Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Brutal
Bianca mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap deretan pohon kamboja dan pura yang berjajar di sepanjang jalanan Bali yang asri. Pikirannya melayang; artinya Lora harus bekerja ekstra memastikan Simon tidak menelepon terlalu sering.
"Mr. Italia" muncul di layar. Bianca menarik napas panjang, melirik Mahesa dari sudut mata dan berharap pria di sampingnya itu tidak membuat ulah saat ia mengangkat panggilan tersebut.
Mahesa hanya melirik sekilas ke arah ponsel yang berisik itu, lalu menyeringai tipis. Tanpa peringatan, ia menurunkan kecepatan mobil dan membelokkan SUV itu ke bahu jalan yang sepi, di bawah rimbunnya pohon perindang.
"Angkatlah," suaranya terdengar sangat dekat di telinga Bianca. "Tapi kalau kau tidak ingin dia curiga kenapa suaramu bergetar, sebaiknya jangan biarkan tanganku bergerak terlalu jauh."
Tangan Mahesa yang besar kini mulai berpindah,
Jemarinya perlahan mengusap lutut Bianca yang tersingkap, bergerak naik dengan gerakan yang sangat provokatif tepat saat Bianca menekan tombol hijau.
"Ciao, Simon... iya, aku baru saja mendarat," ucap Bianca dengan suara yang sedikit tertahan, berusaha menjaga nada bicaranya tetap stabil meskipun jemari Mahesa kini sudah merayap lebih dalam di balik gaunnya.
Di seberang telepon, suara berat Simon terdengar protektif, menanyakan kenyamanan penerbangannya dan apakah supir yang ia sewa sudah menjemput tepat waktu.
"Iya, supirnya... sangat cekatan. Aku sedang dalam perjalanan menuju resor sekarang. Terlalu lelah untuk bicara banyak, Simon," lanjut Bianca. Ia memejamkan mata erat saat Mahesa dengan sengaja memberikan remasan pelan pada paha bagian dalamnya, sebuah provokasi yang hampir membuat Bianca memekik, tangan Bianca mencoba menahan tangan Mahesa.
Mahesa menatap Bianca dengan seringainya, wajahnya hanya berjarak beberapa inci, menikmati pemandangan wanita itu yang sedang berjuang mempertahankan profesionalismenya di depan sang kekasih sekaligus investornya.
"Aku akan menghubungimu lagi setelah mandi dan beristirahat, oke? Ti amo," Bianca segera mematikan sambungan sebelum Simon sempat bertanya lebih jauh tentang suaranya yang mulai tersengal.
Begitu ponsel tergeletak di dasbor, Bianca menoleh tajam pada Mahesa. "Kau gila? Kalau dia curiga, investasimu di proyek ini juga bisa terancam!"
"Aku lapar. Aku ingin makan sesuatu yang hangat dan berkuah khas pulau ini," perintah Bianca ketus, berusaha mengalihkan ketegangan yang baru saja terjadi.
Mahesa menarik kembali tangannya dari paha Bianca, lalu kembali memegang kemudi dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. "Tentu. Tapi jangan harap kita akan pergi ke restoran turis yang membosankan."
"Aku akan membawamu menikmati Sup Kepala Ikan paling legendaris. Saat tiba di resort nanti."
Setibanya di resor, Bianca mengabaikan Mahesa sepenuhnya. Ia melangkah masuk ke kamar utama, lalu segera menyiapkan bathtub untuk berendam. Sambil melepas penat, ia menatap hamparan hijau persawahan yang mulai nampak gelap dan misterius dari balik jendela besar di depan bak mandinya.
"Ah, nyamannya..." desah Bianca saat tubuhnya tenggelam dalam air hangat beraroma esensial kenanga.
"Lora... pria yang kau kirim benar-benar gila. Dia hampir saja menghancurkanku jika sampai Simon tahu tadi. Buatlah Simon sibuk dengan urusan kantornya, dan peringatkan Mahesa agar tidak terlalu brutal," perintah Bianca dengan nada kesal sambil menatap cermin besar yang mulai berembun.
