Alana adalah jaksa muda yang cerdas, karirnya menanjak drastis, berkacamata tebal, kaku, dan berpenampilan tidak menarik untuk menyembunyikan kecantikannya karena ia memiliki trauma di masa lalu terkait dengan kecantikan. Suatu ketika Alana menerima banyak sekali ancaman dan setelah itu, teman kantornya mengajaknya ke perusahaan besar yang menyediakan jasa bodyguard. Alana terpaksa mendatangi perusahaan besar itu meskipun ia tahu pemiliknya adalah pria yang selalu ia hindari, Archie Cwvendish. Archie adalah kakak tirinya Arthur dan Arthur adalah mantan pacarnya Alana. Archie juga dulunya tutornya Alana dan Archie diam-diam jatuh cinta pada Alana tapi Archie memilih mundur saat Arthur mengatakan bahwa Arthur mencintai Aluna. Apa yang akan terjadi saat Alana nekat menemui Archie dan meminta Archie menjadi bodyguard-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizbethsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembawa Sial
Setelah film pilihannya Alana selesai diputar tepat di jam setengah delapan malam, Archie terpaksa mengangkat tangannya dari atas lutut Alana lalu ia berdiri kemudian bergegas keluar dari deretan bangku agar Alana dan orang-orang di belakang Alana bisa melangkah keluar dengan cepat dari deret bangku tersebut. Archie mundur selangkah lalu menoleh ke Alana.
Alana sontak berkata dalam hatinya, aduh kok udah selesai filmnya. Apakah aku bisa berdiri tegak? Kalau aku berdiri terus jatuh, kan, malu. Nanti aja berdirinya.
Dia merasa heran karena Alana tidak segera berdiri. Gadis cantik itu justru menarik kedua kakinya ke atas bangku agar orang-orang yang duduk di deretan bangku setelah Alana bisa keluar dengan mudah. Archie menunggu semua orang keluar dari deretan bangku pilihannya lalu ia duduk kembali di sebelahnya Alana untuk bertanya, "Kenapa tidak langsung berdiri dan keluar dari sini?"
Alana memijit lututnya sebentar lalu menurunkan kakinya kemudian ia mencoba bangkit berdiri. Archie ikut bangkit berdiri lalu mematung di depan Alana yang tampak aneh. Alana mengusap-usap dadanya.
"Kamu kenapa?" Tanya Archie.
Alana mengabaikan Archie karena ia masih bingung sendiri dengan apa yang masih ia rasakan.
Alana kemudian tersenyum lalu menghela napas lega, Oke, aku bisa berdiri tegak. Tapi jantungku masih berdegup kencang dan badanku masih panas dingin lalu kaki aku masih terasa lemas. Apa aku bisa berjalan?
Archie menautkan kedua alisnya karena Alana masih nampak aneh. Gadis itu menggaruk pelipisnya sambil menunduk ke lututnya.
"Lutut kamu kenapa?" Tanya Archie.
Alih-alih menjawab pertanyaannya Archie, Alana justru membungkuk lalu memijit kedua lututnya.
Karena tidak sabar dan karena studio satu mulai sepi, tinggal lima orang yang belum keluar termasuk dirinya dan Alana, maka Archie membopong Alana sambil berkata, "Kalau kakinya kesemutan bilang. Aku bisa gendong kamu, Na"
"Si-siapa yang kesemutan? Turunkan aku! Malu diliatin banyak orang" Alana mengayun-ayunkan kedua kakinya dan Archie tetap menggendong Alana sampai ke pintu keluar.
"Kakak laki-laki saya memang posesif, mbak, hehehehe" Alana nyengir ke petugas gedung bioskop yang berdiri disamping pintu keluar. Petugas itu mengangguk dan tersenyum ke Alana sementara Archie mendengus kesal lalu menurunkan Alana tanpa aba-aba.
Alana yang kaget dan tidak siap mendaratkan kakinya di lantai langsung jatuh terduduk dan melotot ke Archie.
