"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 — Bagian yang Tidak Pernah Diceritakan
Notifikasi itu masih menyala di layar ponsel Aira.
REGULATOR RESMI MULAI PENYELIDIKAN PROYEK LIMA TAHUN LALU
Huruf-huruf itu terasa seperti vonis yang belum dibacakan.
Aira tidak langsung bicara.
Ia hanya menatap Arlan.
Pria yang berdiri dua meter darinya.
Pria yang selama ini selalu terlihat tenang, terkontrol, tak tergoyahkan.
Sekarang untuk pertama kalinya, ia terlihat… lelah.
“Sejak kapan kau tahu ini akan terjadi?” tanya Aira pelan.
“Aku sudah menduga sejak Mahendra mulai membuka rekaman.”
“Jadi kau sudah siap.”
“Aku selalu siap.”
Jawaban itu terdengar seperti kebanggaan.
Tapi di telinga Aira, itu terdengar seperti pengakuan lain.
“Kau selalu siap selamat,” katanya.
Arlan menatapnya lama.
“Kalau aku tidak siap, perusahaan ini sudah mati lima tahun lalu.”
“Dan ayahku?”
Sunyi.
Pertanyaan itu menggantung seperti palu yang siap jatuh.
Lima tahun lalu.
Ruang rapat itu dingin.
Bukan karena AC.
Tapi karena keputusan-keputusan yang diambil di dalamnya.
Arlan duduk di ujung meja panjang.
Ayah Aira di sisi kanan.
Laporan kerugian tergeletak terbuka. Grafik merah menurun seperti luka yang tidak berhenti berdarah.
“Kita harus tarik diri,” kata seseorang.
“Kita tidak bisa,” jawab ayah Aira tegas. “Kalau kita tarik diri sekarang, semua investor panik.”
“Kalau kita bertahan, semua tenggelam,” balas Arlan.
Itu pertama kalinya nada mereka beradu.
Bukan marah.
Tapi keras.
“Kita bertanggung jawab bersama,” kata ayah Aira.
Dan Arlan menjawab—
“Kita semua bertanggung jawab, tapi masing-masing harus memastikan perusahaannya tetap berdiri.”
Kalimat itu.
Kalimat yang sekarang menghantui mereka.
“Aku akan restrukturisasi kepemilikan. Risiko harus dipisahkan.”
“Risiko atau kesalahan?” tanya ayah Aira waktu itu.
Arlan tidak menjawab.
Tapi ia tetap melakukannya.
“Ayahku mempercayaimu.”
Suara Aira membawa Arlan kembali ke ruang tamu apartemen.
“Aku tahu.”
“Tidak. Kau tidak tahu.” Mata Aira mulai berair, tapi ia tidak membiarkannya jatuh. “Dia selalu bilang kau keras, tapi kau tidak pernah lari.”
“Aku tidak lari.”
“Kau memindahkan beban.”
Arlan menghela napas panjang.
“Aku memindahkan struktur risiko. Itu keputusan bisnis.”
“Bisnis?” Aira tertawa kecil. “Itu hidup seseorang.”
“Kalau aku tidak melakukannya, ribuan orang kehilangan pekerjaan.”
“Dan kau memilih ayahku sebagai penyangga.”
“Bukan sebagai korban.”
“Tapi kau siap jika dia yang jatuh.”
Kali ini Arlan tidak membantah.
Karena ia memang siap.
Dan itu yang paling menyakitkan.
Ponsel Arlan berdering.
Nama CFO muncul di layar.
Ia tidak mengangkatnya.
Beberapa detik kemudian, notifikasi lain masuk.
Investor utama meminta pertemuan darurat.
Tekanan mulai bergerak.
Cepat.
“Apa ada hal lain?” tanya Aira tiba-tiba.
“Apa maksudmu?”
“Selain pemindahan risiko itu.”
Arlan menatapnya.
Ada sesuatu yang ia tahan.
Dan Aira bisa melihatnya.
“Apa lagi yang kau sembunyikan?”
“Aku tidak menyembunyikan apa pun.”
“Kau baru saja bilang kau tidak menceritakan ini supaya aku tetap menandatangani kontrak.”
Itu benar.
Dan mereka berdua tahu itu.
“Aku tidak memanipulasimu.”
“Tapi kau membiarkanku tidak tahu.”
Itu lebih buruk.
Tiba-tiba ponsel Aira bergetar lagi.
Pesan dari ibunya.
Ibu: Aira… Ibu lihat berita. Ini tentang Papa lagi?
Napas Aira tercekat.
Lima tahun lalu hampir menghancurkan ibunya.
Sekarang semuanya dibuka lagi.
“Ibu tidak tahu detailnya,” katanya pelan.
Arlan menatap layar itu.
Wajahnya berubah.
Lebih gelap.
“Aku tidak pernah ingin keluargamu terseret lagi.”
“Tapi kau tahu itu pasti terjadi kalau ini dibuka.”
“Aku pikir aku bisa mengendalikannya.”
“Semua orang selalu berpikir begitu.”
Aira berjalan menjauh.
Ke arah dapur.
Ke arah mana saja yang menjauh dari pria itu.
“Kau tahu apa yang paling menyakitkan?” katanya tanpa menoleh.
“Apa?”
“Bukan karena kau membuat keputusan dingin.”
“Lalu?”
“Karena aku mulai percaya kau berbeda.”
Arlan terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban strategis.
“Aira.”
Ia memanggil namanya pelan.
“Aku tidak bisa mengubah keputusan lima tahun lalu.”
“Aku tahu.”
“Tapi kalau harus memilih lagi—”
“Jangan,” potong Aira cepat. “Jangan bilang kau akan melakukan hal yang sama.”
Sunyi.
Dan sunyi itu adalah pengakuan.
Karena jauh di dalam dirinya—
Arlan tahu.
Ia mungkin tetap akan memilih menyelamatkan perusahaannya.
Dan Aira tahu itu.
Lampu kota di luar jendela berkilau seperti saksi bisu.
“Kalau penyelidikan ini berjalan,” kata Aira pelan, “semuanya akan terbuka.”
“Ya.”
“Termasuk bagianmu.”
“Ya.”
“Apa kau siap kehilangan semuanya?”
Arlan menatapnya.
Lama.
“Kalau itu harga untuk menghentikan Mahendra dan membersihkan semuanya… aku siap.”
“Tapi bukan lima tahun lalu.”
Itu kalimat terakhir yang mematahkan jarak di antara mereka.
Aira tidak pergi.
Tapi ia juga tidak mendekat.
Kepercayaan itu belum hilang sepenuhnya.
Tapi sekarang ia tahu—
Ia mencintai pria yang mampu memilih bertahan
meski itu berarti orang lain yang jatuh lebih dulu.
Dan itu bukan cinta yang sederhana.
sangat seru