Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CIE, STATUS BARU
Deya yang sudah ada di lantai dasar rumah itu, sedang asyik berkeliling. Hingga matanya tertuju pada satu pintu. Dibukanya pintu kamar itu, sangat tersusun dan rapi, ada beberapa helai baju yang digantung. Mungkin Rico sering menginap disini batinnya, dibawa langkah kakinya untuk semakin dalam menuju kamar itu. Di atas sebuah meja terdapat figura dengan dua anak kecil yang tersenyum manis.
Deya merasa foto dari salah satunya tak asing dalam ingatannya, namun dia lupa dimana pernah melihatnya. Kemudian pandangannya beralih pada sosok yang tak diketahui, sedang menggunakan pakaian seperti pakaian selam namun tidak untuk diving. Sedetik kemudian pandangannya kembali tertuju pada figura sebelumnya.
“Kok kayak nggak asing yah, tapi dimana aku pernah melihat ini.” Bisiknya pada diri sendiri.
“Itu foto ku dan Diana.” Ucap Rico yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.
Deya sungguh terkejut dengan suara Rico yang tiba-tiba menggema ke seluruh isi kamar. Cepat-cepat diletakkannya figura itu.
“Maaf aku sudah lancang masuk kamar ini tanpa ijin.” Ucapnya dan menoleh ke arah Rico.
Mata laki-laki itu kemerahan, dengan suara parau dan hidung yang tersumbat. Melihat Rico yang tiba-tiba seperti itu seketika Deya mendekat dan mengamatinya.
“Kamu kenapa ? Sakit ?”
Rico hanya menggeleng keras, entah apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu. Sedetik kemudian dia membawa Deya dalam pelukannya.
“Dee, aku sangat mencintaimu.” Tulusnya dengan jujur. “Maafkan aku membuat mu terkurung dalam ikatan yang tak kamu inginkan De. Aku minta maaf.” Jelasnya yang semakin berderai air mata.
“Kamu ngomong apa ?” Tanya Deya dan mengusap air mata Rico.
“Aku minta maaf, jika kamu ingin pergi aku mempersilahkan mu De, jika bahagiamu ada di tempat lain. Tapi jika boleh aku memohon tolong temani aku dari sisi kasihan mu pada ku. Aku tidak akan memaksa dan meminta apapun dari kamu De, tinggallah di rumah ini, jalani harimu seperti kamu belum menikah dengan ku. Aku tidak apa-apa De. Ini kamar ku dan yang di atas itu kamar mu.” Jelas Rico dengan derai air mata.
“Justru aku yang seharusnya meminta maaf ke kamu, aku yang buta tidak bisa melihat tulus mu. Aku nggak bisa memaksakan hati ku. Aku benci berada di situasi seperti ini. Sekali lagi maafkan aku.” Imbuh Deya yang mulai berkaca-kaca.
Rico semakin mengeratkan pelukannya, ia hanya butuh Deya. Meski perasaan perempuan itu bukan untuknya. Itu sungguh tak masalah baginya, yang penting Deya ada bersamanya.
“Nanti temani ke rumah yah, aku ambil beberapa helai baju. Sekalian sama baju kerja ya.” Ucap Deya yang mulai mengurai pelukannya. “Atau sekalian mau ke super market ? Tadi aku lihat nggak ada apa-apa di kulkas.” Tambahnya kembali, sementara tangannya sibuk mengelap air mata yang masih menetes di pipi Rico.
“Kemana pun kamu mau aku temani, apapun yang kamu mau aku usahakan.” Ucap Rico lugas sambil memperbaiki jilbab Deya.
“Oke, berarti nanti malam kita makan di sini ya.” Saran Deya dan Rico menyetujuinya.
Deya mengamati inci demi inci wajah Rico. Tak bisa dipungkiri jika ia begitu mengagumi wajah Rico. Di tengah Deya menikmati wajah Rico, sebuah notif pesan untuk Rico.
Laki-laki itu membuka dan seketika wajahnya berubah masam, kemudian menatap Deya sendu.
“Kenapa ?” Tanya Deya yang melihat ekspresi Rico.
“Lusa aku harus ke luar kota lagi.” Jawabnya jujur.
Helaan nafas berat Deya terdengar, kemudian dia melepaskan pelukan itu dan meninggalkan Rico. Rico yang menyadari perubahan Deya, seketika mengikuti dan memeluk sang istri dari belakang.
“Maaf sayang, aku nggak tau jika secepat ini. Rencana bulan depan, tapi dimajukan. Seperti janji ku tadi aku akan temani kamu kemana pun. Lusa abis Subuhan aku berangkat, nggak tahu balik kapan.” Jelas Rico yang sungguh berat untuk berpisah.
