyeringai. “Suami-istri, pengantin baru, hujan begini, Kira-kira kegiatan apa yang bisa di lakukan?"
“Naren! Dia bohong, kan?” suaranya hampir pecah di ujung telepon
Aku menutup panggilan itu kemudian. membiarkan jalang itu meradang dengan pemikiran liarnya. Layar ponsel kembali gelap, hujan kembali jadi suara utama di kamar.
Aku segera menghapus riwayat panggilan, mengelap layar ponsel dengan ujung selimut, lalu menaruhnya persis seperti semula. Kalau besok dia ngadu, aku sudah siap menghadapi amukan Narendra.
Sesaat setelah itu Naren bergerak gelisah dalam tidur nya. Bahunya bergeser, tubuhnya berbalik setengah. Tangannya meraih udara kosong, seolah mencari sesuatu.
Aku buru-buru berbaring dan memejamkan mata, pura-pura tidur. Jantungku berdegup kencang, tapi napasku kuatur supaya tetap terdengar normal.
“Tidur aja kelihatan cantik,” bisiknya pelan.
Dadaku terasa hangat. Sentuhan lembut mendarat di pipiku, ibu jarinya mengusap pelan, lalu turun ke perut rataku. Aku nyaris refleks menggeliat, namun sebisa mungkin kutahan.
“Bahkan kamu masih kelihatan menggoda meski pakai hijab dan piyama kayak gini, ” lanjutnya sambil tertawa kecil.
Sudut bibirku tak tertahan bergerak menahan senyum. akhirnya aku pura-pura menggeliat pelan. dan benar saja, seketika Naren langsung diam, pura-pura tidur saat aku membuka mata.
“Masih hujan,” lirihku sambil melirik jendela yang basah.
Perlahan kulepas hijab, membiarkan rambutku terurai jatuh ke bahu. Aku membuka laci nakas, pura-pura mencari sesuatu. niat ku, tentu saja agar Narendra tidak terus berpura-pura masih tidur
“Ngapain?” tanyanya, suaranya serak.
“Cari minyak kayu putih. Kayaknya aku masuk angin.” sambat ku asal. karena hanya itu yang terlintas di otak ku
“Di kotak P3K. Biar aku ambilin.”
Ia bangkit, kembali dengan botol kecil, lalu menaikkan suhu AC. Gerakannya sederhana, tapi penuh perhatian.
“Nih.”
Aroma minyak kayu putih langsung menyebar saat kuoleskan ke perut. Hangatnya pelan-pelan menjalar. Pandangan Naren tertahan, mengikuti gerak tanganku.
“Mau kubantu?” tanyanya rendah.
Aku membeku, terdiam beberapa saat. kemudian mengangguk. jika malam ini harus terjadi sesuatu, maka terjadilah. toh memang sudah seharusnya suami istri melakukan kewajiban batiniah.
Sentuhannya terasa lembut, gerakannya membentuk lingkaran kecil, menenangkan. Aku menghela napas tanpa sadar. Hujan di luar terdengar seperti irama pengiring napas kami.
Saat tangannya berhenti, ia menatapku lama. Ada ragu, ada keinginan, namun segan. atau mungkin takut. entah pada diriku, atau pada janjinya dengan jelang itu. wajahnya menegang kemudian satu tangannya terangkat mengusap rambutku, menyelipkannya ke belakang telinga.
“Mau?” tanyaku pelan dan lirih. aku beranikan diri menatap matanya dalam. rasa tak sudi kalah saing dengan Ajeng membakar dadaku
“Boleh?” tanyanya dengan tatapan semakin sayu
“Aku istrimu.”
Senyum itu muncul—hangat, jujur. Dahinya menyentuh dahiku sejenak, seolah minta izin sekali lagi. aku hanya mampu memejamkan mata, karena tak kuat menahan debar. ini memang bukan yang pertama mereka melakukan ini, tapi ini adalah kali pertama Narendra melakukan secara sadar.
jemarinya menggenggam tanganku, ibu jarinya mengusap pelan. Aku menyandarkan kepala di dadanya, mendengar detak jantungnya menyatu dengan suara hujan.
“Mas hafal doa sebelum melakukan itu kan?” tanyaku ragu
“Di luar kepala.” jawabnya tanpa jeda
Ia melafalkan doa dengan khusyuk. Aku memejamkan mata, ikut merapalkannya dalam hati. Petir terakhir menyambar, lalu hujan mulai melembut, seperti memberi ruang untuk malam bernapas.
Malam berlanjut dengan keintiman yang hangat namun terjalin saling menghargai. tawa kecil kami terbit tanpa alasan, ada sentuhan sederhana—usap punggung, kecupan di kening—yang terasa bermakna. tidak ada gerakan yang tergesa, tidak ada kemauan yang dipaksakan. semuanya terjadi atas kesadaran penuh. dan berakhir dengan deras tetesan peluh
tenagaku benar-benar terkuras habis, aku bahkan hanya merebah dan membiarkan Narendra seorang diri membereskan kekacauan yang tadi kami ciptakan. Naren memastikan aku nyaman. Ia merapikan selimut, menyingkirkan botol kecil di ranjang, lalu menarikku lebih dekat. Lengannya melingkari bahuku, hangat dan erat
“Masih ada waktu satu jam sebelum subuh, istirahatlah,” katanya pelan.
“Hu’um.”
Sebelum benar-benar terlelap, aku berdoa dalam hati—semoga malam ini menjadi awal yang baik. Semoga aku bisa menjadi satu-satunya mengisi hatinya tanpa dua. Dan jika Tuhan berkehendak, semoga kelak ada penerus yang terlahir dan akulah yang menjadi ibunya.
Di luar, hujan perlahan reda, menyisakan gerimis dan aroma tanah basah. Di dalam kamar, aku memilih percaya kemanapun takdir membawa hubungan ini melangkah
plisss dong kk author tambah 1 lagi