Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Kita Sama-sama berjuang
Waktu yang begitu mepet menuju akhir waktu subuh, membuat Zella harus melakukan kewajibannya di ruangan itu juga. Jika keluar ruangan mencari informasi di mana mushola, maka waktu subuh akan berakhir. Walau terusik dengan bisik-bisik ibu dan Ayah sambungnya, Zella berusaha mengabaikan itu.
Saat tatapan Abi tertuju ke pojok ruangan, Abi menatap takjub pada sosok wanita yang tengah melakukan Sholat. Berbagai rasa berkecamuk di dalam dadanya. Rasa penyesalan karena memilih berhenti beribadah, rasa haru karena Tuhan mengirimkan wanita sholehah dalam hidupnya. Cobaan hidup yang dia alami sebelumnya membuat dia membenci Tuhan, dan menjauh dari jalan kebenaran.
Dada Abi terasa sesak oleh penyesalan, dia memukul-mukul dadanya, berharap rasa sesak itu pergi.
"Abi, kamu kenapa?" Zella langsung berlari menghampiri Abi kala melihat pria itu terlihat begitu tertekan.
Abi meraih tangan Zella dan memegangnya erat. "Aku tak apa-apa, sejak kau tepat di sisiku, seketika aku merasa baik-baik saja." Abi memandangi wajah Zella. Wanita yang tengah mengenakan mukena itu terasa meneduhkan jiwanya kala dipandangi.
"Kalau ada perasaan nggak enak, biar kami panggil perawat." ucap Zella.
"Aku baik-baik saja."
Indri mendekati Zella dan mendaratkan tangannya di pundak Zella. "Percayalah pada suami mu, jika dia bilang baik-baik saja, berarti dia memang merasa baik. Dia hanya butuh kamu berada di sisinya."
"Anda benar," ucap Abi.
"Ya sudah, kami izin pulang dulu ya. Kami rasa kalian butuh waktu berdua lebih lama," ucap Indri.
"Mama istirahat, jangan mikirin kami, kami baik-baik aja." ucap Zella.
"Iya, mama sekarang yakin kamu baik-baik saja. Ya sudah, kami pamit dulu. Jangan lupa makan, itu mama sudah siapkan semuanya."
Abi memandangi Indri dan Saman yang semakin menjauh dari pandangannya. "Mereka sangat sayang padamu, mereka bisa pergi setelah yakin kau baik-baik saja denganku."
"Mereka tak hanya sayang padaku, tapi juga sayang padamu, karena kamu bagian dari kebahagiaan aku, dan artinya kamu jadi bagian kebahagiaan mereka juga."
"Kemarilah, peluk aku."
"Aku lepas mukena ku dulu."
"Zella."
"Hmm." Zella terus membereskan perlengkapan sholatnya.
"Bagaimana pandanganmu pada orang yang tak menjalankan sholat karena kecewa pada ujian hidup yang Tuhan beri untuknya?"
"Aku bisa apa? Aku hanya menyayangkan keputus asa'annya. Padahal rahmat Allah itu luas. Allah melarang berputus asa, sebab itu bunuh diri termasuk dosa besar, karena bunuh diri itu berputus asa dari Rahmat Allah. Tapi aku hanya bisa berkata, andai ujian serupa itu juga menimpaku, aku juga tak yakin bisa seperti dia, apakah aku bisa sekuat dia? Mungkin saja aku lebih rapuh dari dia."
"Kau tak memvonisnya karena dia sengaja tak sholat lagi?"
"Memangnya aku siapa? Main vonis orang lain."
"Bagaimana jika sosok yang tidak menjalankan sholat itu suamimu?"
Zella faham kemana arah bicara Abi. "Aku tak akan menghakiminya. Yang aku lakukan, aku akan terus merayu Tuhan untuk memberi rasa cinta dan rindu beribadah untuknya. Jika Tuhan berkehendak, maka terjadi. Bagaimana hubunganmu dengan Tuhan biar jadi urusanmu dengan Tuhan. Sedang urusanku hanya taat, bakti dan patuh pada suamiku. Tentu harus di garis bawahi, kalau suamiku memintaku menipu, aku akan melawan!"
"Aku lama menjauh dari Tuhan, karena aku kecewa dengan jalan hidupku."
Dada Zella langsung terasa sesak, membayangkan masalah sebesar apa hingga Abi putus asa. "Masalah ujian yang menimpa Anda, seharusnya tak bisa dijadikan alasan untuk maksiat. Kita milik Allah, hak Allah ingin memberi apa saja pada ciptaanya. Seperti kita punya mobil, terserah kita mau kita apakan mobil itu, tapi aku hanya bisa berkata, tak tahu bagaimana perjuangan Anda menjalani semua cobaan itu."
Abi tersenyum, dia mengira Zella akan menceramahi dan menghakiminya karena dia bukan muslim yang taat, ternyata wanita itu tak memandang hina dirinya.
Abi sadar dirinya salah, setiap Abi membuka kitab-kitab agama, tentang peringatan ancaman bagi siapa saja yang meninggalkan sholat fardhu, Abi merasa terpojok, namun tak bisa menunaikannya karena kecewa pada Tuhan. Mengapa Tuhan membiarkan orang-orang jahat berhasil menipunya dan banyak hal.
Renungan Abi buyar, saat tubuh Zella sudah menempel padanya. Bahkan lengan indah itu sudah melingkar dibagian perutnya.
