NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — Kebenaran yang Tidak Bersih

Debu tipis berputar di udara ruang kerja itu.

Aira masih berdiri di depan meja ayahnya, map merah di tangannya terasa semakin berat. Nama di hadapannya—Wirawan Suryanta—mengguncang sesuatu yang selama ini ia yakini kokoh.

Partner.

Kata itu tidak pernah ia dengar sebelumnya.

Ayahnya selalu mengatakan ia membangun perusahaan sendiri. Tanpa investor besar. Tanpa ketergantungan.

Tapi dokumen di tangannya berkata lain.

“Arlan belum memberitahumu semuanya.”

Kalimat Wirawan tadi masih menggantung.

Aira mengangkat wajah. Tatapannya tajam, tapi ada retakan jelas di dalamnya.

“Kalau Anda memang partner ayah saya,” katanya pelan, “kenapa nama Anda tidak pernah disebut?”

Wirawan tersenyum samar. Senyum seseorang yang sudah lama berdamai dengan reputasi yang kelam.

“Karena kami sepakat begitu.”

“Sepakat menyembunyikan?”

“Sepakat melindungi.”

Kata itu langsung menyentak Aira.

Melindungi.

Lagi.

Seolah semua pria dalam hidupnya memutuskan sesuatu atas nama dirinya tanpa pernah bertanya.

“Semua orang tampaknya suka melindungi saya tanpa izin,” katanya dingin.

Wirawan menatapnya lama. Tidak tersinggung. Justru ada sesuatu seperti iba.

“Kamu benar-benar putri ayahmu,” gumamnya.

Aira tidak tertarik nostalgia.

“Jawab pertanyaan saya.”

Wirawan berjalan pelan mengelilingi meja. Tangannya menyentuh sandaran kursi direktur utama—kursi yang dulu diduduki ayah Aira bertahun-tahun.

“Perusahaan ayahmu tumbuh cepat,” katanya. “Terlalu cepat untuk modal internal.”

“Jadi Anda investor.”

“Bukan hanya investor.”

Ia menatap Aira.

“Kami partner risiko.”

Jantung Aira berdebar lebih cepat.

“Artinya?”

“Artinya sebagian keputusan besar… kami ambil bersama.”

Aira menatap map di tangannya. Kontrak PT Suryantara Holdings terasa seperti bukti yang mulai hidup.

“Investasi terakhir ini,” katanya, “apa keputusan bersama juga?”

Wirawan tidak langsung menjawab.

Dan diamnya itu cukup.

“Jadi benar,” bisik Aira. “Ayah saya tidak dipaksa.”

“Tidak.”

Kata itu jatuh berat.

Aira memejamkan mata sebentar. Dunia yang selama lima tahun ia bangun—narasi ayah sebagai korban—perlahan retak.

“Kenapa?” suaranya hampir tidak terdengar. “Kenapa dia ambil risiko sebesar itu?”

Wirawan menarik napas panjang.

“Karena kami dijanjikan sesuatu yang lebih besar.”

“Apa?”

“Masuk ke proyek infrastruktur nasional.”

Dada Aira mengencang. Itu proyek prestisius. Jika berhasil, perusahaan ayahnya akan melonjak ke level baru.

“Dan gagal?” tanyanya.

Wirawan tersenyum pahit.

“Dana berhenti. Dukungan politik hilang. Dan semua yang sudah masuk… tenggelam.”

Potongan cerita mulai menyatu di kepala Aira. Tuduhan korupsi. Kerugian besar. Runtuhnya perusahaan.

“Jadi ini bukan skandal pribadi,” katanya. “Ini permainan besar yang gagal.”

“Ya.”

“Dan ayah saya tetap menandatangani?”

“Ya.”

Aira membuka mata. Airnya sudah berkumpul.

“Kenapa Arlan disalahkan?”

Pertanyaan itu langsung mengubah ekspresi Wirawan.

Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat berhati-hati.

“Karena dia yang paling mudah disalahkan,” katanya akhirnya.

