Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Setelah kondisi pernapasannya dianggap stabil, Dokter Ramlan memberikan izin untuk memindahkan Swari dari ruang ICU yang dingin.
Beberapa perawat dengan sigap mendorong ranjang Swari menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang VVIP yang telah dipesan khusus oleh Baskara—ruangan yang lebih luas, nyaman, dan penuh dengan bunga segar untuk menyambut kembalinya sang "putri tidur".
Baskara berjalan tepat di samping ranjang, tangannya tak pernah lepas menjaga sisi brankar, meski ia tahu Swari masih enggan menatapnya.
Begitu pintu ruang VVIP terbuka, dua sosok kecil yang sudah sangat merindukan ibunya langsung berdiri dari sofa.
Alex dan Alexandria berlari kecil, namun segera mengerem langkah mereka saat melihat banyak kabel masih menempel di tubuh Mama mereka.
"Mama!" Alexandria berseru lirih, air matanya langsung jatuh saat melihat mata Mamanya benar-benar terbuka.
"Ssttt... pelan-pelan, Sayang. Mama masih lemas," bisik Ratri yang menjaga mereka di sana.
Swari, yang tadinya terlihat sangat muram dan terus menangis, seketika menoleh saat mendengar suara itu.
Senyum tipis yang sangat lemah muncul di bibirnya yang pucat.
Ia mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah kedua buah hatinya.
"A-alex... Alexandria..." bisik Swari parau.
Alex memanjat ke sisi tempat tidur dengan hati-hati, memegang tangan Swari yang bebas dari infus.
"Mama, jangan tidur lama-lama lagi ya? Alex takut."
"Mama nggak tidur lagi, Sayang... Mama di sini," sahut Swari dengan suara yang pecah oleh keharuan.
Ia mendekap kepala Alexandria yang kini sudah menyandarkan wajah di bahunya.
Baskara yang menyaksikan pemandangan itu dari sudut ruangan hanya bisa terdiam.
Ia melihat bagaimana kehadiran si kembar adalah obat yang jauh lebih manjur daripada cairan infus mana pun.
Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, suasana di ruangan itu tidak lagi terasa mencekam, melainkan hangat oleh rindu yang terbayar.
Melihat anak-anak sudah mulai tenang dalam pelukannya, Swari akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Baskara.
Matanya menyapu wajah pria itu yang terlihat sangat tidak terawat.
Ada rasa sesak melihat pria yang biasanya begitu angkuh dan rapi kini terlihat sekacau itu hanya demi menunggunya.
"Bas..." panggil Swari dengan suara yang masih sangat serak.
Baskara langsung tegak dari posisinya, matanya berbinar.
"Iya, Swa? Ada yang sakit? Kamu butuh sesuatu?"
Swari terdiam sejenak, lalu tangannya yang lemas menunjuk ke arah rahang Baskara.
"Bersihkan dirimu. Cukur brewok itu, kamu terlihat... berantakan."
Baskara yang mendengar itu justru tersenyum tipis. Ia mengusap brewok tebal di dagunya yang terasa kasar.
"Kenapa? Aku merasa terlihat lebih tampan seperti ini, Sayang. Lebih terlihat seperti pria yang sangat mencintai istrinya, bukan?" goda Baskara, mencoba mencairkan suasana yang kaku.
Swari memutar matanya pelan, meski sudut bibirnya hampir tertarik untuk tersenyum.
"Ishhh... jangan percaya diri. Itu menjijikkan, Bas. Bau obat dan debu menempel di sana. Cepat cukur atau aku tidak mau kamu duduk di dekatku."
Mendengar "ancaman" itu, Baskara tertawa kecil—sebuah tawa yang terdengar sangat lega setelah beban berat yang ia pikul selama dua bulan ini.
Ia merasa separuh nyawanya telah kembali hanya dengan mendengar Swari mengomelinya lagi.
"Baik, Nyonya Surya. Perintah diterima," ucap Baskara sambil berdiri.
Ia sempat mengusap kepala Alex dan Alexandria sebelum melangkah menuju kamar mandi VVIP tersebut.
"Tunggu di sini, aku akan kembali sebagai Baskara yang paling tampan untukmu."
Swari hanya menatap punggung Baskara yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Di dalam sana, terdengar suara gemericik air, menandakan Baskara benar-benar mulai membersihkan diri dari segala kelelahan dan rasa bersalah yang selama ini menyelimutinya.
Sambil menunggu Baskara di kamar mandi, Alex dan Alexandria berebut tempat untuk duduk lebih dekat dengan Swari.
Mereka seolah tidak ingin melepaskan sedetik pun waktu tanpa menyentuh ibu mereka.
"Mama tahu nggak?" Alexandria berbisik sambil memainkan jemari Swari.
"Papa tidurnya di kursi keras di depan pintu. Alen pernah lihat Papa nangis sambil pegang foto Mama."