Archie langsung membantu Alana berdiri sambil berkata, "Maafkan kakak laki-laki kamu yang ceroboh ini, ya Dek"
Alana sontak menyemburkan, "Dasar gila!" Lalu ia melangkah duluan meninggalkan Archie.
Archie mendengus geli lalu bergegas mengejar Alana dan di saat itulah telepon genggamnya Archie berbunyi nyaring. Alana menghentikan langkahnya lalu memutar badan saat ia mendengar Archie menyebutkan kata, "Mama"
Tante Agnes, aku kangen banget sama Tante Agnes. Batin Alana sambil terus menatap Archie.
Archie juga menatap Alana saat ia mengobrol dengan mamanya lewat ponsel.
Alana melangkah mendekati Archie saat pria tampan itu memasukkan ponsel ke dalam saku celana, "Tante Agnes kenapa? Kamu sebut rumah sakit tadi"
"Mama ada di rumah sakit. Kakinya keseleo gara-gara melawan serangannya Rosaline. Kita ke rumah sakit dulu nggak papa, kan?"
"Nggak papa"
Archie lalu mengajak Alana melangkah.
Alana berjalan di samping Archie sambil bertanya, "Rosaline pacar kamu menyerang Tante Agnes?"
"Mantan pacar, Na. Aku dan Rosaline udah putus" Sembur Archie.
"Iya, mantan. Tapi kenapa dia nyerang Tante Agnes?"
"Kita akan tahu nanti di rumah sakit. Mama menang melawan Rosaline. Mama cuma keseleo dan Rosaline bersama manajernya ada di IGD pingsan"
"Wah! Tante Agnes hebat bisa menang melawan dua orang" Apaan bertepuk tangan dan Archie mendengus kesal, "Mana ada hebat? Yang ada ngawur"
Alana mengerucutkan bibirnya lalu berkata, "Bagiku hebat. Top markotop Tante Agnes. Aku dari dulu ngefans sama Tante Agnes"
"Yeeeaahhh karena kalian itu sama. Sama-sama ngawur dan ceroboh, tzk!" Archie mendengus geli dan Alana ikutan mendengus geli.
Beberapa jam kemudian Alana dan Archie masuk ke dalam ruangan dokter spesialis tulang temannya Archie dan Agnes sontak melotot ke Archie, "Mantan pacar kamu nuduh mama ini selingkuhan kamu karena dia pernah lihat kamu bawa masuk mama ke dalam kamar di hotel miliknya mama sambil memeluk mama. Memang dasar gila itu model, ya. Seksi, cantik, tapi gila. Mana ada ibu-ibu macam aku ini dikira selingkuhan kamu"
"Ma, tenang dulu" Archie langsung memeluk lalu mengusap bahu mamanya.
Alana menyahut, "Soalnya tante Agnes awet langsing, awet muda dan masih cantik banget masih kayak gadis berumur belasan tahun. Alana saja kalah, nih, sama kecantikannya Tante Agnes"
Agnes sontak mendorong Archie lalu menoleh ke asal suara.
Alana kemudian tersenyum canggung saat Agnes melihatnya mulai dari pucuk kepala lalu perlahan turun sampai ke ujung sepatu sneakersnya dengan tatapan penuh selidik.
Agnes dengan cepat menaikan pandangannya untuk menatap wajah gadis cantik yang masuk bersama Archie. "Ka-kamu, kamu Alana Wilde?"
Alana tersenyum, mengangguk lalu mengulurkan tangan untuk menyalami tangan Agnes. Agnes membiarkan Alana mencium punggung tangannya Agnes dengan wajah datar.
Alana menahan diri untuk tidak memeluk mamanya Archie dan Arthur padahal ia sangat merindukan pelukan hangat mamanya Archie dan Arthur itu.