"Jangan naif, Bianca. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau iri padanya karena dia bisa 'mati'? Pria seperti Mahesa tidak akan bisa kau jinakkan dengan perintah lembut; dia hanya mengerti bahasa dominasi. Soal Simon, tenanglah. Aku sudah mengatur agar audit besar-besaran terjadi di perusahaannya malam ini di Italia, dia tidak akan punya waktu bahkan untuk bernapas, apalagi meneleponmu. Tapi soal Mahesa? Itu bagianmu. Nikmati saja kegilaannya, karena pria yang tidak brutal tidak akan bisa memuaskan dahaga keabadianmu yang menuntut itu."
Saat makan malam di resor, Bianca lebih banyak diam. Jujur saja, ia merasa sedikit terintimidasi oleh aura pria Asia di hadapannya ini.
"Kau juga akan tinggal di sini selama dua minggu ke depan?" tanya Bianca sembari menghirup kuah supnya yang harum.
Mahesa meletakkan sendoknya, lalu menatap Bianca. "Tentu tidak. Aku punya vila sendiri di bukit seberang. Tapi aku punya akses penuh ke suite ini, dan aku akan memastikan kau tidak pernah merasa kesepian, siang maupun malam. Habiskan supmu, Bianca. Kau butuh tenaga ekstra untuk 'jadwal' yang sudah kususun besok pagi."
"Jadwal? aku baru saja sampai, setidaknya aku ingin bangun sedikit siang." protes Bianca.
"Kau pikir aku menjemputmu ke hutan itu hanya untuk menjadi supir? Aku investor di proyek ini, tapi aku juga 'kurator' untuk aset-aset Lora. Dan hari ini, aku ingin memastikan asetku masih dalam kondisi terbaik."
Mahesa berdiri, menarik tangan Bianca untuk ikut bangkit dan menuntunnya menuju tempat tidur besar berkelambu putih yang menghadap langsung ke panorama lembah hijau. "Lupakan Simon untuk beberapa jam ke depan. Di pulau ini, dialah yang asing, bukan aku."
Mahesa menyentak tubuh Bianca hingga menempel pada tiang kelambu tempat tidur, mengunci kedua tangan wanita itu di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kokoh. Bianca terengah, aroma maskulin yang bercampur dengan bau hutan dari tubuh Mahesa terasa begitu memabukkan sekaligus mengintimidasi.
"Kau bilang aku brutal, Bianca?" bisik Mahesa, suaranya rendah dan serak tepat di ceruk lehernya. "Kau belum melihat apa-apa."
Tanpa peringatan, Mahesa menciumnya dengan penuh tuntutan, sebuah penguasaan yang tidak menyisakan ruang bagi Bianca untuk memimpin. Setiap sentuhan Mahesa terasa seperti klaim yang kasar namun presisi, seolah ia tahu persis di mana letak titik lemah Bianca yang selama ini disembunyikan dari Simon.
Bianca berusaha mempertahankan harga dirinya, namun kekuatan fisik Mahesa yang jauh di atasnya membuat setiap perlawanan kecilnya justru terasa seperti undangan.
Mahesa membalikkan tubuh Bianca, menekannya ke atas sprei sutra yang dingin, sementara ia terus mendominasi tanpa henti. Berjam-jam berlalu dalam ketegangan yang panas; Mahesa tidak membiarkan Bianca bernapas lega sedetik pun, memaksanya mengikuti ritme yang liar hingga seluruh persendian Bianca terasa lumpuh.
Mahesa seperti kesetanan, tak memperdulikan tubuh Bianca yang rapuh karena efek jetlag dari Eropa ke Indonesia.
Saat semuanya berakhir, Bianca terbaring sepenuhnya lemas, napasnya tersengal tak beraturan dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Ia bahkan tak sanggup menggerakkan ujung jarinya.
Mahesa bangkit dengan tenang, merapikan kemejanya seolah baru saja menyelesaikan transaksi bisnis yang mudah, meninggalkan Bianca yang tak berdaya di tengah kekacauan sprei yang berantakan, seperti wanita bayaran.
"Tubuhku sakit, Lora," rintih Bianca lirih. Untuk pertama kalinya, ia merasa dibuang seperti pelacur setelah bercinta. Tak ada pelukan hangat atau pujian memuja seperti yang biasa ia dapatkan dari pria-pria sebelumnya; Hernan, Mateo, dan Lukas.
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?