NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Mobil hitam milik Rizal berhenti dengan tenang di bawah pohon rindang, beberapa meter dari gerbang pesantren.

Rizal dan Aisyah sengaja datang tanpa pemberitahuan, ingin melihat perkembangan putri mereka dengan mata kepala sendiri tanpa ada sandiwara yang dibuat-buat.

Dengan langkah perlahan, mereka berjalan menyusuri koridor asrama putri yang asri.

Suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an terdengar sahut-menyahut dari dalam ruang-ruang kelas.

Beberapa minggu kemudian, Rizal dan Aisyah diam-diam datang menjenguk dan melihat Intan sedang mengaji bersama Yuana dari balik jendela.

Mereka berdiri mematung di luar ruang kelas, bersembunyi di balik pilar agar keberadaan mereka tidak disadari.

Di dalam sana, Intan tidak lagi memakai pakaian mewah atau ekspresi angkuh.

Ia mengenakan gamis sederhana dan kerudung putih yang menutupi kepalanya dengan rapi.

Ia duduk bersila di atas karpet hijau, tampak sangat serius memperhatikan Yuana yang membantunya membetulkan tajwid pada sebuah ayat.

Aisyah tersenyum tipis. Air mata haru menggenang di sudut matanya.

Ia tidak pernah membayangkan akan melihat putrinya duduk bersimpuh di depan kitab suci dengan ketenangan seperti itu.

Rizal yang berada di sampingnya menggenggam tangan Aisyah dengan erat, merasakan kelegaan yang sama.

Melihat kehadiran kedua orang tua itu dari kejauhan, Ustadzah Mina memanggil Intan yang masih asyik dengan bacaannya.

"Intan, ada tamu untukmu di luar," ucap Ustadzah Mina dengan nada lembut yang meneduhkan.

Intan mendongak, wajahnya tampak bingung sesaat. Namun, begitu ia melangkah keluar kelas dan melihat dua sosok yang sangat ia rindukan berdiri di sana, pertahanannya runtuh.

"Mama... Ayah..." lirih Intan.

Ia berlari kecil, lalu langsung bersujud dan memeluk kaki Aisyah dengan erat.

Rizal yang biasanya tampak kaku, kini ikut membungkuk dan mengelus kepala putrinya, menyambut kembali anaknya yang sempat hilang arah.

Di bawah teduhnya selasar asrama, suasana haru itu perlahan mencair menjadi kehangatan yang nyata.

Intan masih sesenggukan di pelukan Aisyah, namun kini ia perlahan melepaskan pelukannya dan merogoh saku gamisnya.

Ia mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak lusuh karena sering dilipat.

Intan memberikan surat permintaan maaf yang telah ia tulis selama di pesantren.

"Ini untuk Mama dan Papa. Intan tulis setiap malam saat ingat betapa jahatnya Intan dulu," ucapnya dengan suara serak.

Rizal menerima surat itu, membacanya sekilas, dan menatap putrinya dengan pandangan bangga yang selama ini dirindukan Intan.

Melihat suasana mulai membaik, Aisyah teringat sesuatu.

Ia mengambil sebuah tas jinjing besar yang sedari tadi dibawa oleh Rizal.

"Mama bawakan sesuatu untukmu. Mama tahu kamu pasti rindu ini," ujar Aisyah sambil mengeluarkan beberapa toples bening.

Aisyah memberikan nastar untuk Intan dan teman-temannya.

"Ini buatan Mama dan Bi Inah kemarin sore. Masih segar dari oven."

Mata Intan berbinar. Aroma selai nanas dan mentega yang khas itu langsung mengingatkannya pada rumah.

Ia segera menoleh ke arah Yuana yang sedari tadi berdiri agak menjauh, memberikan ruang bagi keluarga itu.

"Yuana, ke sini!" panggil Intan sambil melambai.

Begitu Yuana mendekat dengan malu-malu, Intan merangkul bahu sahabatnya itu dengan bangga di depan orang tuanya.

"Mama, ini Yuana sahabatku. Dia yang menemani Intan saat Intan menangis, yang mengajari Intan mengaji, dan yang membuat Intan sadar kalau Intan punya orang tua yang luar biasa."

Aisyah langsung memeluk Yuana dengan penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih ya, Nak Yuana. Terima kasih sudah menjaga putri kami."

Rizal pun tersenyum, melihat perubahan besar pada diri Intan yang kini tidak lagi memandang orang dari status sosialnya.

Keangkuhan itu telah luntur, digantikan oleh ketulusan yang murni.

Taman pesantren yang hijau itu kini menjadi saksi bisu kembalinya kehangatan keluarga Baskoro.