Setelah Alana melepaskan tangannya, Agnes menoleh ke Archie, "Jangan sampai Alana bertemu dengan Arthur"
Archie terkesiap kaget dengan ucapan mamanya. Begitu juga dengan Alana. Hilang sudah senyumannya Alana dan saat Alana melangkah mundur selangkah, Archie berkata ke mamanya sambil melangkah mendekati Alana, "Alana sudah bertemu Arthur, Ma. Tapi, Alana dan Arthur tidak kembali bersama kalau itu yang mama takutkan"
Agnes mengarahkan pandangannya ke Alana, "Syukurlah kalau kamu dan Arthur tidak pacaran lagi, Al karena Arthur sudah memiliki tunangan yang sangat mencintainya dan Arthur sangat mencintai tunangannya itu"
"Hah?" Alana sedikit membeliak kaget.
Archie sontak menoleh ke Alana, "Arthur tidak bilang ke kamu kalau dia sudah memiliki tunangan?"
Alana hanya menggelengkan kepala.
Dasar brengsek tuh bocah! Archie mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras.
"Tante yang menjodohkan Arthur dengan gadis yang pintar, dari keluarga yang baik, dan mereka cocok satu sama lain. Arthur juga mulai menyayangi Velove. Jangan ganggu mereka, Tante mohon sama kamu, Al"
Di saat Alana hendak membuka mulut, Archie langsung menggenggam tangan Alana sambil menatap lekat ke mamanya dan berkata, "Cukup, Ma! Alana tidak pernah berniat mengganggu Arthur dan tunangannya"
"Kamu kenapa menggenggam tangan Alana? Jangan berpacaran dengannya! Kamu akan berakhir seperti Arthur" Sembur Agnes.
Seketika itu juga tangan Alana gemetar di dalam genggamannya Archie. Archie lalu mengajak Alana keluar dari ruangan dokter spesialis tulang saat dokter spesialis tulang melangkah masuk.
"Bro, pacar baru nih? Cantik banget?" Sapa dokter spesialis tulang dengan nametag, Damian itu.
"Bukan pacarnya Archie itu. Seleranya Archie tuh tinggi. Bukan yang seperti itu" Sahut Agnes.
Archie menoleh kesal ke mamanya sambil terus mengajak Alana keluar dari ruangan dokter Damian spesialis tulang.
Alana menarik tangannya dari genggaman tangan Archie saat mereka berhenti di depan lift. "Kembalilah ke mama kamu! Mama kamu butuh kamu. Aku bisa pulang ke rumahmu naik taksi online"
"Nggak, Na. Sudah ada temanku tadi yang menemani mamaku dan sebentar lagi Arthur sama tunangannya pasti datang. Raymond juga udah aku suruh ke sini tadi"
Alana melangkah masuk dengan langkah gontai ke dalam lift sambil menunduk saat lift terbuka. Archie menyusulnya dengan wajah sedih. Saat pintu lift menutup rapat, Archie menarik Alana ke dalam pelukannya dan berkata, "Maafkan mamaku, Na. Mamaku hanyalah seorang mama yang sangat mencintai anaknya. Dia tidak bermaksud melukai perasaanmu. Maafkan mamaku, ya"
Alana menggelengkan kepala dan berkata, "Aku yang salah. Aku yang memutuskan hubungan dengan Arthur tanpa alasan dan membuat Arthur kecelakaan. Tante Agnes pantas bersikap seperti itu ke aku"
"Kamu nggak salah, Na. Arthur yang nekat menyusulmu dengan ngebut dulu. Tenang, ya" Archie mengusap lembut punggung Alana.
Alana mendorong pelan dada Archie lalu berkata dengan mengarahkan badannya ke pintu lift, "Jangan terlalu dekat sama aku! Benar kata ibu tiri aku. Aku hanyalah gadis pembawa sial. Kamu akan ikut sial kalau dekat aku. Kita batalkan saja kontrak kerja sama kita. Aku akan cari bodyguard yang lain dan aku akan......"
"Aku mencintaimu, Na" Sembur Archie.
Alana menoleh kaget ke Archie.