Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI PEGUNUNGAN ALPEN
Puncak-puncak Alpen yang berselimut salju abadi tampak seperti taring raksasa yang mencoba mencabik langit malam yang kelabu.
Badai salju menerjang dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam, menciptakan dinding putih yang membutakan mata dan meredam segala suara.
Di tengah hamparan putih yang mematikan itu, empat sosok bergerak seperti bayangan di atas tebing curam.
Mereka mengenakan pakaian termal berteknologi tinggi yang mampu menyamarkan tanda panas tubuh, menyatu sempurna dengan suhu lingkungan yang mencapai minus tiga puluh derajat Celcius.
Alana memimpin di depan, tangannya yang terbungkus sarung tangan taktis mencengkeram kapak es dengan presisi yang tajam.
Sejak sinkronisasi DNA Teratai mencapai tahap puncak, ia tidak lagi merasakan dingin sebagai ancaman; metabolisme tubuhnya beradaptasi, memompa energi ke setiap ujung sarafnya.
Di belakangnya, Arlan memastikan Lukas dan Luna tetap terikat pada tali pengaman yang sama, melindungi mereka dari embusan angin yang bisa melemparkan tubuh mungil mereka ke jurang yang tak berdasar.
"Mummy, kita sudah berada tepat di atas koordinat yang diberikan Paman Victor," suara Lukas terdengar melalui transmisi tulang konduksi di telinga Alana, hampir tenggelam oleh deru badai.
"Sensor gravitasi menunjukkan ada ruang hampa raksasa di bawah lapisan es ini. Ini bukan sekadar laboratorium; ini adalah bunker kota bawah tanah."
Alana berhenti di sebuah celah sempit di balik bongkahan es biru yang masif. Ia memejamkan mata, mengaktifkan persepsi sensoriknya.
Melalui getaran molekul yang menembus lapisan es, ia bisa merasakan dengung generator nuklir mikro dan aliran listrik yang mengalir di dinding-dinding baja di bawah kaki mereka.
"Mereka menggunakan sistem pendingin alami dari es ini untuk menyembunyikan emisi panas fasilitas mereka," bisik Alana.
"Arlan, siapkan peledak termit dosis rendah. Kita akan masuk lewat jalur pembuangan ventilasi udara."
Arlan mengangguk, ia menaruh tas taktisnya dan mulai merakit muatan peledak yang didesain khusus untuk mencairkan baja tanpa menciptakan gelombang suara yang besar.
"Lukas, Luna, begitu kita masuk, kalian harus segera mengambil alih sistem sirkulasi udara. Jika mereka mendeteksi penyusup, mereka akan mengunci sektor ini dalam hitungan detik."
"Siap, Paman," jawab Lukas sambil menyiapkan tablet militernya yang sudah dimodifikasi dengan peredam sinyal.
PHSSSST!
Peledak termit bekerja dengan efisiensi yang mengerikan.
Lapisan es dan baja di bawah mereka meleleh secara senyap, menciptakan lubang yang cukup besar untuk dilewati satu orang.
Mereka meluncur turun menggunakan tali rappel sepanjang tiga puluh meter, mendarat di atas kisi-kabel di langit-langit sebuah lorong yang diterangi oleh lampu neon kebiruan yang dingin.
Bau di dalam fasilitas ini berbeda dengan laboratorium di Paris atau Mumbai.
Di sini, udaranya berbau seperti ozon, bahan kimia pengawet, dan... sesuatu yang organik. Alana merasakan bulu kuduknya berdiri.
Resonansi di dalam darahnya bergetar hebat, seolah-olah ada sesuatu di dalam fasilitas ini yang memanggilnya.
Mereka bergerak menyusuri langit-langit, memanfaatkan pipa-pipa besar untuk bersembunyi.
Di bawah mereka, para ilmuwan Ouroboros yang mengenakan setelan dekontaminasi lengkap bergerak mondar-mandir di antara tabung-tabung inkubasi raksasa.
"Astaga..." Luna menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak ngeri.
Di dalam tabung-tabung itu, terdapat janin manusia yang tumbuh dalam cairan nutrisi berwarna perak.
Namun, itu bukan janin biasa. Setiap tabung memiliki label digital yang sama: "PROJECT AURA - 402".
Alana merasakan dunianya seolah runtuh sesaat. Ia melompat turun dari langit-langit, mendarat dengan senyap di lantai laboratorium.
