Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Malam itu Senja tidak langsung tidur.
Lampu kamar kecilnya menyala redup. Dindingnya tipis. Dari luar masih terdengar suara televisi ruang tengah dan sesekali tawa pelan yang terasa jauh—bukan karena jarak, tapi karena hatinya memang sudah lama berdiri sendiri.
Ia membuka lemari kecilnya perlahan.
Pintu kayunya sedikit berderit.
Isinya tidak banyak.
Beberapa baju kerja yang digantung rapi meski warnanya mulai memudar.
Dua kaus lama yang biasa ia pakai di rumah.
Celana hitam yang sudah berkali-kali dicuci sampai seratnya terasa tipis di kulit.
Ia menyentuh satu per satu pakaian itu.
Bukan karena berat meninggalkannya.
Tapi karena untuk pertama kalinya, ia melihat semua itu sebagai miliknya.
Bukan pemberian.
Bukan lungsuran.
Bukan sisa.
Miliknya.
Senja lalu duduk di lantai, bersandar pada sisi tempat tidur. Lututnya ditekuk, dagunya bertumpu pelan di atasnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar memikirkan masa depannya sendiri.
Bukan tentang membantu Alfa.
Bukan tentang memenuhi harapan Kak Rita.
Bukan tentang membuat Ibu tidak khawatir.
Tapi tentang dirinya.
Tentang perempuan dua puluh sekian tahun yang selama ini selalu menyesuaikan diri.
“Kalau aku pergi… apa aku sanggup?” bisiknya pelan pada ruang yang tidak pernah menjawab.
Bayangan kos kecil muncul di kepalanya.
Kamar sempit dengan cat dinding yang mungkin mengelupas.
Kasur tipis.
Lemari plastik.
Kamar mandi bersama.
Makan seadanya.
Bangun sendiri tanpa ada suara orang lain.
Pulang kerja membuka pintu kamar yang sunyi.
Semua itu terasa menakutkan.
Sunyi itu terasa besar.
Tapi lebih menakutkan lagi adalah tetap tinggal… dan terus merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri.
Tetap harus meminta.
Tetap harus menjelaskan.
Tetap harus merasa bersalah hanya untuk sesuatu yang sederhana.
Senja mengambil slip gajinya lagi dari dalam tas.
Kertas itu sudah sedikit terlipat di ujungnya. Ia membukanya hati-hati.
Ia menatap angka di sana.
Angka itu tidak besar.
Tapi itu cukup.
Cukup untuk membayar kos sederhana.
Cukup untuk makan hemat.
Cukup untuk hidup… jika ia benar-benar mengatur sendiri.
Ia menghitung dalam hati. Mengurangkan biaya makan. Ongkos. Sedikit tabungan. Mungkin sangat sedikit di awal.
Namun tetap ada.
“Selama ini aku cuma tidak pernah diberi kesempatan,” gumamnya.
Bukan tidak mampu.
Hanya tidak dipercaya.
Dan mungkin… selama ini ia juga terlalu takut untuk meminta haknya sendiri.
Pagi itu, sebelum berangkat kerja, Senja tidak lagi mengetuk pintu kamar Kak Rita seperti biasanya.
Tidak ada suara “Kak, aku berangkat.”
Tidak ada menunggu jawaban singkat dari dalam.
Ia berdiri di ruang tamu beberapa detik, lalu duduk sebentar di kursi kayu.
Ia membuka ponselnya.
Tangannya terasa dingin.
Ia menulis pelan, menghapus, menulis lagi.
Akhirnya kalimat itu selesai.
Kak, aku tetap akan bantu Alfa sebisaku.
Tapi mulai bulan ini, aku akan pegang gajiku sendiri.
Kalau memang aku harus kos, aku akan cari tempat.
Aku tidak pergi karena marah.
Aku pergi supaya aku bisa belajar jadi dewasa dengan caraku sendiri.
Tangannya gemEtar saat menekan tombol kirim.
Bukan karena ragu.
