NovelToon NovelToon
THE FORGOTTEN PAST

THE FORGOTTEN PAST

Status: tamat
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Dark Romance / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?

Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.

Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.

Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.

*
karya orisinal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Sensasi dingin yang aneh mulai menjalar dari leher Karina, tepat di tempat liontin itu menyentuh kulitnya. Rasa itu turun perlahan ke dada, merambat ke perut, hingga ke ujung kakinya lalu kembali naik, menyusup seperti kabut beku ke dalam kepalanya.

Tubuhnya seketika menggigil hebat, seolah baru saja disiram air es. Liontin merah yang menggantung di lehernya bergetar halus, lalu bergerak semakin liar, seakan ingin melepaskan diri dari rantainya.

“Hu… hu… dingin…” desis Karina lirih. Ia memeluk tubuhnya dengan kedua tangan, mencoba menahan gemetar yang tak terkendali.

Matanya terangkat menatap pantulan dirinya di cermin. Anehnya, meski permukaan kaca itu tertutup debu dan terlihat buram, bayangan Karina di dalamnya justru semakin jelas.

Semakin jelas…

Begitu jelas, seolah ia sedang menatap cermin yang bersih dan baru saja dipoles.

Namun ada sesuatu yang salah.

Pantulan di dalam cermin tidak mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia pakai sekarang. Sosok itu mengenakan gaun putih bersih yang menjuntai anggun, rambutnya tersanggul rapi, dan sebuah tiara berkilau menghiasi rambut cokelatnya.

“A–apa ini?” Karina mundur beberapa langkah, tercekat. Tangannya terangkat memegangi kepala yang tiba-tiba terasa seperti diremas dari dalam.

“Shhh… s–sakit sekali…”

Rasa nyeri itu semakin menjadi, menusuk dan berdenyut hebat, seperti ribuan jarum menembus kepalanya bersamaan. Pandangannya mulai berputar, cahaya senter di lantai tampak memanjang dan memudar.

Tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang begitu dahsyat, penglihatan Karina perlahan menggelap hingga akhirnya semuanya tenggelam dalam kegelapan.

...\=\=\=\=...

“Hah!”

Mata Karina terbuka secepat ia terpejam tadi. Napasnya memburu. Langit-langit kamar yang tinggi, dipenuhi lukisan puluhan kelelawar hitam dengan sayap terkembang, menjadi pemandangan pertama yang tertangkap oleh retinanya.

Ia mengedarkan pandangan dengan bingung. Dinding kamar itu bukan miliknya. Tempat tidur yang ia duduki terasa lebih keras dan dingin. Bau ruangan pun berbeda, lembab, asing, dan sedikit pengap.

Dengan gerakan tergesa, Karina bangkit dan duduk tegak. Wajahnya memucat, jantungnya berdegup tak karuan. Tanpa berpikir panjang, ia turun dari ranjang dan buru-buru membuka pintu kamar itu.

Begitu ia melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya—

“Lihat ini. Anak dari orang rendahan ini bangun siang, saat seharusnya dia sudah membantu pekerjaan di dapur.”

Suara sinis bernada tajam menyambar telinganya.

Karina membeku. Perlahan ia mengangkat wajahnya dan memfokuskan pandangan ke depan. Ia terkejut mendapati seorang wanita paruh baya berdiri tak jauh darinya.

Wanita itu mengenakan gaun gelap dengan potongan kaku. Kedua tangannya terlipat angkuh di depan dada, dagunya terangkat tinggi, dan tatapannya penuh hinaan seolah Karina adalah sesuatu yang menjijikkan.

“Maaf, Mama…”

Karina sendiri tidak mengerti mengapa kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Mengapa ia memanggil wanita itu mama, dan mengapa tubuhnya terasa begitu patuh.

“Bersihkan seluruh rumah. Dan jangan makan apa pun sebelum semuanya selesai,” perintah wanita itu tegas, tidak ada sedikitpun kelembutan.

“Ya, Mama.”

Jawaban itu kembali meluncur begitu saja.

Di dalam hati, Karina ingin sekali menampar mulutnya sendiri. Mengapa ia menurut? Mengapa ia berbicara seperti ini? Ini bukan dirinya.

“Mama, hari ini aku akan pergi bersama Katerina.”

Suara yang sangat ia kenal terdengar dari pintu tepat di sebelah kamar tempat ia tadi terbangun.

Refleks, Karina menoleh.

Dan disanalah Hugo berdiri.

Ia tengah mengenakan jam tangan dengan gerakan tenang dan teratur, itu memang khas dirinya. Wajahnya terlihat tampan seperti sebelumnya. Namun ketika pandangan mereka bertemu, Hugo menatapnya datar, tajam dan tanpa ekspresi.

Tatapan itu berbeda.

Bukan tatapan ambigu yang pernah Karina dapatkan saat makan malam beberapa waktu sebelumnya. Bukan tatapan penuh teka-teki.

Melainkan tatapan yang asing. Jauh. Dan seolah-olah ia benar-benar bukan siapa-siapa disini.