Ia berjalan perlahan menuju salah satu tabung inkubasi yang paling besar. Di dalamnya, seorang wanita dewasa yang tampak sangat mirip dengannya—namun tanpa ekspresi dan tanpa jiwa—mengambang dengan kabel-kabel yang tertanam di tulang belakangnya.
"Alfred tidak hanya menginginkan formulanya," bisik Arlan yang kini sudah berdiri di samping Alana, senjatanya terarah ke arah pintu masuk.
"Dia sedang mencoba mengkloningmu, Alana. Dia ingin menciptakan pasukan yang memiliki DNA Teratai sempurna tanpa harus bernegosiasi denganmu."
Lukas segera menyambungkan perangkatnya ke terminal komputer di dekat tabung.
"Mummy, ini lebih buruk dari sekadar kloning. Lihat data ini... mereka mengambil sampel DNA dari rambut atau sisa darahmu saat di rumah sakit dulu. Tapi klon-klon ini tidak stabil. Mereka hanya bisa bertahan hidup selama empat puluh delapan jam sebelum sel-sel mereka mengalami apoptosis massal."
"Karena mereka tidak memiliki 'Kunci Jiwa' yang kakek tanam di dalam nukleus asliku," Alana menyentuh kaca tabung itu.
Klon di dalamnya tiba-tiba membuka mata—mata yang berwarna perak pucat, kosong, dan penuh penderitaan—sebelum akhirnya tubuh itu hancur menjadi abu di dalam cairan perak tersebut.
"Eksperimen yang kejam," geram Alana. Kemarahan yang ia rasakan sekarang melampaui apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Alfred Mahendra telah menodai warisan kakeknya dan mengubah identitas pribadinya menjadi komoditas laboratorium.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari pengeras suara di seluruh ruangan.
Sebuah layar hologram raksasa muncul di tengah laboratorium, menampilkan sosok pria tua dengan setelan jas mahal dan senyum yang memuakkan. Alfred Mahendra.
"Selamat datang di rumah, keponakanku," suara Alfred terdengar merdu namun mengandung racun.
"Aku tahu kau akan datang. Kau adalah satu-satunya variabel yang tidak bisa kuprediksi, namun selalu bisa kupancing dengan rasa ingin tahumu."
"Alfred! Hentikan kegilaan ini!" teriak Alana.
"Kegilaan? Tidak, Aura. Ini adalah evolusi. Kau lihat klon-klon itu? Mereka adalah kegagalan yang indah. Tapi dengan kehadiranmu di sini, aku akhirnya memiliki spesimen asli untuk menyempurnakan 'Anak-anak Ouroboros'. Arlan Syailendra, kau adalah bonus yang menarik. Aku akan menggunakan otakmu untuk memimpin kerajaan baruku setelah aku menghapus ingatanmu."
"Dalam mimpimu, Alfred," balas Arlan, ia melepaskan tembakan ke arah proyektor hologram, namun hologram itu hanya bergetar dan tetap menyala.
"Sistem pertahanan sektor ini diaktifkan dalam sepuluh detik," Alfred tertawa.
"Gas saraf yang kita gunakan di Paris hanyalah mainan anak-anak. Di sini, kita menggunakan pemecah ikatan molekuler. Dalam tiga menit, setiap sel organik di ruangan ini akan terurai menjadi partikel dasar. Selamat tinggal, keluarga Mahendra yang tersisa."
"Mummy! Sistem pengunciannya berlapis-lapis! Aku tidak bisa menjebolnya dari sini!" Lukas berteriak panik, jemarinya bergerak secepat kilat di atas layar.
"Biar aku yang melakukannya," kata Alana. Ia mendekati terminal pusat. Ia tidak mengetik kode. Ia meletakkan telapak tangannya di atas panel kaca.
Alana memejamkan mata dan melepaskan seluruh energi resonansi Teratai dari tubuhnya.
Ia mengirimkan lonjakan biolistrik langsung ke dalam sirkuit fasilitas tersebut. Di dalam pikirannya, ia melihat jaringan saraf elektronik bunker itu sebagai aliran sungai perak. Ia memerintahkan sungai itu untuk berbalik arah.
BZZZZTTTT!
Lampu-lampu di laboratorium meledak satu per satu. Tabung-tabung inkubasi pecah, menumpahkan cairan perak ke lantai.
Sistem pertahanan yang tadi diaktifkan Alfred mendadak mati total, digantikan oleh alarm merah yang menandakan kegagalan daya masif.
