kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan yang Membusuk
Dengan langkah yang goyah namun dipenuhi tekad baja, ia bangkit dan berjalan menembus koridor gelap menuju Menara Petir. Angin malam kembali menderu, seolah memperingatkan akan adanya tindakan keji yang sebentar lagi akan dilakukan.
Di puncak menara, Penyihir Petir sedang merapikan botol-botol ramuannya yang berantakan akibat kegagalan sebelumnya. Ia terperanjat saat melihat Layla muncul dengan wajah pucat pasi namun mata yang memancarkan kebencian mendalam.
"Yang Mulia? Anda seharusnya beristirahat setelah kejadian di tebing itu," ucap sang Penyihir
Layla mencengkeram lengan sang Penyihir, kukunya yang tajam menembus jubah kain tua itu. "Bunuh parasit ini," desis Layla, . "Aku tidak akan membiarkan parasit ini menghisap kekuatanku. Keluarkan dia sekarang juga!"
Penyihir Petir tertegun. Namun, menatap mata Layla yang haus darah, ia tahu bahwa penolakan berarti kematian instan baginya. Dengan tangan gemetar, sang Penyihir membimbing Layla ke sebuah altar batu di tengah menara. Ia mulai merapal mantra dalam bahasa kuno yang membuat udara di sekitar mereka berderit oleh listrik statis.
Percikan petir ungu mulai menyelimuti tubuh Layla. Sang Ratu mengertakkan gigi, menahan rasa sakit yang luar biasa saat energi sihir mulai merayap masuk ke dalam tubuhnya, Dalam satu hentakan energi yang menyilaukan, sebuah gumpalan parasit kecil yang masih berlumuran darah keluar dari tubuh Layla, jatuh ke atas lantai batu dingin.
Layla terengah-engah, keringat dingin membasahi wajahnya. Begitu ia melihat makhluk kecil yang tak berdaya itu di lantai, amarahnya memuncak. Ia mengangkat sepatu boot zirahnya yang berat, berniat menginjak dan menghancurkan eksistensi tersebut hingga tak berbekas.
"Jangan, Yang Mulia!" teriak Penyihir Petir, dengan berani menahan kaki sang Ratu. "Meski kecil, ia membawa darah Atlas. Memusnahkannya secara hina akan membawa kutukan bagi kemenangan Anda. Biarkan ia menjadi saksi atas apa yang akan terjadi selanjutnya."
Layla mendengus hina, namun ia menurunkan kakinya. Rasa sakit di tubuhnya perlahan mereda, digantikan oleh kekosongan yang dingin. Sang Penyihir, yang kini merasa memiliki beban moral untuk menebus kegagalannya di medan perang tadi pagi, segera beralih ke kuali besar di sudut ruangan. Ia melemparkan beberapa helai rambut Layla dan sisa darah dari proses tadi ke dalam api hijau yang menyala.
"Saya akan menunjukkan pada Anda, Yang Mulia, bahwa saya bukan sekadar pembuat ramuan yang lambat," ucap Penyihir Petir dengan nada penuh ambisi. Ia merapal mantra penglihatan, memanggil energi astral untuk menembus pertahanan kerajaan faramis. Di dalam asap yang mengepul, muncul bayangan Raja Gris yang sedang merayakan kemenangan kecilnya di sebuah aula yang dikelilingi oleh pasukan Orc.
Sang Penyihir mengamati dengan teliti. Ia melihat koordinat energi di sekitar Gris, mendeteksi celah pada perisai sihir yang selama ini dijaga oleh Penyihir Hutan. "Ada jeda setiap tiga detik saat ia bernapas dalam meditasi sihirnya. Pertahanannya tidak sempurna," gumam sang Penyihir. Tanpa menunggu perintah lebih lanjut dari Layla yang masih terpaku, sang Penyihir berlari menuju pelataran menara.
Ia memanggil seekor Naga Api yang sedang beristirahat di dekat balkon istana. Dengan gerakan yang gesit, ia menunggangi naga itu sendirian, melesat membelah kegelapan malam menuju wilayah musuh. Angin kencang menerpa wajahnya, namun fokusnya hanya satu: kepala sang raja musuh.
Setibanya di atas kediaman Raja Gris, Penyihir Petir tidak membuang waktu. Ia mengangkat tongkatnya, memanggil awan hitam yang langsung menggulung di atas bangunan tersebut. "Rasakan amarah Atlas yang sesungguhnya!" teriaknya. Badai petir dahsyat menghujam ke bawah, menghancurkan atap dan melumpuhkan para penjaga Orc dalam sekejap. Bersamaan dengan itu, ia menyebarkan asap beracun berwarna ungu yang pekat, membuat para Echidna dan naga air musuh terbatuk-batuk hingga kehilangan kesadaran.