Sedangkan Deya yang semakin bimbang dengan perasaannya, tak dipungkiri ada sebuah perasaan cemas dan khawatir. Terlebih jika Rico sendiri tidak bisa menjamin dia akan kembali kapan.
Apa sebenarnya yang di rasakan oleh perempuan ini. Di ucapnya tidak mencintai Rico, namun perlakuan baik Rico tak pernah di tepis, tidak ingin sekamar dengan Rico namun pelukan dari laki-laki itu begitu nyaman dan menenangkan. Lalu apa yang sebenarnya yang dirasakan untuk Rico saat ini.
***
Hari ini Deya kembali masuk kerja setelah cuti beberapa hari, Rico juga sudah berangkat beberapa hari yang lalu. Dengan langkah yang tegap di iringi ketukan sepatunya, Deya sungguh percaya diri memasuki area kantor. Beberapa orang menyapanya dengan lebih sopan tak seperti biasa.
“Deyaaa.” Panggil Selfi yang berada di belakangnya.
“Hmm, pengantin baru. Cantik amat sih.” Canda Selfi.
“Kan aku emang cantik.” Jelas Deya kembali dengan percaya diri. “Orang-orang pada kenapa sih Sel. Sopan banget sama aku kayak sama siapa aja.” Ucapnya kembali.
“Lah, wajarlah De, mereka sopan dan segan sama kamu. Secara kamu itu kan menantu dari seorang bapak Handoko yang menjadi salah satu nasabah penting di kantor kita.” Papar Selfi. “Aku tuh seharusnya manggil kamu dengan sebutan ibu Deya tau nggak. Hahaha.” Tambahnya yang akhiri dengan gelak tawa yang menggelikan.
“Geli banget sih Sel.”
Setibanya mereka di ruang kerja, beberapa mata langsung memandang ke arah Deya. “Aduh pengantin baru sudah masuk kerja lagi nih, jadi gimana hari-harinya menjadi seorang istri De. Seru ?” Tanya seorang perempuan yang sudah lebih dulu berumah tangga.
“Seperti rumah tangga baru pada umumnya mbak, dia sudah keluar kota kemarin.” Jawabnya sambil bersiap-sia.
“Apaaa ?” Tanya semua rekan kerjanya yang berada di ruangan itu. “Dia ninggalin kamu padahal kalian belum ada seminggu nikah De ?” Tanya seseorang untuk memastikannya lagi.
“Iya, dia ada kerjaan di luar kota yang entahlah samapai kapan. Dia sendiri juga tidak tahu.” Jelas Deya dan meninggalkan ruangan itu.
Mereka yang masih berada di ruangan itu hanya diam membisu tak bisa membayangkan perasaan Deya yang masih pengantin baru namun harus di tinggalkan keluar kota oleh suaminya.
“Eh ada pengantin baru.” Seloroh Hendy yang melihat Deya bersiap untuk bekerja.
Deya hanya tersenyum simpul dan melanjutkan kegiatannya.
“Cie, status baru. Uhuuuy.” Goda Hendy kembali.
“Udah deh Hen.” Wajah Deya kini seperti Udang rebus.
Detik berganti menit, menit pun berganti jam. Beberapa kali Deya mengecek ponselnya. Berharap ada notif dari seseorang. Hingga jam makan siang pun tiba, namun notif itu masih saja belum di dapatnya. Ingatan membawanya pada beberapa hari yang lalu saat mengantarkan Rico ke bandara.
Subuh itu suasana masih sepi, mereka hanya jalan berdua sambil bergandeng tangan menyusuri tiap petak keramik bandara.
“De, gimana kalau aku baliknya lama ? Kamu akan kangen aku nggak ?” Rico bertanya dengan tiba-tiba.
“Nggak tau yah.” Jawabnya asal. “Kalau dikabari mungkin nggak sih kangen. Tapi kalau nggak dikabari ya marah sih paling.” Tambahnya yang kurang nyambung antara pertanyaan dengan jawaban.
“Aku usahakan untuk mengabarimu setiap hari. Pergi dulu yah, tunggu aku pulang jangan kemana-mana, jaga Kesehatan.” Jelasnya dan mencium kening Deya sebelum hilang di telan keramaian.
“Iya, hati-hati. Jaga Kesehatan ya.” Balasnya dan mencium tangan Rico.
“Hmm, dasar pembohong.” Bisiknya saat kesadaran kembali membawanya ke siang hari itu.