Dari kecil Perlita Cascata selalu di perlakukan tidak baik oleh keluarganya, dan sekarang dia juga harus merasakan sakitnya penghianatan dari kedua orang terdekatnya tepat di hari pernikahannya. Perlita harus merelakan calon suaminya menikahi kakak perempuannya yang bernama Ariana karena saat dirinya akan melaksanakan akad nikah, sang Kakak ketahuan hamil anak dari calon suaminya Perlita. Berharap mendapat simpati dari keluarganya tapi apa yang Perlita dapatkan, mereka semua malah mendukung pernikahan tersebut dan meminta Perlita untuk mengalah.
Bagaimana kehidupan Perlita selanjutnya? Apakah dia bisa melupakan pria yang sudah menyakitinya?
Ikuti terus kisahnya di sini ya!!😊
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor Polisi
"Kenapa saya ditangkap Bu? Lepaskan saya! Saya tidak ada urusan dengan kalian semua. Lepas!" Teriak Ariana memberontak supaya lepas dari polisi wanita tersebut.
"Masuk cepat!"
Polisi wanita tersebut mendorong Ariana masuk ke dalam mobil polisi dan mereka langsung melaju menuju kantor polisi.
"Kata Mbak Perlita ini dibiarkan dulu, jangan ada yang membereskan. Untuk sementara kalian boleh pulang dulu dan nanti masuk kerjanya kalau sudah ada kabar dari saya. Ayo segera keluar dari sini! Karena saya juga harus segera menuju kantor polisi."
Semua karyawan pun meninggalkan toko pakaian tersebut. Sementara Ariana sepanjang jalan menuju kantor polisi terus protes dan tidak terima dirinya ditangkap.
"Anda bisa diam ha? Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi nanti." Bentak polisi wanita tersebut yang membuat Ariana terdiam.
Sesampainya di kantor polisi sudah ada satu orang karyawan Perlita dan juga kuasa hukum Perlita yang akan menyelesaikan permasalahan ini.
"Sekarang, silakan hubungi kuasa hukum anda untuk mendampingi anda dalam menyelesaikan masalah ini. "
"Saya tidak terima dilaporkan seperti ini. Mana si Perlita itu? Jangan berani main belakang saja. Saya ini kakak kandungnya, berani sekali dia melaporkan saya." Teriak Ariana lagi yang tidak menerima dirinya dilaporkan ke polisi.
"Terserah anda, kalau anda tidak ada kuasa hukum tentunya anda akan semakin lemah posisinya."
"Sebentar, saya mau menghubungi suami dan orang tua saya dulu." Kata Ariana yang akhirnya menghubungi suami dan kedua orang tuanya. Ariana sampai menangis mengadukan Perlita yang dengan tega melaporkan dirinya ke polisi.
Tidak lama kemudian, suami dan orang tua Ariana sampai di kantor polisi.
"Sayang." Ariana langsung memeluk suaminya dan mengadukan Perlita ke Mama dan Papanya.
"Ma, aku dilaporkan oleh Perlita
Ma. Tega benar dia sama aku. Mungkin dia dendam dan balas dendam, Ma. Tolong Riana, Ma! Riana nggak mau dipenjara,"rengek Ariana dengan raut wajah sedih.
"Kurang ajar itu anak. Kamu tenang saja, kamu tidak akan dipenjara. Percaya saja sama mama. Sekarang di mana Perlita?" tanya Diana sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Nggak tahu Ma."
"Perkenalkan nama saya Bayu. Saya adalah kuasa hukum ibu Perlita. Semua masalah ini sudah diserahkan oleh ibu Perlita kepada kami," ujar kuasa hukum Perlita memperkenalkan dirinya.
"Saya tidak butuh kamu, yang saya butuhkan hanya Perlita. Dasar pengecut memang wanita itu," kata Diana yang merasa kesal dengan putri bungsunya itu.
"Harap tenang, Bu! Tolong, suaranya dijaga sedikit! Mari kita selesaikan masalah ini. Masih untung ibu Perlita menyuruh saya untuk mendiskusikan masalah ini dengan anak ibu. Kalau ibu Perlita sampai menuntut anak ibu, sudah pasti beda lagi ceritanya."
Akhirnya permasalahan tersebut dibicarakan dengan didampingi petugas kepolisian. Ariana memang terbukti bersalah dengan barang bukti rekaman CCTV dan kesaksian karyawan dari Perlita.
"Nggak, saya nggak mau membayar ganti rugi sebanyak itu. Kalian pikir uang sebanyak itu sedikit apa?"
"Dua ratus lima puluh juta memang sedikit dibandingkan dengan kerugian yang dialami oleh klien kami. Semua barang-barang yang ada di toko bahkan sebagian besar sudah tidak layak untuk dijual lagi. Belum lagi perabotan toko yang semuanya jadi rusak karena ulah ibu. Kalau Ibu nggak mau membayar ganti rugi sebanyak dua ratus lima puluh juta maka masalah ini akan naik ke jalur hukum yang mana nantinya tuntutan akan semakin berat."