Jantung Aira menegang.

“Maksud Anda?”

“Dia orang luar. Bukan keluarga. Bukan pemilik lama. Bukan lingkaran investor.”

Potongan lain jatuh.

“Jadi ayah saya membiarkan itu terjadi?”

Wirawan tidak menjawab cepat.

“Dia memilih,” katanya pelan, “siapa yang bisa menahan beban paling besar tanpa menghancurkan semuanya.”

Udara di ruangan itu terasa habis.

“Arlan,” bisik Aira.

Wirawan mengangguk pelan.

Aira mundur satu langkah kecil. Dunia berputar pelan di sekelilingnya.

Ayahnya…

memilih Arlan sebagai penanggung.

Bukan karena Arlan bersalah.

Tapi karena Arlan cukup kuat.

Air mata jatuh sebelum ia sempat menahannya.

“Dia… mengorbankan Arlan,” katanya serak.

Wirawan tidak menyangkal.

“Dia percaya Arlan akan bertahan.”

“Itu bukan kepercayaan,” suara Aira pecah. “Itu pengorbanan orang lain.”

“Kadang keduanya sama.”

Aira menggeleng keras. Surat ayahnya di sakunya terasa panas.

“Tidak,” bisiknya. “Ayah saya tidak seperti itu.”

Wirawan menatapnya dengan lembut tapi tanpa ilusi.

“Setiap pemimpin besar pernah membuat keputusan yang tidak bersih.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari fakta apa pun.

Aira menutup wajahnya sebentar. Napasnya goyah.

Jika ini benar… maka Arlan tidak hanya melindungi dirinya.

Ia melindungi ayahnya.

Dari putrinya sendiri.

“Arlan tahu semua ini?” tanyanya akhirnya.

“Ya.”

“Sejak awal?”

“Ya.”

Aira tertawa kecil di antara tangis. Suara yang patah.

“Tentu saja.”

Tentu saja Arlan diam.

Tentu saja ia menanggung.

Tentu saja ia terlihat bersalah.

Karena memang itu yang dipilihkan untuknya.

Aira menurunkan tangan dari wajahnya. Matanya merah, tapi jernih dengan cara yang baru.

“Masih ada bagian lain dari rekaman itu, kan,” katanya.

Wirawan tidak menjawab.

“Bagian yang menunjukkan ayah saya tahu Arlan akan disalahkan.”

Keheningan itu jawaban.

Dunia Aira runtuh lagi. Tapi kali ini bukan karena kebencian—

melainkan karena kebenaran.

“Ayah…” bisiknya hancur.

Di saat yang sama—

langkah kaki cepat terdengar di koridor.

Aira menoleh.

Pintu terbuka.

Arlan berdiri di sana.

Napasnya sedikit berat, seolah ia datang terburu-buru. Tatapannya langsung jatuh ke Aira—lalu ke Wirawan—lalu ke map merah di tangan Aira.

Dan ia tahu.

Semuanya.

Wajahnya menegang.

“Aku sudah bilang jangan datang ke sini,” katanya pelan ke Wirawan.

Wirawan mengangkat bahu tipis. “Dia yang datang.”

Aira menatap Arlan. Tidak marah. Tidak benci.

Lebih menyakitkan.

Mengerti.

“Jadi benar,” katanya pelan. “Kamu menanggung kesalahan ayahku.”

Ruangan itu membeku.

Arlan tidak menjawab.

Karena tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Air mata Aira jatuh.

“Aku membencimu lima tahun,” bisiknya. “Padahal kamu menanggung dosa yang bukan milikmu.”

Arlan menatapnya dengan sesuatu yang hampir putus.

“Aku tidak pernah menganggapnya dosa kamu,” katanya pelan.

Kalimat itu menghancurkan sisa pertahanan Aira.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

ia melihat ayahnya sebagai manusia yang tidak sepenuhnya bersih.

Dan Arlan…

sebagai seseorang yang terluka karenanya.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!