Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Pendekatan
Bianca melangkah masuk ke dalam private lounge sunyi, pengacaranya sudah menunggu dengan setumpuk berkas dan secangkir kopi hitam yang mengepul. Mereka duduk berhadapan.
Valerie Dupont menyesap kopinya, lalu membuka sebuah map hitam. "Kasus ini sangat sensitif, Bianca. Mempertahankan lima persen saham dari perusahaan logistik di Italia bukan hal mudah. Dia bisa menggugat kembali untuk merampas darimu."
"Itu jika kau bermain bersih, Valerie. Tapi kita tidak akan melakukannya," Bianca mengeluarkan salinan kliping koran lama yang menunjukkan kebakaran hebat di perkebunan zaitun Palermo dua puluh tahun silam.
"Simon hanyalah anak haram dari hubungan gelap ayahnya, Antonio Maldini dengan seorang wanita malam bernama Vionna Lombardi. Ia tidak pernah menjadi pewaris sah, ia 'menyingkirkan' saudara tirinya dalam kebakaran itu. Aku memiliki bukti tentang apa yang terjadi di Palermo, termasuk keberadaan cincin stempel kuno milik keluarga bangsawan yang seharusnya sudah ia musnahkan."
Valerie menatap dokumen itu dengan binar serakah di matanya. "Identitas palsu, pembunuhan saudara tiri, dan garis keturunan yang terputus... Ini bukan lagi sekadar negosiasi saham, Bianca. Ini adalah vonis mati untuk reputasi Simon."
"Tepat. Pastikan dia tahu bahwa jika sahamku disentuh kembali, rahasia di balik kerajaan bisnisnya akan meledak seperti perkebunan zaitun itu," Bianca mengingatkan.
"Beberapa hari lagi, Simon akan datang ke Paris untuk memintaku kembali menjadi kekasihnya. Dia akan memaksaku, tapi aku enggan. Dia selingkuh, Val. Dia pasti akan mengungkit saham yang diberikannya seminggu lalu, saat itulah aku akan menggunakan kartu as ini."
"Begitu dia mulai menekanmu soal saham, kita akan jatuhkan bom Palermo ini tepat di hadapannya. Aku akan memastikan dia sadar bahwa harga untuk memaksamu jauh lebih mahal daripada seluruh hartanya."
"Ada kemungkinan lain... dia mungkin akan mengancam untuk melenyapkanku. Koneksi Simon adalah para mafia pelanggan senjata apinya. Ini hanya untuk jaga-jaga, Valeria. Simpan semua bukti ini. Jika aku menghilang tanpa kabar, kau harus segera bergerak. Kau paham apa yang harus kau lakukan?" ucap Bianca dengan tatapan yang menuntut kesigapan praktis dari Valeria.
"Tentu. Aku akan memastikan seluruh rahasianya menjadi berita utama di Italia sebelum dia sempat mencuci tangannya. Kau aman bersamaku."
...****************...
Di dalam kabin Lykan Bianca berbisik pelan sembari menatap rear view mirror. "Lora, kau dengar tadi? Jika Simon berani bertindak nekat di Paris nanti, pastikan kau tidak hanya menonton dari balik cermin. Kau satu-satunya saksi yang tidak bisa dia lenyapkan. Apa kau siap membuat hidupnya terasa seperti neraka di Palermo?"
"Aku tidak punya tangan untuk mencekiknya, Bianca. Tapi aku punya seribu cara untuk menghancurkan kewarasannya melalui setiap cermin yang ia lewati. Dia tidak akan pernah merasa sendirian lagi dalam ketakutannya."
"Aku sudah mati di kehidupan pertamaku, Lora. Di kehidupan keduaku ini, kau bilang aku kekal hanya karena gairah seorang pria. Tapi, apa aku masih bisa mati jika dibunuh? Atau karena kecelakaan?" tanya Bianca tetap tenang, sembari menyesap rokoknya dan terus mengemudi.
"Secara fisik, peluru atau hantaman logam tetap bisa merusak tubuhmu. Namun, kau akan cepat sembuh dan selama gairah pria itu tetap menyala untukmu, jiwamu akan selalu terseret kembali ke depan cermin Bianca."
"Dan aku tetap merasa sakit seperti manusia pada umumnya?" tanya Bianca pelan, membuang abu rokoknya ke luar jendela yang sedikit terbuka.