Di tengah kekacauan itu, Raja Gris muncul dari reruntuhan dengan wajah penuh kepanikan. Ia mencoba memanggil kekuatan airnya, namun asap beracun telah merusak fokus mantranya. Di saat sang raja lengah dan terhuyung akibat sesak napas, Penyihir Petir melompat dari punggung naga. Dengan satu gerakan tangan yang cepat, sebilah petir berbentuk pedang tercipta dan menebas leher Raja Gris hingga putus.
Penyihir Hutan yang mencoba menolong segera diserang oleh Naga Api yang ditunggangi sang penasehat. Semburan api raksasa menghanguskan sang penyihir musuh beserta seluruh tanaman sihir yang menjadi sumber kekuatannya. Tanpa membuang waktu, Penyihir Petir memungut kepala Raja Gris yang masih meneteskan darah, mengikatnya di pelana naga, dan terbang kembali menuju Atlas.
Fajar belum juga tiba ketika sang Penyihir mendarat kembali di aula istana. Ia berjalan masuk dengan langkah mantap, melemparkan kepala Raja Gris ke hadapan Ratu Layla yang masih terduduk di takhtanya.
"Kemenangan Anda telah tiba, Yang Mulia," ucap sang Penyihir dengan hormat. Layla menatap kepala musuh bebuyutannya itu, sebuah senyum kejam perlahan terukir di wajahnya. Atlas mungkin telah terluka, namun malam ini, mereka telah memenggal masa depan faramis.
Aula besar Istana Atlas bermandikan cahaya obor yang berkobar, memantulkan kemilau emas dari dinding-dindingnya yang kokoh. Bau daging panggang dan anggur yang kuat memenuhi udara, bercampur dengan tawa kasar para Minotaur dan denting senjata para Centaur yang diletakkan di sisi meja panjang. Malam itu, kemenangan dirayakan dengan kegilaan. Di tengah aula, di atas sebuah piring perak raksasa, kepala Raja Gris yang terpenggal diletakkan sebagai pusat perhatian—sebuah trofi yang membuktikan kehebatan Penyihir Petir.
Ratu Layla duduk di singgasananya, menyesap anggur merah dengan senyum kejam yang tak pernah lepas dari bibirnya. Delta, sang panglima, berdiri di sampingnya sambil sesekali memuji keberanian Penyihir Petir yang berhasil melakukan pembunuhan diam-diam tersebut. Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama.
Saat musik sedang mencapai puncaknya, tiba-tiba sebuah aroma busuk yang sangat menyengat menyeruak. Penyihir Petir, yang duduk di dekat trofinya, menyadari sesuatu yang mengerikan. Kepala Raja Gris yang tadinya tampak segar dengan darah yang mulai mengering, mendadak mengerut. Kulitnya berubah menjadi kelabu pucat, lalu perlahan layu seperti dedaunan yang terbakar sinar matahari. Dalam hitungan detik, wajah sang raja musuh itu kehilangan bentuknya, berubah menjadi tengkorak kering yang rapuh dan hancur menjadi debu hitam di atas piring perak.
Keheningan seketika menyelimuti aula. Musik berhenti, dan gelas-gelas anggur diletakkan dengan gemetar. Para prajurit saling pandang dengan ketakutan yang menjalar.
"Gris..." gumam Penyihir Petir dengan wajah pucat. Ia hendak merapal mantra pelacak untuk memanggil nama sang raja dan memastikan apakah itu sihir penyamaran, namun sebuah tangan yang dingin dan kuat mencengkeram bahunya.
"Hentikan," perintah Ratu Layla. Suaranya rendah namun penuh ancaman. Mata sang Ratu menyipit menatap debu hitam itu. "Jangan mempermalukan dirimu lebih jauh dengan memanggil nama mayat yang sudah hancur di depan rakyatku. Jika ini tipuan, kita akan mengetahuinya nanti."
Terhina dan bingung, Penyihir Petir melepaskan jubahnya dan melangkah pergi tanpa pamit. Ia menaiki anak tangga Menara Petir dengan langkah terburu-buru. Di puncak menara yang dingin, ia mengurung diri. Ia merenung di depan kuali sihirnya, mencoba memahami bagaimana kepala yang ia penggal sendiri bisa layu secepat itu. Hingga fajar menyingsing, ia hanya terdiam menatap ufuk, merasakan sebuah firasat buruk bahwa perang ini belum benar-benar berakhir.