"Ayo! Kita harus keluar sebelum sistem penghancur diri manual diaktifkan!" Alana menarik Arlan dan anak-anak.
Mereka berlari melalui lorong-lorong yang mulai bergetar karena ledakan internal.
Alana menggunakan kemampuan sensoriknya untuk mencari jalan keluar tercepat, namun saat mereka mencapai hangar utama, sosok Kael berdiri di depan mereka. Kali ini, ia tidak sendiri.
Ia dikawal oleh empat klon Alana yang tampak jauh lebih stabil, mengenakan baju zirah taktis hitam dan memegang pedang plasma.
"Klon-klon tempur," bisik Arlan. "Mereka tidak punya kesadaran, hanya instruksi untuk membunuh."
"Arlan, bawa anak-anak ke pesawat jet pribadi Ouroboros di ujung hangar itu," perintah Alana sambil mencabut dua belati perak dari balik pinggangnya. "Biar aku yang menghadapi 'diriku sendiri'."
"Alana, itu terlalu berbahaya!"
"Pergilah! Ini adalah pertarunganku!"
Arlan melihat tekad di mata Alana dan tahu tidak ada gunanya berdebat. Ia segera menggendong Luna dan menarik Lukas menuju pesawat, sementara tim keamanan Ouroboros mulai menembaki mereka.
Arlan membalas tembakan dengan satu tangan, menciptakan koridor perlindungan bagi anak-anak.
Alana berdiri berhadapan dengan empat klonnya. Kael tersenyum sinis di belakang mereka. "Mari kita lihat, apakah sang asli lebih baik dari salinannya."
Keempat klon itu menyerang secara serentak dengan koordinasi yang sempurna. Pertarungan itu tampak seperti tarian maut yang simetris.
Setiap gerakan Alana ditiru dan ditangkis oleh klon-klonnya. Namun, Alana memiliki satu hal yang tidak dimiliki salinan tanpa jiwa itu: emosi dan kreativitas.
Ia membiarkan salah satu klon menusuk bahunya, namun ia menggunakan rasa sakit itu sebagai pemicu untuk melepaskan gelombang energi kinetik dari telapak tangannya.
Ledakan itu melemparkan dua klon hingga menghantam dinding baja. Alana kemudian berputar, menebas leher klon ketiga, dan menghujamkan belatinya ke jantung klon keempat.
Kael terperangah. Ia mencoba menarik senjatanya, namun Alana sudah berada di depannya dalam sekejap mata. Alana mencekik leher Kael dan mengangkatnya ke udara.
"Katakan pada Alfred," bisik Alana, matanya berpendar perak yang menyala.
"Bahwa aku tidak hanya akan menghancurkan fasilitasnya. Aku akan menghapus setiap jejak Mahendra dari muka bumi ini."
Alana melempar Kael ke tumpukan limbah kimia dan segera berlari menuju pesawat jet yang sudah mulai menyalakan mesinnya. Ia melompat masuk tepat saat pintu palka tertutup.
BOOOOOMMMM!
Seluruh fasilitas riset Alpen itu meledak dari dalam, menciptakan longsoran salju raksasa yang menelan segala bukti kejahatan Alfred Mahendra.
Pesawat jet itu menanjak tajam, membelah badai salju dan terbang menuju kegelapan malam.
Di dalam kabin, Alana jatuh terduduk di lantai, napasnya tersengal-sengal. Luka di bahunya menutup dengan cepat, namun ia merasa sangat lelah secara emosional.
Ia melihat Lukas dan Luna yang sedang memeluknya, sementara Arlan mengambil kendali pilot.
"Kita berhasil menghancurkan pabrik utamanya," kata Arlan melalui interkom. "Tapi Alfred masih bebas. Dan sekarang dia tahu bahwa kau jauh lebih kuat dari apa yang dia bayangkan."
Alana menatap tangannya yang masih bergetar. Ia baru saja membunuh salinan dirinya sendiri. Rasa ngeri itu tetap membekas. "Dia tidak akan berhenti, Arlan. Dia akan mencari cara lain."
"Kalau begitu kita juga tidak akan berhenti," sahut Arlan. "Target selanjutnya adalah pusat keuangan mereka di London. Kita akan memiskinkan Ouroboros sebelum kita memenggal kepalanya."
Pesawat itu terbang melintasi benua Eropa. Badai di Alpen mungkin telah berakhir, namun badai yang lebih besar di dalam hati Alana baru saja dimulai.