"Tidak , Ma. Riana nggak mau dipenjara Ma."
"Sebentar, saya akan coba menghubungi Perlita dulu. Bagaimana pun juga Perlita adalah putri saya dan Ariana ini adalah kakak kandungnya. Saya yakin kalau Perlita tidak bakalan tega dengan kakak kandungnya sendiri," terang Diana.
Diana lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Perlita tapi sayangnya nomor Perlita sudah tidak aktif.
"Bagaimana Ma? Apa Perlita bisa dihubungi?" tanya Ariana dengan cemas.
"Nggak aktif."
"Lalu bagaimana ini Ma? Riana nggak mau dipenjara Ma."
"Tolong lah Pak kerja samanya! Lagian yang dirusak Ariana adalah toko adik kandungnya sendiri jadi tidak masalah bukan?" ujar Roby yang membenarkan tindakan putri sulungnya.
"Maaf yah Pak, klien kami tetap ingin ganti rugi. Kalau tidak ada maka dengan terpaksa permasalahan ini dibawa ke ranah hukum."
"Kami mana ada uang sebanyak itu Pak. Apalagi saat ini juga."
"Kami tidak peduli akan hal itu Pak. Bayar denda atau masalah ini naik ke ranah hukum. Saya tidak akan bicara panjang lebar lagi."
"Jadi bagaimana ibu Ariana? Mau bayar denda atau saudara akan kami tahan sekarang juga. Selama masalah ini masuk ke persidangan maka Ibu Ariana akan mendekam di tahanan."
"Nggak Bu, saya nggak mau Bu." Kata Ariana yang semakin ketakutan mendengar ucapan polisi wanita tersebut.
Ariana yang tidak menggunakan kuasa hukum tentu saja posisinya semakin lemah saja, apalagi dengan bukti rekaman CCTV dan juga kesaksian karyawan Perlita yang melihat tindakan Ariana.
"Kami akan beri bapak dan ibu untuk berdiskusi. Silahkan kalian berdiskusi di ruangan itu dan kalian akan di pantau oleh anggota kami."
Mereka pun berpindah ruangan ke ruangan yang di tunjukkan oleh polisi wanita tersebut.
"Ma, tolong Riana Ma! Riana mana ada uang segitu Ma."
"Pa, bagaimana ini?"
"Papa juga nggak ada uang sebanyak itu."
"Sayang, tolong bantu aku! Apa kamu nggak kasihan sama aku dan anak kita? Aku nggak mau mendekam di penjara."
"Tapi aku juga nggak punya uang sebanyak itu Riana," sahut Vito sembari menatap Ariana.
"Bagaimana kalau kita jual saja perhiasan mama," usul Roby.
"Nggak bakalan cukup Pa."
"Mobil kamu Riana, kamu harus merelakan mobil kamu. Papa rasa uangnya cukup ditambah dengan perhiasan Mama kamu."
"Terus aku bagaimana nantinya berangkat kerja Ma?" tanya Ariana yang tidak rela mobilnya di jual.
"Nanti kita pikirkan itu lagi, yang terpenting sekarang kamu keluar dulu dari sini."
"Menjual mobil juga nggak semudah itu Pa. Kita juga butuh waktu," ucap Vito.
"Bagaimana lagi, cuma ini solusinya. Terpaksa Riana harus menginap di sini dulu untuk sementara."
Akhirnya Ariana pun dengan terpaksa menerima dirinya yang harus tinggal sementara di penjara.
"Jangan lama-lama yah! Aku takut di sini."
"Iya kami akan berusaha agar mobil kamu cepat lakunya."
Ariana pun di giring ke dalam tahanan sambil menangisi nasibnya.
Setelah semua keluarganya meninggalkan kantor polisi, Perlita pun masuk ke dalam kantor polisi dan menemui kuasa hukum serta temannya yang menjadi polisi di sana.
"Makasih yah atas kerja samanya. Aku hanya ingin dia merasakan semua tindakan yang telah dia lakukan," ucap Perlita pada temannya.
"Sama-sama Perl, seperti sama siapa aja kamu ini. Dulu juga kamu sering membantuku. Aku juga ikut senang karena akhirnya kamu bisa melawan keluarga toxic kamu itu," balas Windi yang merupakan teman SMA Perlita. Mereka mengobrol sebentar sampai akhirnya Perlita meninggalkan kantor polisi tersebut setelah mengucapkan terima kasih kepada kuasa hukumnya.
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
Thor jangan di bikin apes mulu peran utama pls aku baru selesai baca yg peran utama dari awal Ampe ending apes mulu