Kenapa aku kembali ke rumah ini? pikir Karina panik. Dadanya terasa sesak, namun anehnya ia tidak berusaha lari. Kakinya tetap terpaku di tempat, matanya justru menatap Hugo dengan sorot penuh kekaguman, dan… cinta.

Cinta?

Karina ingin sekali memukul kepalanya sendiri karena pikiran itu. Perasaan itu bukan miliknya. Bukan. Tapi ia bahkan tidak mampu menggerakkan tubuhnya sesuai kehendaknya sendiri. Seolah-olah ia hanya penonton dalam tubuhnya sendiri.

“Apa yang kamu lihat?!” Hugo membentaknya kesal. Tatapannya beralih pada wanita paruh baya itu. “Aku benar-benar nggak ngerti kenapa Andamon menjodohkan aku dengan perempuan udik seperti dia, Mama.”

Kata-kata itu menusuk.

Wanita paruh baya tersebut melangkah mendekat, merapikan kerah kemeja Hugo yang sebenarnya sudah rapi. “Sabar saja. Dia akan menyerah cepat atau lambat,” ujarnya dingin, sebelum akhirnya berbalik dan menuruni tangga menuju lantai dasar.

Keheningan sesaat menyelimuti mereka berdua.

“Kamu mau ke mana, Hugo?” tanya Karina lembut. Suaranya terdengar penuh harap, dan jelas bukan seperti dirinya yang biasanya.

Astaga hentikan Karina! Batin Karina menjerit atas tingkah anehnya, namun ia benar-benar tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.

“Kamu nggak dengar apa yang aku bilang barusan?” jawab Hugo tajam. “Aku mau pergi sama Katerina.”

Karina merasakan perih yang aneh di dadanya, perasaan yang ia yakini bukan miliknya, atau setidaknya perasaan yang tidak ingin ia akui.

“Kita sudah menikah, Hugo,” ucapnya pelan, mencoba terdengar tegar. “Nggak baik kalau kamu terus-terusan menemui wanita itu.”

Tatapan Hugo menjadi lebih dingin.

“Tutup mulutmu, sialan!” bentak Hugo. “Satu-satunya wanita yang pantas menjadi istriku hanya dia! Jadi secepatnya ajukan perceraian dan pergi dari sini!”

Karina menatap Hugo dengan mata membara, rasa tidak terima membuat dadanya panas. “Kenapa bukan kamu saja yang mengajukan perceraian?” balasnya sengit. “Kamu takut kemarahan Andamon?”

Hugo mengepalkan tangannya, jelas perkataan Karina mengenai Andamon berhasil menyentilnya.

“Cih!” decih Karina, suaranya tajam. “Kalau kamu ingin menikahi perempuan itu, pergilah ke pengadilan dan ceraikan aku. Karena aku tidak akan pernah melakukan itu!”

Hugo hanya melangkah pergi tanpa menoleh, tak lagi meladeni Karina. Ia seharusnya segera menjauh, tetapi tubuhnya seolah tak bisa dikendalikan. Dengan bodohnya, ia mengikuti langkah Hugo, meski hatinya memberontak.

Saat menuruni tangga, Karina baru menyadari bahwa desain rumah ini sangat mirip dengan rumah Hugo. Hal itu membuatnya yakin bahwa ia benar-benar kembali ke rumah Hugo, meski ia sama sekali tidak mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi.

“Hei, sepertinya istrimu akan mengikutimu lagi, Hugo,” terdengar suara sinis dari jauh.

“Biarkan saja,” jawab Hugo datar, tanpa menoleh.

Hugo melangkah masuk ke dalam mobil, diikuti seorang pria lain yang tampak familier bagi Karina. Ia ingin menyusul dan ikut masuk, namun tiba-tiba sebuah suara memanggilnya. Jauh dan samar.

“Karin, bangun!”

“Buka kalungnya, Tasya.”

“Cepat!!!”

Karina tersentak. Sesuatu terenggut dari lehernya membuat kepalanya seketika berputar, pusing hebat. Mobil Hugo yang menjauh dan halaman rumah tampak berputar liar di matanya. Tubuhnya luruh ke lantai teras, punggungnya menghantam permukaan keras dengan nyaring, dan pandangannya gelap. Pingsan.

...***...

...like, komen dan vote...

1
lisa_lalisa
tamat?
Nda
makin penasaran thor
Maya Sari
Sangat menarik,seru ceritanya,bikin penasarn.
Maya Sari
Ceritanya seru….apa ada kelanjutan nya kk?
Nda
apakah yg berdiri di seberang jln itu hugo
Nda
makin penasaran thor,jangan sampe karina ketahuan Hugo.
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
Nda
double up donk thor🤭,makin penasaran😩
Nda
duhh.. makin penasaran,apa jgn² benar Hugo itu vampir
Nda
novelmu keren thor
Nda
ditunggu double up-nya thor
Nda
duh,tunggu kelanjutanya thor makin penasaran,apakah itu fto karina🤭
lisa_lalisa
duhh, makin penasaran 😞
Nda
sebenarnya Hugo manusia vampir atau kanibal
di tunggu double up-nya thor
Kevin
Next thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!