Alex mengangguk mantap, membenarkan ucapan adiknya.
"Iya, Ma. Papa nggak pernah pulang ke rumah. Katanya, kalau Mama bangun tapi Papa nggak ada di depan pintu, nanti Mama bingung cari Papa. Papa brewokan karena nggak mau ninggalin Mama cuma buat cukuran."
Mendengar cerita polos anak-anaknya, hati Swari terasa seperti diaduk-aduk.
Ia tidak menyangka Baskara akan seputus asa itu.
Swari kemudian mengalihkan pandangannya, menatap Ratri yang berdiri di ujung ranjang dengan mata berkaca-kaca.
"Mbak..." panggil Swari lirih.
Ratri mendekat, mengusap dahi adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Sayang? Ada yang sakit?"
Swari tersenyum sangat tipis, setetes air mata rindu jatuh di pipinya.
"Mbak, aku kangen soto ayam buatan Mbak. Rasanya sudah lama sekali aku nggak makan masakan Mbak yang hangat."
Ratri tertawa kecil di tengah tangis harunya. Ia menggenggam tangan Swari erat.
"Beres, Swa! Besok Mbak masakin yang paling enak. Mbak bawa ke sini pakai rantang besar biar kamu cepat gemuk lagi. Mbak juga kangen cerewetnya kamu kalau minta nambah soto."
Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Baskara keluar dengan wajah yang sudah bersih.
Brewok tebalnya telah sirna, menyisakan rahang tegas yang kini terlihat segar meski matanya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan.
Ia memakai kaus bersih yang diambilkan Navy dari mobil.
Baskara mematung melihat Swari yang sedang bercengkrama dengan Ratri.
"Kenapa? Ada yang bicara soal soto ayam?"
Swari menatap Baskara, matanya sempat tertegun sesaat melihat wajah pria itu yang kembali ke "setelan pabrik"—tampan dan berwibawa. Namun, ia cepat-cepat membuang muka agar Baskara tidak besar kepala.
"Dengar ya, Bas. Mbak Ratri mau buatkan aku soto. Kamu jangan coba-coba minta bagian," ketus Swari, meski nada bicaranya sudah jauh lebih lembut dari sebelumnya.
Baskara langsung memasang wajah memelas, ia mengerucutkan bibirnya sambil menatap anak-anaknya.
"Dengar itu, Alex, Alen? Papa yang sudah jadi penjaga pintu selama dua bulan, malah tidak diajak makan soto. Sepertinya Papa harus makan di kantin rumah sakit sendirian," ucapnya dengan nada yang dibuat sedih secara berlebihan.
Alex dan Alexandria tertawa cekikikan melihat kelakuan lucu Papa mereka.
"Papa kasihan, Ma! Kasih sedikit kuahnya saja," celetuk Alexandria sambil menutup mulutnya yang tertawa.
Tepat saat suasana sedang cair, pintu kamar VVIP itu terbuka lebar.
Nyonya Widya masuk dengan anggun, membawa beberapa kotak hadiah besar yang dibungkus kertas kado cantik dan sebuah buket bunga lili putih kesukaan Swari.
"Sepertinya ada yang sedang berebut soto di sini," ucap Nyonya Widya dengan senyum penuh arti.
Ia mendekat, mencium kening Swari dengan tulus sebelum meletakkan hadiah-hadiah itu di meja.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Mama sangat senang kamu sudah sadar."
"Terima kasih, Ma. Swari sudah jauh lebih baik," jawab Swari dengan sopan, meski ia masih merasa sedikit canggung.
Nyonya Widya kemudian berbalik menatap Baskara yang baru saja selesai mengeringkan wajahnya dengan handuk.
Senyum di wajah sang ibu berubah menjadi tatapan menyelidik yang serius namun hangat.
"Lalu, kapan Mama bisa melihat kalian menikah secara resmi?" tanya Nyonya Widya dengan suara tegas namun tenang.
Suasana ruangan seketika hening. Baskara tertegun, tangannya yang memegang handuk membeku di udara.
Sementara itu, Swari langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela, pipinya yang pucat tiba-tiba memerah karena malu sekaligus bingung.
"Ma, Swari baru saja sadar..." gumam Baskara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Justru karena dia sudah sadar dan sudah sehat," potong Nyonya Widya sambil menggenggam tangan Swari.
"Alex dan Alexandria butuh status yang jelas. Dan Mama rasa, dua bulan penantian Baskara di depan pintu ICU sudah cukup membuktikan bahwa dia tidak bisa hidup tanpamu, Swa. Jadi, kapan?"
Alex dan Alexandria yang tidak mengerti detail masalahnya ikut berseru,
"Menikah itu yang pakai baju putri ya, Ma? Mau! Alen mau lihat Mama jadi putri!"
eh skrg muncul lagi mantan kakak ipar swari
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor