Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Bayangan
Hujan deras mengguyur Kota Arcapura malam itu, menciptakan tirai air yang seolah ingin menenggelamkan seluruh isi kota ke dalam keheningan abadi. Di balik jendela kaca ruang kerja Dr. Arisandi yang berada di lantai tiga RSU Cakra Buana, kilat menyambar sesekali, menerangi pegunungan karst yang membentang hitam di kejauhan seperti punggung naga purba yang tertidur. Namun, kengerian yang sesungguhnya tidak datang dari badai di luar, melainkan dari sisa lumpur berbau anyir yang kini mengotori lantai marmer ruangan steril tersebut.
Elara Senja menyandarkan tubuhnya ke dinding, napasnya masih memburu setelah pelarian gila dari lantai dasar empat yang terkutuk itu. Ia menatap nanar ke arah pintu ruangan yang baru saja dikunci rapat oleh Pak Darto, seolah mengharapkan sesuatu akan mendobrak masuk kapan saja. Rasa dingin dari lorong bawah tanah itu sepertinya telah meresap ke dalam tulang sumsumnya, membuatnya terus menggigil meski pendingin ruangan telah dimatikan.
"Ini tidak masuk akal, sama sekali tidak masuk akal secara medis ataupun logika," gumam Dr. Arisandi, tangannya gemetar hebat saat mencoba menuangkan air ke dalam gelas kaca. Pria paruh baya yang biasanya tampil berwibawa dengan jas putih bersih itu kini tampak kacau, matanya liar menyapu setiap sudut ruangan kerjanya sendiri seakan ia adalah orang asing di sana.
Pak Darto menghela napas panjang, lalu membersihkan sisa tanah merah yang menempel di ujung sepatunya dengan tisu basah yang ia ambil dari meja dokter. Pria tua itu tampak jauh lebih tenang, namun Elara bisa melihat bagaimana otot rahangnya mengeras, menandakan kewaspadaan tingkat tinggi yang belum surut.
"Logika Bapak tidak berlaku di tempat yang pondasinya dibangun di atas janji darah, Dok," sahut Pak Darto dengan suara berat yang memenuhi ruangan. Ia melempar tisu kotor itu ke tempat sampah, lalu menatap tajam ke arah dokter bedah senior itu. "Sekarang Bapak sudah melihatnya sendiri. Mereka tidak diam di bawah sana. Mereka lapar, dan malam ini kita adalah hidangan utamanya jika kita tidak segera bertindak."
Elara melangkah mendekat, mencoba menengahi ketegangan yang mulai memuncak di antara kedua pria itu. "Dr. Arisandi, kami butuh akses ke arsip lama. Bukan arsip digital yang ada di server rumah sakit, tapi berkas fisik pembangunan gedung sayap timur tahun 1920-an. Saya tahu Bapak memegangnya."
Dr. Arisandi terdiam, tatapannya kosong menatap genangan air di dalam gelasnya yang bergetar mengikuti tremor tangannya. Tiba-tiba, lampu di ruangan itu berkedip sekali, lalu mati total selama tiga detik sebelum kembali menyala dengan pendar yang lebih redup dan kekuningan. Suasana ruangan berubah drastis, dari kantor modern menjadi sesuatu yang terasa tua dan lapuk.
Bau itu datang lagi—aroma formalin yang bercampur dengan bau tanah basah dan bunga kamboja yang layu. Elara sontak menutup hidungnya, matanya membelalak ngeri ketika melihat jejak kaki basah perlahan tercetak di atas karpet tebal, muncul dari arah pintu yang tertutup dan bergerak menuju meja kerja Dr. Arisandi. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya lekukan serat karpet yang terinjak oleh beban tak kasat mata.
"Dia... dia mengikuti kita sampai ke sini," bisik Elara, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia mundur perlahan hingga punggungnya menabrak lemari buku, matanya tak lepas dari jejak kaki yang kini berhenti tepat di depan kursi kebesaran sang dokter.
Dr. Arisandi terlonjak mundur hingga kursi kerjanya terguling jatuh dengan suara berdebum yang keras. Wajahnya pucat pasi, seputih kain kafan, saat ia menyadari bahwa skeptisisme sains yang selama ini ia agungkan telah runtuh sepenuhnya di hadapan teror yang nyata. Ia merogoh saku jasnya dengan panik, mengeluarkan sebuah kunci kuno berkarat yang bentuknya tidak lazim.
"Di balik lukisan pendiri rumah sakit di koridor utara... ada brankas dinding," ucap Dr. Arisandi dengan napas tersengal, matanya menatap horor pada udara kosong di depannya. "Semua catatan tentang 'perjanjian tanah' itu ada di sana. Kakek saya... dialah yang menandatanganinya saat menjadi direktur pertama."
Pak Darto tidak membuang waktu, ia segera menarik lengan Dr. Arisandi agar menjauh dari meja kerjanya. "Elara, ambil senter di tas saya. Kita harus bergerak sekarang juga. Entitas ini semakin kuat karena dia merasa 'tuannya' ada di ruangan ini."
Mereka bergegas keluar dari ruangan itu, meninggalkan jejak kaki basah yang perlahan mulai mengering namun meninggalkan noda hitam seperti hangus. Koridor RSU Cakra Buana malam itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya, dengan lorong-lorong gelap yang seolah memanjang tanpa ujung, menyesatkan siapa saja yang berani melintasinya.
Suara guntur menggelegar di langit Arcapura, berbarengan dengan suara langkah kaki mereka yang bergema di lantai keramik. Elara merasakan ada banyak mata yang mengawasi dari balik pintu-pintu kamar rawat inap yang tertutup rapat. Bayangan pilar-pilar besar bergaya kolonial tampak seperti raksasa yang siap menyergap, menciptakan ilusi visual yang mempermainkan kewarasan.
"Jangan menoleh ke belakang, apapun yang kalian dengar," peringat Pak Darto tanpa memperlambat langkahnya. Tangan kanannya memegang erat sebuah bungkusan kecil berisi garam kasar yang telah didoakan, siap ditebar jika situasi memburuk.
Dr. Arisandi memimpin di depan dengan langkah gontai namun terarah, menuju sebuah lukisan besar bergambar seorang pria berkumis tebal dengan pakaian jas tutup zaman Belanda. Lukisan itu selalu membuat Elara tidak nyaman setiap kali melewatinya, seolah mata pria di dalam kanvas itu hidup dan mengikuti gerak-gerik orang yang lewat.
"Cepat, Dok," desak Elara sambil menyorotkan senter ke arah ujung lorong yang gelap. Ia mendengar suara roda brankar berdecit, suara khas kereta dorong mayat yang rodanya kurang pelumas, mendekat dari arah lift barang.
Dengan tangan gemetar, Dr. Arisandi menggeser bingkai lukisan berat itu, menampakkan sebuah pintu brankas besi yang tertanam di dinding beton. Ia memasukkan kunci kuno yang ia pegang, memutarnya dua kali ke kiri dan satu kali ke kanan. Bunyi 'klik' mekanis terdengar nyaring, memecah kesunyian koridor yang mencekam.
Pintu brankas terbuka perlahan, mengeluarkan aroma kertas tua yang menyengat. Di dalamnya, hanya ada satu buku besar bersampul kulit hitam yang tampak usang dan sebuah kotak kayu kecil berukir simbol yang tidak Elara kenali. Dr. Arisandi mengambil buku itu dengan takzim, seolah benda itu adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
"Ini dia," bisik dokter itu, suaranya bergetar. "Buku Log Harian Pembangunan 1924. Di sini tertulis nama-nama pekerja yang 'dikorbankan' untuk pondasi Level 4."
Belum sempat Elara melihat isinya, suara decitan roda brankar itu terdengar semakin dekat dan keras, kini disertai dengan suara seretan langkah kaki yang berat. Lampu koridor mulai berkedip liar, dan suhu udara turun drastis hingga embun muncul di kaca jendela.
"Kita tidak bisa membacanya di sini," tegas Pak Darto, menarik bahu Elara dan Dr. Arisandi. "Lari ke tangga darurat! Mereka sudah menutup akses lift!"
Mereka berlari sekuat tenaga saat pintu lift barang di ujung lorong perlahan terbuka sendiri. Dari kegelapan lift itu, bukan manusia yang keluar, melainkan kabut hitam pekat yang merayap cepat di lantai, mengejar mereka seperti ombak pasang yang mematikan. Elara tahu, malam ini di Arcapura, batas antara yang hidup dan yang mati sudah tidak ada lagi.