"Aku mengerti mengapa Anda sangat marah, pastinya Anda merasa, Tuhan tak adil, mengapa DIA memberi ujian seberat itu buat Anda. Tapi apakah Anda ingat? Tuhan memberi ujian itu untuk mengangkat derajat hambanya yang dia uji. Jika berhasil melewatinya, Tuhan akan menambah kemuliaan untuk hambanya itu, jika di dunia tak bertambah kemuliannya di mata makhluk, maka Allah akan menaikan derajatnya di pandangan NYA. Anda tahu, banyak orang hebat yang disebut 'aulia Allah', mereka tak ingin kemuliaan di mata makhluk, mereka hanya menginginkan kemuliaan di pandangan Allah, karena itu kemuliaan yang sesungguhnya."
"Bantu aku untuk memperbaiki segalanya, ya." Abi mengecup pucuk kepala Zella.
"Kita sama-sama berjuang ya. Aku pun bukan orang baik, aku pun sama sepertimu yang masih proses berjuang untuk lebih baik."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan itu memaksa Zella untuk turun dari tempat tidur. "Silakan masuk ...." ucap Zella.
Saat pintu terbuka, terlihat seorang pria mengenakan jas putih, diikuti oleh beberapa orang berseragam perawat.
"Selamat pagi Pak Abi, saya dokter yang menangani Anda," ucap pria mengenakan jas putih.
"Selamat pagi juga dok," jawab Abi.
"Bagaimana ada keluhan yang masih dirasakan Pak Abi?"
"Sejauh ini saya merasa lebih baik, bahkan saya merasa baik-baik saja walau tidak meminum vitamin saya selama ini."
"Untuk masalah obat-obatan yang Pak Abi gunakan selama ini, saya sudah diskusikan dengan saudara siapa tadi malam bu?" tanya dokter pada Zella.
"Miko." Zella menoleh pada Abi. "Dokter sudah menjelaskan banyak hal pada Miko, sebab itu Miko langsung kembali ada hal yang dia urus katanya."
"Pantauan dari tim Rumah Sakit juga menyatakan Anda membaik, hanya ada yang mengejutkan karena aktivitas jantung Anda yang tiba-tiba meningkat drastis. Tapi selain itu semuanya aman."
"Kapan kami bisa pulang dok?" tanya Abi.
"Kita lihat perkembangan Pak Abi sampai siang ya, jika tak ada keluhan yang muncul, Pak Abi boleh pulang."
Dokter lanjut memeriksa keadaan Abi. Perhatian Dokter tiba-tiba tertuju pada kursi roda yang tersimpan di sudut ruangan. "Pak Abi sejak kapan mengalami kelumpuhan?"
"Sudah lama dok, sampai saya lupa berapa tahun saya duduk di kursi roda."
"Apa Anda tak berniat untuk mengatasi kelumpuhan yang Anda alami?" Dokter berniat menyentuh bagian kaki Abi.
"Jangan dok!" Abi refleks meminta dokter itu berhenti dengan isyarat tangannya. "Saya ke sini bukan untuk menangani kaki saya. Saya belum siap mendengar sesuatu jika berkaitan dengan kaki saya."
"Oh iya, maaf saya lancang. Saya hanya berniat membantu dan memastikan, apakah obat-obatan yang selama ini Anda konsumsi berpengaruh pada Kaki Anda."
"Kaki saya cacat jauh sebelum saya rutin berobat. Untuk pengobatan rutin saya baru aktif sekitar 1 atau 2 tahun ini."
Dokter kembali menegakan tubuhnya, dan kembali memeriksa catatan kondisi kesehatan Abi. "Sejauh ini aman, jadi sampai jumpa nanti siang, semoga nanti siang Pak Abi bisa pulang."
"Terima kasih dok." ucap Abi.
Dokter dan tim yang mengikutinya, segera meninggalkan ruangan Abi. Kini hanya ada Abi dan Zella.
"Ku rasa dokter yakin bisa membantumu untuk sembuh, mengapa kamu tidak mau dokter memeriksa kakimu?" tanya Zella.
"Kalau dokter memeriksa kaki ku, tentu dia akan tahu kakiku baik-baik saja. Sedang aku merahasiakan hal ini dari semua orang, hanya Miko dan Ayahmu yang tahu keadaanku," batin Abi.
"Aku hanya belum siap mendengar penyemangat dari dokter lalu saat ku jalani lalu hasilnya tak sesuai harapanku, aku pasti makin putus asa. Makanya aku bukan tak ingin berusaha, hanya saja mentalku belum siap untuk menerima kegagalan."
"Anda ada alergi makanan atau pantangan gitu?" tanya Zella.
"Tidak ada, memangnya kenapa??
"Bagus kalau gitu, soalnya Mama bawakan makanan, mau makan bareng?" Zella memperlihatkan masakan yang dibawa oleh Indri.
"Boleh, ini adalah sarapan pagi pertama kita sebagai suami istri."
Zella membantu Abi untuk duduk, dia segera menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Menu rumahan biasanya, terlihat Abi sangat menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya.
"Zella, maafin aku. Karena aku belum bisa memberi momen indah setelah pernikahan," ucap Abi.
"Yang penting kamu sehat dan baik-baik aja. Bagiku yang terindah itu kesehatan kamu, agar kamu bisa menemani aku dan anak-anak kita." Zella langsung terpaku, lagi-lagi dia salah bicara.
"Tifa, Rihana, dan Rayhan! Mereka anak-anak kita!" Zella merevisi ucapannya.
"Jadi, kamu tak ingin mempunyai anak denganku?"
"Duh ...." Zella meringis, menyesali mengapa dia harus memancing Abi membahas itu. Keinginan Zella hanya ingin menjaga perasaan Abi, agar Abi tak merasa bersalah karena ketidak mampuan nya.