Di bawah naungan pohon rindang, mereka makan nastar bersama di taman pesantren sambil merencanakan masa depan Intan setelah lulus.

Suara renyah nastar dan manisnya selai nanas seolah melarutkan sisa-sisa ketegangan yang pernah ada.

"Intan, Papa dan Mama sudah berdiskusi," ujar Rizal sambil memandang putrinya dengan serius namun lembut.

"Setelah kamu menyelesaikan masa belajarmu di sini dengan baik, Papa ingin kamu kembali ke jalur pendidikan yang benar. Tapi kali ini, bukan untuk pamer, melainkan untuk bekalmu memimpin perusahaan dengan jujur."

Intan mengangguk pelan. "Intan mau, Pa. Intan ingin belajar dari nol lagi."

Rizal kemudian mengalihkan pandangannya kepada Yuana yang duduk tenang di samping Intan.

Rizal tahu bahwa tanpa kehadiran gadis yatim piatu yang tulus ini, proses pertobatan Intan mungkin tidak akan secepat ini.

"Yuana," panggil Rizal.

"Kamu adalah anak yang cerdas dan berbudi luhur. Saya dengar dari Ustadzah Mina bahwa kamu sangat berprestasi namun terkendala biaya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi."

Yuana menunduk malu, "Saya hanya berusaha semampu saya, Pak."

Dengan senyum mantap, Rizal menawarkan Yuana beasiswa untuk sekolah bersama Intan nanti.

"Saya ingin kamu terus menemani Intan. Saya akan menanggung seluruh biaya pendidikanmu hingga sarjana. Kalian bisa sekolah di tempat yang sama, saling menjaga dan saling mengingatkan dalam kebaikan."

Mata Yuana membelalak, ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Air mata haru jatuh di pipinya.

"Bapak serius? Terima kasih banyak, Pak. Bu..."

Intan langsung memeluk Yuana dengan sangat erat.

"Kita akan sukses bareng-bareng, Yuana! Aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian lagi."

Aisyah yang melihat pemandangan itu mengucap syukur dalam hati.

Pengkhianatan yang menyakitkan beberapa bulan lalu ternyata menjadi jalan pembuka bagi lahirnya keluarga yang lebih luas dan penuh berkah.

Matahari mulai condong ke barat saat setelah itu Rizal dan Aisyah berpamitan kepada Intan, Yuana, dan pengurus pondok.

Perasaan lega yang luar biasa menyelimuti hati mereka berdua. Intan yang dulu membangkang, kini telah menemukan jalan pulang.

Namun, dalam perjalanan pulang ke arah kota, Aisyah menyadari bahwa Rizal tidak mengambil rute biasanya menuju rumah mereka.

Rizal melajukan mobilnya menuju ke sebuah hotel mewah di pusat kota, tempat yang tenang dengan pemandangan taman yang indah.

Aisyah menatap suaminya dengan penuh tanda tanya saat mobil berhenti di lobi.

"Mas, kenapa kita ke sini?" tanya Aisyah heran.

"Kenapa tidak langsung pulang saja?"

Rizal mematikan mesin mobil, lalu menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh kelembutan dan ketulusan yang sudah lama terpendam.

"Sudah waktunya untuk kita berdua, Sayang," jawabnya singkat namun bermakna dalam.

Rizal menggandeng tangan Aisyah dengan erat. Mereka masuk ke kamar hotel yang sudah disiapkan sebelumnya—sebuah kamar dengan suasana hangat dan aroma melati yang menenangkan.

Setelah menutup pintu, Rizal berdiri di hadapan Aisyah, memegang kedua bahu istrinya.

"Maafkan aku, Aisyah," ucap Rizal dengan suara berat.

"Sudah lama kita menikah tapi aku belum memberikan hakmu, dan sekarang aku akan memberikan hakmu."

Rizal menyadari bahwa selama ini pernikahan mereka dimulai dengan penuh keraguan, kesepakatan bisnis, dan gangguan dari masa lalu.

Ia sempat merasa tidak berdaya karena kondisi fisiknya dulu dan fokusnya pada pengkhianatan Intan. Namun kini, setelah badai mereda dan kakinya telah berdiri tegak kembali, ia ingin memulai segalanya sebagai suami yang sesungguhnya.

Aisyah merasakan degup jantungnya berpacu. Ia melihat kejujuran di mata pria yang dulu ia nikahi demi menyelamatkan martabat keluarganya, namun kini ia cintai karena keikhlasannya.

Malam itu bukan hanya tentang memenuhi hak dan kewajiban, melainkan tentang menyatukan dua hati yang telah melewati ujian hidup yang begitu hebat.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!