"Tentu saja. Tubuhmu bukan batu, Bianca. Kau merasakan perihnya luka sebagai manusia fana lainnya. Bedanya, saat mereka menemukan kedamaian dalam kematian, kau justru akan bangun kembali dengan rasa sakit yang sama, dipaksa mengulanginya demi memuaskan gairah yang mengikatmu."
"Wah, sayang sekali... padahal aku mulai lelah hidup seperti ini. Tidak bisa menikah, tidak boleh punya anak," bisiknya dalam hati mulai jenuh, sebuah rahasia yang tak diketahui Lora.
Bianca menghentikan mobilnya di suatu tempat siang itu, tempat damai yang dipenuhi suara tawa anak-anak: sebuah panti asuhan.
"Kenapa kau ke sini, Bianca?" tanya Lora.
"Aku hanya ingin melihat anak-anak. Kau bilang aku tidak boleh hamil, maka sekadar melihat saja pun tak apa," sahut Bianca pada Lora.
Bianca masuk untuk menemui pengurus yayasan, seorang suster senior dan seorang ibu asuh yang sangat . Keduanya memiliki tatapan mata yang teduh.
"Selamat siang, Suster. Nama saya Bianca Wolfe. Apakah saya diperbolehkan berkunjung lagi suatu saat nanti?"
"Selamat siang, Nona Bianca. Tentu saja, pintu kami selalu terbuka untuk niat baik," ucap Suster Marie.
Ibu Martha menimpali sembari tersenyum hangat, "Anak-anak pasti senang. Silakan datang kapan pun hatimu merasa butuh kedamaian, kami dengan senang hati menyambutmu."
"Saya ingin berdonasi sedikit untuk anak-anak. Semoga ini bisa membantu," ucap Bianca lembut sembari menyerahkan amplop tebal. Di atas lembar tanda terima, jemarinya yang lentik menggoreskan inisial MBW—Miss Bianca Wolfe.
Ia memilih tetap anonim bagi dunia, namun meninggalkan jejak kecil bagi mereka yang membutuhkan harapan.
Bianca merendahkan tubuhnya, berbincang hangat dengan anak-anak yang mengerumuninya. Saat jemari kecil salah satu bocah menyentuh lengannya, setetes air mata jatuh tanpa ia sadari. Setidaknya aku lebih beruntung dari mereka; ayah menemaniku hingga usia sepuluh tahun, dan Nenek menjagaku sampai aku sembilan belas tahun, bisiknya pedih dalam hati.
Setelah berpamitan dengan Suster Marie dan Ibu Martha, Bianca segera memacu Lykan miliknya membelah jalanan Paris. Tujuan berikutnya adalah galeri seni prestisius milik Brandon Dubois, putra tiri ibunya, Vivianne Dubois. Di sana, rahasia keluarga dan ambisi seni akan saling bersinggungan di bawah lampu kristal yang dingin.
"Sisi melankolismu ternyata masih ada, Bianca."
"Apa itu salah, Lora? Ingatlah, hatiku hanya melembut untuk mereka lemah," sahut Bianca dingin, mengakhiri perdebatan.
Lykan milik Bianca meluncur anggun di distrik Le Marais yang padat, berhenti tepat di depan sebuah galeri seni minimalis dengan bangunan kaca besar. Saat ia melangkah masuk, aroma cat minyak dan kopi menyeruak. Seorang pria paruh baya berusia empat puluhan, dengan rambut rapi dan kacamata bertengger di hidungnya, menyambutnya. Pria itu, yang rupanya ditugaskan untuk mengelola dan menjelaskan setiap koleksi seni, tersenyum ramah.
"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.
Bianca tersenyum tipis.
"Selamat siang. Saya hanya penasaran, galeri seindah ini milik siapa, ya?" Ia bertanya iseng, meski Lora sudah membisikkan dalam benaknya, 'Sabarlah, sepuluh menit lagi, pria itu akan datang. Setelah itu, gunakan kesempatan ini untuk mendekatinya.' Bianca menanti.
Pria paruh baya itu baru saja akan menjawab ketika pintu galeri terbuka, dan sosok yang mereka tunggu-tunggu melangkah masuk. Brandon Dubois.