Tapi karena sadar—ini pertama kalinya ia memilih dirinya sendiri tanpa meminta persetujuan siapa pun.
Ia berdiri.
Mengambil tasnya.
Melangkah keluar.
Udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Tapi langkahnya terasa… lebih sadar.
Di tempat kerja, saat berdiri berjam-jam seperti biasa, rasa perih di jempolnya masih ada.
Sepatu itu benar-benar sudah tidak layak. Setiap kali ia berjalan, ada gesekan kecil yang menyakitkan.
Biasanya rasa itu membuatnya merasa kecil.
Seperti pengingat bahwa ia tidak pernah benar-benar punya apa-apa.
Namun hari ini berbeda.
Perih itu bukan lagi simbol ketidakberdayaan.
Itu pengingat.
Bahwa sebentar lagi ia akan membeli sepatu dengan uangnya sendiri.
Tanpa merasa bersalah.
Tanpa merasa seperti pengemis.
Tanpa harus menjelaskan untuk apa uangnya dipakai.
Sore itu, ia pulang lebih lambat.
Bukan karena lembur.
Tapi karena ia sengaja berjalan lebih jauh dari biasanya.
Ia memperhatikan papan-papan kecil bertuliskan “TERIMA KOS PUTRI” yang menempel di tiang listrik dan pagar rumah.
Satu tempat menarik perhatiannya.
Rumah sederhana. Catnya tidak baru, tapi bersih. Halamannya sempit.
Ia memberanikan diri bertanya.
Kamar itu kecil.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Kasurnya tipis.
Ada jendela kecil yang menghadap gang.
Tapi ada satu hal yang membuat dadanya terasa hangat.
Ada kunci di pintunya.
Dan kunci itu… bisa ia pegang sendiri.
Saat pemilik kos menyebut harga, Senja menghitung cepat dalam pikirannya.
Ia mampu.
Dengan hidup sederhana.
Dengan menahan sedikit.
Dengan memasak sendiri mungkin.
Dengan tidak membeli hal-hal yang tidak perlu.
Ia mampu.
Untuk pertama kalinya, masa depan tidak terasa seperti sesuatu yang diatur orang lain.
Ia memang takut.
Takut kalau tiba-tiba sakit dan tidak ada yang membantu.
Takut kalau uangnya kurang.
Takut kalau ia merasa kesepian.
Tapi lebih dari itu—
ia merasa hidup.
Merasa punya pilihan.
Malam itu, ketika kembali ke kontrakan, suasana terasa canggung.
Kak Rita tidak banyak bicara.
Senja juga tidak mencari keributan.
Ia hanya mencuci tangan, duduk, dan makan dengan tenang.
Tidak ada lagi rasa ingin membela diri.
Tidak ada lagi rasa ingin menjelaskan panjang lebar.
Dalam hatinya, sesuatu sudah berubah.
Ia tidak lagi merasa seperti bayangan.
Ia mungkin belum pergi.
Tasnya masih ada di kamar kecil itu.
Bajunya masih tergantung di lemari lama itu.
Tapi di dalam dirinya… ia sudah berdiri.
Sudah mengambil langkah pertama yang selama ini selalu ia tunda.
Dan ia sadar—
kadang, keberanian bukan tentang berteriak.
Bukan tentang membanting pintu.
Bukan tentang membalas dengan kemarahan.
Kadang, keberanian adalah berkata pelan:
“Aku juga berhak.”
Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak lagi terdengar seperti permintaan.
Tapi keputusan.
Senja akhirnya mengerti—
rumah bukan hanya tempat tinggal.
Rumah adalah tempat di mana seseorang merasa dihargai tanpa harus memohon.
Jika suatu tempat membuatmu terus merasa kecil…
terus merasa harus mengecilkan diri supaya diterima…
mungkin memang sudah waktunya membangun rumahmu sendiri.
Walaupun kecil.
Walaupun sederhana.
Asal di dalamnya… ada harga diri yang utuh.